<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523</id><updated>2012-02-16T03:53:08.407-08:00</updated><title type='text'>http://dastodebelto.blogspot.com</title><subtitle type='html'>FOTO SAAT PKK KOMUNITAS DI KELURAHAN MARICYA SELATAN.MAKASSAR SULSEL</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>27</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-3097959778397768740</id><published>2010-02-11T21:08:00.000-08:00</published><updated>2010-02-11T21:08:04.173-08:00</updated><title type='text'>JUDUL SKRIPSI</title><content type='html'>1.Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas penerapan asuhan keperawatan di RSUD Undata Palu.  &lt;br /&gt;2.Pengaruh metode based learning terhadap prestasi belajar peserta didik di pendidikan PAM Keperawatan (program anastesi) di Jakarta.  &lt;br /&gt;3.Penggunaan model latihan relaksasi bertahap dalam menanggulangi nyeri pada klien dengan fraktur di ruang Rawat Inap Orthopaedi RSUD Dr Soetomo Surabaya.  &lt;br /&gt;4.Pengaruh pendidikan kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan keluarga dalam merawat klien dengan skizofrenia yang rawat inap di RS Jiwa Jakarta tahun 1997/1998.  &lt;br /&gt;5.Pengaruh kebijakan otonomi daerah tingkat II terhadap manajemen Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara Provinsi Daerah Istimewa Aceh. &lt;br /&gt;6.Upaya pengendalian mutu pelayanan bidan desa di Kabupaten Aceh Besar. &lt;br /&gt;7.Pengaruh kebisingan industri penggergajian kayu (Sawmill) terhadap masyarakat sekitar di Kabupaten Pidie.  &lt;br /&gt;8.Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja bidan di desa di Kabupaten Dati II Bojonegoro dan Nganjuk.  &lt;br /&gt;9.Pengaruh pendidikan seks terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap remaja dalam mencegah penyakit menular seksual di Kotamadya Kendari.  &lt;br /&gt;10.Perbedaan efektivitas kompres dingin dengan kompres hangat dalam menurunkan suhu tubuh klien infeksi di Pusat Pelayanan Kesahatan Denpasar.  &lt;br /&gt;11.Prevalensi pertanda infeksi VHB pada keluarga penunggu pasien Hepatitis B di ruang penyakit dalam RSUP Denpasar.  &lt;br /&gt;12.Perilaku perawat dalam pencegahan resiko tertular HIV/AIDS di instalasi rawat darurat RSUP Sanglah Denpasar.  &lt;br /&gt;13.Studi komparatif efektivitas penggunaan minyak kelapa dan kamper spritus terhadap pencegahan decubitus di Rumah Sakit Umum Provinsi Bali.  &lt;br /&gt;14.Faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya pertolongan persalinan oleh dukun di Kecamatan Panca Tengah Kabupaten Tasikmalaya.  &lt;br /&gt;15.Dampak tindakan isolasi proteksi terhadap aspek psikososial pasien kelainan darah di RSUP Cipto Mangunkusumo Jakarta. &lt;br /&gt;16.Penelitian dan pengembangan perilaku kesehatan ibu dan anak di daerah sub urban Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara 1  Tahun 1998 / 199998 Tahun 1997/1998 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Peranan kepedulian keluarga untuk mempercepat penyembuhan pasien rawat inap di RSJ Palembang.  &lt;br /&gt;2.Meningkatkan peran keluarga dalam merawat anggota keluarga yang menderita penyakit TB Paru dengan penyediaan modul keperawatan di rumah.&lt;br /&gt;3.Efektivitas pembelajaran bagi dosen tetap mata kuliah keahlian (MKK) Akper h Depkes di Bandung dan Jakarta 1998/1999u  &lt;br /&gt;4.Pengembangan daftar pengungkap sumber stress dan proses koping bagi mahasiswa keperawatan Depkes (DAS) di Provinsi Jawa Barat.  &lt;br /&gt;5.Hubungan peran serta keluarga klien gangguan jiwa dengan lamanya hari rawat di RSJ Pusat Bogor.  &lt;br /&gt;6.Asuhan keperawatan pada usila dengan pendekatan proses keperawatan di Panti Wreda Mojopahit Kabupaten Mojokerto Jawa Timur.  &lt;br /&gt;7.Peningkatan kinerja layanan keperawatan melalui penugasan mandiri di RSUD Dr Saiful Anwar Malang.  &lt;br /&gt;8.Analisis akreditasi jabatan fungsional guru di lingkungan sekolah pendidikan kesehatan Depkes di Jawa Timur.  &lt;br /&gt;9.Efektivitas peran serta kader usila yang mengalami masalah pemenuhan kebutuhan dasar manusia di Panti Sosial Tresna Werdha Wana Seraya Denpasar.  &lt;br /&gt;10.Model upaya penanggulangan rokok dan alkohol di lapangan remaja melalui pendekatan tokoh agama pada Kecamatan Rantepao Kabupaten Tana Toraja.  &lt;br /&gt;11.Studi tentang efektivitas metode mengajar di Akademi Perawat Kesehatan Kotamadya Kendari. &lt;br /&gt;12.Studi evaluasi pelaksanaan asuhan keperawatan masyarakat pada penyakit TBC Paru di Puskesmas Kotamadya Palu.  &lt;br /&gt;13.Metode dan teknologi pelayanan asuhan keperawatan di Provinsi Timor Timur.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;14. Model batuk efektif dalam upaya membersihkan jalan nafas pada pasien dengan penumpukan sekret akibat TBC Paru di RSUD Prof Dr. W.Z. Johannes Kupang.  &lt;br /&gt;15. Pengaruh pendidikan kesehatan terhadap penanggulangan diare pada keluarga yang mempunyai bayi di Wilayah DKI Jakarta.  Tahun 1999 / 2000 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1. Kompetensi bidan desa dalam melakukan ANC di tempat tugasnya. &lt;br /&gt;2. Kemampuan perawat menggunakan teknik komunikasi terapeutik pada klien dengan kecemasan akibat Tuberkulosa Paru.  &lt;br /&gt;3. Tingkat kemampuan perawat lulusan D III dalam mengimplementasikan proses keperawatan  &lt;br /&gt;4. Pengaruh ide/keyakinan diri yang tidak rasional terhadap pola penyesuaian diri remaja. &lt;br /&gt;5. Hubungan karies gigi pada anak sekolah (10-14 tahun) dengan air minum di Kecamatan Baiturahman Kotamadya Banda Aceh.  &lt;br /&gt;6. Hubungan latar pendidikan mahasiswa AKG dan prestasi belajar. &lt;br /&gt;7. Deskriptif faktor-faktor yang berhubungan dengan minat siswa mengunjungi perpustakaan.  &lt;br /&gt;8. Mekanisme koping yang digunakan pada klien yang dilakukan hemodialisa. &lt;br /&gt;9. Pengaruh program bermain untuk meningkatkan penurunan rasa nyeri pada anak pasca bedah.  &lt;br /&gt;10. Pengaruh dukungan keluarga terhadap kepatuhan klien DM dalam perawatan diri di rumah.  &lt;br /&gt;11. Peningkatan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan penularan penyakit demam berdarah di Kotamadya Jambi.  &lt;br /&gt;12. Derajat karies gigi (DMF.T) dan derajat kebersihan mulut (OHI.S) anak usia 12-14 tahun di 6 Dati II Provinsi Jambi.  &lt;br /&gt;13. Korelasi kandungan magnesium, calcium dan fluorida pada air minum terhadap karies gigi siswa SD Kotamadya Jambi.  &lt;br /&gt;14. Perilaku orang tua dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit kecacingan pada anak SD di Dusun Talang Bungin Musi Banyuasin.  &lt;br /&gt;15. Pengaruh asuhan keperawatan terhadap peningkatan kemampuan keluarga merawat bayi (1-3 bulan) sesuai tahap pertumbuhan dan perkembangan Kecamatan Seberang Ulu I.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;16. Peran masyarakat dalam penanggulangan dini penyakit demam berdarah dengue di Kotamadya Palembang.  &lt;br /&gt;17. Pengaruh pendidikan kesehatan dan home visit terhadap pengendalian angka DO klien TBC Paru.  &lt;br /&gt;18. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan keluarga dalam menerima pemulangan klien gangguan jiwa kronis.  &lt;br /&gt;19. Peran pedoman pembelajaran praktek klinik keperawatan dalam meningkatkan ketrampilan profesionalisme mahasiswa TK.III Semester genap D – III Keperawatan.  &lt;br /&gt;20. Pengaruh pendidikan kesehatan terhadap kemampuan ibu Primi dalam merawat bayi. &lt;br /&gt;21. Pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dan kemandirian pasien dalam merawat kolostomi di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 1999.  &lt;br /&gt;22. Pengaruh pendidikan kesehatan terhadap peningkatan kemampuan keluarga dalam melakukan penanggulangan ISPA Non Pneumonia pada Balita di Wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Matraman Jakarta Timur.  &lt;br /&gt;23. Pengaruh metode demonstrasi terhadap kemampuan menyuluh pra tindakan. &lt;br /&gt;24. Pengaruh bermain terhadap kemampuan adaptasi sosial anak mental retardasi di SLB Dharma Asih RS Jiwa Pusat Jakarta.  &lt;br /&gt;25. Pengaruh mobilisasi dini terhadap kecepatan penyembuhan luka post operasi daerah perut di RSUD Kabupaten Tasikmalaya.  &lt;br /&gt;26. Pengaruh pendidikan kesehatan pasien pra bedah melalui video tape terhadap kemandirian pasien melakukan mobilisasi dini pada bedah di RSUP DR. Hasan Sadikin Bandung.  &lt;br /&gt;27. Pengaruh buku petunjuk dan manual prosedur terhadap kemampuan belajar mandiri dalam ketrampilan pemasangan NGT di laboratorium keperawatan bagi mahasiswa D- III Keperawatan di Kota Bandung.  &lt;br /&gt;28. Pengaruh pendidikan kesehatan melalui diskusi kelompok kecil terhadap kesembuhan TBC Paru di Wilayah Kabupaten Subang  &lt;br /&gt;29. Analisa faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan sikap remaja tentang kesehatan reproduksi di Kotamadya Bandung.  &lt;br /&gt;30. Studi tentang kompetensi tenaga lulusan SPK Pekalongan dengan masa kerja 1 tahun di instansi pemerintah maupun swasta di Kotamadya Pekalongan.  &lt;br /&gt;31. Dampak komunikasi perawat pada fase kerja dalam komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien yang dirawat di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.  &lt;br /&gt;32. Efektivitas kompres boorwater dengan kompres betadin pada penyembuhan luka kotor pasien yang dirawat di Rumah Sakit.  &lt;br /&gt;33. Kesehatan gigi dan mulut masyarakat usia lanjut di Kotamadya Semarang. &lt;br /&gt;34. Pengaruh intervensi keperawatan (bimbingan bernafas dan relaksasi) sejak Kala I terhadap kekurangannya resiko persalinan.  &lt;br /&gt;35. Study hubungan faktor kemampuan, hubungan faktor kemampuan dan hubungan faktor kesempatan terhadap penampilan kerja perawat lulusan D III Keperawatan dalam menyusun rencana Keperawatan D I RSUD Bondowoso di RSUD Dr. Soebandi Jember Jawa Timur tahun 1999.  &lt;br /&gt;36. Uji aktivitas enzim pepsin dari cairan lambung pada bayi prematur dan bayi aterm. &lt;br /&gt;37. Efektivitas metode penyuluhan proyeksi untuk meningkatkan perilaku kesehatan masyarakat di Kabupaten Malang  &lt;br /&gt;38. Peranan Panti Werda dalam meningkatkan kemandirian Lansia (suatu studi analisis kualitatif).  &lt;br /&gt;39. Efektivitas dan kenyamanan tapid sponge bath dalam menurunkan febris dibandingkan dengan kompres dingin.  &lt;br /&gt;40. Pengaruh counter pressure dalam mengurangi nyeri persalinan pada ibu bersalin di empat Rumah Bersalin Kotamadya Malang tahun 1998.  &lt;br /&gt;41. Pengaruh kehadiran suami terhadap lamanya proses persalinan fisiologis. &lt;br /&gt;42. Perbandingan sosial ekonomi, pengetahuan tentang GAKI dan pola konsumsi antara keluarga penderita dan bukan penderita GAKI.  &lt;br /&gt;43. Pengaruh layanan konseling sebelum operasi terhadap penurunan tingkat kecemasan klien untuk menunjang keberhasilan operasi.  &lt;br /&gt;44. Survei kinerja perawat dan survei persepsi klien terhadap peran pendidikan perawat pada pasien rawat inap di RSUD Dr. Soetomo Surabaya.  &lt;br /&gt;45. Upaya untuk mengurangi rasa takut murid SD pada saat dilakukan perawatan gigi oleh siswa.  &lt;br /&gt;46. Studi eksplorasi tentang manfaat air tajin untuk memperbanyak produksi ASI pada ibu pasca persalinan.  &lt;br /&gt;47. Dampak semiloka terhadap peningkatan peran keluarga dalam penanggulangan demam berdarah di desa Tegal Kerta tahun 1999.  &lt;br /&gt;48. Efektivitas kompres larutan fisiologis dalam menyembuhkan luka gangren pada klien gangguan vaskularisasi jaringan di RSU Denpasar.  &lt;br /&gt;49. Efektivitas perawatan luka steril di RSUP Sanglah Denpasar. &lt;br /&gt;50. Pengembangan model terapi keluarga dalam mencegah terputusnya pengobatan pada klien TB-Paru di beberapa wilayah kerja Puskesmas Kotamadya Banjarmasin.  &lt;br /&gt;51. Assessment fungsi manajemen Puskesmas Pembantu di Provinsi Kalimantan Tengah.  &lt;br /&gt;52. Pengetahuan sikap dan perilaku remaja tentang penyakit AIDS pada sekolah menengah umum / kejuruan di provinisi Sulawesi Tengah.  &lt;br /&gt;53. Penilaian mutu keperawatan pada pasien tirah baring di RSUP Dr. Wahidin Sudiro Husodo Ujung Pandang.  &lt;br /&gt;54. Pola penggunaan waktu perawat untuk asuhan keperawatan di RS Ujung Pandang. &lt;br /&gt;55. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan proses keperawatan di RS. &lt;br /&gt;56. Pemanfaatan daun sirih terhadap penyakit gingivitas pada daerah terpencil. &lt;br /&gt;57. Pengaruh asap kayu bakar terhadap resiko terjadinya ISPA pada bayi dan anak balita di Desa Comoro Kecamatan Dili Barat Kabupaten Deli. 58. Metode dan teknologi pelayanan asuhan keperawatan di Provinsi Timor Timur. Tahun 2000 / 2001  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Koping yang sering digunakan ibu post partum primapara untuk mengatasi nyeri post episiotomi.  &lt;br /&gt;2. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja bidan di desa dalam peningkatan peran serta masyarakat di Kabupaten Aceh Timur.  &lt;br /&gt;3. Pengaruh penggunaan alat kontrasepsi terhadap Indeks Masa Tubuh (IMT) wanita Pasangan Usia Subur (PUS) di Kotamadya Banda Aceh.  &lt;br /&gt;4. Pengaruh terapan komunikasi terapeutik oleh perawat terhadap perubahan psikososial pasien yang dirawat di Rumah Sakit.  &lt;br /&gt;5. Penilaian pola pikir ibu post partum terhadap kinerja perawat dalam perawatan ibu hamil di Daerah Istimewa Aceh.  &lt;br /&gt;6. Pengaruh senam hamil dalam upaya menurunkan rasa nyeri pada kala I persalinan anak pertama dan kedua yang belum pernah melakukan pada anak pertama.  &lt;br /&gt;7. Pengaruh metoda tim terhadap tingkat kepuasan pasien akan asuhan keperawatan di RSUP H Adam Malik Medan.  &lt;br /&gt;8. Efektivitas pelaksanaan konseling KB terhadap ibu-ibu post partum yang sudah mempunyai anak dua atau lebih di RSU Dr M Djamil Padang.  &lt;br /&gt;9. Pengaruh tingkat pengetahuan ibu hamil tentang perawatan payudara selama periode ante natal terhadap pelaksanaan perawatan payudara di poliklinik RSU Dr. M Djamil Padang.  &lt;br /&gt;10. Deskriptif penerapan asuhan keperawatan dalam pemenuhan kebutuhan mobilisasi dini pada pasien post operatif dengan narkose umum.  &lt;br /&gt;11. Pengaruh tingkat kerusakan sikat gigi terhadap kebersihan gigi dan mulut pada anak SD di desa tertinggal.  &lt;br /&gt;12. Asuhan keperawatan penderita kusta dalam mencegah kekambuhan luka di RS Kusta Sungai Kundur Kabupaten Musi Banyuasin.  &lt;br /&gt;13. Perilaku keluarga dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit diare pada anak usia 0 – 2 tahun di Kecamatan Ilir Barat II Palembang.  &lt;br /&gt;14. Pengaruh pemberian asuhan keperawatan keluarga terhadap peningkatan kemampuan keluarga dalam merawat lansia dengan hipertensi.  &lt;br /&gt;15. Peran keperawatan keluarga dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit Ascariasis pada anak SD desa Lubuk Ampelas Muara Enim.  &lt;br /&gt;16. Efrektivitas tes psikologi pada seleksi penerimaan mahasiswa Akper Pemda Tk II Pangkal Pinang diukur dengan indeks prestasi.  &lt;br /&gt;17. Hubungan kumur-kumur larutan fluor dengan penurunan frekuensi karies pada gigi molar permanen pertama rahang bawah yang baru erupsi.  &lt;br /&gt;18. Analisis kecerdasan emosional perawat dalam pelaksanaan tugas-tugas keperawatan di RSUD M Yunus Bengkulu.  &lt;br /&gt;19. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pelaksanaan dokumentasi asuhan keperawatan di RSUD Dr M Yunus Bengkulu.  &lt;br /&gt;20. Pemberdayaan perawat dan keluarga dalam perawatan klien TBC paru di Rumah Sakit. &lt;br /&gt;21. Waktu pelaksanaan Bladder Training pada pemasangan kateter balon dengan klien stroke.  &lt;br /&gt;22. Pengaruh kedalaman selang WSD di bawah permukaan cairan botol dengan banyaknya cairan pada perawatan klien hemathoraks.  &lt;br /&gt;23. Model tindakan keperawatan untuk mengatasi kecemasan pada klien pre operasi di RSU A Moeloek Bandar Lampung.  &lt;br /&gt;24. Peningkatan kemampuan ibu dalam merawat stoma pada bayi dengan pendekatan pendidikan kesehatan.  &lt;br /&gt;25. Pengaruh pelatihan manajemen terhadap pengetahuan sikap dan perilaku perawat dalam kerja tim di RSU Cipto Jakarta.  &lt;br /&gt;26. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan pasien dengan spinal anastesi di RSUP Fatmawati dan RSUD Pasar Rebo Jakarta.  &lt;br /&gt;27. Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku kepatuhan petugas kesehatan dalam pencegahan infeksi nosokomial luka operasi di kamar bedah RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta.  &lt;br /&gt;28. Perbedaan persepsi antara perawat dan keluarga terhadap kebutuhan perawatan rumah klien gangguan jiwa di RS Jiwa Pusat Bogor.  &lt;br /&gt;29. Hubungan antara penugasan mandiri di laboratorium keperawatan dengan kompetensi merawat luka bagi mahasiswa Akper di lahan praktek Rumah Sakit.  &lt;br /&gt;30. Pemberdayaan keluarga dalam memotivasi mobilitas lanjut usia melalui penyuluhan pada keluarga.  &lt;br /&gt;31. Memberdayakan klien dengan Diabetes Mellitus terhadap kepatuhan kontrol dan pengelolaan Diabetes Mellitus melalui penyuluhan di RS Hasan Sadikin Bandung.  &lt;br /&gt;32. Pemberdayaan keluarga dalam menstimulasi perkembangan anak usia 0 – 12 bulan melalui pedoman stimulasi perkembangan anak di wilayah kerja Puskesmas Pasir Kaliki Bandung.  &lt;br /&gt;33. Pemberdayaan keluarga melalui pengembangan model pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten Bandung.  &lt;br /&gt;34. Efektivitas pasta gigi berfluor dibandingkan dengan topikal aplikasi fluor terhadap pencegahan karies gigi pada anak umur 11 –12 tahun di SD N Kecamatan Cibeureum Kabupaten Tasikmalaya.  &lt;br /&gt;35. Peranan perawat gigi di Puskesmas dalam pembinaan kader di posyandu untuk meningkatkan kesehatan gigi.  &lt;br /&gt;36. Pengaruh sinar ultra violet terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus (isolat klinik AKG Bandung)  &lt;br /&gt;37. Bentuk sentuhan yang efektif pada fase orientasi terhadap klien menarik diri di RS Jiwa. &lt;br /&gt;38. Pengaruh penggunaan alat kontrasepsi dahak pada penderita tuberkulosis paru. &lt;br /&gt;39. Efektivitas waktu penyuluhan pasien pre operasi yang direncanakan dalam mengurangi tingkat kecemasan pasien di RS  &lt;br /&gt;40. Efektivitas penggunaan air sirih dalam penyembuhan luka perineum pasca persalinan. &lt;br /&gt;41. Pengaruh perawatan payudara antenatal terhadap inisiasi laktasi di Yogyakarta. &lt;br /&gt;42. Pengaruh penggunaan skin traksi buatan sendiri terhadap askep pasien fraktur di RSU Prof. DR R.Soeharso Surakarta tahun 1999/2000.  &lt;br /&gt;43. Pengaruh pendidikan kesehatan tentang perawatan penyakit kepada pasien Ca Cervix terhadap (peningkatan) kemandirian.  &lt;br /&gt;44. Pengaruh pemberian terapi bermain terhadap penurunan kecemasan pada anak toddler di instalasi rawat inap II RSUD Dr. Sardjito Yogyakarta.  &lt;br /&gt;45. Pengaruh penerapan model adaptasi di rumah secara bertahap penurunan frekuensi rawat ulang klien gangguan jiwa di RSJ D.I. Yogyakarta.  &lt;br /&gt;46. Pengaruh pelaksanaan asuhan keperawatan keluarga melalui strategi dots terhadap angka konversi penderita TBC Paru di Kabupaten Banyuwangi tahun 2000  &lt;br /&gt;47. Sistim pakar untuk menegakkan diagnosa keperawatan dan alternatif intervensi keperawatan.  &lt;br /&gt;48. Survei pengetahuan dan sikap perawat Puskesmas terhadap asuhan keperawatan keluarga pada orang dengan HIV / AIDS (ODHA) di Kotamadya Surabaya.  &lt;br /&gt;49. Pengaruh rooming in terhadap tingkat kemandirian ibu primipara dalam merawat bayi baru lahir.  &lt;br /&gt;50. Perubahan perkembangan psikologi dan perilaku sosial pada anak usia prasekolah setelah menjalani rawat inap di RS (studi terhadap dampak hospitalisasi).  &lt;br /&gt;51. Hubungan tingkat pengetahuan keluarga tentang perawatan klien gangguan jiwa di rumah dan tingkat penerimaan keluarga terhadap klien dengan frekuensi kekambuhan.  &lt;br /&gt;52. Perbedaan metode penyuluhan proyeksi dibandingkan dengan metode ceramah dan tanya jawab untuk meningkatkan perilaku kesehatan masyarakat di Kabupaten Malang.  &lt;br /&gt;53. Efektivitas "Morning Report" pengaruhnya terhadap kepuasan kerja perawat dan kepuasan pasien di RSSA Malang.  &lt;br /&gt;54. Uji aktifitas enzim pensin dari cairan lambung pada bayi premature dan bayi aterm. &lt;br /&gt;55. Analisis faktor pengaruh antara sifat cemas dan keadaan cemas dengan intensitas nyeri pasca bedah efektif di RSUD Dr. Sutomo.  56. Pandangan keluarga tentang kehidupan yang bahagia di hari tua bagi lanjut usia (suatu studi kualitatif).  &lt;br /&gt;57. Tingkat penerimaan keluarga penderita gangguan jiwa di Rumah Sakit Jiwa. &lt;br /&gt;58. Faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap keberhasilan polindes dalam upaya meningkatkan pencapaian kunjungan ibu hamil dan ibu bersalin di Kabupaten Magetan.  &lt;br /&gt;59. Kadar fluor efektif dalam menurunkan karies gigi pada anak SD tahap II tahun 2000 – 2001.  &lt;br /&gt;60. Studi tentang perilaku ketaatan diet pasien Diabetes Mellitus di RSUP Denpasar 1999/2000.  &lt;br /&gt;61. Hubungan pola pangan terhadap atrisi gigi pada masyarakat kelompok usia 12 – 20 tahun di Kotamadya dan Kabupaten Kupang (NTT).  &lt;br /&gt;62. Hubungan antara sosio ekonomi, perilaku orang tua terhadap sindrom botol susu pada anak pra sekolah di Kecamatan Pontianak Barat dan Selatan Kotamadya Pontianak, Kalimantan Barat.  &lt;br /&gt;63. Studi tentang faktor-faktor tidak tercapainya cakupan imunisasi tetanus toksoid calon pengantin wanita di Kecamatan Banjar Timur Kotamadya Banjarmasin.  &lt;br /&gt;64. Efektivitas larutan pinang sebagai bahan penghambat penyakit periodontal. &lt;br /&gt;65. Efektivitas latihan nafas dalam terhadap tingkat rasa nyeri klien pasca bedah laparatomi di RSUD A Wahab Syahrani Samarinda.  &lt;br /&gt;66. Pengaruh lamanya konsumsi gohu terhadap pembentukan karies gigi masyarakat di Kotamadya Manado dan alternatif penanggulangannya.  &lt;br /&gt;67. Pengaruh tingkat pendidikan keluarga terhadap penerimaan kembali pasien gangguan jiwa di RS Jiwa Pusat Ujung Pandang.  &lt;br /&gt;68. Persepsi keluarga tentang faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan klien gangguan jiwa di lingkungan keluarga di Kabupaten Tana Toraja Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2000 – 2001.  &lt;br /&gt;69. Hubungan infeksi cacingan dengan kadar Hb, status gizi dan prestasi belajar anak SD di desa Tande dan Baruga Kabupaten Majene. &lt;br /&gt;70. Tinjauan pola asuh keluarga nelayan terhadap proses perkembangan anak usia pra sekolah (3 – 6) tahun di pesisir pantai dan Lare-lare Kabupaten Dati II Luwu.  Tahun 2001  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengaruh mobilisasi terhadap lamanya perawatan pasien stroke hemoragi dan strokeischemik di ruang rawat inap syaraf RSU Zainoel Abidin Banda Aceh.  &lt;br /&gt;2. Pengaruh daya kerja / kreatifitas petugas perawatan terhadap peningkatan pelayanan klien dalam penerapan asuhan keperawatan di RSU Pematang Siantar.  &lt;br /&gt;3. Efektivitas rangsang air hangat dan dingin terhadap miksi pada klien post partum di RS dan Rumah Bersalin kota Pekanbaru.  &lt;br /&gt;4. Hubungan supervisi kepala ruangan dengan kinerja perawat pelaksana di unit rawat inap RSUP Dr. M. Jamil Padang.  &lt;br /&gt;5. Analisa kualitatif mengenai perilaku perawat dan mutu layanan keperawatan menurut persepsi pasien dan korban gempa bumi 7,3 pada skala richter di Bengkulu (sebuah studi kasus untuk penyempurnaan disaster manual).  &lt;br /&gt;6. Evaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan pemberian ferum pada ibu hamil dalam mengatasi anemi kahamilan pada Poli KIA Puskesmas di Bengkulu.  &lt;br /&gt;7. Peranan pengelola SDN terhadap pelayanan kesehatan gigi dengan sistim pembayaran subsidi silang dalam menyongsong era desentralisasi di SDN Kecamatan Tawang Kotif Tasikmalaya.  &lt;br /&gt;8. Pengaruh pemberian sorbitol dibandingkan sukrosa terhadap pembentukan plak gigi pada mahasiswa AKG Depkes Tasikmalaya tahun 1999/2000.  &lt;br /&gt;9. Studi tentang efektivitas penggunaan manual asuhan bagi anggota keluarga dalam melaksanakan asuhan di rumah pada ibu hamil dengan pre eklamsi ringan (kasus di RSUP Dr. Sardjito Yogayakarta ) tahun 2001.  &lt;br /&gt;10. Pengaruh penggunaan media grafis komik memakai tokoh "Saras 008 dan Panji Manusia Milenium" dalam pembelajaran UKS terhadap tingkat pemahaman anak SD kelas 1 – 3 tentang personal hygiene di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.  &lt;br /&gt;11. Pengaruh penerapan terapi vokasional terhadap tingkat kemandirian hidup klien gangguan jiwa kronis di RS Jiwa Yogyakarta.  &lt;br /&gt;12. Hubungan antara persepsi tentang penyakit TBC dengan sikap anak remaja yang mempunyai orang tua menderita penyakit TBC paru.  &lt;br /&gt;13. Pengaruh pelatihan manajemen keperawatan terhadap kemampuan kepala ruangan memotivasi bawahan dalam meningkatkan kepuasan klien.  &lt;br /&gt;14. Studi banding antara bidan dengan menggunakan format asuhan keperawatan dan bidan dengan menggunakan format asuhan kebidanan.  &lt;br /&gt;15. Pengaruh support sistem keluarga terhadap keberhasilan pengobatan TB paru di Kabupaten Malang.  &lt;br /&gt;16. Faktor-faktor yang mempengaruhi drop out pada peserta JPKM di wilayah kerja Puskesmas Pucang Sewu Kotamadya Surabaya.  &lt;br /&gt;17. Persepsi konsep diri wanita pasca mastektomi. &lt;br /&gt;18. Peran perawat Puskesmas dalam merawat luka post operasi pasien di masyarakat setelah pulang dari RS di Kota Kupang tahun 2000/2001.  &lt;br /&gt;19. Analisis kebutuhan tenaga perawat berdasarkan tingkat ketergantungan pasien di RSU Prof. Dr. W.Z. Yohanes Kupang.&lt;br /&gt; 20. Profil dan kinerja bidan di desa Kotamadya Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOPIK PENELITIAN KEPERAWATAN ANAK  &lt;br /&gt;1. Stres akibat dampak hospitalisasi pada anak. &lt;br /&gt;2. Penerapan konsep asuhan keperawatan anak dengan paradigma atraumatic care.  &lt;br /&gt;3. Menilai tahap perkembabgan pada bayi / anak dengan menggunakan format DDST. &lt;br /&gt;4. Intervensi stimulasi untuk mencapai tahap tumbuh kembang bayi/anak.yang optimal. &lt;br /&gt;5. Penentuan jenis permainan sesuai tahap tumbuh kembang anak dan jenis penyakit. &lt;br /&gt;6. Pemberian imunisasi.. &lt;br /&gt;7. Perawatan anak dengan pemberian kemoterapi. 8. Pelaksanaan MTBS untuk mengenali gejala awal penyakit pada anak. &lt;br /&gt;9. Fototerapi pada bayi dengan Hyperbilirubin. &lt;br /&gt;10. Pemberian cholustrum pada BBL. &lt;br /&gt;11. Perubahan perkembangan psikologi dan perilaku sosial pada anak usia prasekolah. &lt;br /&gt;12. Peran ortu dalam penanggulangan dini penyakit demam berdarah dengue.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-3097959778397768740?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/3097959778397768740/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/judul-skripsi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/3097959778397768740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/3097959778397768740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/judul-skripsi.html' title='JUDUL SKRIPSI'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-5533815743224246529</id><published>2010-02-02T22:10:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T22:10:48.749-08:00</updated><title type='text'>ASKEP KANKER KOLON</title><content type='html'>A.DEFENISI&lt;br /&gt;Tumor usus halus jarang terjadi, sebalikanya tumor usus besar dan rektum relatif umu. Pada kenyataannya, kanker kolon dan rektum adalah tipe paling umum kedua dari kenker internal diamerika serikat. Ini adalah penyakit budaya barat. Diperkirakan bahwa 150.000 kasus baru kanker kolorektal didiagnosis dinegara ini seriap tahunnya. Kanker kolon menyerang individu dua kali lebih besar dibandingkan dengan kanker rektal.&lt;br /&gt;B.ETIOLOGI&lt;br /&gt;Penyebab nyata dari kanker kolon dan rektal tidak diketahui, tetaoi faktor resiko telah teridentifikasi, termasuk riwayat atau riwayat kanker kolon atau polip dalam keluarga, riwayat penyakit usus inflamasi kronis, dan diet tinggi lemak, protein, dan dagin serta rendah serat.&lt;br /&gt;C.PATOFISIOLOGI&lt;br /&gt;Kanker kolon dan rektum terutama (95 %) adenokarsinoma (muncul dari lapisan epitel usus). Dimulai sebagai polip jinak tetapi dapat menjadi ganas dan menysusp serta merusak jaringan normal serta meluas kedalam struktur sekitarnya. Sel kanker dapat terlepas dari tumr primer dan menyebar kebagian tubuh yang lain (paling sering ke hati).&lt;br /&gt;D.MANIFESTASI KLINIK&lt;br /&gt;Gejala sangat ditentukan oleh lokasi kanker, tahap penyakit, dan fungsi segmen usus tempat kanker berlokasi. Gejala paling menonjol adalah perubahan kebiasaan defekasi. Pasase darah dalam feses gejala paling umum kedua. Gejala dapat juga anemia yang tidak diketahui penyebabnya, anoreksi, atau penurunan berat badan dan keletihan. Gejala yang sering dihubungkan dengan lesi sebelah kanan adalah nyeri dangkal abdomen dan melena (feses hitam, seperti ter). Gejala yang sering dihubungkan dengan lesi sebelah kiri adalah yang berhubungan dengan obstruksi (nyeri abdomen dan kram, penipisan feses, konstipasi dan distensi) serta adanya darah merag segar dalam feses. Gejala yang dihubungakan dengan lesi rektal adalah evakuasi feses yang tidak lengkap setelah defekasi, konstipasi dan diare bergantian, serta feses berdarah.&lt;br /&gt;E.KOMPLIKASI&lt;br /&gt;Pertumbuhan tumor dapat menyebabkan terjadinya obstruksi usus parsial atau lengkap. Pertumbuhan dan ulserasi dapat juga menyerang pembuluh darah sekira kolon yang menyebabkan hemoragi . perforasi dapat terjadi, dan mengakibatkan pembentukan abses. Peritonitis atau sepsis dapat menimbulkan syok. &lt;br /&gt;F.EVALUASI DOAGNOSTIK&lt;br /&gt;Bersamaan dengan pemeriksaan abdomen dan rektal, prosedur diagnostik paling penting untuk kanker kolon adalah pengujian darah samar, enema barium, progtosigmoidoskopi, dan kolonoskopi. Sebanyak 60 % dari kasus kanker kolorektal dapat diidentifikasi dengan sigmoideskopi dengan biopsi dan apusan sitologi.&lt;br /&gt;G.PEMERIKSAAN ANTIGEN KARSINOEMBRIONIK&lt;br /&gt;Pemeriksaan CEA dapat juga dilakukan meskipun antigen karsinoembrionik mungkin bukan indikator yang dapat dipercaya dalam mendiagnosa kanker kolon karena tidak semua lesi menyekresi CEA. Pemeriksaan menunjukkan bahwa kadar CEA dapat dipercaya dalam diagnosis prediksi. Pada eksisi tumor kemplet, kadar CEA yang meningkat harus kembali normal dalam waktu 48 jam. Peningkatan CEA pada tanggal selanjutnya menunjukkan kekambuhan.&lt;br /&gt;H.PENATALAKSANAAN&lt;br /&gt;Pasien dengan gejala obstruksi usus diobati dengan cairan IV dan pengisapan nasogatrik. Apabila terdapat pendarahan yang cukup barwarna, terapi komponen darah dapat diberikan. Pengobatan tergantung pada tahap penyakit dan komplikasi yang berhubungan. Endoskopi, ultrasonografidan laporoskopi telah terbukti berhasil dalam pentahapan kanker kolorektal pada periode praoperatif. Metode pentahapan yang dapat dilakukan adalah klasifikasi duke :&lt;br /&gt;Kelas A – tumor dibatasi pada mukosa dan sub mukosa&lt;br /&gt;Kelas B – penetrasi melaui dinding usus&lt;br /&gt;Kelas C – invasi kedalam sistem limfe yang mengalir regional&lt;br /&gt;Kelas D – metastasis regional tahap lanjut dan penyebaran luas.&lt;br /&gt;Pengobatan medis untuk kanker kolorektal paling sering dlam bentuk pendukung atau terapi ajufan. Teori ajufan biasanya diberikan selain pengobatan bedah dan untuk pasien dengan kanker kolon kelas C dan B. terapi radiasi diberikan pada periode operati, intraoperatif, dan pascaoperatif untuk memperkecil tumor, mencapai hasil yang lebih baik dari pembedahan, dan untuk mengurangi resiko kekambuhan. Pembedahan adalah itndakan primer untuk kebanyakan kanker kolon pembedahan dapat bersifat kuratif dan paliatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROSES KEPERAWATAN&lt;br /&gt;A.Pengkajian&lt;br /&gt;Riwayat kesehatan diambil untuk mendapatkan informasi tentang perasaan lelah: adanya nyeri abdomen atau rektal dan karakternya (lokasi, frekuensi, durasi, berhubungan dengan makan atau defekasi), pola eliminasi terdahulu dan saat ini, deskripsi tentang warna, bau dan konsistensi feses, mencakup adanya darah atau mukus. Informasi tambahan mencakup riwayat masa lalu  tentang penyakit usus inflamasi kronis atau polip kolorektal; dan terapi obat saat ini. Kebiasaan diet diidentifikasi mencakup masukan lemak dan serat serta jumlah komsumsi alkohol. Riwayat penurunan berat badan adalah penting.&lt;br /&gt;Pengkajian objektif mencakup auskultasi abdomen terhadap bising usus dan palpasi abdomen untuk area nyeri tekan, distensi, dan massa padat. Spesimen feses diinspeksi terhadap karakter dan adanya darah.&lt;br /&gt;B.Diagnosa keperawatan&lt;br /&gt;Berdasarkan semua data pengkajian, diagnosa keperawatan utama mencakup sebagai berikut :&lt;br /&gt;Konstipasi berhubungan dengan lesi obstruksi&lt;br /&gt;Nyeri berhubungan dengan kompresi jaringan sekunder akibat obstruksi&lt;br /&gt;Keletihan berhubungan dengan anemia dan anoreksia&lt;br /&gt;Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh, berhubungan dengan mual dan anoreksia&lt;br /&gt;Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah dan dehidrasi&lt;br /&gt;Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan dan diagnosis kanker&lt;br /&gt;Kurang pengetahuan mengenai diagnosa, prosedur pembedahan dan perawatan diri setelah pulang&lt;br /&gt; Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan insisi bedah (abdomen dan perianal), pembentukan stoma, dan kontaminasi fekal terhadap kulit dan periostomal&lt;br /&gt;Gangguan citra tubuh berhubungan denngan kolostomi&lt;br /&gt;C.Intervensi keperawatan&lt;br /&gt;Mempertahankan eliminasi. Frekuensi dan konsistensi defekasi dipantau. Laksatif dan enema diberikan sesuai resep. Pasien yang menunjukkan tenda perkembangan kearah obstruksi total disiapkan untuk menjalani pembedahan.&lt;br /&gt;Menghilangkan nyeri. Analgesik diberikan sesuai resep. Lingkungan dibuat kondusif untuk relaksasi dengan meredupkan lampu, mematikan televisi atau radio, dan membatasi pengunjung dan telepon bila diinginkan oleh pasien. Tindakan kenyamanan tambahan ditawarkan perubahan posisi, gosokan punggung, dan tehnik relaksasi.&lt;br /&gt;Meningkatkan toleransi aktivitas. Toleransi aktivitas pasien dikaji. Aktivitas diubah dan dijdualkan untuk memungkinan periode tirah baring yang adekuat dalam upaya untuk menurunkan keletihan pasien.terapi komponen darah diberikan sesuai resep bila pasine menderita anemia berat. Apabila transfusi darah diberikan, pedoman keamanan umum dan kebijakan institusi mengenai tindakan pengamanan harus diikuti. Aktivitas pascaoperatif ditingkatkan dan toleransi dipantau.&lt;br /&gt;Memberikan tindakan nutrisional. Apabila kondisi pasien memungkinkan, diet tinggi kalori, protein, dan karbohidrat serta rendah residu diberikan pada periode praoperatif selama beberapa hari untuk memberikan nutrisi adekuat dan meminimalkan kram dengan menurungkan peristaltik kelebihan. Diet cair penuh dapat diberikan 24 jam selama pembedahan untuk menurungkan bulk. Nutrisi parenteral total diberikan pada beberapa pasien untuk menggantikan penipisan nutrien, vitamin dan mineral. Penimbangan berat badan hariian dicatat dan dokter diberitahu bila pasien terus mengalami penurunan berat badan pada saat m,enerima nutrisi parenteral.&lt;br /&gt;Mempertahankan keseimabangan cairan dan elektrolit. Masukan dan haluaran, mencakup muntah, diukur dan dicatat untuk menyediakan data akuran tentang keseimbangan cairan. Masaukan makanan oral dan cairan pasien dibatasi untuk mencegah terjadinya muntah. Antiemetik diberikan sesuai resep. Cairan penuh atau jernih dapat ditoleransi, atau pasien dipuaskan. Selang nasogatrik akan dipasang pada periode praoperatif untuk mengalirkan akumulasi cairan dan mencegah distensi abdomen. Kateter urinarius inwelling dapat dipasang untuk memungkinkan pemantauan haluaran setiap jam. Haluaran kurang dari dari 30 ml/jam dilaporkan sehingga terapi cairan intavena dapat disesuaikan.&lt;br /&gt;Pemberian cairan intravena dan elektrolit dipantau. Kadar elektrolit serum dipantau untk mendeteksi hipokalemia dan hiponatremia, yang terjadi akibat kehilangan cairan GI. Tanda vital dikaji untuk mendeteksi tanda hivopolemia : takikardia, hipotensi dan penurunan jumlah denyut. Status hidrasii dikaji, dan penurunan turgor kulit, membran mukosa kering, urine pekak, serta peningkatan jenis urine perlu dilaporkan.&lt;br /&gt;Menurunkan ansietas. Tingkat ansietas klien perlu dikaji, seperti mekanisme koping yang digunakan untuk menghadapi strees.upaya pendukung mencakup pemberian privasi bila diinginkan dan menginstruksikan pasien untuk latihan relaksasi. Luangkan waktu untuk mendengarkan ungkapan, kesedihan, atau pernyataan yang disampaikan oleh klien. Perawat akan mengatru pertemuan dengan rohaniawan bila klien menginginkannya, dengan dokter bila pasien menginginkannya.&lt;br /&gt;Mencegah infeksi. Antibiotik seperti kanamisin sulfat, eritromisin, dan neomisin sukfat diberikan sesuai resep untuk mengurangi bakteri usus dalam  rangka persiapan pembedahan usus. Preparat ini diberikan melalui mulut untuk mengurangi kandungan bakteri kolon dan melunakkan serta menurunkan bulk dari isi kolon. Selain itu usus dapat dibersihkan dengan laksatif, enema, atau irigasi kolonis. Atibiotik dapat diberikan pada periode pasca operatif untuk membantu dalam mencegah infeksi.&lt;br /&gt;Pendidikan pasien praoperatif. Pengetahuan pasien saat ini tentang diagnosis, prognosis, prosedur bedah dan tingkat fungsi yang diinginkan pada pascaoperatifharus dikaji. Informasi yang diperlukan, bagaimana hal ini ditujukkan, kapan pasien paling dapat menerimannya, dan siapa yang menemani selama intruksi.&lt;br /&gt;Informasi yang diperlukan pasien tentang persiapan fisik untuk pembedahan, penampilan dan perawatan yang diharapkan dari luka pascaoperatif. Tehnik perawatan ostomi, pembatasan diet, kontrol nyeri, dan penatalaksanaan obatdimasukkan dalam materi rencana penyuluhan.&lt;br /&gt;D. Evaluasi&lt;br /&gt;Hasil yang diharapkan &lt;br /&gt;1.Mempertahankan eliminasi usus adekuat&lt;br /&gt;2.Mengalami sedikit nyeri&lt;br /&gt;3.Meningkatkan toleransi aktivitas&lt;br /&gt;4.Mencapai tingkat nutrisi yang optimal&lt;br /&gt;5.Keseimbangan cairan tercapai&lt;br /&gt;6.Mengalami penurunan ansietas&lt;br /&gt;7.Memerlukan informasi diagnosis, prosedur bedah dan perawatan diri setelah pulang&lt;br /&gt;8.Memeprtahankan insisi&lt;br /&gt;9.Tidak mengalami komplikasi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-5533815743224246529?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/5533815743224246529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/askep-kanker-kolon.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/5533815743224246529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/5533815743224246529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/askep-kanker-kolon.html' title='ASKEP KANKER KOLON'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-4155962906175957543</id><published>2010-02-02T22:07:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T22:07:45.412-08:00</updated><title type='text'>KENALI DEMAM SEDINI MUNGKIN</title><content type='html'>Demam adalah suatu bagian penting dari mekanisme pertahanan tubuh melawan infeksi. Kebanyakan bakteri dan virus yang menyebabkan infeksi pada manusia hidup subur pada suhu 37 derajat C. Meningkatnya suhu tubuh beberapa derajat dapat membantu tubuh melawan infeksi. Demam akan mengaktifkan sistem kekebalan tubuh untuk membuat lebih banyak sel darah putih, membuat lebih banyak antibodi dan membuat lebih banyak zat-zat lain untuk melawan infeksi.&lt;br /&gt;Suhu tubuh normal bervariasi tergantung masing-masing orang, usia dan aktivitas. Rata-rata suhu tubuh normal adalah 37 derajat C.&lt;br /&gt;Suhu tubuh kita biasanya paling tinggi pada sore hari. Suhu tubuh dapat meningkat disebabkan oleh aktivitas fisik, emosi yang kuat, makan, berpakaian tebal, obat-obatan, suhu kamar yang panas, dan kelembaban yang tinggi. Ini terutama pada anak-anak.&lt;br /&gt;Suhu tubuh orang dewasa kurang bervariasi. Tetapi pada seorang wanita siklus menstruasi dapat meningkatkan suhu tubuh satu derajat atau lebih.&lt;br /&gt;Apa yang terjadi pada tubuh kita pada saat demam?&lt;br /&gt;Yang mengatur suhu tubuh kita adalah hipotalamus yang terletak di otak. Hipotalamus ini berperan sebagai thermostat. Thermostat adalah alat untuk menyetel suhu seperti yang terdapat pada AC. Hipotalamus kita mengetahui berapa suhu tubuh kita yang seharusnya dan akan mengirim pesan ke tubuh kita untuk menjaga suhu tersebut tetap stabil.&lt;br /&gt;Pada saat kuman masuk ke tubuh dan membuat kita sakit, mereka seringkali menyebabkan beberapa zat kimiawi tertentu beredar dalam darah kita dan mencapai hipotalamus. Pada saat hipotalamus tahu bahwa ada kuman, maka secara otomatis akan mengeset thermostat tubuh kita lebih tinggi. Misalnya suhu tubuh kita harusnya 37 derajat C, thermostat akan berkata bahwa karena ada kuman maka suhu tubuh kita harusnya 38,9 derajat C.&lt;br /&gt;Kenapa hipotalamus memberitahu tubuh kita untuk mengubah ke suhu tubuh yang lebih tinggi? Ternyata dengan suhu tubuh yang lebih tinggi adalah cara tubuh kita berperang melawan kuman dan membuat tubuh kita menjadi tempat yang tidak nyaman bagi kuman.&lt;br /&gt;Setelah hipotalamus mengeset suhu baru untuk tubuh kita, maka tubuh kita akan bereaksi dan mulai melakukan pemanasan. Jadi setelah hipotalamus mengeset pada suhu 38,9 derajat C misalnya, maka suhu tubuh kita yang tadinya 37 derajat C, oleh tubuh kita akan dinaikkan menjadi 38,9 derajat C. Pada saat tubuh menuju ke suhu baru kita akan merasa menggigil. Kita dapat pula merasa sangat dingin meskipun ruangan tidak dingin dan bahkan meskipun kita sudah memakai baju tebal dan selimut. Jika tubuh sudah mencapai suhu barunya, katakanlah 38,9 derajat C maka kita tidak akan merasa dingin lagi.&lt;br /&gt;Setelah penyebab yang menimbulkan demam lenyap, maka hipotalamus akan mengeset semuanya kembali seperti sediakala. Pada saat obat untuk radang tenggorokan kita sudah mulai bekerja misalnya, maka suhu tubuh kita akan mulai turun dan kembali ke normal. Kita akan merasa hangat dan perlu melepaskan panas yang berlebihan yang masih ada di tubuh. Kita akan berkeringat dan ingin memakai pakairan yang lebih tipis.&lt;br /&gt;Demam bukan suatu penyakit. Jauh dari sebagai musuh, demam adalah suatu bagian penting dari pertahanan tubuh kita melawan infeksi. Banyak bayi dan anak-anak menjadi demam tinggi oleh penyakit-penyakit virus ringan. Jadi demam memberitahukan kepada kita bahwa suatu peperangan mungkin sedang terjadi di dalam tubuh kita, demam berperang untuk kita, bukan untuk melawan kita.&lt;br /&gt;Banyak bakteri dan virus yang menyebabkan infeksi pada manusia hidup subur pada suhu 37 derajat C. Meningkatkan suhu tubuh beberapa derajat dapat membantu tubuh memenangkan pertempuran melawan bakteri dan virus tadi. Selain itu demam akan mengaktifkan sistem kekebalan tubuh untuk membuat lebih banyak sel darah putih, antibodi dan zat-zat lain untuk melawan infeksi.&lt;br /&gt;Fever Phobia&lt;br /&gt;Banyak orangtua takut bahwa demam akan menyebabkan kerusakan otak. Kerusakan otak dari demam umumnya tidak akan terjadi kecuali demam melebihi 42 derajat C. Kebanyakan orangtua juga takut bahwa demam yang tidak diobati akan semakin tinggi dan semakin tinggi. Demam yang tidak diobati yang disebabkan oleh infeksi jarang yang melebihi 40,6 derajat C kecuali anak tersebut diberikan pakaian yang berlebihan atau terjebak dalam suatu tempat yang panas. Thermostat di otak akan menghentikan demam agar tidak melebihi 41,1 derajat C.&lt;br /&gt;Beberapa orangtua takut bahwa demam akan menyebabkan kejang. Bagi kebanyakan anak-anak, demam tidak menyebabkan kejang. Tetapi kejang demam memang dapat terjadi pada beberapa anak. Sekali seorang anak diketahui pernah menderita kejang demam sederhana maka kita harus mencegah agar anak tersebut jangan sampai demam tinggi. Pada umumnya kejang demam sederhana hanya berlangsung singkat tanpa efek jangka panjang.&lt;br /&gt;Meskipun infeksi adalah penyebab umum dari demam, akan tetapi demam mempunyai daftar penyebab lain yang cukup panjang, termasuk racun, kanker, dan penyakit-penyakit autoimun.&lt;br /&gt;Heatstroke atau hyperthermia tidak sama dengan demam, oleh karena peningkatan suhu tubuh yang terjadi bukan disebabkan hipotalamus menaikkan set pointnya. Ini dapat terjadi akibat berolahraga terlalu lelah tanpa minum yang cukup atau terpapar dengan lingkungan yang panas, dan bisa juga disebabkan oleh beberapa obat-obatan tertentu. Hyperthermia dapat membahayakan jiwa.&lt;br /&gt;Demam yang tidak dapat dijelaskan yang berlangsung selama beberapa hari atau beberapa minggu disebut dokter sebagai FUO (fever of undetermined origin). Kebanyakan disebabkan oleh suatu infeksi yang tersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab Umum &lt;br /&gt;•Infeksi virus dan bakteri;&lt;br /&gt;•Flu dan masuk angin;&lt;br /&gt;•Radang tenggorokan;&lt;br /&gt;•Infeksi telinga&lt;br /&gt;•Diare disebabkan bakterial atau diare disebabkan virus.&lt;br /&gt;•Bronkitis akut, Infeksi saluran kencing&lt;br /&gt;•Infeksi saluran pernafasan atas (seperti amandel, radang faring atau radang laring)&lt;br /&gt;•Obat-obatan tertentu&lt;br /&gt;•Kadang-kadang disebabkan oleh masalah-masalah yang lebih serius seperti pneumonia, radang usus buntu, TBC, dan radang selaput otak.&lt;br /&gt;•Demam dapat terjadi pada bayi yang diberi baju berlebihan pada musim panas atau pada lingkungan yang panas. &lt;br /&gt;•Penyebab-penyebab lain: penyakit rheumatoid, penyakit otoimun, Juvenile rheumatoid arthritis, Lupus erythematosus, Periarteritis nodosa, infeksi HIV dan AIDS, Inflammatory bowel disease, Regional enteritis, Ulcerative colitis, Kanker, Leukemia, Neuroblastoma, penyakit Hodgkin, Non-Hodgkin's lymphoma&lt;br /&gt;Perawatan Rumah&lt;br /&gt;Jika demam ringan dan tidak ada masalah-masalah lain yang timbul, tidak diperlukan obat-obatan. Minum cairan yang banyak dan istirahat. Jika seorang anak masih dapat bermain dan nyaman, minum cairan yang banyak dan dapat tidur maka obat-obatan tidak diperlukan.&lt;br /&gt;Ambil langkah-langkah untuk menurunkan demam jika kita atau anak kita merasa tidak nyaman, muntah, dehidrasi, atau sulit tidur. Tujuannya adalah menurunkan, bukan menghilangkan demam.&lt;br /&gt;Waktu mencoba mengurangi demam:&lt;br /&gt;•Jangan membungkus orang yang menderita demam.&lt;br /&gt;Singkirkan baju atau selimut yang berlebihan. Lingkungan sebaiknya sejuk nyaman. Contoh, satu lapis baju tipis dan satu selimut tipis untuk tidur. Jika ruangan panas, nyalakan AC atau kipas angin.&lt;br /&gt;•Mandi atau menyeka tubuh dengan air hangat kuku dapat membantu mendinginkan seseorang dengan demam. Ini efektif terutama setelah diberikan obat penurun panas kalau tidak suhu tubuh akan kembali naik.&lt;br /&gt;•Jangan mandi dengan air dingin atau kompres dengan alkohol. Ini akan mendinginkan kulit tetapi seringkali membuat situasi menjadi lebih buruk karena menyebabkan menggigil yang mana dapat meningkatkan suhu dalam tubuh.&lt;br /&gt;•Minum cairan lebih banyak. Minum cairan dingin kalau bisa.&lt;br /&gt;Beberapa petunjuk untuk minum obat:&lt;br /&gt;•Acetaminophen (paracetamol) dan ibuprofen dapat mengurangi demam pada anak dan dewasa. Beberapa merek dagang acetaminophen: Panadol, Tempra, Sanmol, Praxion, dll. Beberapa merek dagang ibuprofen: Proris, Rhelafen, Bufect, dll.&lt;br /&gt;Minum acetaminophen setiap 4 – 6 jam. Obat ini bekerja cepat dengan cara menurunkan thermostat otak. Minum ibuprofen setiap 6 – 8 jam. Seperti aspirin, ibuprofen membantu melawan peradangan pada sumber demam. Kadang-kadang dokter menganjurkan anda untuk menggunakan kedua macam obat ini bergantian. Sebenarnya hal ini belum didukung data mengenai keamanan dan keefektifannya. Ibuprofen tidak boleh dipakai untuk bayi denga usia kurang dari 6 bulan.&lt;br /&gt;•Aspirin sangat efektif untuk mengobati demam pada orang dewasa. JANGAN memberikan aspirin pada anak-anak.&lt;br /&gt;•Obat-obatan penurun panas tersedia dalam konsentrasi yang berbeda-beda, jadi selalu perhatikan instruksi pada kemasan.&lt;br /&gt;•Jangan berikan obat-obatan apapun untuk menurunkan demam pada bayi berusia 3 bulan ke bawah tanpa petunjuk dokter.&lt;br /&gt;Jika seseorang terkena panas karena kelelahan atau heat stroke, keluarkan orang tersebut dari sumber panas, Seka dengan dengan air hangat kuku. Tempatkan kantong es di ketiak, dibelakang leher dan di lipat paha. Berikan cairan jika orang itu sadar. Cari pertolongan medis.&lt;br /&gt;Hubungi segera dokter anda jika:&lt;br /&gt;•Bayi berusia kurang dari 90 hari dengan suhu rektal lebih dari 37.9°C. Pada bayi usia muda ini mereka akan mudah menjadi sakit parah dalam waktu sangat cepat.&lt;br /&gt;•Bayi berusia 3 – 6 bulan dengan demam lebih dari 38.3°C.&lt;br /&gt;•Bayi berusia 6 – 12 bulan dengan demam lebih dari 39.4°C.&lt;br /&gt;•Anak berusia kurang dari 2 tahun dengan demam lebih dari 24 – 48 jam.&lt;br /&gt;•Demam yang berlangsung lebih dari 48 – 72 jam pada anak yang lebih tua dan pada orang dewasa.&lt;br /&gt;•Demam tinggi (lebih dari 40.5°C) pada usia berapapun juga.&lt;br /&gt;•Terdapat gejala-gejala lain yang mengkhawatirkan. Contoh: gelisah, kesadaran menurun, tampak sakit berat, kesulitan bernafas, kaku kuduk, tidak dapat menggerakan lengan atau tungkai, kejang pertama kali, timbul bintik-bintik atau bercak ungu kemerahan-merahan (perdarahan bawah kulit), demam disertai muntah terus-menerus, diare, sulit/nyeri pada saat menelan ludah atau minum, sangat rewel (misalnya menangis terus-menerus bila disentuh atau dipindahkan), terdapat tanda-tanda dehidrasi (mulut sangat kering, tidak buang air kecil lebih dari 6 jam, dll).&lt;br /&gt;•Mempunyai penyakit kronik yang menyebabkan turunnya kekebalan tubuh.&lt;br /&gt;Apa yang mungkin akan dilakukan oleh dokter anda?&lt;br /&gt;•Dokter anda akan melakukan pemeriksaan fisik, meliputi pemeriksaan kulit, mata, telinga, hidung, tenggorokan, leher, dada dan perut untuk mencari penyebab demam. &lt;br /&gt;•Dokter anda mungkin akan menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti:&lt;br /&gt;Kapan mulai timbul demam? Sudah berapa lama demam berlangsung? Apakah demam timbulnya mendadak? Obat-obatan apa saja yang sudah diberikan untuk menurunkan demam?&lt;br /&gt;Apakah demam diselingi menggigil? Apakah demam naik turun?&lt;br /&gt;Apakah demam terjadi dalam waktu 4 sampai 6 jam setelah terpapar dengan sesuatu yang membuat anda alergi?&lt;br /&gt;Apakah ada gejala-gejala lain yang menyertai demam? Adakah batuk pilek? Adakah nyeri pada waktu menelan? Adalah muntah? Adakah diare? Adakah nyeri pada waktu buang air kecil? Bagaimana nafsu makan anak? Apakah tidur terganggu? Apakah mendengkur lebih dari biasanya?&lt;br /&gt;Pengobatan tergantung pada berapa lama demam berlangsung dan penyebab dari demam serta gejala-gejala lain yang menyertai demam.&lt;br /&gt;Pemeriksaan laboratorium yang mungkin diminta dokter anda:&lt;br /&gt;•Pemeriksaan darah rutin dan hitung jenis&lt;br /&gt;•Pemeriksaan urin&lt;br /&gt;•Foto rontgen&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-4155962906175957543?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/4155962906175957543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/kenali-demam-sedini-mungkin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/4155962906175957543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/4155962906175957543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/kenali-demam-sedini-mungkin.html' title='KENALI DEMAM SEDINI MUNGKIN'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-9130578628596958813</id><published>2010-02-02T22:03:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T22:03:29.979-08:00</updated><title type='text'>ASKEP NEFROLITIASIS DAN UROLITIASIS</title><content type='html'>A.Pengertian&lt;br /&gt;Nefrolitiasis adalah adanya batu pada atau kalkulus dalam velvis renal, sedangkan urolitiasis adalah adanya batu atau kalkulus dalam sistem urinarius. Urolithiasis mengacu pada adanya batu (kalkuli) ditraktus urinarius. Batu terbentuk dari traktus urinarius ketika konsentrasi subtansi tertentu seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, dan asam urat meningkat.&lt;br /&gt;B.Etiologi&lt;br /&gt;Batu terbentuk dari traktus urinarius ketika konsentrasi subtansi tertentu seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, dan asam urat meningkat. Batu juga dapat terbentuk ketika terdapat defisiensi subtansi tertentu, seperti sitrat yang secara normal mencegah kristalisasi dalam urine. Kondisi lain yang mempengaruhi laju pembentukan batu mencakup pH urin dan status cairan pasien (batu cenderung terjadi pada pasien dehidrasi).&lt;br /&gt;C.Patofisiologi&lt;br /&gt;Batu dapat ditemukan disetiap bagian ginjal sampai kekandung kemih dan ukuran bervariasi dari defosit granuler yang kecil, yang disebut pasir atau kerikil, sampai batu sebesar kandung kemih yang berwarna oranye. Factor tertentu yang mempengaruhi pembentukan batu, mencakup infeksi, statis urine, periode immobilitas. Factor-faktor yang mencetuskan peningkatan konsentrasi kalsium dalam darah dan urine, menyebabkan pembentukan batu kalsium. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.Manifestasi klinik&lt;br /&gt;Adanya batu dalam traktius urinarius tergantung pada adanya obstruksi, infeksi, dan edema. Ketika betu menghambat aliran urin, terjadi obstruksi, menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi piala ginjal serta ureter proksimal. Infeksi dan sistisis yang disertai menggigil, demam, dan disuria dapat terjadi dari iritasi batu yang terus menerus. Beberapa batu, jika ada, menyebabkan sedikit gejala namun secara perlahan merusak unit fungsional ginjal. Sedangkan yang lain menyebabkan nyeri yang luar biasa dan menyebabkan ketidaknyamanan. Batu di piala ginjal mungkin berkaitan dengan sakit yang dalam dan terus menerus diarea konstovertebral. Hematuria dan piuria dapat dijumpai. Batu yang terjebak diureter menyebabkan gelombang nyeri yang luar biasa, akut, kolik, yang menyebar kepaha dan genitalia. Pasien merasa selalu ingin berkemih, namun hanya sedikit urin yang keluar dan biasanya mengandung darah akibat aksi abrasive batu. Batu yang terjebak dikandung kemih biasanya menyebabkan gejala iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus urinarius dan hematuria.&lt;br /&gt;E.Evaluasi diagnostic&lt;br /&gt;Diagnosis ditegakkan dengan studi ginjal, ureter, kandung kemih (GUK), uregrafi intravena, atau pielografi retrograde. Uji kimia darahdan urine 24 jam untuk mengukur kadar kalsium, asam urat, kreatinin, natrium, pH, dan volume total merupkan bagian dari upaya diagnostic. Riwayat diet dan medikasi serta riwayat adanya batu ginjal dalam keluarga didapatkan untuk mengidentifikasi factor yang mencetuskan terbentuknya batu pada pasien.&lt;br /&gt;F.Penatalaksanaan&lt;br /&gt;Tujuan dasar penatalaksanaan adalah untuk menghilangkan batu, menentukan jenis batu, mencegah kerusakan nefron, mengendalikan infeksi, dan mengurangi obstruksi yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROSES KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.Pengkajian&lt;br /&gt;Aktivitas istirahat&lt;br /&gt;Gejala : pekerjaan monoton, pekerjaan dimana pasien terpajang pada lingkungan bersuhu tinggi. Keterbatasan aktivitas/immobilisasi sehubungan dengan kondisi sebelumnya.&lt;br /&gt;Sirkulasi&lt;br /&gt;Tanda : peningkatan TD/nadi (nyeri, ansietas, gagal jantung). Kulit hangat dan kemerahan, pucat.&lt;br /&gt;Eliminasi &lt;br /&gt;Gejala : riwayat adanya ISK kronis, obstruksi sebelumnya (kalkulus), penurunan haluaran urine, kandung kemih penuh, rasa terbakar, dorongan berkemih, diare.&lt;br /&gt;Tanda : oliguria, hematuria, piuria, dan perubahan pola berkemih.&lt;br /&gt;Makanan/cairan &lt;br /&gt;Gejala : mual/muntah, nyeri tekan abdomen, diet tinggi purin, kalsium oksalat, dan atau fosfat, ketidakcukupan pemasukan cairan, tidak minum air dengan cukup.&lt;br /&gt;Tanda : distensi abdominal, penurunan atau takadanya bising usus, dan muntah.&lt;br /&gt;B.Diagnosa keperawatan&lt;br /&gt;1)Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan frekuensi/dorongan kontraksi ureteral.&lt;br /&gt;2)Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal atau ureteral.&lt;br /&gt;3)Resiko tinggi terhadap kekuranganm volume cairanberhubungan dengan mual/muntah&lt;br /&gt;4)Kurangnya pemngetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajang/mengingat, salah interpretasi informasi.&lt;br /&gt;C.Intervensi dan perencanaan&lt;br /&gt;1)Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan frekuensi/dorongan kontraksi ureteral.&lt;br /&gt;a)Catat lokasi lamanya intensitas, dan penyebarannya &lt;br /&gt;R/ membantu mengevaluasi tempat obstruksi dan kemajuan gerakan kalkulus&lt;br /&gt;b)Jelaskan penyebab nyeri dan pentingnya melaporkan kestaff terhadap perubahan kejadian/karakteristik nyeri&lt;br /&gt;R/ memberikan kesempatan terhadap pemberian analgesi sesuai waktu &lt;br /&gt;c)Berikan tindakan nyaman, contoh pijatan punggung dan lingkungan istirahat.&lt;br /&gt;R/ Meningkatkan relaksasi, menurungkan tegangan otot dan meningkatkan koping.&lt;br /&gt;d)Berikan obat anti nyeri&lt;br /&gt;R/ untuk menurungkan rasa nyeri&lt;br /&gt;2)Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal atau ureteral.&lt;br /&gt;a)Awasi pemasukan dan pengeluaran serta karakteristik urine&lt;br /&gt;R/ memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi&lt;br /&gt;b)Tentukan pola berkemih pasien dan perhatikan variasi&lt;br /&gt;R/ kalkulus dapat menyebabkan eksitabilitas saraf, yang menyebabkan sensasi kebutuhan berkemih segera.&lt;br /&gt;c)Dorong meningkatkan pemmasukan cairan&lt;br /&gt;R/ peningkatan hidrasi dapat membilas bakteri, darah, dan debris dan dapat membantu lewatnya batu&lt;br /&gt;d)Awasi pemeriksaan laboratorium&lt;br /&gt;R/ peninggian BUN, kreatinin, dan elektrolit mengindikasikan disfungsi ginjal.&lt;br /&gt;3)Resiko tinggi terhadap kekuranganm volume cairanberhubungan dengan mual/muntah&lt;br /&gt;a)Awasi pemasukan dan pengeluaran cairan&lt;br /&gt;R/ membandingkan keluaran aktual dan yang diantisipasi membanu dalam evaluasi adanya kerusakan ginjal&lt;br /&gt;b)Catat insiden muntah&lt;br /&gt;R/ Mual/muntah secara umum berhubungan dengan kolik ginjal karena sartaf ganglion seliaka pada kedua ginjal dan lambung&lt;br /&gt;c)Tingkatkan pemasukan cairan 3-4 liter/hari dalam toleransi jantung&lt;br /&gt;R/ Mempertahankan keseimbangan cairan untuk homeostatis&lt;br /&gt;d)Awasi tanda vital&lt;br /&gt;R/ indikator hidrasi/volume sirkulasi dan kebutuhan intervensi&lt;br /&gt;e)Berikan cairan IV&lt;br /&gt;R/ mempertahankan volume sirkulasi meningkatkan fungsi ginjal&lt;br /&gt;4)Kurangnya pemngetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajang/mengingat, salah interpretasi informasi.&lt;br /&gt;a)Kaji ulang proses pemnyakit dan harapan masa depan&lt;br /&gt;R/ memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi&lt;br /&gt;b)Tekankan pentingnya pemasukan cairan&lt;br /&gt;R/ pembilasan sistem ginjal menurungkan kesempatan statis ginjal dan pembentukan batu&lt;br /&gt;c)Diaskusikan program pengobatan &lt;br /&gt;R/ obat-obatan diberikan untuk mengasamkan atau mengalkalikan urine&lt;br /&gt;D.Evaluasi &lt;br /&gt;Dari intervensi yang dilakukan beberapa hasil yang kitaharapkan adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1)Nyeri hilang/terkontrol&lt;br /&gt;2)Keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan&lt;br /&gt;3)Mencegah Komplikasi &lt;br /&gt;4)Proses penyekit/prognosis dan program terapi dipahami&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-9130578628596958813?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/9130578628596958813/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/askep-nefrolitiasis-dan-urolitiasis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/9130578628596958813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/9130578628596958813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/askep-nefrolitiasis-dan-urolitiasis.html' title='ASKEP NEFROLITIASIS DAN UROLITIASIS'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-7766083457258199891</id><published>2010-02-02T21:53:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T21:53:01.162-08:00</updated><title type='text'>ASKEP ATRIAL SEPTAL DEFECT (ASD)</title><content type='html'>DEFENISI&lt;br /&gt;ASD adalah penyakit jantung bawaan berupa lubang (defek) pada septum interatrial (sekat antar serambi) yang terjadi karena kegagalan fungsi septum interatrial semasa janin.&lt;br /&gt;Defek Septum Atrium (ASD, Atrial Septal Defect) adalah suatu lubang pada dinding (septum) yang memisahkan jantung bagian atas (atrium kiri dan atrium kanan).&lt;br /&gt;Kelainan jantung ini mirip seperti VSD, tetapi letak kebocoran di septum antara serambi kiri dan kanan. Kelainan ini menimbulkan keluhan yang lebih ringan dibanding VSD.&lt;br /&gt;Atrial Septal Defect adalah adanya hubungan (lubang) abnormal pada sekat yang memisahkan atrium kanan dan atrium kiri. Kelainan jantung bawaan yang memerlukan pembedahan jantung terbuka adalah defek sekat atrium. Defek sekat atrium adalah hubungan langsung antara serambi jantung kanan dan kiri melalui sekatnya karena kegagalan pembentukan sekat. Defek ini dapat berupa defek sinus venousus di dekat muara vena kava superior, foramen ovale terbuka pada umumnya menutup spontan setelah kelahiran, defek septum sekundum yaitu kegagalan pembentukan septum sekundum dan defek septum primum adalah kegagalan penutupan septum primum yang letaknya dekat sekat antar bilik atau pada bantalan endokard. Macam-macam defek sekat ini harus ditutup dengan tindakan bedah sebelum terjadinya pembalikan aliran darah melalui pintasan ini dari kanan ke kiri sebagai tanda timbulnya sindrome Eisenmenger. Bila sudah terjadi pembalikan aliran darah, maka pembedahan dikontraindikasikan. Tindakan bedah berupa penutupan dengan menjahit langsung dengan jahitan jelujur atau dengan menambal defek dengan sepotong dakron.&lt;br /&gt;Berdasarkan lokasi lubang, diklasifikasikan dalam 3 tipe, yaitu&lt;br /&gt;1)Ostium Primum (ASD 1), letak lubang di bagian bawah septum,mungkin disertai kelainan katup mitral.&lt;br /&gt;2)Ostium Secundum (ASD 2), letak lubang di tengah septum.&lt;br /&gt;3)Sinus Venosus Defek, lubang berada diantara Vena Cava Superior dan Atrium Kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1ETIOLOGI&lt;br /&gt;Penyebabnya belum dapat diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian ASD. Faktor-faktor tersebut diantaranya :&lt;br /&gt;1)Faktor Prenatal&lt;br /&gt;Ibu menderita infeksi Rubella&lt;br /&gt;Ibu alkoholisme&lt;br /&gt;Umur ibu lebih dari 40 tahun&lt;br /&gt;Ibu menderita IDDM&lt;br /&gt;Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu&lt;br /&gt;2)Faktor genetic&lt;br /&gt;Anak yang lahir sebelumnya menderita PJB&lt;br /&gt;Ayah atau ibu menderita PJB&lt;br /&gt;Kelainan kromosom misalnya Sindroma Down&lt;br /&gt;Lahir dengan kelainan bawaan lain&lt;br /&gt;ASD merupakan suatu kelainan jantung bawaan. &lt;br /&gt;Dalam keadaan normal, pada peredaran darah janin terdapat suatu lubang diantara atrium kiri dan kanan sehingga darah tidak perlu melewati paru-paru. Pada saat bayi lahir, lubang ini biasanya menutup. Jika lubang ini tetap terbuka, darah terus mengalir dari atrium kiri ke atrium kanan (shunt). Penyebab dari tidak menutupnya lubang pada septum atrium ini tidak diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2PATOFISIOLOGI&lt;br /&gt;Pada kasus Atrial Septal Defect yang tidak ada komplikasi, darah yang mengandung oksigen dari Atrium Kiri mengalir ke Atrium Kanan tetapi tidak sebaliknya. Aliran yang melalui defek tersebut merupakan suatu proses akibat ukuran dan complain dari atrium tersebut. Normalnya setelah bayi lahir complain ventrikel kanan menjadi lebih besar daripada ventrikel kiri yang menyebabkan ketebalan dinding ventrikel kanan berkurang. Hal ini juga berakibat volume serta ukuran atrium kanan dan ventrikel kanan meningkat. Jika complain ventrikel kanan terus menurun akibat beban yang terus meningkat shunt dari kiri kekanan bisa berkurang. Pada suatu saat sindroma Eisenmenger bisa terjadi akibat penyakit vaskuler paru yang terus bertambah berat. Arah shunt pun bisa berubah menjadi dari kanan kekiri sehingga sirkulasi darah sistemik banyak mengandung darah yang rendah oksigen akibatnya terjadi hipoksemi dan sianosis.&lt;br /&gt;1.3MANIFESTASI KLINIK&lt;br /&gt;Sebagian besar penderita ASD tidak menampakkan gejala (asimptomatik) pada masa kecilnya, kecuali pada ASD besar yang dapat menyebabkan kondisi gagal jantung di tahun pertama kehidupan pada sekitar 5% penderita. Kejadian gagal jantung meningkat pada dekade ke-4 dan ke-5, dengan disertai adanya gangguan aktivitas listrik jantung (aritmia).3, 4 &lt;br /&gt;Gejala yang muncul pada masa bayi dan kanak-kanak adalah adanya infeksi saluran nafas bagian bawah berulang, yang ditandai dengan keluhan batuk dan panas hilang timbul (tanpa pilek). Selain itu gejala gagal jantung (pada ASD besar) dapat berupa sesak napas, kesulitan menyusu, gagal tumbuh kembang pada bayi atau cepat capai saat aktivitas fisik pada anak yang lebih besar. Selanjutnya dengan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang seperti elektro-kardiografi (EKG), rontgent dada dan echo-cardiografi, diagnosis ASD dapat ditegakkan.&lt;br /&gt;Gejalanya bisa berupa: &lt;br /&gt;Sering mengalami infeksi saluran pernafasan&lt;br /&gt;Dispneu (kesulitan dalam bernafas)&lt;br /&gt;Sesak nafas ketika melakukan aktivitas &lt;br /&gt;jantung berdebar-debar (palpitasi)&lt;br /&gt;Pada kelainan yang sifatnya ringan sampai sedang, mungkin sama sekali tidak ditemukan gejala atau gejalanya baru timbul pada usia pertengahan&lt;br /&gt; Aritmia&lt;br /&gt;1.4PENATALAKSANAAN&lt;br /&gt;PENGOBATAN&lt;br /&gt;Menutup ASD pada masa kanak-kanak bisa mencegah terjadinya kelainan yang serius di kemudian hari. Jika gejalanya ringan atau tidak ada gejala, tidak perlu dilakukan pengobatan. &lt;br /&gt;Jika lubangnya besar atau terdapat gejala, dilakukan pembedahan untuk menutup ASD.&lt;br /&gt;Pengobatan pencegahan dengan antibiotik sebaiknya diberikan setiap kali sebelum penderita menjalani tindakan pencabutan gigi untuk mengurangi resiko terjadinya endokarditis infektif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERAPI &lt;br /&gt;Seluruh penderita dengan ASD harus menjalani tindakan penutupan pada defek tersebut, karena ASD tidak dapat menutup secara spontan, dan bila tidak ditutup akan menimbulkan berbagai penyulit di masa dewasa. Namun kapan terapi dan tindakan perlu dilakukan sangat tergantung pada besar kecilnya aliran darah (pirau) dan ada tidaknya gagal jantung kongestif, peningkatan tekanan pembuluh darah paru (hipertensi pulmonal) serta penyulit lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERAPI INTERVENSI NON BEDAH&lt;br /&gt;ASO adalah alat khusus yang dibuat untuk menutup ASD tipe sekundum secara non bedah yang dipasang melalui kateter secara perkutaneus lewat pembuluh darah di lipat paha (arteri femoralis). Alat ini terdiri dari 2 buah cakram yang dihubungkan dengan pinggang pendek dan terbuat dari anyaman kawat Nitinol yang dapat teregang menyesuaikan diri dengan ukuran ASD. Di dalamnya ada patch dan benang polyester yang dapat merangsang trombosis sehingga lubang/komunikasi antara atrium kiri dan kanan akan tertutup sempurna. &lt;br /&gt;Kriteria penderita ASD yang akan dilakukan pemasangan ASO:&lt;br /&gt;1)ASD sekundum &lt;br /&gt;2)Diameter kurang atau sama dengan 34 mm &lt;br /&gt;3)Flow ratio lebih atau sama dengan 1,5 atau terdapat tanda-tanda beban volume pada ventrikel kanan &lt;br /&gt;4)Mempunyai rim minimal 5 mm dari sinus koronarius, katup atrio-ventrikular, katup aorta dan vena pulmonalis kanan &lt;br /&gt;5)Defek tunggal dan tanpa kelainan jantung lainnya yang memerlukan intervensi bedah &lt;br /&gt;6)Muara vena pulmonalis normal ke atrium kiri &lt;br /&gt;7)Hipertensi pulmonal dengan resistensi vaskuler paru (Pulmonary Artery Resistance Index = PARi) kurang dari 7 - 8 U.m2 &lt;br /&gt;8)Bila ada gagal jantung, fungsi ventrikel (EF) harus lebih dari 30%. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5PEMERIKSAAN PENUNJANG&lt;br /&gt;Rontgen dada&lt;br /&gt;Ekokardiografi &lt;br /&gt;Doppler berwarna &lt;br /&gt;Ekokardiografi transesofageal &lt;br /&gt;Kateterisasi jantung &lt;br /&gt;Angiografi koroner (untuk penderita diatas 35 tahun) &lt;br /&gt;MRI dada &lt;br /&gt;Laboratorium&lt;br /&gt;Foto thorax&lt;br /&gt;EKG ; deviasi aksis ke kiri pada ASD primum dan deviasi aksis ke kanan pada ASD Secundum; RBBB,RVH.EKG menunjukkan adanya fibrilasi atrium atau pembesaran atrium kanan.&lt;br /&gt;Kateterisasi jantung ; prosedur diagnostik dimana kateter radiopaque dimasukan kedalam serambi jantung melalui pembuluh darah perifer, diobservasi dengan fluoroskopi atau intensifikasi pencitraan; pengukuran tekanan darah dan sample darah memberikan sumber-sumber informasi tambahan.&lt;br /&gt;TEE (Trans Esophageal Echocardiography)&lt;br /&gt;2.1PENGKAJIAN&lt;br /&gt;1)Lakukan pemeriksaan fisik dengan pemeriksaan yang mendetail terhadap jantung.&lt;br /&gt;Denyut arteri pulmonalis dapat diraba di dada &lt;br /&gt;Pemeriksaan dengan stetoskop menunjukkan bunyi jantung yang Abnormal. Bisa terdengar murmur akibat peningkatan aliran darah yang melalui katup pulmonalis&lt;br /&gt;Tanda-tanda gagal jantung&lt;br /&gt;Jika shuntnya besar, murmur juga bisa terdengar akibat peningkatan aliran darah yang mengalir melalui katup trikuspidalis&lt;br /&gt;2)Lakukan pengukuran tanda-tanda vital.&lt;br /&gt;3)Kaji tampilan umum, perilaku, dan fungsi:&lt;br /&gt;Inspeksi&lt;br /&gt;Status nutrisi&lt;br /&gt;Gagal tumbuh atau penambahan berat badan yang buruk berhubungan dengan penyakit jantung.&lt;br /&gt;Warna – Sianosis adalah gambaran umum dari penyakit jantung kongenital, sedangkan pucat berhubungan dengan anemia, yang sering menyertai penyakit jantung.&lt;br /&gt;Deformitas dada – Pembesaran jantung terkadang mengubah konfigurasi dada.&lt;br /&gt;Pulsasi tidak umum – Terkadang terjadi pulsasi yang dapat dilihat.&lt;br /&gt;Ekskursi pernapasan – Pernapasan mudah atau sulit (mis; takipnea, dispnea, adanya dengkur ekspirasi).&lt;br /&gt;Jari tabuh – Berhubungan dengan beberapa type penyakit jantung kongenital.&lt;br /&gt;Perilaku – Memilih posisi lutut dada atau berjongkok merupakan ciri khas dari beberapa jenis penyakit jantung.&lt;br /&gt;Palpasi dan perkusi &lt;br /&gt;Dada – Membantu melihat perbedaan antara ukuran jantung dan karakteristik lain (seperti thrill-vibrilasi yang dirasakan pemeriksa saat mampalpasi)&lt;br /&gt;Abdomen – Hepatomegali dan/atau splenomegali mungkin terlihat.&lt;br /&gt;Nadi perifer – Frekwensi, keteraturan, dan amplitudo (kekuatan) dapat menunjukkan ketidaksesuaian.&lt;br /&gt;Auskultasi&lt;br /&gt;Jantung – Mendeteksi adanya murmur jantung.&lt;br /&gt;Frekwensi dan irama jantung – Menunjukkan deviasi bunyi dan intensitas jantung yang membantu melokalisasi defek jantung.&lt;br /&gt;Paru-paru – Menunjukkan ronki kering kasar, mengi.&lt;br /&gt;Tekanan darah – Penyimpangan terjadi dibeberapa kondisi jantung (mis; ketidaksesuaian antara ekstremitas atas dan bawah)&lt;br /&gt;Bantu dengan prosedur diagnostik dan pengujian – mis; ekg, radiografi, ekokardiografi, fluoroskopi, ultrasonografi, angiografi, analisis darah (jumlah darah, haemoglobin, volume sel darah, gas darah), kateterisasi jantung.&lt;br /&gt;2.2DIAGNOSA&lt;br /&gt;1)Risiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan defek struktur&lt;br /&gt;Tujuan : Klien akan menunjukkan perbaikan curah jantung.&lt;br /&gt;Kriteria hasil : &lt;br /&gt;Frekwensi jantung, tekanan darah, dan perfusi perifer berada pada batas normal sesuai usia.&lt;br /&gt;Keluaran urine adekuat (antara 0,5 – 2 ml/kgbb, bergantung pada usia)&lt;br /&gt;2)Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen&lt;br /&gt;Tujuan : Klien mempertahankan tingkat energi yang adekuat tanpa stress tambahan.&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;Anak menentukan dan melakukan aktivitas yang sesuai dengan kemampuan.&lt;br /&gt;Anak mendapatkan waktu istirahat/tidur yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan ketidakadekuatan oksigen dan nutrien pada jaringan; isolasi sosial.&lt;br /&gt;Tujuan : &lt;br /&gt;Pasien mengikuti kurva pertumbuhan berat badan dan tinggi badan. &lt;br /&gt;Anak mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang sesuai dengan usia &lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;Anak mencapai pertumbuhan yang adekuat.&lt;br /&gt;Anak melakukan aktivitas sesuai usia&lt;br /&gt;Anak tidak mengalami isolasi social&lt;br /&gt;4)Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan status fisik yang lemah.&lt;br /&gt;Tujuan : Klien tidak menunjukkan bukti-bukti infeksi&lt;br /&gt;Kriteria hasil : Anak bebas dari infeksi.&lt;br /&gt;5)Risiko tinggi cedera (komplikasi) berhubungan dengan kondisi jantung dan terapi&lt;br /&gt;Tujuan : Klien/keluarga mengenali tanda-tanda komplikasi secara dini.&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;Keluarga mengenali tanda-tanda komplikasi dan melakukan tindakan yang tepat.&lt;br /&gt;Klien/keluarga menunjukkan pemahaman tentang tes diagnostik dan pembedahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6)Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak dengan penyakit jantung (ASD)&lt;br /&gt;Tujuan : &lt;br /&gt;Klien/keluarga mengalami penurunan rasa takut dan ansietas&lt;br /&gt;Klien menunjukkan perilaku koping yang positif&lt;br /&gt;Kriteria hasil : &lt;br /&gt;Keluarga mendiskusikan rasa takut dan ansietasnya&lt;br /&gt;Keluarga menghadapi gejala anak dengan cara yang positif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3INTERVENSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DX I :Tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan defek struktur.&lt;br /&gt;1)Beri digoksin sesuai program, dengan menggunakan kewaspadaan yang dibuat untuk mencegah toxisitas.&lt;br /&gt;2)Beri obat penurun afterload sesuai program&lt;br /&gt;3)Beri diuretik sesuai program&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DX II :Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen&lt;br /&gt;1)Berikan periode istirahat yang sering dan periode tidur tanpa gangguan.&lt;br /&gt;2)Anjurkan permainan dan aktivitas yang tenang.&lt;br /&gt;3)Bantu anak memilih aktivitas yang sesuai dengan usia, kondisi, dan kemampuan.&lt;br /&gt;4)Hindari suhu lingkungan yang ekstrem karena hipertermia atau hipotermia meningkatkan kebutuhan oksigen.&lt;br /&gt;5)Implementasikan tindakan untuk menurunkan ansietas.&lt;br /&gt;6)Berespons dengan segera terhadap tangisan atau ekspresi lain dari distress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DX III : Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan ketidakadekuatan oksigen dan nutrien pada jaringan; isolasi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)Beri diet tinggi nutrisi yang seimbang untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat.&lt;br /&gt;2)Pantau tinggi dan berat badan; gambarkan pada grafik pertumbuhan untuk menentukan kecenderungan pertumbuhan.&lt;br /&gt;3)Dapat memberikan suplemen besi untuk mengatasi anemia, bila dianjurkan.&lt;br /&gt;4)Dorong aktivitas yang sesuai usia.&lt;br /&gt;5)Tekankan bahwa anak mempunyai kebutuhan yang sama terhadap sosialisasi seperti anak yang lain.&lt;br /&gt;6)Izinkan anak untuk menata ruangnya sendiri dan batasan aktivitas karena anak akan beristirahat bila lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DX IV : Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan status fisik yang lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)Beri istirahat yang adekuat&lt;br /&gt;2)Beri nutrisi optimal untuk mendukung pertahanan tubuh alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DX V : Risiko tinggi cedera (komplikasi) berhubungan dengan kondisi jantung dan terapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)Ajari keluarga untuk melakukan intervensi selama serangan hipersianotik&lt;br /&gt;2)Jelaskan atau klarifikasi informasi yang diberikan oleh praktisi dan ahli bedah pada keluarga.&lt;br /&gt;3)Siapkan anak dan orang tua untuk prosedur.&lt;br /&gt;4)Bantu membuat keputusan keluarga berkaitan dengan pembedahan.&lt;br /&gt;5)Gali perasaan mengenai pilihan pembedahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DX VI : Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak dengan penyakit jantung (ASD)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)Diskusikan dengan orang tua dan anak (bila tepat) tentang ketakutan mereka dan masalah defek jantung dan gejala fisiknya pada anak karena hal ini sering menyebabkan ansietas/rasa takut.&lt;br /&gt;2)Dorong keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan anak selama hospitalisasi untuk memudahkan koping yang lebih baik di rumah.&lt;br /&gt;3)Dorong keluarga untuk memasukkan orang lain dalam perawatan anak untuk mencegah kelelahan pada diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;4)Bantu keluarga dalam menentukan aktivitas fisik dan metode disiplin yang tepat untuk anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.4EVALUASI&lt;br /&gt;Proses : langsung setalah setiap tindakan&lt;br /&gt;Hasil : tujuan yang diharapkan&lt;br /&gt;1)Tanda-tanda vital anak berada dalam batas normal sesuai dengan usia&lt;br /&gt;2)Anak berpartisipasi dalam aktivitas fisik yang sesuai dengan usia&lt;br /&gt;3)Anak bebas dari komplikasi pasca bedah&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Buku Ajar ILMU PENYAKIT DALAM (1996), Balai Penerbit FKUI, Jakarta.&lt;br /&gt;Buku Ajar KEPERAWATAN KARDIOVASKULER (2001), Pusat Kesehatan&lt;br /&gt;Buku Saku Keperawatan Pediatrik (2002), Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta.&lt;br /&gt;Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI. Standar pelayanan medik RS jantung dan pembuluh darah harapan kita. Jakarta: Pusat Jantung Nasional Harapan Kita 2003. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roebiono PS, Harimurti GM, Rahajoe AU. Unpublished data, Divisi Kardiologi Anak, Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI-Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta 2004. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.republika.co.id&lt;br /&gt;www.medicastore.com&lt;br /&gt;www.inovasionline.com&lt;br /&gt;www.solusisehat.net&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-7766083457258199891?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/7766083457258199891/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/askep-atrial-septal-defect-asd.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/7766083457258199891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/7766083457258199891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/askep-atrial-septal-defect-asd.html' title='ASKEP ATRIAL SEPTAL DEFECT (ASD)'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-5085182973219821251</id><published>2010-02-02T21:45:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T21:47:13.224-08:00</updated><title type='text'>ASKEP CUSHING SINDROM</title><content type='html'>PENGERTIAN&lt;br /&gt;Sindrom cushing adalah suatu keadaan yang diakibatkan oleh efek metabolik gabungan dari peninggian kadar glukokortikoid  dalam darah yang menetap. Kadar yang tinggi ini dapat terjadi secara spontan atau karena pemeberian dosis farmakologik senyawa-senyawa glukokortikoid. (Sylvia A. Price; Patofisiolgi, Hal. 1088)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ETIOLOGI&lt;br /&gt;Sindrom cushing disebabkan oleh sekresi kortisol atau kortikosteron yang berlebihan, kelebihan stimulasi ACTH mengakibatkan hiperplasia korteks anal ginjal berupa adenoma maupun carsinoma yang tidak tergantung ACTH juga mengakibatkan sindrom cushing. Demikian juga hiperaktivitas hipofisis, atau tumor lain yang mengeluarkan  ACTH. Syindrom cuhsing  yang disebabkan tumor hipofisis  disebut penyakit  cusing. (buku ajar ilmu bedah, R. Syamsuhidayat, hal 945)&lt;br /&gt; Sindrom cusing dapat diakibatkan  oleh pemberian glukortikoid jangka panjang dalam dosis farmakologik (latrogen) atau oleh sekresi kortisol yang berlebihan pada gangguan aksis hipotalamus-hipofise-adrenal (spontan) pada sindrom cusing spontan, hiperfungsi korteks adrenal terjadi akibat ransangan belebihan oleh ACTH atau sebab patologi adrenal yang mengakibatkan produksi kortisol  abnormal. (Sylvia  A. Price; Patofisiologi,  hal 1091)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PATOFISIOLOGI&lt;br /&gt;Telah dibahas diatas bahwa penyebab sindrom cishing adalah  peninggian kadar glukokortikoid  dalam darah yang menetap. Untuk lebih memahami manifestasi klinik sindrom chusing, kita perlu membahas akibat-akibat metabolik dari kelebihan glikokorikoid.&lt;br /&gt;Korteks adrenal mensintesis dan mensekresi empat jenis hormon:&lt;br /&gt;Glukokortikoid. Glukokortikoid fisiologis yang disekresi oleh adrenal manusia adalah kortisol.&lt;br /&gt;Mineralokortikoid. Mineralokortikoid yang fisiologis yang diproduksi adalah aldosteron.&lt;br /&gt;Androgen.&lt;br /&gt;Estrogen&lt;br /&gt;Kelebihan glukokortikoid dapat menyebabkan keadan-keadaan seperti  dibawah ini:&lt;br /&gt;1.Metabolisme protein dan karbohidrat.&lt;br /&gt;Glukokortikoid mempunyai efek katabolik dan antianabolik pada protein, menyebabkan menurunnya kemampuan sel-sel pembentk protein untuk mensistesis protein, sebagai akibatnya terjadi kehilangan protein pada jaringan seperti kulit, otot, pembuluh darah, dan tulang.&lt;br /&gt;Secara klinis dapat ditemukan:&lt;br /&gt;Kulit mengalami atropi dan mudah rusak, luka-luka sembuh dengan lambat.&lt;br /&gt;Ruptura serabut-serabut elastis pada kulit menyebabkan tanda regang pada kulit  berwarna ungu (striae).&lt;br /&gt;Otot-otot mengalami atropi dan menjadi lemah.&lt;br /&gt;Penipisan dinding pembuluh darah dan melemahnya jaringan penyokong vaskule menyebabkan mudah tibul luka memar.&lt;br /&gt;Matriks protein tulang menjadi rapuh dan menyebabkan osteoporosis, sehingga dapat dengan mudah terjadi fraktur patologis.&lt;br /&gt;Metabolisme karbohidrat dipengaruhi  dengan meransang glukoneogenesis dan menganggu kerja insulin pada sel-sel perifer, sebagai akibatnya penderita dapat mengalami hiperglikemia.&lt;br /&gt;Pada seseorang yang mempunyai kapasitas produksi insulin yang normal, maka efek dari glukokortikoid akan dilawan dengan meningkatkan sekresi insulin untuk meningkatkan toleransi glukosa.&lt;br /&gt;Sebaliknya penderita dengan kemampuan sekresi insulin yang menurun tidak mampu untuk mengkompensasi keadaan tersebut, dan menimbulkan manifestasi klinik DM.&lt;br /&gt;2.Distribusi jaringan adiposa.&lt;br /&gt;Distribusi jaringan adiposa terakumulasi didaerah sentral tubuh&lt;br /&gt;Obesitas &lt;br /&gt;Wajah bulan (moon face)&lt;br /&gt;Memadatnya fossa supraklavikulare dan tonjolan servikodorsal (punguk bison)&lt;br /&gt;Obesitas trunkus dengan ekstremitas atas dan bawag yang kurus akibat atropi otot memberikan penampilan klasik perupa penampilan Chusingoid. &lt;br /&gt;3.Elektrolit&lt;br /&gt;efek minimal pada elektrolit serum.&lt;br /&gt;Kalau diberikan dalam kadar yang  terlalu besar dapat menyebabkan retensi natrium dan pembuangan kalium. Menyebabkan edema, hipokalemia dan alkalosis metabolik.&lt;br /&gt;4.Sistem kekebalan&lt;br /&gt;ada dua respon utama sistem kekebalan; yang pertama adalah pembentukan antibody humoral oleh sel-sel plasma dan limfosit B akibat ransangan antigen yang lainnya tergantung pada reaksi-reaksi yang diperantarai oleh limfosit T yang tersensitasi.&lt;br /&gt;Glukokortikoid mengganggu pembentukan antibody humoral dan menghabat pusat-pusat germinal limpa dan jaringan limpoid pada respon primer terhadap anti gen.&lt;br /&gt;Gangguan respon imunologik dapat terjadi pada setiap tingkatan berikut ini:&lt;br /&gt;Proses pengenalan antigen awal oleh sel-sel sistem monosit makrofag &lt;br /&gt;Induksi dan proleferasi limfosit imunokompeten &lt;br /&gt;Produksi anti bodi&lt;br /&gt;Reaksi peradangan&lt;br /&gt;Menekan reaksi hipersensitifitas lambat.&lt;br /&gt;5.Sekresi lambung&lt;br /&gt;sekeresi asam lambubung dapat ditingkatkan .&lt;br /&gt;sekresi asam hidroklorida dan pepsin dapat meningkat.&lt;br /&gt;Faktor-faktor protekitif mukosa dirubah oleh steroid dan faktor-faktor ini dapat mempermudah terjadinya tukak.&lt;br /&gt;6.Fungsi otak&lt;br /&gt;perubahan psikologik terjadi karena kelebihan kortikosteroid, hal ini ditandai dengan oleh ketidak stabilan emosional, euforia, insomnia, dan episode depresi singkat. &lt;br /&gt;7.Eritropoesis&lt;br /&gt;Involusi jaringan limfosit, ransangan pelepasan neutrofil dan peningkatan eritropoiesis.&lt;br /&gt;Namun secara klinis efek farmakologis yang  bermanfaat dari glukokortikoid adalah kemampuannya untuk menekan reaksi peradangan. Dalam hal ini glukokortikoid:&lt;br /&gt;Dapat menghambat hiperemia, ekstra vasasi sel, migrasi sel, dan permeabilitas kapiler.&lt;br /&gt;Menghambat pelapasan kiniin yang bersifat pasoaktif dan menkan fagositosis.&lt;br /&gt;Efeknya pada sel mast; menghambat sintesis histamin dan menekan reaksi anafilaktik akut yang berlandaskan hipersensitivitas  yang dperantarai anti bodi.&lt;br /&gt;Penekanan peradangan sangat deperlukan, akan tetapi terdapat efek anti inflamasi yang merugikan penderita. Pada infeksi akut tubuh mungkin tidak mampu melindungi diri sebagai layaknya sementara menerima dosis farmakologik. (Sylvia  A. Price; Patofisiologi,  hal 1090-1091)&lt;br /&gt;JENIS-JENIS SINDROM CUSHING&lt;br /&gt;Sindrom cushing dapat dibagi dalam 2 jenis:&lt;br /&gt;1.Tergantung ACTH&lt;br /&gt;heperfungsi korteks adrenal mungkin dapat disebabkan   oleh sekresi ACTH kelenjar hipofise yang abnormal berlebihan. Tipe ini mula-mula dijelaskan oleh  oleh Hervey Cushing pada tahun 1932, maka keadaan ini disebut juga sebagai penyakit cushing.&lt;br /&gt;2.Tak tergantung ACTH&lt;br /&gt;adanya adenoma hipofisis yang mensekresi ACTH, selain itu terdapat bukti-bukti histologi hiperplasia  hipofisis  kortikotrop, masih tidak jelas apakah kikroadenoma maupum hiperplasia  timbal balik akibat gangguan pelepasan CRH (Cortikotropin Realising  hormone) oleh neurohipotalamus. (Sylvia A. Price; Patofisiologi. hal 1091)&lt;br /&gt;MANIFESTASI KLINIK&lt;br /&gt;Manifestasi klinik yang sering ditemukan  pada penyakit sydrom cushing antara lain obes itas sentral, gundukan lemak pada punggung, muka bulat (moon face), striae, berkurangnya massa otot dan kelemahan umum.&lt;br /&gt;Tanda dan gejala lain yang dapat ditemukan pada sindrom cushing seperti atripi/kelemahan otot ekstremitas, hirsutisme (kelebihan bulu pada wanita), ammenorrhoe, impotensi, osteoporosis, atropi kulit,  akne, udema., nyeri kepala, mudah memar dan gangguan penyembuhan luka. (Buku Ajar Ilmu Bedah, R. Syamsuhidayat, hal. 946)&lt;br /&gt;DIAGNOSIS&lt;br /&gt;Adanya sindrom cushing dapat ditentukan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan jasmani yang telah dijelaskan. Diagnosis umunya ditegakkan berdasarkan kadar kortisol yang tinggi dalam plasma dan kemih. Ada juga tes-tes spesifik yang dipakai untuk menentukan adanya tidaknya irama sirkandian normal pelepasan kortisol dan mekanisme pengaturan umpan balik yang sensitif. Tidak adanya irama sirkandian  dan berkurangnya atau berkurangnya kepekaan sistim pengaturan umpan balik merupakan ciri sindrom cushing.&lt;br /&gt;Pemeriksaan fisiologi dapat membantu membedakan chusing hipofisis dari cusing ektopik atau cushing kortek sdrenal primer. Pada sindrom cushing ektipik dan korteks adrenal, sekresi abnormal ACTH atau kortisol biasanya tidak berubah pada peransangan ataupun penekanan untuk menguji mekanisme kontrol umpan balik negatif yang normal.&lt;br /&gt;CT scan resolusi tinggi pada kelenjar hipofisis dapat menunjukkan daerah-daerah   penurunan atau  penigkatan densitas yang kosisten dengan mikrodema  pada sekitar 30% dari penderita-penderita ini. MRI dengan koontras memberikan temuan positif pada ma yoritas penderita.  CT scan kelenjar adrenal biasanya menujukkan pembesaran adrenal pada kasus sindrom cushing tergantung ACTH dan massa adrenal pada pasien dengan adenoma atai karsinoma adrenal. (Sylvia, A. Price; Patofisiologi; Hal 1092-1093)&lt;br /&gt;PENGOBATAN/ TERAPI&lt;br /&gt;Oengibatan sindrom cushing tergantung ACTH tidak seragam, bergantung pada  apakah  sumber ACTH adalah hiposis atau ektopik. Beberapa pendekatan terapi dugunakan pada kasus dengan hipersekresi ACTH hipofisis. Jika dijumpai tumor hipofisis sebaiknya sdiusahakan reseksi tumor transfenoidal. Tetapi jika terdapat bukti hiperfungsi hipofisis namun tumor tidak dapat ditemukan maka sebagai gantinya dapat dilakukan radiasi kobalt  pada kelenjar  hipofise.&lt;br /&gt;Kelebihan kortisol juga  dapat ditanggulangi dengan adrenalektomi total dan diikuti pemberian kortisol dosis fisiologik atau dengan kimia yang mampu mrnghambat atau merusal sel-sel korteks adrenal yang mensekresi kortisol.&lt;br /&gt;Pengobatan sindrom ACTH ektopik adalah dengan reseksi neoplasma yang mensekresi ACTH  atau adrenalektomi atau supresi kimia fungsi adrenal seperti dianjurkan pada penderita sindrom cushing jenis tergantung ACTH  hipofisis. (Silvia A. Price; Patofisiologi, Hal. 1093)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGKAJIAN&lt;br /&gt;NEUROLOGIS&lt;br /&gt;Kelabilan alam perasaan depresi sampai mania.&lt;br /&gt;MUSKULSKELETAL&lt;br /&gt;Bufallo hamp&lt;br /&gt;Obesitas badan dengan ekstremitas kecil&lt;br /&gt;Penumpukan lemak supra klapikular&lt;br /&gt;Sakit pinggang&lt;br /&gt;Kehilangan otot atau kehilangan massa otot&lt;br /&gt;Osteoporosis&lt;br /&gt;KARDIOVASKULER&lt;br /&gt;Hipertensi&lt;br /&gt;Hiper tensi cairan dengan pitting udema&lt;br /&gt;GASTROINTESTINAL&lt;br /&gt;Polidipsia&lt;br /&gt;Peningkatan berat badan&lt;br /&gt;GINJALA&lt;br /&gt;Poliuri&lt;br /&gt;METABOLISME&lt;br /&gt;Gangguan penyembuhan luka&lt;br /&gt;Peningkatan kemudahan untuk terserang infeksi &lt;br /&gt;Intoleransi karbohidrat&lt;br /&gt;INTRGUMEN&lt;br /&gt;Moon face&lt;br /&gt;Kulit tipis transparan&lt;br /&gt;Peningkatan pigmrntasi&lt;br /&gt;Mudah memar&lt;br /&gt;SEKSUAL DAN REPRODUKSI&lt;br /&gt;Maskulinitas wanita&lt;br /&gt;Gangguan menstruasi&lt;br /&gt;Feminisasi pria&lt;br /&gt;Impotensi &lt;br /&gt;Penurunan libido&lt;br /&gt;PEMERIKSAAN DIAGNISTIK LABORATORIUM&lt;br /&gt;Hiperglikemi&lt;br /&gt;Alkalosis metabolik&lt;br /&gt;Hipokalemia&lt;br /&gt;Peningkatan ACTH plasma bila di test sepanjang hari&lt;br /&gt;Peningkatan natrium serum dan plasma kortisol&lt;br /&gt;Plasma kortisol tidak dapat sitekan dengan deksa metason &lt;br /&gt;Hitung sel darah putih meningkat&lt;br /&gt;Respon hiperaktif terhadap tes ransangan ACTH 8  jam&lt;br /&gt;Peningkatan kortisol urine24 jam dan 17-hidroksil kortokosteroid&lt;br /&gt;Peningkatan respon tergadap  metapiron &lt;br /&gt;(Standar Perawatan Pasien; Susan Martin Tucker, hal, 342)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIAGNOSA KEPERAWATAN&lt;br /&gt;Berdasarkan semua darta pengkajian, diagnosa keperawatan utama syndrom cushing mencakup yang  berikut ini:&lt;br /&gt;Risiko cedera dan infeksi berhubungan dengan kelemahan  dan perubahan metabilisme protein serta respon inflamasi.&lt;br /&gt;Kurang perawatan diri; kelemahan perasaan mudah lelah, atropi otot dan perubahan pola tidur.&lt;br /&gt;Gangguan integritas kulit berhubungan dengan edema, gangguan kesembuhan dan kulit ya ng tipis serta rapuh.&lt;br /&gt;Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan  penampilan fisik, gangguan fungsi seksual dan penurunan tingkat aktivitas&lt;br /&gt;Gangguan proses berpikir berhubungan dengan fluktuasi emosi, irritabilitas dan depresi. &lt;br /&gt;(Susanne C. Smeltzer; Keperawatan Medikal Bedah Brunner &amp; Suddarth, hal. 1330)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASALAH KOLABORATIF &lt;br /&gt;KOMPLIKASI POTENSIAL&lt;br /&gt;Berdasarkan pada data, komplikasi potensial dapat mencakup:&lt;br /&gt;Krisis addison&lt;br /&gt;Efek yang merugiakan pada aktivitas korteks adrenal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERENCANAN DAN IMLEMENTASI &lt;br /&gt;TUJUAN:&lt;br /&gt;Tujuan utama mencakup penurunan resiko cedera dan infeksi, peningkatan kemampuan untuk melaksanakan kemampuan perawatan mandiri , perbaikan fungsi mental dan tidak adanya komplikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTERVENSI KEPERAWATAN:&lt;br /&gt;Pemantauan dan penata laksanaan komplikasi potensial.&lt;br /&gt;Krisiss addison. Pasien sindrom cushing yang gejalanya ditangani dengan cara menghentikan pemberian pemeberian kortikoisteroid atau dengan adrenelektomi  atau pengangkatan tumor hipofisis akan beresiko mengalami hipofungasi  adrenal dan krisis addisonian. Jika fungsi hormon adrenal telah tersupressi oleh kadara drenal yang tinggi dalam darah, maka atropi korteks adrenal kemungkinan akan terjadi. Apabila kadar hormon tersebut menurun dengan cepat akibat pembedahan atau penghentian terapi kortikosdteroid yang tiba-tiba, manifestasi hipofungsi adrenal dan krisis addison dapat  terjadi.&lt;br /&gt;Disamping itu, penderita cushin sindrom yang mengalami  kejadian  yang sangat menimbulkan strees seperti trauma atar operasi darurat beresiko mengalami krisis addisonian karena terdapatnya supressi jangka panjang korteks adrenal. Karena itu kondisi penderita harus dipantau dengan ketat untuk mendeteksi hipotensi , denyut nadi yang lemah dan cepat, ppucat kelemahan yang ekstrim. Pasien tersebut meungkin memerlukan pemberian infus cairan dan elektrolit serta terapi kortikosteroid.&lt;br /&gt;Pasien yang mengalami trauma atau memerlukan operasi darurat memerlukan kadar kortikosteroid tambahan sebelum, selama dan setelah terapi atau operasi. Jika terjadi krisis addisonian pasien harus mendapat pengobatan untuk mengatasi kolaps sirkulasi dan syok. Identifikasi faktor-faltor yang dapat menybebkan krisis tersebut harus diupayakan.&lt;br /&gt;Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit&lt;br /&gt;Status cairan dan eletrolit dipantau dengan mengukut berat badan pasien setip hari. Karena meningkatnya resikountuk mengalami intoleransi glukosa dan hiperglikemia, maka pemantauan glukosa darah harus dinilai setiap kenaikan kadar glukosa darah harus dimulai detiap kenaikan dilaporkan kepada dokter sehingga terapi dapat diberikan jika diperlukan.&lt;br /&gt;Menurunkan risiko cedera dan infeksi &lt;br /&gt;Lingkungan yang amanharus diciptakan untuk mencegah kecelakaan seperti terjatuh, fraktur dan berbagai cedera lain pada tulang serta jaringan lunak. Pasien yang sangat lemah mengkin memerlukan bantuan dan mobilisasi untuk mencegah jatuh dan membentur pada tepi perabot yang tajam.&lt;br /&gt;Pertemuan dengan pengunjung, staff atau pasie yang menderita infeksi haarus dihindari. Penilaina kondisi pasien harus sering dilakukan untuk mendeteksi tanda-tanda infeksi yang tidak jelas, mengingat efek anti inflamasi dari kort ikosteroid dapat menyamarkan tanda-tanda umum infeksi dan inflamasi. Makanan yang tinggi protein, kalsium dan vitamin D harus dianjurkan untuk memperkecil kemungkinan pelisutan otot dan osteoporosis.&lt;br /&gt;Rjukan kepada ahli diet dapat membantu pasien untuk memilih jenis-jenis makanan dan lalori.&lt;br /&gt;Persiapan mengahadapi praoperatif&lt;br /&gt;Pasien dipersiapkan untuk menjalani adrenalektomi, jika diperlukan, dan untuk perawatan pasca operasi, jika sindrom cushing merupakan kosekuensi dari tumor hipofisis, tindakan hipofisektomi transfenoidalis dapat dilakukan. Siabetes mellitus dan ulkus peptikum umumnya terjadi pada pasien sindrom cushing, dengan demikian pelaksanaannya harus mencakup pemantauan kadar glukosa darah serta pemeriksaan darah dalam feses, serta intervensi yang tepat.&lt;br /&gt;Menganjurkan istirahat dan aktivitas&lt;br /&gt;Kelemahan, perasaan mudah lelah  dan pelisutan otot akan menyulitkan penderita sindrom cushing dalam melaksanakan aktivitas  yang normal, aktivitas yang ringan harus dianjurkan untuk mencegah komplikasi akibat imobilisasi dan meningkatkan rasa percaya diri. Insomnia sering turut menimbulkan rasa cepat lelah yang dikeluhkan pasien. Waltu istirahat perlu direncanakan dan  diatur intervalnya sepanjang hari. Lingkungan yang tenang dan rileks untuk istirahat tidur harus diupayakan.&lt;br /&gt;Meningkatkan perawatan kulit &lt;br /&gt;Penigkatan perawatan kulit yang cermat untuk menghindari trauma pada kulit pasien yang rapuh. Penggunaan plester perlu dihindari karena dapat menimbulkan irirtasi kulit dan luka pad kulit yang rapuh ketika plaster itu dilepas. Daerah tonjolan tulang dan kulitnya harus sering diperiksa dan pasien danjurkan serta dibantu untuk mengubah posisi dehingga kerusakan kulit dapat dicegah.&lt;br /&gt;Memperbaiki citra tubuh&lt;br /&gt;Jika penyebab sindrom cushing dapat ditangani dengan baik, perubahan fisik lain yang penting juga akan menghilang pada saatnya. Meskipun demikian, akan sangat memmbagtu apabila pasien diberi penjelasan tentang dampak yang ditimbulkan oleh perubahan tersebut terhadap konsep diri dan hubungannya dengan orang lain. Kenaikan berat badan dan edema yang terlihat pada sindrom cushing dapat dimodifikasi dengan diet rendah karbohidrat  rendah natrium. Asupan protein yang tinggi  dapat mengurangi sebagian gejala lain yang mengganggu.&lt;br /&gt;Memperbaiki proses pikir&lt;br /&gt;Penjelasan kepada pasien dan anggota keluarga mengenai penyabab ketidak stabilan emosi amat penting dalam membantu mereka untuk mengatasi fluktuasi emosi, irritabilitas serta depresi yang terjadi. Perilaku psikotik dapat dapat dijumpai pada beberapa pasien dan harus dileporkan. Pasien dan anggota keluarga perlu didorong utuk mengungkapkan perasaannya. (Susanne c. smeltzer, buku ajar keperawatan medikal bedah Brunner Suddart, Hal1331)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EVALUASI &lt;br /&gt;Hasil yang diharapkan:&lt;br /&gt;1.menurunkan resiko cedera dan infeksi &lt;br /&gt;a.Bebas fraktur atau cedera jaringan lunak.&lt;br /&gt;b.Bebas daerah ekimosis.&lt;br /&gt;c.Tidak mengalami kenaikan suhu, kemerahan, rasa nyeri ataupun tanda-tanda lain infeksi serta inflamasi.&lt;br /&gt;2.meningkatkan partisipasi dalam aktivitas perawatan mandiri.&lt;br /&gt;a.Merencanakan aktivitas perawatan dan latihan untuk memungkinkan periode istirahat.&lt;br /&gt;b. Melaporkan perbaikan perasaan sehat.&lt;br /&gt;c.Bebas komplikasi mobilitas.&lt;br /&gt;3.mencapai/mempertahankan integritas kulit.&lt;br /&gt;a.Memiliki kulit yang utuh tanpa ada bukti adanya luka atau infeksi.&lt;br /&gt;b.Menunjukkan bukti berkurangnya edema pada ekstremitas dan badan.&lt;br /&gt;c.Mengubah posisi dengan sering dan memeriksa bagian kukit yang menonjol setiap hari.&lt;br /&gt;4.mencapai perbaikan citra tubuh.&lt;br /&gt;a.Mengutarakan perasaan tentang perubahan penampilan, fungsi seksual dan tingkat aktivitas.&lt;br /&gt;b.Mengungkapkan kesadaran bahwa perubahan fisil merupakan akibat dari pemberian kortikosteroid yang berlebihan.&lt;br /&gt;5.memperlihatkan perbaikan fungsi mental.&lt;br /&gt;6.tidak adanya komplikasi.&lt;br /&gt;a.Memperlihatkan tanda-tanda vital serta berat badan yang normal serta bebas dari gejala krisis sddisonian.&lt;br /&gt;b.Mengidentifikasi tanda-tanda dan gejala hipofungsi korteks adrenal yang harus dilaporkan dan menyatakan tindakan yang akan diambil pada keadaan salit serta stress berat &lt;br /&gt;c.Mengidentifikasi strategi untuk memperkecil komlikasi sindrom cusing.&lt;br /&gt;d.Mematuhi anjuran untuk pemeriksaan tindakan lanjut.&lt;br /&gt;(Susanne c. smeltzer, buku ajar keperawatan medikal bedah Brunner Suddart, Hal1331)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERDASARKAN PENYIMPANGAN KDM DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI YANG DIRENCANAKAN &lt;br /&gt;1.Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan muskuloskeletal, integumen,  dan seksual reproduksi&lt;br /&gt;intervensi:&lt;br /&gt;Pertahankan lingkungan kondusif untuk membicarakan proses perubahan citra tubuh&lt;br /&gt;Diskusikan perasaan yang berhubungan dengan perubahan yang dialami oleh pasien&lt;br /&gt;Kaji pasien dengan mengidentifikasi dan mengembangkan kekuatan personal serta mekanisme koping untuk mengatasi masalah perubahan fisik&lt;br /&gt;Berikan informasi tentang kemungkinan dapat pulihnya gejala pada perubahan fisik.&lt;br /&gt;Kaji cara berpakaian untuk meningkatkan higiene personal, tindakan pemotongan bulu, rambut, pakaian yang menarik&lt;br /&gt;Hargai keinginan pasien untuk privacy&lt;br /&gt;Bersikap sensitif terhadap kebutuhan.&lt;br /&gt;Buat waktu luang untuk  setiap shift untuk mendengarkan secara aktif dan dukungan emosi&lt;br /&gt;Konsulkan kepada ahli keperawatan jiwa.&lt;br /&gt;Hasil yang diharapkan/evaluasi&lt;br /&gt;Membicarakan perasaan tentang perubahan dalam penampilan&lt;br /&gt;Mengungkapkan pengetahuan bahwa gejala kekambuhan akan terjadi dengan pengobatan&lt;br /&gt;Melakukan higiene harian&lt;br /&gt;Meningkatkan penampilan melalui penggunaan kosmetik yang bijaksana dan pakaian yang sesuai.&lt;br /&gt;2.Potensial terhadap infeksi berhubungan dengan gangguan respon imun&lt;br /&gt;intervensi:&lt;br /&gt;Pantau suhu tubuh dan tanda dan atau gejala infeksi lainnya setiap 4 jam&lt;br /&gt;Intruksikan pasien berbalik, batuk dan nafas dalamsetiap 2 jam sementara tirah baring&lt;br /&gt;Hindari proses invsif yang tidak diperlukan  (pemasangan kateter urine)&lt;br /&gt;Gunakan tekhinik sterilketika menangani semua lesi kulit, slang drain, atau sisi pungsi intara vena&lt;br /&gt;Lakukan pemeriksaan kultur pada luka atau sekresiyang mencurigakan&lt;br /&gt;Pertahan kan status nutrisi yang adekuat&lt;br /&gt;Hindari penempatan pasien dalam ruangan dengan orang lain yang secara potensial dapat menulari pasien. &lt;br /&gt;Hindari personil dengan ispa atau infeksi lain untuk memberikan perawartan pada klien, pantau pengunjung terhadap tanda infeksi dan batasi sesuai kebutuhan , atau ajarkan cara mencucitangan dan menggunakan masker sebelum berkunjung&lt;br /&gt;Hasil yang diharapkan&lt;br /&gt;Suhu tubuh dalam batas normal; tidak terdapat infeksi pada integumen, pernafasan, dan sistem ginjal.&lt;br /&gt;3.Potensial untuk terjadinya gangguan integritas kulit berhubungan dengan mudah rusaksnya kapiler atau penipisan kulit&lt;br /&gt;intervensi:&lt;br /&gt;Kaji terhada kemerahan atau kerusakanan kulit setiap 8 jam, bila pasien menjalanai tirah baring kaji setiap 4 jam&lt;br /&gt;Berikatan perawatan kulit perawatan kulit pada titik tekanan setiap 4 jam sesuai kebutuhan&lt;br /&gt;Gunakakan minyak atau solluision untuk air mandi, bilas dan keringkan dengan baik&lt;br /&gt;Hindari penggunaan sabun yang keras dan handuk yang kasar&lt;br /&gt;Baringkan pasien pada matras  atau tempat anti decubitus&lt;br /&gt;Bantu dan  berikan dorongan pasien untuk mengubah posisi dengan sering, ajarkan dan bantu pasien saaat melakukan rentang gerak, ambulasi sesering mungkin, instruksikan klien untuk hindari duduk lebih dari 1 jam.&lt;br /&gt;Hasil yang diharapkan / rasional:&lt;br /&gt;Kulit tetap ututh tanpa bukti-bukti kemerahan.&lt;br /&gt;4.Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan muskuloskeletal karena peningkatan katabolisme protein&lt;br /&gt;intervensi :&lt;br /&gt;Biarkan pasien sesuai keiinginannya, gunakan pagar tempat tidur dan trapez diatas kepala&lt;br /&gt;Selingi aktivitas dengan waktu istirahat untuk membantu peningkatan toleransi &lt;br /&gt;Kaji dan berikan bantuan untuk ambulasi (alat bantu jalan, tulang) sesuai kebutuhan&lt;br /&gt;Antisipasi kebutuhan akan bantuan dengan aktivitas sehari-hari, berpakaian, toileting, memberikan makanan,memebrikan barang-barang, yang dibutuhkan dalam jangkauan yang mudah untuk diraihuntuk mengurangi penggunaan energi&lt;br /&gt;Batasi aktivitas sampai tingkat toleransi pasien.&lt;br /&gt;Hentikan aktivitas pada saat pertama kali terlihat tanda intoleran, Takikardi, dyspnea, kelelahan.&lt;br /&gt;Beilan dorongan untuk meningkatkan aktivitas sesuai toleransi, tetapi mencaribantuan bila terjadi gejala intoleran.&lt;br /&gt;Hasil yang diharapkan/evaluasi:&lt;br /&gt;Meningkatkan keiikut sertaan dalam perawatan diri dan aktivitas sehari-hari.&lt;br /&gt;Melaporkan berkurangnya perasaan kelemahan/ keletihan.&lt;br /&gt;5.Perubahan proses berfikir berhubungan dengan kelebihan sekresi kortisol&lt;br /&gt;intervensi:&lt;br /&gt;evaluasi metode koping yang lalu dan saat ini.&lt;br /&gt;Berikan dorongan untuk membicarakan tentang perasaan kehilangan kontrol.&lt;br /&gt;Diskusikan reaksi yang melewati batas terhadap peristiwa dan metode untuk koping selanjutnya.&lt;br /&gt;Jelaskan bahwa lonjatan alam perasaan tersebut dapat diatasi dengan pengobatan.&lt;br /&gt;Ajarkan dan bantu dalam melakukan teknik relaksasi.&lt;br /&gt;Beikan lingkungan yang tenang, stabil dan tanpa stress.&lt;br /&gt;Konsisten dengan waktu dan saat melaukuan aktivitas dan prosedur.&lt;br /&gt;Batasi pengunjung sesuai dengan kepentingan.&lt;br /&gt;Cegah situasi yang dapat menyebabkan kemarahan emosisonal.&lt;br /&gt;Rencanakan perawatan dengan pasien antisipasi kebutuhan.&lt;br /&gt;Orientsikan pasien pada  lingkungan sesuai kebutuhan.&lt;br /&gt;Jelaskan prosedur dengan lambat dan jelas, ulangi bila perlu.&lt;br /&gt;Hasil yang diharapkan/evaluasi:&lt;br /&gt;Pasien sadar dan berorintasi &lt;br /&gt;Membicarakan perasaan dengan mudah.&lt;br /&gt;Mengenali respon yang tidak sesuai terhadap situasi dan mebicarakan rencana untuk menagani respon tersebut.&lt;br /&gt;6.Kelebihan volume cairan sehubungan dengan sekresi kortisol yang berlebihan menyebakan retensi air dan natrium&lt;br /&gt;intervemsi:&lt;br /&gt;pantau terhadap nilai-nilai elektrolit setiap 4 jam sampai 8 jam dan laporkan temuan abnormal pada dokter.&lt;br /&gt;Pantau madukan dan haluaran setiap 4 jam&lt;br /&gt;Timbang berat badan pasien setiap hari. Pada waktu yang sama, laporkan prningkatan berat badan.&lt;br /&gt;Hindari masukan cairan yang berlebihan bila pasien mengalami hipernatremia. &lt;br /&gt;Pantau EKG terhadap abnormalitas yang berhubungan dengan ketidak seimbangan elektrolit, biasanya hipernatremia dan hiper kalemia.&lt;br /&gt;Pantau tekanan darah , nadi dan bunyi nafas setiap 4 jam laporkan perubahan yang signifikan dari nilai dasar pasien.&lt;br /&gt;Kaji area edema dependen.&lt;br /&gt;Berikan perawatan kulituntuk erea yang mengalami edema, balikkan dan ubah posisi setiap 2 jam.&lt;br /&gt;Pertahankan diet tinggi protein, tinggi kalium, rendah natrium, mengurangi kalori.&lt;br /&gt;Hasil yang diharapkan/evaluasi:&lt;br /&gt;Tanda-tanda vital dan elektrolit dalam batas normal untuk pasien, masukan dan haluaran seimbang, berat badan stabil dan dalam batas normal bagi pasien, tidak ada bukti adanya edema.&lt;br /&gt;7.Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang proses penyakit, pengobatan dan perawatan diri.&lt;br /&gt;Intervensi:&lt;br /&gt;Jelaskan konsep dasar tentang penyakit .&lt;br /&gt;Diskusikan alasan terjadinya perubahan fisik dan emosional.&lt;br /&gt;Diskusikan dan berikan informasi tertulis tentang diiet rendah natrium.&lt;br /&gt;Jelaskan pentingnya mempertahankan lingkungan yang aman dan keseimbagan aktivitas dan istirahat.&lt;br /&gt;Ajarkan nama obat-obatan , dosis, waktu dan cara pemberian, tujuan, efek samping dan efek toksik.&lt;br /&gt;Jelaskan pelunya menghindari obat yang dijual bebas tanpa mengkonsultadikan dengan dokter.&lt;br /&gt;Tekankan pentingnya melakukan perawatan rawat jalan berkelanjutan.&lt;br /&gt;Hasil yang diharapkan/evaluasi:&lt;br /&gt;Pasien orang terdekat mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit, perinsip perawatan dirumah dan perawatan tindak lanjut, dan rencanakan terapi radiasi atau operasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;R. Syamsuhidayat Buku Ajar Ilmu Bedah; EGC; Jakarta; 1997.&lt;br /&gt;Sylvia A. Price; Patofisiolgi Konsep klinis Proses-Proses Penyakit ; EGC; Jakarta; 1994&lt;br /&gt;Susanne C. Smeltzer; Buku Ajar Medikal Bedah Brunner-Suddart; EGC; Jakarta; 1999.&lt;br /&gt;Susan Martin Tucker;Standar Perawatan Pasien; EGC; jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-5085182973219821251?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/5085182973219821251/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/cushingsindrom.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/5085182973219821251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/5085182973219821251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/cushingsindrom.html' title='ASKEP CUSHING SINDROM'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-4776503334826953304</id><published>2010-02-02T21:39:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T21:39:10.825-08:00</updated><title type='text'>WSD</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;                                   PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang&lt;br /&gt;Mekanisme pernapasan normal bekerja atas prinsip tekanan negative yaitu tekanan dalam rongga dada lebih rendah daripada atmosfir, sehingga menyebabkan udara untuk bergerak kedalam inspirasi. Penumpukan cairan, udara atau substansi dada dapat menggagu fungsi kardiopulmonal dan bahkan menyebabkan paru kolaps. Substansi patologis yang terkumpul dalam spasium pleura termasuk fibrin, atau bekuan darah ; cairan ( cairan serosa, darah, pus, kilus ; dan gas-gas ( udara dari paru , pohon trakeobronkial atau esophagus ) udara dan cairan terkumpul dalam spasium intrapleural, sehingga membatasi ekspansi paru dan mengurangi pertukaran gas. Penting artinya untuk menjaga agar spasium pleural di evakuasi pada pascaoperatif dan untuk mempertahankan tekanan negatip di dalam ruang potensial ini karenanya, selama atau segera setelah bedah toraks, kateter dada di letakkan secara strategis dalam rongga pleura, di jahitkan kekulit, dan dihubungkan ke aparatus drainase, untuk membuang udara residual dan mengalirkan cairan dari pleura atau spasium mediastinal. Tindakan ini mengakibatkan reekspansi jaringan paru yang tersisa.&lt;br /&gt;Intervensi penting untuk memperbaiki pertukaran gas dan pernapasan pada periode pascaoperatif adalah peñatalaksanaan  yang sesuai dari drainase dada.  Setalah bedah toraks, selang dada dan system drainase tertutup digunkan untuk mengembangkan kembali paru yang sakit dan untuk membuang kelebihan udara, cairan, dan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.2.  Perumusan masalah&lt;br /&gt;I.2.  1.  Mengetahui gambaran peralatan&lt;br /&gt;II.2. 2.  Mengetahui keuntungan dan kerugian dari system drainase dada&lt;br /&gt;III.2 3.  Mengetahui indikasi pemasangan dan prosedur WSD&lt;br /&gt;IV.2. 4.  Hal apa saja yang dipantau dalam water – seal &amp; drainase  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                      BAB II&lt;br /&gt;                                    PEMBAHASAN&lt;br /&gt;II.1.  Gambaran peralatan&lt;br /&gt;WSD adlah suatu selang drainase intrapleural yang digunakan setelah prosedur   intralocal.&lt;br /&gt;1.Selang dada &lt;br /&gt;Kebanyakan selang dada adalah multifmestrasi, selang transparan dengan petunjuk tanda radio pague dan jarak. Selang dada dikategorikan sebai pleural atau mediastinal tergantung pada lokasi ujung selang .  Pasien dapat dipasang lebih dari satu selang pada lokasi yang berbeda tergatung tujuan selang. Semua selang dada ditangani sebagai selang intrapleural untuk keamanan  pasien .  Selang yang lebih besar ( 20 -36 French) digunakan untuk mengalirkan darah atau drainase pleural yang kental. Sedangkan selang yang lebih kecil ( 16 – 20 French ) digunakan untuk membuang udara.  &lt;br /&gt;2.Sistem drainase&lt;br /&gt;Sistem drainase bekerja  sebagai drain untuk udara dan cairan.  Untuk membuat tekanan negative intrapleural, sebuah segel diperlukan pada selang dada untuk mencegah udara luar masuk ke system.  Cara paling sederhana untuk melakukan ini yaitu dengan menggunakan system  drainase dalam air.&lt;br /&gt;3.Sistem satu - botol&lt;br /&gt;Sistem drainase dada paling sederhana adalah system satu - botol. System ini terdiri dari satu - botol dari penutup botol.  Penutup mempunyai dua lubang. Satu untuk ventilasi udara dan lainnya memungkinkan selang masuk sampai dasar botol.  Ujung selang drainase dari dada pasien dicelupkan dalam air, yang memungkinkan drainase dan cairan dari ruang pleural  tetapi tidak memungkinkan udara untuk mengalir kembali kedalam dada.  Secara fungsional drainase tergantung pada gravitasi dan pada mekanisme pernapasan .  Dengan naiknya ketinggian cairan dalam botol maka menjadi lebih sulit bagi udara dan cairan untuk keluar dari dada.  Karenanya dapat ditambahkan pengisap.&lt;br /&gt;4.Sistem dua - botol&lt;br /&gt;Pada system dua - botol,  Botol pertama adalah sebagai wadah penampung, dan yang kedua bekerja sebagai water - seal.  Pada system dua - botol penghisapan dapat dilakukan pada segel botol dalam air dengan menghubungkannya dengan ventilasi udara. &lt;br /&gt;Sistem dua - botol terdiri atas bilik water – seal yang sama  ditambah dengan botol pengumpul cairan.  Drainase mirip dengan unit tunggal, kecuali bahwa ketika cairan pleural terkumpul, system  seal dibawah air tidak terpengaruh oleh volume drainase.  Drainase yang efektif tergantung pada gaya grafitasi atau pada jumlah isapan yang ditambahkan pada isapan.  Ketika vakum (isapan) ditambahkan dalam system dari sumber vakum, seperti pengisapan dinding hubungan dibuat pada batang  pean dari botol underwater – seal.  Jumlah isapan yang diterapkan pada system diatur oleh diameter dinding.           &lt;br /&gt;5.Sistem tiga - botol&lt;br /&gt;Sistem tiga - botol serupa dengan dalam semua aspek dengan system dua – botol, kecuali untuk botol - ketiga untuk mengontrol jumlah isapan yang diberikan.  Jumlah isapan yang diberikan.  Jumlah isapan ditentukan oleh kedalaman sampai mana ujung tabung kaca dicelupkan. ( sebagai contoh, pencelupan sampai sepuluh dibawah permukaan air akan sama dengan 10 cm isapan air yang diterapkan pada pasien).  &lt;br /&gt;Pada system tiga – botol, drainase tergantung pada gaya gravitasi atau jumlah isapan yang diberikan.  Jumlah isapan pada system Ini dikendalikan oleh botol manometer.  Motor pengisap mekanis atau pengisap pada dinding  menciptakan dan mempertahankan tekanan negatip diseluruh system drainase tertutup.  Botol ketiga  mengatur jumlah vakum dalam system .  Hal ini tergantung pada sejauh mana selang  dicelupkan – kedalaman yang lazim adalah 20 cm.  Bila vakum dalam system menjadi lebih besar dari kedalaman dimana selang dicelupkan, udara luar akan terisap kedalam system. Hal ini mengakibatkan penggembungan konstan dalam botol manometer ( pengatur tekanan), yang menunjukkan bahwa system berfungsi dengan baik.&lt;br /&gt;6.unit drainase sekali pakai&lt;br /&gt;II. 2 .  Keuntungan dan kerugian system drainase selang dada.&lt;br /&gt;satu – botol&lt;br /&gt;Keuntungan    :   Penyusunan sederhana mudah untuk pasien yang dapat jalan &lt;br /&gt;Kerugian         ;&lt;br /&gt;  - Saat drainase dada mengisi botol , lebih banyak kekuatan    diperlukan untuk memungkinkan udara dan cairan pleural untuk keluar dari dada masuk ke botol.&lt;br /&gt;-  Campuran darah drainase dan udara menimbulkan campuran bua   dalam botol yang membatasi garis pengukuran drainase.&lt;br /&gt;-  Untuk terjadinya aliran, tekanan pleural harus lebih tinggi dari    tekanan botol.&lt;br /&gt;dua – botol&lt;br /&gt;Keuntungan  : -  Mempertahankan water - seal pada tingkat konstan.&lt;br /&gt;- Memungkinkan observasi dan pengukuran drainase yang lebih baik.&lt;br /&gt;Kerugian   ; - Menambah area mati pada system drainase yang mempunyai  potensial untuk masuk kedalam area  pleural.&lt;br /&gt;   - Untuk terjadinya aliran, tekanan pleural harus lebih tinggi dari tekanan botol.&lt;br /&gt;  -  Mempunyai batas kelebihan aliran udara pada adanya kebocoran pleural.&lt;br /&gt; tiga – botol&lt;br /&gt;   Keuntungan : Sistem ini paling aman untuk mengatur penghisapan&lt;br /&gt;   Kerugian      : Lebih kompleks, lebih banyak kesempatan untuk terjadinya kesalahan dalam perakitan dan pemeliharaan.&lt;br /&gt; unit water seal sekali pakai&lt;br /&gt; Keuntungan   ; Plastik dan tidak mudah pecah seperti botol&lt;br /&gt; Kerugian  ; -  Mahal&lt;br /&gt; -  Kehilangan water seal dan unit drainase bila unit terbalik.&lt;br /&gt;II. 3. Indikasi pemasangan dan prosedur WSD.&lt;br /&gt; Indikasi pemasangan&lt;br /&gt;1.hemotoraks yang  disebabkan oleh ( trauma dada, neoplasma, robekan    pleural, kelebihan anti koagulan dan pascabedah toraks )&lt;br /&gt;2.pneumotoraks spontan : &gt;20 % pada pasien simtomatik dan adanya penyakit paru, yang disebabkan oleh rubtur bleb.&lt;br /&gt;3.Desakan yang disebabkan oleh (ventilasi mekanis, luka tusuk tembus,klem selang dada  terlalu lama, dan kerusakan segel pada system drainase selang dada).&lt;br /&gt;4.Pistula bronkopleural yang disebakan oleh ( kerusakan jaringan, tumor, dan aspirasi bahan kimia toksik).&lt;br /&gt;5.Epusi pleural yang disebabkan oleh neoplasma.&lt;br /&gt;6.chilotoraks yang disebabkan oleh ( trauma, malignansi, dan abnormalitas congenital).&lt;br /&gt;Adapun tujuan pemasangan WSD :&lt;br /&gt;1.Diagnostik, untuk menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil sehingga dapat ditentukan perlu  operasi torakotomi atau tidak sebelum penderita jatuh dalam renjatan.&lt;br /&gt;2.Terapi,untuk membuang darah, udara dan cairan yang terkumpul dalam rongga pleura.  Untuk  mengembalikan tekanan negative pada area pleural, untuk memungkinkan ekspansi paru dan memulihkan fungsi kardiopulmonal setelah pembedahan, trauma, atau kondisi medis. &lt;br /&gt;3.preventif : untuk mengeluarkan udara atau darah yang masuk kerongga pleura sehinga mekanisme pernapasan tetap baik, dan untuk mencegah repluks drainase kembali kedalam dada.&lt;br /&gt;Alat dan Prosedur WSD&lt;br /&gt;Alat&lt;br /&gt;1.system water seal&lt;br /&gt;•Air steril atau normal salin untuk menutup 2,5 cm bagian bawah selang –u  water seal.&lt;br /&gt;•Air steril atau normal saling dituangkan kedalam bilik control penghisap bila digunakan penghisap.&lt;br /&gt;2.system water less.&lt;br /&gt;•Vial NaCl atau air 30 ml yang dapat diinjeksikan.&lt;br /&gt;•Spuit 20 ml.&lt;br /&gt;•Jarum 21-G.&lt;br /&gt;•Swab antiseptic&lt;br /&gt;3.selang dada atau tray tokar&lt;br /&gt;•1pemegang pisau&lt;br /&gt;•Klem selang dada&lt;br /&gt;•Tray liner (area steril)&lt;br /&gt;•Spon 4x4, 10 buah&lt;br /&gt;•Gunting jahithanduk tangan 3 buah • Forsep spon kecil&lt;br /&gt;•Pemegang jarum&lt;br /&gt;•Mata pisau&lt;br /&gt;•Benang silk 3-0&lt;br /&gt;•Tray liner (area streril)&lt;br /&gt;4.balutan&lt;br /&gt;5.penutup kepala&lt;br /&gt;6.masker wajah&lt;br /&gt;7.sarung tangan steril&lt;br /&gt;8.dua hemostat shodded untuk masing-masing selang dada&lt;br /&gt;9.plaster perekat 1 inci untuk memplester penghubung.&lt;br /&gt;Prosedur&lt;br /&gt;1.kaji status kardiopulmunal klien,  nyeri, ansietas, dan tanda-tanda vital.&lt;br /&gt;Rasional   ; Memberikan data kontinyu status klie sebelum, selama, dan setelah  prosedur selang dada&lt;br /&gt;2.Jelaskan prosedur kepada  klien &lt;br /&gt;Rasional  ; Mengurangi ansietas dan meningkatkan kerja sama klien.&lt;br /&gt;3.Mencuci tangan &lt;br /&gt;Rasional   : Mengurangi transmisi mikroorganisme&lt;br /&gt;4.Mengisi  bilik water – seal  denagn air steril sampai ketinggian yang sama dengan &lt;br /&gt;  2 cm H20 &lt;br /&gt; Rasional  ; Drainase water – seal memungkinkan untuk keluarnya udara dan cairan kedalam botol drainase. Air berfungsi sebagai segel dan menjaga udara agar tidak tertarik kembali kedalam ruang pleural.&lt;br /&gt;5.Jika digunakan pengisap, isi bilik control pengisap dengan air steril sampai ketinggian   20 cm atau sesuai yang diharuskan. &lt;br /&gt; Rasional    : Ketinggian air akan menentukan derajat pengisap yang digunakan. &lt;br /&gt;6.Sambungkan keteter drainase dari ruang pleural (pasien) ke selang yang datang dari bilik pengumpul dari system water –seal, plester dengan baik.&lt;br /&gt; Rasional     : Pada unit sekali pakai, system tersebut adalah system tertutup, dengan   satu-satunya hubungan ke kateter pasien.&lt;br /&gt;7.Jika digunakan pengisap, hubungkan selang bilik control pengisap ke unit pengisap. Nyalakan unit pengisap dan naikkan tekanan sampai timbul gelembung secara lambat namun tetap dalam bilik control pengisap.&lt;br /&gt; Rasional  : Tingkat pengisapan ditentukan oleh jumlah air dalam bilik control pengisap dan bukan tergantung pada frekuensi gelembung atau pada pengesetan diameter tekanan pada unit pengisap.&lt;br /&gt;8.Tandai ketinggian cairan awal pada bagian luar unit drainase. Tandai peningkatan setiap jam per hari (tanggal dan waktu) pada ketinggian drainase. Rasional   :Penandaan ini akan memperlihatkan jumlah kehilangan cairan dan berapa cepat cairan dikumpulkan dalam botol drainase. Cairan yang terkumpul ini berfungsi sebagai dasar untuk penggantian darah, jika cairan tersebut adalah darah. Keseluruhan darah yang mengalir akan tampak dalam botol pada periode pascaoperatip segera, drainase ini secara bertahap akan menjadi serosa dan jika terlalu banyak dapat membutuhkan operasi ulang atau autotransfusi.&lt;br /&gt;9.Pastikan bahwa selang tidak menggulung atau menganggu gerakan pasien.&lt;br /&gt; Rasional   : Kekusutan, gulungan, atau tekanan pada selang drainase dapat menghasilkan tekanan balik, dan dengan demikian kemungkinan dapt mendorong drainase kembali ke dalam ruang pleural atau mengganggu drainase dari ruang pleural.&lt;br /&gt;10.Berikan dorongan pasien untuk mencari posisi yang nyaman. Berikan dorongan untuk mengambil posisi kelurusan tubuh yang baik. Jika pasien berbaring dalam posisi lateral, pastikan bahwa selang tidak tertekan oleh berat badan pasien. Berikan dorongan pada pasien untuk mengubah posisi dengan sering.&lt;br /&gt;Rasional   : Posisi pasien harus diubah dengan sering untuk meningkatkan drainase, dan tubuh harus dijaga dalam kelurusan yang baik untuk mencegah deformitas dan kontraktur. Posisi yang baik membantu pernafasan dan meningkatkan pertukaran gas yang lebih baik.&lt;br /&gt;11.Lakukan latihan rentang gerak untuk lengan dan bahu dari sisi yang sakit beberapa kali sehari. Obat nyeri tertentu mungkin diberikan.&lt;br /&gt;Rasional   : Latihan membantu mencegah ankilosis bahu dan membantu dalam mengurangi nyeri dan rasa tidak nyaman paskaoperatip.&lt;br /&gt;12.Dengan perlahan “perah” selang dengan arah bilik drainase sesuai kebutuhan.&lt;br /&gt;Rasional   :  “Memerah” selang mencegahnya menjadi tersumbat dengan bekuan atau fibrin. Perhatian yang konstan untuk mempertahankan kepatenan selang memudahkan ekspansi cepat paru dan meminimalkan komplikasi.&lt;br /&gt;13.Pastikan adanya fluktuasi (tidaling) dari ketinggian cairan dalam bilik water-seal.&lt;br /&gt;Rasional   : Fluktuasi ketinggian air dalam selang memperlihatkan bahwa komunilasi yang efektif antara rongga pleural dan botol drainase, memberikan indikasi yang bernilai tentang kepatenan system drainase, dan merupakan diameter tekanan intrapleural.&lt;br /&gt;14.fluktuasi cairan dalam selang akan berhenti bila ;&lt;br /&gt;Paru telah terekspansi&lt;br /&gt;Selang tersumbat oleh bekuan darah atau fibrin, atau selang kusut.&lt;br /&gt;Terjadi loop dependen.&lt;br /&gt;Motor pengisap atau dinding pengisap tidak bekerja dengan baik.&lt;br /&gt;15.Amati terhadap kebocoran udara dalam system drainase sesuai yang di indikasikan oleh gelembung konstan dalam bilik water-seal.&lt;br /&gt;Rasional   : Kebocoran dan terperangkapnya udara dalam ruang pleural dapat mengakibatkan pneumotoraks tension.&lt;br /&gt;16.Observasi dan laporkan dengan segera pernafasan dangkal, cepat., sianosis, tekanan dalam dada, empisema subkutan, gejala-gejala hemoragi, dan perubahan yang signifikan dalam tanda-tanda vital.&lt;br /&gt; Rasional   : Banyak manefistasi klinis yang dapat menyebabkan tanda dan gejala ini,   termasuk pneumotoraks tension, pergeseran mediastinal, hemoragi, nyeri insisi yang hebat, embolus pulmonal, dan tamponade jantung. Intervensi bedah mungkin diperlukan.&lt;br /&gt;17.Berikan dorongan kepada pasien untuk nafas dalam dan batuk pada interval yang teratur. Berikan obat nyeri yang adekuat. Mintakan pesanan untuk pompa PCA jika diperlukan. Instruksikan dalam penggunaan spirometri insentif.&lt;br /&gt;Rasional   : Nafas dalam dan batuk mambantu untuk meningkatkan tekanan intra pleural yang memungkinkan pengosongan segala penumpukan dalam ruang pleural dan membuang sekresi dari pohon trakeobronkial, sehingga paru dapat berkembang dan atelektasis di cegah.&lt;br /&gt;18. Jika pasien harus dipindahkan ke area lain, letakkan system drainase di bawah ketinggian dada, jika pasien berbaring pada brankar. Jika selang terlepas, gunting ujung yang terkontaminasi dari selang dada dan selang, pasang konektur steril dalam selang dada dan selang, dan sambungkan kembali ke system drainase. Jangan mengklem selang dada selama memindahkan pasien.&lt;br /&gt;Rasional   : Aparatus drainase harus dijaga pada ketinggian dibawah dada pasien untuk mencegah aliran balik cairan kedalam ruang pleural.&lt;br /&gt;19.Ketika membantu dokter bedah dalam melepaskan selang :&lt;br /&gt;Intruksikan pasien untuk melakukan manuver valsalva dengan lambat dan bernafas dengan tenang.&lt;br /&gt;Selang dada di klem dan dengan cepat dilepaskan.&lt;br /&gt;Secara bersamaan, balutan kecil dipasangkan dan buat kedap udara dengan menutupkan kasa petrolatum dengan bantalan kasa 10 x 10 cm dan tutupi dan rapatkan secara menyeluruh dengan plester adesif.&lt;br /&gt;Rasional   : &lt;br /&gt;Selang dada dilepaskan sesuai yang disarankan ketika paru telah mengembang kembali (biasanya 24 jam sampai beberapa hari) tergantung dari penyebab pneumotoraks. Selama penglepasan selang perioritas utama adalah pencegahan masuknya udara kedalam rongga pleural ketika selang ditarik dan pencegahan infeksi. &lt;br /&gt;II. 4.  Memantau water – seal dan drainase&lt;br /&gt;  Memantau water - seal dari system drainase selang dada sama pentinganya dengan observasi drainase.  Pemeriksaan secara visual untuk meyakinkan ruang water –seal terisi air 2 cc.  Bila penghisap diberikan, yakinkan garis air pada garis penghisap sesuai dengan jumlah yang diindikasikan.  Bila pompa penghisap pleural darurat digunakan, periksa ukuran penghisap, jangan menutup ventilasi udara. &lt;br /&gt;   Observasi segel dibawah air terhadap fluktuasi pernapasan. Tidak adanya fluktuasi akan menunjukkan bahwa paru re-ekspansi atau ada obstruklsi pada system.  Gelombang yang terus menerus pada water – seal tanpa penghisap dapat menunjukkan bahwa selang telah berubah tempat atau terlepas.  Periksa seluruh system terhadap lepasnya alat dan lihat selang dada untuk melihat penempatan diluar dada.&lt;br /&gt;  Gelembung yang terjadi 24 jam setelah pemasangan selang dada sehubungan dengan perbaikan pneumotoraks menunjukkan adanya fistula bronkopleural.  Ini biasa terjadi pada pengesetan ventilasi mekanis pada volume tidal dan tekanan tinggi.&lt;br /&gt;  Perhatikan warna, konsistensi dan jumlah drainase.  Gunakan pulpen untuk menandai tingakat system drainase pada akhir jaga dan jadwalkan interval waktu. Waspadai terhadap perubahan tiba – tiba pada jumlah drainase.  Peningkatan tiba – tiba menunjukkan perdarahan atau adanya pembukaan kembali obstruksi selang.  Penurunan tiba – tiba menunjukkan obtruksi selang atau kegagalan selang dada atau system drainase.&lt;br /&gt;  Untuk mengembalikan patensi selang dada, tindakan keperawatan dianjurkan :&lt;br /&gt;Upayakan untuk mengurangi obstruksi dengan perubahan posisi pasien.&lt;br /&gt;Bila bekuan dapat terlihat, regangkan selang antara dada dan unit drainase dan tinggikan selang untuk meningkatkan efek gravitasi.&lt;br /&gt;Pijat dan lepaskan selang secara bergantian untuk melepaskan secara perlahan  bekuan kearah wadah drainase.&lt;br /&gt;Bila selang dada terus menerus tetap tersumbat, pembongkaran selang dada dianjurkan.  Pembongkaran selang dada rutin tanpa mengevaluasi situasi pasien adalah kontrolversial  dan berisiko.&lt;br /&gt; Penyulit pemasangan WSD adalah perdarahan dan infeksi dan super infeksi dan komplikasi yang paling serius dari selang dada adalah tegangan pneumatoraks. Bila tidak diatasi mengancam kehidupan.  Tegangan pneumotoraks terjadi bila udara masuk keruang pleura selama inspirasi tetapi tidak dapat keluar selama ekspirasi. Proses ini terjadi bila obstruksi pada selang system drainase dada.  Semakin banyak udara terjebak pada ruang pleura, tekanan meningkat sampai paru kolaps dan jaringan lunak dalam darah tertekan.&lt;br /&gt;                &lt;br /&gt;                                   BAB III&lt;br /&gt;                               KESIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;III. 1.  Kesimpulan&lt;br /&gt;WSD adalah suatu selang drainase yang digunakan setelah prosedur intra torakal.&lt;br /&gt;Alat&lt;br /&gt;•Sistem water – seal                 *   penutup kepala &lt;br /&gt;•Masker wajah                        *  Selang dada oatau trai tokar&lt;br /&gt;•Balutan                             *  Sarung tangan steril&lt;br /&gt;•Seitem water less                                         &lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Adapun tujuan pemasangan WSD :&lt;br /&gt;10.Diagnostik, untuk menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil sehingga dapat ditentukan perlu  operasi torakotomi atau tidak sebelum penderita jatuh dalam renjatan.&lt;br /&gt;11.Terapi,untuk membuang darah, udara dan cairan yang terkumpul dalam rongga pleura.  Untuk  mengembalikan tekanan negative pada area pleural, untuk memungkinkan ekspansi paru dan memulihkan fungsi kardiopulmonal setelah pembedahan, trauma, atau kondisi medis. &lt;br /&gt;12.preventif : untuk mengeluarkan udara atau darah yang masuk kerongga pleura sehinga mekanisme pernapasan tetap baik, dan untuk mencegah repluks drainase kembali kedalam dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.2. Saran&lt;br /&gt;Dari makalah ini, adapun saran yang dapat penulis sampaikan bahwa &lt;br /&gt;Dengan adanya makalah ini dapat membantu kita dalam melakukan tindakan pemasangan WSD dan bila ada kritik maupun saran dari pembaca dalam membantu &lt;br /&gt;Menambah wawasan, penulis sebelumnya ucapan terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;1)Carolyn M.Hudak dan Barbara M. Gallo.  keperawatan kritis. Penerbit buku&lt;br /&gt;  Kedokteran , Edisi Vi ,Volume 1.  Jakarta 1997                       .&lt;br /&gt;2)Manjoer , Arif M, dkk.  Kapita Selekta Kedoteran .  penerbit media aeculapius     FKUI   Edisi  III.  Jakarta 2000&lt;br /&gt;3)Brunner &amp; suddarth.  Keperawatan Medical Bedah.  Penerbit buku Kedokteran &lt;br /&gt;  Volume 1 ,EGC.  Jakarta 2001&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-4776503334826953304?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/4776503334826953304/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/wsd.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/4776503334826953304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/4776503334826953304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/wsd.html' title='WSD'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-6675764102948385500</id><published>2010-02-02T21:31:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T21:31:58.232-08:00</updated><title type='text'>ASKEP MYOPIA</title><content type='html'>1.1DEFENISI&lt;br /&gt;Miopia adalah suatu keadaan mata yang mempunyai kekuatan pembiasan sinar yang berlebihan atau kerusakan refraksi mata sehingga sinar sejajar yang datang dibiaskan di depan retina ( bintik kuning ) dimana sistem akomodasi berkurang. Pasien dengan myopia akan menyatakan melihat lebih jelas bila dekat sedangkan melihat jauh kabur atau pasien adalah rabun jauh. Pasien miopia mempunyai pungtum remotum ( titik terjauh yang masih dilihat jelas) yang dekat sehingga mata selalu dalam atau berkedudukan konvergensi yang akan menimbulkan keluhan astenopia konvergensi. Bila kedudukan mata ini menetap maka penderita akan terlihat juling ke dalam atau esotropia.&lt;br /&gt;Mata minus / myopia / short sighred eye adalah : keadaan pada mata dimana cahaya/benda yang jauh letaknya jatuh/difokuskan didepan retina/selpaut jala/bintik kuning&lt;br /&gt;Myopia merupakan mata dengan daya lensa positif yang lebih kuat sehingga sinar yang sejajar atau datang dari tak terhingga difokuskan didepan retina. Kelainan ini diperbaiki dengan lensa negatif sehingga bayangan benda tergeser ke belakang dan diatur dan tepat jatuh diretina (Mansjoer, 2002).&lt;br /&gt;Myopia adalah suatu bentuk kelainan refraksi dimana sinar-sinar sejajar yang datang dari jarak tak terhingga oleh mata dalam keadaan tidak berakomodasi&lt;br /&gt;dibiaskan pada satu titik di depan retina.&lt;br /&gt;Terdapat dua teori utama tentang terjadinya pemanjangan sumbu bola mata pada myopia yaitu:&lt;br /&gt;Teori biologik menganggap pemanjangan sumbu bola mata sebagai akibat kelainan pertumbuhan retina(overgrowth)&lt;br /&gt;Teori mekanik mengemukakan penekanan (stress) sklera sebagai penyebab pemanjangan tersebut.&lt;br /&gt;Myopia Yaitu keadaan di mana mata terasa kabur apabila melihat objek-objek yang letaknya jauh, tapi mata mampu melihat objek yang dekat.&lt;br /&gt;Pada rabun jauh (myopia) penderita selalu berusaha memicingkan matanya agar dapat melihat lebih jelas objek-objek yang jauh letaknya. Hal ini adalah ciri khas utama dari penderita myopia. &lt;br /&gt;Myopia paling banyak terjadi pada usia anak-anak dan ditemukan secara tak sengaja pada saat skrining pemeriksaan mata di sekolah. Pada umumnya memang hal ini disebabkan oleh keturunan. Selain karena faktor keturunan, myopia juga bisa disebabkan oleh faktor kelengkungan kornea maupun kelainan bentuk lensa mata. &lt;br /&gt;Ciri khas lain dari myopia ini adalah sifatnya yang progresif hingga pada usia remaja (hal ini dikarenakan faktor panjang sumbu bola mata yang bertambah seiring pertumbuhan anak) dan kemudian progresifitasnya menurun pada usia dewasa muda. Pertambahan derajat myopia membutuhkan kaca mata yang makin berat kekuatannya, karena itu pada masa usia dini dianjurkan agar pemeriksaan diulang tiap 6 bulan. &lt;br /&gt;Tipe / Bentuk myopia yaitu:&lt;br /&gt;1)Myopia Axial&lt;br /&gt;Dalam hal ini, terjadinya myopia akibat panjang sumbu bola mata (diameter Antero-posterior), dengan kelengkungan kornea dan lensa normal, refraktif power normal dan tipe mata ini lebih besar dari normal.&lt;br /&gt;2)Myopia Kurvatura&lt;br /&gt;Dalam hal ini terjadinya myopia diakibatkan oleh perubahan darikelengkungan kornea atau perubahan kelengkungan dari pada lensa seperti yang terjadi pada katarak intumesen dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat, dimana ukuran bola mata normal.&lt;br /&gt;3)Perubahan Index Refraksi&lt;br /&gt;Perubahan indeks refraksi atau myopia refraktif, bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti yang terjadi pada penderita Diabetes Melitussehingga pembiasan lebih kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4)Perubahan Posisi Lensa&lt;br /&gt;Pergerakan lensa yang lebih ke anterior setelah operasi glaucomaberhubungan dengan terjadinya myopia.&lt;br /&gt;Myopia dikategorikan berbahaya apabila berpotensi untuk menimbulkan kebutaan bagi penderitanya, karena tidak bisa diatasi dengan pemberian kacamata. Myopia berbahaya ini dibarengi dengan kerapuhan dari selaput jala (retina) yang makin lama makin menipis dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt;Pada puncaknya proses penipisan ini menimbulkan perobekan pada selaput jala (retina), yang membutuhkan tindakan bedah sedini mungkin untuk pemulihannya. Tingkat keberhasilan pemulihan penglihatan akibat hal ini sangat tergantung pada kecepatan tindakan penanggulangannya.&lt;br /&gt;1.2ETIOLOGI&lt;br /&gt;Pertengahan tahun 1900 SM, para dokter ahli mata dan ahli pemeriksa mata ( ahli kacamata ) percaya bahwa miopia menjadi hereditas utama.  Di antara peneliti-peneliti dan para professional peduli mata, mereka mengatakan bahwa miopia sekarang telah menjadi sebuah kombinasi genetik dan merupakan salah satu  faktor lingkungan.&lt;br /&gt;Ada 2 mekanisme dasar yang dipercaya menjadi penyebab myopia yaitu:&lt;br /&gt;Hilangnya bentuk mata ( juga diketahui sebagai hilangnya pola mata ), terjadi ketika kualitas gambar dalam retina berkurang.&lt;br /&gt;Berkurangnya titik fokus mata, terjadi ketika titik fokus cahaya berada di depan atau di belakang retina&lt;br /&gt;Myopia Terjadi karena bola mata tumbuh terlalu panjang saat bayi. Dikatakan pula, semakin dini mata seseorang terkena sinar terang secara langsung, maka semakin besar kemungkinan mengalami miopi. Ini karena organ mata sedang berkembang dengan cepat pada tahun-tahun awal kehidupan.akibatnya para penderita miopi umumnya merasa bayangan benda yang dilihatnya jatuh tidak tepat pada retina matanya, melainkan didepannya (Curtin, 2002). &lt;br /&gt;1.3PATOFISIOLOGI&lt;br /&gt;Terjadinya elongasi sumbu yang berlebihan pada myopia patologi masih belum diketahui. Sama halnya terhadap hubungan antara elongasi dan komplikasi penyakit ini, seperti degenerasi chorioretina, ablasio retina dan glaucoma. Columbre dan rekannya, tentang penilaian perkembangan mata anak ayam yang di dalam pertumbuhan normalnya, tekanan intraokular meluas ke rongga mata dimana sklera berfungsi sebagai penahannya. Jika kekuatan yang berlawanan ini merupakan penentu pertumbuhan ocular post natal pada mata manusia, dan tidak ada bukti yang menentangnya maka dapat pula disimpulkan dua mekanisme patogenesa terhadap elongasi berlebihan pada myopia.&lt;br /&gt;Menurut perjalanan miopia dikenal bentuk:&lt;br /&gt;1)Myopia stasioner, myopia yang menetap setelah dewasa &lt;br /&gt;2)Myopia progresif, myopia yang bertambah terus pada usia dewasa akibat bertambah panjangnya bola mata &lt;br /&gt;3)Myopia maligna, myopia yang berjalan progresif, yang dapat mengakibatkan ablasi retina dan kebutaan atau sama dengan myopia pernisiosa sama dengan myopia maligna sama dengan myopia degenerative. &lt;br /&gt;4)Myopia degenertif atau myopia maligna biasanya bila myopia lebih dari 6 dioptri disertai kelainan pada fundus okuli dan pada panjangnya bola mata sampai terbentuk stafiloma postikum yang terletak pada bagian temporal papil disertai dengan atrofi karioretina.&lt;br /&gt;Atrofi retina berjalan kemudian setelah terjadinya atrofi sclera dan kadang-kadang terjadi rupture membrane Bruch yang dapat menimbulkan rangsangan untuk terjadinya neovaskularisasi subretina. Pada myopia dapat terjadi bercak Fuch berupa biperplasi pigmen epitel dan perdarahan, atropi lapis sensoris retina luar, dan dewasa akan terjadi degenerasi papil saraf optic.&lt;br /&gt;(Sidarta, 2005).&lt;br /&gt;1.4MANIFESTASI KLINIK&lt;br /&gt;Penglihatan kabur atau mata berkedip ketika mata mencoba melihat suatu objek dengan jarak jauh ( anak-anak sering tidak dapat membaca tulisan di papan tulis tetapi mereka dapat dengan mudah membaca tulisan dalam sebuah buku.&lt;br /&gt;Penglihatan untuk jauh kabur, sedangkan untuk dekat jelas. Jika derajat miopianya terlalu tinggi, sehingga letak pungtum remotum kedua mata terlalu dekat, maka kedua mata selalu harus melihat dalam posisi kovergensi, dan hal ini mungkin menimbulkan keluhan (astenovergen) . Mungkin juga posisi konvergensi itu menetap, sehingga terjadi strabismus konvergen (estropia). Apabila terdapat myopia pada satu mata jauh lebih tinggi dari mata yang lain dapat terjadi ambliopia pada mata yang myopianya lebih tinggi. Mata ambliopia akan bergulir ke temporal yang disebut strabismus divergen (eksotropia). (Illyas,2005).&lt;br /&gt;Pasien dengan myopia akan memberikan keluhan sakit kepala, sering disertai dengan juling dan celah kelopak yang sempit. Seseorang penderita myopia mempunyai kebiasaan mengerinyitkan matanya untuk mencegah aberasi sferis atau untuk mendapatkan efek pinhole (lubang kecil). Pasien myopia mempunyai pungtum remotum (titik terjauh yang masih dilihat jelas) yang dekat sehingga mata selalu dalam atau berkedudukan konvergensi yang akan menimbulkan keluhan astenopia konvergensi.bila kedudukan mata ini menetap, maka penderita akan terlihat juling kedalam atau esoptropia (Sidarta, 2005).&lt;br /&gt;Gejala-gejala myopia juga terdiri dari:&lt;br /&gt;1)Gejala subjektif :&lt;br /&gt;Kabur bila melihat jauh &lt;br /&gt;Membaca atau melihat benda kecil harus dari jarak dekat &lt;br /&gt;Lekas lelah bila membaca ( karena konvergensi yang tidak sesuai dengan akomodasi ) &lt;br /&gt;Astenovergens &lt;br /&gt;2)Gejala objektif : &lt;br /&gt;a)Myopia simpleks : &lt;br /&gt;Pada segmen anterior ditemukan bilik mata yang dalam dan pupil yang relative lebar. Kadang-kadang ditemukan bola mata yang agak menonjol. &lt;br /&gt;Pada segmen posterior biasanya terdapat gambaran yang normal atau dapat disertai kresen myopia ( myopic cresent ) yang ringan di sekitar papil saraf optik. &lt;br /&gt;b)Myopia patologik : &lt;br /&gt;Gambaran pada segmen anterior serupa dengan myopia simpleks. &lt;br /&gt;Gambaran yang ditemukan pada segmen posterior berupa kelainan-kelainan pada:&lt;br /&gt;Badan kaca : dapat ditemukan kekeruhan berupa pendarahan atau degenarasi yang terlihat sebagai floaters, atau benda-benda yang mengapung dalam badan kaca. Kadang-kadang ditemukan ablasi badan kaca yang dianggap belum jelas hubungannya dengan keadaan myopia. &lt;br /&gt;Papil saraf optic : terlihat pigmentasi peripapil, kresen myopia, papil terlihat lebih pucat yang meluas terutama ke bagian temporal. Kresen myopia dapat ke seluruh lingkaran papil sehingga seluruh papil dikelilingi oleh daerah koroid yang atrofi dan pigmentasi yang tidak teratur &lt;br /&gt;Makula: Berupa pigmentasi di daerah retina, kadang-kadang ditemukan pendarahan subretina pada daerah macula. &lt;br /&gt;Retina bagian perifer: Berupa degenersi kista retina bagian perifer Seluruh lapisan fundus yang tersebar luas berupa penipisan koroid dan retina. Akibat penipisan ini maka bayangan koroid tampak lebih jelas dan disebut sebagai fundus tigroid. (Illyas,2005). &lt;br /&gt;1.5PENCEGAHAN&lt;br /&gt;Pencegahan miopia salah satunya dengan cara tidak membaca dalam keadaan gelap dan menonton TV dengan jarak yang dekat. Pada beberapa tahun lalu, penurunan pelebaran mata dimaksudkan untuk salah satu pengobatan yang telah dikembangkan untuk anak-anak, tetapi ternyata terapi tersebut tidak efektif.&lt;br /&gt;Penggunaan kacamata dan kontak lensa mempengaruhi perkembangan myopia dalam akhir tahun ini. Beberapa dokter yang menggunakan pengobatan klinik dan para peneliti merekomendasikan kekuatan lebih ( konvex ) pada lensa kacamata yang dapat dipakai untuk melihat jauh dan dekat. Para pelajar Malaysia juga baru-baru ini melaporkan bahwa ahli ilmu pengetahuan yang baru menyatakan bahwa pembentukan atau perbaikan pada penderita myopia disebabkan karena melajunya pertumbuhan myopia, ini juga terdapat dalam pertanyaan-pertanyaan klinis. Banyak pengobatan myopia mengalami kesulitan dan juga terdapat banyak kekurangan di dalamnya. Oleh karena itu, beberapa grup kontrol cukup menutupi kekurangan tersebut&lt;br /&gt;Sampai sejauh ini yang dilakukan adalah mencoba mencari bagaimana mencegah kelainan refraksi pada anak atau mencegah jangan sampai menjadi parah. Biasanya dokter akan melakukan beberapa tindakan seperti pengobatan laser, obat tetes tertentu untuk membantu penglihatan, operasi, penggunaan lensa kontak dan penggunaan kacamata.  &lt;br /&gt;Pencegahan  lainnya adalah dengan melakukan visual hygiene berikut ini:&lt;br /&gt;Mencegah terjadinya kebiasaan buruk. Hal yang perlu diperhatikan adalah sejak    kecil anak dibiasakan duduk dengan posisi tegak, dan memegang alat tulis dengan benar.  Lakukan istirahat tiap 30 menit setelah melakukan kegiatan membaca atau melihat TV. Batasi jam membaca. Aturlah jarak baca yang tepat (30 centimeter), dan gunakanlah penerangan yang cukup. Kalau memungkinkan untuk anak-anak diberikan kursi yang bisa diatur tingginya sehingga jarak bacanya selalu 30 cm. Membaca dengan posisi tidur atau tengkurap bukanlah kebiasaan yang baik. &lt;br /&gt;Beberapa penelitian melaporkan bahwa usaha untuk melatih jauh atau bergantian melihat jauh dan dekat secara bergantian dapat mencegah myopia. (Curtin, 2002). &lt;br /&gt;1.6PENATALAKSANAAN&lt;br /&gt;1)Penatalaksanaan Nonfarmakologi&lt;br /&gt;Kacamata, kontak lensa, dan operasi refraksi adalah beberapa pilihan untuk mengobati gejala-gejala visual pada pada penderita myopia. Dalam ilmu keratotology kontak lensa yang digunakan adalah adalah kontak lensa yang keras atau kaku untuk pemerataan kornea yang berfungsi untuk mengurangi miopia.&lt;br /&gt;Latihan pergerakan mata dan teknik relaksasi&lt;br /&gt;Para pelaksana dan penganjur terapi alternatif ini sering merekomendasikan latihan pergerakan mata dan teknik relaksasi seperti cara menahan (pencegahan). Akan tetapi, kemanjuran dari latihan ini dibantah oleh para ahli pengetahuan dan para praktisi peduli mata. Pada tahun 2005, dilakukan peninjauan ilmiah pada beberapa subjek. Dari peninjauan tersebut disimpulkan bahwa tidak ada bukti-bukti (fakta) ilmiah yang menyatakan bahwa latihan pergerakan mata adalah pengobatan myopia yang efektif. &lt;br /&gt;Terapi dengan menggunakan laser dengan bantuan keratomilesis (LASIK) atau operasi lasik mata, yang telah populer dan banyak digunakan para ahli bedah untuk mengobati miopia. Dalam prosedurnya dilakukan pergantian ukuran kornea mata dan dirubahnya tingkat miopia dengan menggunakan sebuah laser. Selain lasik digunakan juga terapi lain yaitu Photorefractive Keratotomy (PRK) untuk jangka pendek, tetapi ini menggunakan konsep yang sama yaitu dengan pergantian kembali kornea mata tetapi menggunakan prosedur yang berbeda. Selain itu ada juga pengobatan yang dilakukan tanpa operasi yaitu orthokeratologi dan pemotongan jaringan kornea mata. Orang-orang dengan miopia rendah akan lebih baik bila menggunakan teknik ini. Orthokeratologi menggunakan kontak lensa secara berangsur-angsur dan pergantian sementara lekukan kornea. Pemotongan jaringan kornea mata menggunakan bahan-bahan plastik yang ditanamkan ke dalam kornea mata untuk mengganti kornea yang rusak( Lee dan Bailey, www.allaboutvision.com/conditions/myopia.Htm,2006).&lt;br /&gt;2)Penatalaksanaan Farmakologi&lt;br /&gt;Obat yang digunakan untuk penderita miopia adalah obat tetes mata untuk mensterilisasi kotoran yang masuk ke dalam mata. Obat-obat tradisionalpun banyak digunakan ada penderita myopia (www.allaboutvision.com/conditions/myopia.Htm,2006). &lt;br /&gt;1.7PEMERIKSAN PENUNJANG&lt;br /&gt;Foto fundus / retina &lt;br /&gt;Pemeriksaan lapang pandang / campimetri / perimetri &lt;br /&gt;Pemeriksaan kwalitas retina ( E.R.G = electro retino gram) &lt;br /&gt;Pemeriksaan kelainan otak / brain berkaitan dengan kelainan mata ( E.E.G = electro – ence falogram &lt;br /&gt;EVP (evoked potential examination) &lt;br /&gt;USG ( ultra – sono – grafi ) bola mata dan keliling organ mata missal pada tumor,panjang bola mata , kekentalan benda kaca (vitreous) &lt;br /&gt;Retinometri ( maksimal kemungkinan tajam penglihatan mata yang tersisa) &lt;br /&gt;CT scan dengan kontras / MRI. VI. Penatalaksanaan&lt;br /&gt;2.1PENGKAJIAN&lt;br /&gt;2.1.1PENGKAJIAN FISIK PENGLIHATAN&lt;br /&gt;1)Pengkajian Ketajaman Penglihatan&lt;br /&gt; Dilakukan di kamar yang tidak terlalu terang dengan kartu Snellen.&lt;br /&gt;Pasien duduk dengan dengan jarak 6 meter dari kartu Snellen dengan satu mata ditutup. &lt;br /&gt;Pasien diminta membaca huruf yang tertulis pada kartu, mulai dari baris paling atas kebawah,dan tentukan baris terakhir yang masih dapat dibaca seluruhnya dengan benar. &lt;br /&gt;Bila pasien tidak dapat membaca baris paling atas (terbesar) maka dilakuan uji hitung jari dari jarak 6 meter. &lt;br /&gt;Jika pasien tidak dapat menghitung jari dari jarak 6 meter, maka jarak dapat dikurangi satu meter, sampai maksimal jarak penguji dengan pasien 1 meter. &lt;br /&gt;Jika pasien tetap tidak bisa melihat,dilakukan uji lambaian tangan,dilakukan uji dengan arah sinar. &lt;br /&gt;Jika pengelihatan sama sekali tidak mengenal adanya sinar,maka dikatakan pengelihatanya adalah 0 (nol) atau buta total.&lt;br /&gt;Penilaian :&lt;br /&gt;Tajam pengelihatan normal adalah 6/6. Berarti pasien dapat membaca seluruh huruf dalam kartu Snellen dengan benar. Bila baris yang dapat dibaca selurunya bertanda 30 maka dikatakan tajam pengelihatan 6/30. Berarti ia hanya dapat melihat pada jarak 6 meter yang oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 30 meter. Bila dalam uji hitung jari pasien hanya dapat melihat atau menentukan jumlah jari yang diperlihatkan pad jarak 3 meter, maka dinyatakan tajam pengelihatan 3/60. Jari terpisah dapat dilihat orang normal pada jarak 60 meter.&lt;br /&gt;Orang normal dapat melihat gerakan atau lambaian tangan pada jarak 300 meter. Bila mata hanya dapat melihat lambaian tangan pada jarak 1 meter, berarti tajam pengelihatan adalah 1/300.&lt;br /&gt;Bila mata hanya mengenal adanya sinar saja,tidak dapat melihat lambaian tangan, maka dikatakan sebagai satu per minus. Orang normal dapat melihat adanya sinar pada jarak tidak terhingga.&lt;br /&gt;2)Pengkajian Gerakan Mata&lt;br /&gt;Uji Menutup, salah satu mata pasien di tutup dengan karton atau tangan pemeriksa, dan pasien di minta memfokuskan mata yang tidak tertutup pada satu benda diam sementara mata yang di tutup karton/tangan tetap terbuka. Kemudian karton atau tangan tiba-tiba di singkirkan, dan akan nampak gerakan abnormal mata. Bila mata, saat di tutup bergeser ke sisi temporal, akan kembali ke titik semula ketika penutup di buka. Sebaliknya, bila bergeser ke sisi nasal, fenomena sebaliknya akan terjadi. Kecenderungan mata untuk bergeser, ketika di tutup, ke sisi temporal, di namakan eksoforia; kecenderungan mata untuk bergeser ke sisi nasal di sebut esoforia.&lt;br /&gt;Lirikan Terkoordinasi, benda di gerakkan ke lateral ke kedua sisi sepanjang sumbu horizontal dan kemudian sepanjang sumbu oblik. Masing-masing membentuk sumbu 60 derajat dengan sumbu horizontal. Tiap posisi cardinal lirikan menggambarkan fungsi salah satu dari keenam otot ekstraokuler yang melekat pada tiap mata. Bila terjadi diplopia (pandangan ganda), selama transisi dari salah satu posisi cardinal lirikan, pemeriksa dapat mengetahui adanya salah satu atau lebih otot ekstraokuler yang gagal untuk berfungsi dengan benar. Keadaan ini bias juga terjadi bila salah satu mata gagal bergerak bersama dengan yang lain.&lt;br /&gt;3)Pengkajian Lapang Pandang, pemeriksa dan pasien duduk dengan jarak 1 sampai 2 kaki, saling berhadapan. Pasien di minta menutup salah satu mata dengan karton, tanpa menekan, sementara ia harus memandang hidung pemeriksa. Sebaliknya pemeriksa juga menutup salah satu matanya sebagai pembanding. Bila pasien menutup mata kirinya, misalnya, pemeriksa menutup mata kanannya. Pasien di minta tetap melirik pada hidung pemeriksa dan menghitung jumlah jari yang ada di medan superior dan inferior lirikan temporal dan nasal. Jari pemeriksa di gerakkan dari posisi luar terjauh ke tengah dalam bidang vertical, horizontal dan oblik. Medan nasal, temporal, superior dan inferior di kaji dengan memasukkan benda dalam penglihatan dari berbagai titik perifer. Pada setiap manuver, pasien memberi informasi kepada pemeriksa saat ketika benda mulai dapat terlihat sementara mempertahankan arah lirikannya ke depan.&lt;br /&gt;2.1.2 Pemeriksaan Fisik Mata&lt;br /&gt;1)Kelopak Mata,  harus terletak merata pada permukaan mata&lt;br /&gt;2)Buku Mata, posisi dan distribusinya&lt;br /&gt;3)Sistem lakrimal, struktur dan fungsi pembentukan dan drainase air mata.&lt;br /&gt;4)Pemeriksaan Mata Anterior, sclera dan konjungtiva bulbaris diinspeksi secara bersama.&lt;br /&gt;5)Pemeriksaan Kornea, normalnya kornea tampak halus dengan pantulan cahaya seperti cermin, terang, simetris dan tunggal.&lt;br /&gt;2.2DIAGNOSA &lt;br /&gt;1)Gangguan persepsi diri berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori/gangguan status organ indera&lt;br /&gt;2)Ansietas/ketakutan berhubungan dengan perubahan status kesehatan (nyeri pada kepala, kelelahan pada mata)&lt;br /&gt;3)Kurang pengetahuan/informasi tentang kondisi, prognosis dan pengobatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3INTERVENSI&lt;br /&gt;DX I: Gangguan persepsi diri berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori/perubahan status organ indera&lt;br /&gt;1)Kaji derajat dan durasi gangguan visual&lt;br /&gt;  Rasional: Meningkatkan pemahaman perawat tentang kondisi klien&lt;br /&gt;2)Orientasikan klien pada lingkungan yang baru&lt;br /&gt; Rasional: Memberikan peningkatan kenyamanan, kekeluargaan serta kepercayaan klien-perawat&lt;br /&gt;3)Dorong klien mengekspresikan perasaan tentang gangguan penglihatan&lt;br /&gt;  Rasional: meningkatkan kepercayaan klien-perawat dan penerimaan diri&lt;br /&gt;4)Lakukan tindakan untuk membantu klien menangani gangguan penglihatannya&lt;br /&gt;Rasional: Menurunkan kemungkinan bahaya yang akan tejadi sehubungan dengan gangguan penglihatan&lt;br /&gt;DX II: Ansietas/ketakutan berhubungan dengan perubahan status kesehatan (nyeri pada kepala, kelelahan pada mata)&lt;br /&gt;1)Orientasikan klien pada lingkungan yang baru&lt;br /&gt; Rasional: Membantu mengurangi ansietas dan meningkatkan keamanan&lt;br /&gt;2)Beritahu klien tentang perjalanan penyakitnya &lt;br /&gt;Rasional: Memberikan informasi kepada klien tentang penyakitnya dan mengurangi ansietas&lt;br /&gt;3)Beritahu klien tentang tindakan pengobatan yang akan dilakukan.&lt;br /&gt;Rasional: Mengurangi ansietas klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DX III: Kurang pengetahuan/informasi tentang kondisi, prognosis dan pengobatan&lt;br /&gt;1)Kaji informasi tentang kondisi individu, prognosis dan pengobatan&lt;br /&gt; Rasional: Meningkatkan pemahaman perawat tentang kondisi klien.&lt;br /&gt;2)Beritahu klien tentang perjalanan penyakitnya serta pengobatan yang akan dilakukan&lt;br /&gt; Rasional: Memberikan informasi kepada klien tentang penyakitnya.&lt;br /&gt;3)Anjurkan klien menghindari membaca terlalu lama dan membaca dengan posisi tidur, menonton TV dengan jarak terlalu dekat.&lt;br /&gt;Rasional: Membaca terlalu lama dan membaca dengan posisi tidur, menonton TV dengan jarak terlalu dekat dapat mengakibatkan kelelahan pada mata.&lt;br /&gt;2.4EVALUASI&lt;br /&gt;1)Menyatakan penerimaan diri sehubungan dengan perubahan sensori&lt;br /&gt;2)Mampu memakai metode koping untuk menghilang ansietas&lt;br /&gt;3)Menyatakan pemahaman tentang kondisi, prognosis dan pengobatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brunner &amp; Suddarth. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Edisi 8 Vol 3. Jakarta: EGC&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chan,WM.2004. Ophthalmology and Visual Science. The Chinese university of Hongkong.88(10):1315-1319. www.pubmedcentral.nih.gov/artclender&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Curtin. B., J., 2002. The Myopia. Philadelphia Harper &amp; Row. 348-381 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Curtin Brian J, Whitemore, Wayne G. The Optics of Myopia, In Duanes Clinical &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guell, JL., Morral, M.,Gris, O. 2007. Implantation for Myopia Ophthalmology (abstract only). www.pubmedcentral.nih.gov/articlender &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-6675764102948385500?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/6675764102948385500/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/askep-myopia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/6675764102948385500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/6675764102948385500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/askep-myopia.html' title='ASKEP MYOPIA'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-8009813442083614781</id><published>2010-02-02T21:10:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T21:23:55.451-08:00</updated><title type='text'>ASKEP ANEMIA</title><content type='html'>ANEMIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengertian&lt;br /&gt;Anemia adalah pengurangan jumlah sel darah merah, kuantitas hemoglobin, dan volume pada sel darah merah (hematokrit) per 100 ml darah. Dengan demikian, anemia bukan suatu diagnosis melainkan pencerminan dari dasar perubahan patofisiologis, yang diuraikan oleh anamnesa dan  pemeriksaan fisik yang teliti, serta didukung oleh pemeriksaan laboratorium.&lt;br /&gt;2. Fisiologi&lt;br /&gt;Struktur dan fungsi sel darah merah yang normal&lt;br /&gt;Sel darah merah atau eritrosit adalah merupakan cakram bikonkaf yang tidak berinti yang kira-kira berdiameter 8 m. Tebal bagian tepi 2m pada bagian tengah tebalnya hanya 1m atau kurang. Karena sel itu lunak dan lentur maka dalam perjalannya melalui mikrosirkulasi konfigurasi berubah. Stroma bagian luar yang mengandung protein terdiri dari anti gen kelompok A dan B serta faktor Rh yang menentukan golongan darah seseorang. Komponen utama sel darah merah adalah protein hemoglobin (Hb) yang mengangkut O2 dan CO2 dan mempertahankan pH normal melalui serangkaian dapar  intraseluler. Molekul-molekul Hb terdiri dari 2 pasang rantai polipeptida (globin) dan 4 gugus hem, masing-masing mengandung sebuah atom besi. Konfigurasi ini memungkinkan pertukaran gas yang sangat sempurna.&lt;br /&gt;Jumlah sel darah merah kira-kira 5 juta per millimeter kubik darah pada rata-rata orang dewasa dan berumur 120 hari. Keseimbangan yang tetap dipertahankan antara kehilangan dan penggantian sel darah setiap hari. Pembentukan sel darah merah diransang oleh hormon glikoprotein, eritropoitin, yang dianggap berasal dari ginjal. Pembentukan eritropoetin dipengaruhi oleh hipoksia jaringan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti perubahan 02 atmosfer, berkurangnya kadar 02 darah arteri, dan berkurangnya konsentrasi hemoglobin. Eritropoetin meransang sel induk untuk memulai proliferasi dan pematangan sel-sel darah merah. Selanjutnya pematangan tergantung pada jumlah zat-zat  makanan yang cukup dan penggunaannya yang cocok, seperti vitamin B12 , asam folat, protein-protein, enzim-enzim, dan mineral seperti dan tembaga.&lt;br /&gt;Pembentukan hemoglobin terjadi pada sumsung tulang dan melalui semua stadium pematangan. Sel darah merah memasuki sirkulasi sebagai retikulosit dari sumsum tulang. Retikolosit adalah stadium terakhir dari perkembangan sel darah merah yang belum matang dan mengandung jala yang terdiri dari serat-serat retikuler. Sejumlah kecil hemoglobin masih dihasilkan  selam 24 sampai 48 jam pematangan; retikulum kemudian larut dan menjadi sel-sel darah merah yang matang.&lt;br /&gt;Waktu sel darah merah menua, sel ini menjadi lebih kaku dan menjadi lebih rapuh,  akhirnya pecah. Hemoglobin di fagositosis terutama di limpa. Hati dan sumsum tulang. Kemudian direduksi menjadi globin dan hem, globin masuk kembali kedalam sumber asam amino. Besi dibebaskan dari hem dan sebagian besar diangkut oleh protein plasma transperin ke sumsung tulang untuk pembentukan sel darah merah yang baru. Sisa besi disimpan dalam hati dan jaringan tubuh lain dalam bentuk feritin dan hemosiderin, simpanan ini akan digunakan lagi dokemudian hari. Sisa hem direduksi kembali menjadi karbon monoksida (CO) dan biliverdin. CO ini diangkut dalam bentuk karboksi hemoglobin, dan dikeluarkan melalui paru-paru. Biliverdin direduksi menjadi menjadi bilirubin bebas; yang berlahan-lahan dikeluarkan kedalam plasma. Dimana bilirubin bergabung ke albumin plasma kemudian diangkut kedalam sel-sel hati untuk diekskresi  ke dalam kanalikuli empedu. Bila ada penghancuran aktif sel-sel darah merah seperti hemolisis, pembebasan jumlah  bilirubin yang cepat kedalam cairan ekstraselular menyebabkan kulit dan konjungtiva kuning, keadaan ini disebut ikterus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Patofisiologi&lt;br /&gt;Karena jumlah efektif sel darah merah berkurang, maka lebih lebih sedikit darah yang dikirimkan ke jaringan.  Kehilangan darah yang mendadak (30% atau lebih), seperti pada perdarahan, menimbulkan simptomatologi sekunder hipovolemia dan hipoksemia. Tanda dan gejala yang sering timbul adalah gelisah, diaforesis (keringat dingin), takikardia, sesak napas, kolaps sirkulasi yang progresif cepat atau syok. Namun pengurangan hebat massa sel darah merah dalam waktu beberapa bulan (walaupun pengurangan 50%) memungkinkan mekanisme kompensasi tubuh untuk  menyesuaikan diri, dan biasanya penderita asimtomatik kecuali pada kerja jasmani  berat. Mekanisme kompensasi tubuh bekerja melalui:&lt;br /&gt; Peningkatan curah jantung dan pernafasan, karena itu menambah pengiriman O2 kejaringan-jaringan oleh sel darah merah.&lt;br /&gt; Meningkatkan pelepasan O2 oleh hemoglobin.&lt;br /&gt; Mengembangkan volume plasma dengan mernarik cairan dari sela-sela jaringan, dan&lt;br /&gt; Redistribusi cairan ke organ-organ vital.&lt;br /&gt;Selain satu dari tanda-tanda yang paling sering dikaitkan  dengan anemia adalah pucat. Ini umumnya diakibatkan oleh berkurangnya volume darah, berkurangnya hemoglobin,  dan vasokonstriksi organ-organ vital. Karena faktor-faktor seperti pigmentasi kulit,  suhu dan kedalaman serta distribusi kulit, maka warna kulit bukan merupakan indeks  pucat yang dapat diandalkan. Warna kuku dan telapak tangan, dan membran mukosa mulut serta conjuntiva dapat digunakan lebih baik guna menilai kepucatan.&lt;br /&gt;Takikardia dan   bising jantung (suara yang disebabkan oleh kecepatan aliran darah yang meningkat) menggambarkan beban kerja  dan curah jantung yang meningkat. Angina (sakit dada), khususnya pada penderita yang tua dengan stenosis koroner, dapat diakibatkan karena iskemia miokardium. Pada anemia berat dapat mengakibatkan payah jantung kongestif sebab otot jantung  yang kekurangan oksigen  tidak dapat menyesuaiakan diri dengan beban kerja  jantung yang meningkat.&lt;br /&gt;Dispnea (kesulitan bernafas), nafas pendek, dan cepat lelah waktu melakukan aktivitas jasmani  merupakan manifestasi berkurangnya pengiriman O2. sakit kepala, pusing, kelemahan, dan tinnitus (telinga berdengung) dapat menggambarkan berkurangnya oksigenasi pada susunan saraf pusat. Pada anemia yang berat dapat pula timbul gejala saluran cerna yang umumnya berhubungan dengan keadaan defesiensi. Gejala-gejala ini adalah anoreksia, nausea, konstipasi atau diare dan stomatitis (sariawan lidah dan mulut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Klasifikasi Anemia&lt;br /&gt;Anemia dapat diklasifikasikan menurut:&lt;br /&gt;1. Morfologi sel darah merah dan indeks-indeksnya&lt;br /&gt;Pada klasifikasi anemia menurut morfologi, mikro dan makro menunjukkan ukuran sel darah merah, sedangkan kromik menujukkan warnanya.&lt;br /&gt;Sudah dikenal klasifikasi besar yaitu:&lt;br /&gt;a. Anemia normositik normokrom.&lt;br /&gt;Dimana ukuran dan bertuk sel darah merah normal  serta mengandung hemoglobin dalam jumlah yang normal. (MCV dan MCHC normal atau normal  rendah) tetapi individu menderita anemia. Penyebab anemai jenis ini adalah kehilangan darah akut, hemolisis, penyakit kronik termasuk infeksi, gangguan endokrin, gangguan ginjal, kegagalan sumsum tulang, dan penyakit-penyakit infiltrat metastatik pada susum tulang.&lt;br /&gt;b. Anemia makrositik normokrom&lt;br /&gt;Makrositik berarti ukuran sel-sel darah merah lebih besar dari normal tetapi normokrom karena konsentrasi hemoglobinnya normal (MCV meningkat; MCHC normal). Hal ini diakibatkan oleh gangguan atau terhentinya sintesis asam nukleat B12  dan/atau asam folat. Ini dapat juga terjadi pada kemoterapi kanker, sebab agen-agen yang digunakan mengganggu metabolisme sel.&lt;br /&gt;c. Mikrositik hipokrom.&lt;br /&gt;Mikrositik berarti kecil, hipokrom berarti mengandung hemoglobin dalam jumlah yang kurang dari normal(MCV kurang; MCHC kurang). Hal ini umumnya menggambarkan insufisiensi sintesis hem (besi), seperti pada anemia defisiensi besi, keadaan sideroblastik dan kehilangan darah kronik, atau gangguan sintesis globin, seperti pada talasemia (penyakit hemoglobin abnormal kongenital)&lt;br /&gt;2. Etiologi.&lt;br /&gt;Anemia dapat pula diklasifikasikan menurut etiologinya, penyebab utama yang diperkirakan adalah:&lt;br /&gt;a. Meningkatnya kehilangan sel darah merah&lt;br /&gt;Meningkatnya kehilangan sel darah merah dapat disebabkan oleh perdarah atau penghancuran sel. Perdarahan dapat diesebabkan oleh trauma atau tukak, atau akibat perdarahan kronik karaena polip pada colon, penyakit-penyakit keganasan , hemoroid, atau menstruasi. Penghancuran sel darah merah dalam sirkulasi, dikenal dengan nama  hemolisis, terjadi bila gangguan pada sel darah merah itu sendiri yang memperpendek hidupnya atau karena perubahan lingkungan yang mengakibatkan penghancuran sel darah merah. Keadaan dimana sel darah merah sendiri terganggu adalah:&lt;br /&gt;- Hemoglobinopati, yaitu hemoglobin abnormal yang diturunkan, mislnya anemia sel sabit.&lt;br /&gt;- Gangguan sintesis globin. Misalnya talasemia.&lt;br /&gt;- Gangguan membran sel darah merah, misalnya sferositosis herediter.&lt;br /&gt;- Defesiensi ensim, misalnya difisiensi G6PD (glukosa 6-fosfat dehidrogenase)&lt;br /&gt;Yang disebut diatas adalah gangguan herediter, namun hemolisis dapat juga disebabkan oleh gangguan lingkungan sel darah merah, yang seringkali memerlukan respon imun. Respon isoimun mengenai berbagai indvidu  dalam spesies yang sama dan diakibatkan oleh transfusi darah yang tidak cocok. Respon otoimun terdiri dari pembentukan antibodi terhadap sel-sel darah merah itu sendiri, keadaan yang dinamakan anemia hemolitik otoimun dapat timbul tanpa sebab yang diketahui setelah pemberian suatu obat tertentu, seperti alfa-metildopa, kinin, sulfonamida, atau L-dopa, atau pada penyakit-penyakit seperti limfoma, leukemia limfositik kronik, lupus eritematous, artritis reumatoid dan infeksi virus. Anemia hemolitik otoimun selanjutnya diklasikfikasikan  menurut suhu dimana  antibodi bereaksi dengan sel-sel darah merah; anti bodi tipe panas atau anibodi tepe dingin.&lt;br /&gt;b. Penurunan atau pembentukan sel darah merah yang berkurang atau terganggu (diseritropoesis)&lt;br /&gt;Setiap keadaan yang mempengaruhi fungsi sumsum tulang dimasukkan dalam kategori ini, yang termasuk dalam kelompok ini adalah:&lt;br /&gt;- Keganasan yang tersebar  seperti kanker payudara, leukemia, dan multipel mioloma, obat dan sat kimia toksik, dan penyinaran denan radiasi&lt;br /&gt;- Penyakit-penyakit menahun yang melibatkan ginjal dah hati. Penyakit-penyakit infeksi dan difisensi endokrin. Kekurangan vitamin penting , seperti vitamin B12, asam folat, vitamin C dan besi, dapat mengakibatkan pembentukan sel darah merah  tidak efektif sehingga  menimbulkan anemia.&lt;br /&gt;Untuk menegakkan diagnosis anemia harus digabungkan pertimbangan morfologi dan etiologi.&lt;br /&gt;ANEMIA APLASTIK&lt;br /&gt;Pengertian&lt;br /&gt;Anemia aplastik adalah suatu gangguan pada sel-sel induk  di sumsum tulang yang dapat menimbulkan kematian, pada keadaan ini jumlah sel-sel darah merah yang dihasilkan tidak memadai. Pederita mengalami pansitopenia yaitu kekurangan sel darah merah, dan trombosit. Secara morfologi sel-sel darah merah terlihat normositik dan normokrom, hitung retikulosit rendah atau  hilang, dan biopsi sumsung tulang menunjukkan suatu keadaan yang disebut “pungsi kering” dengan hiplasia yang nyata dan terjadi penggantian dengan jaringan lemak. Langkah-langkah pangobatan terdiri dari mengidentifikasi  dan menghilangkan agen penyebab. Namun pada beberapa keadaan  tidak dapat ditemukan agen penyebabnya dan keadaan ini disebut idiopatik . bebraapa kasusu seperti ini diduga merupakan keadaan imunologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab-penyebab anemia aplastik : &lt;br /&gt;1. Agen antineoplastik&lt;br /&gt;2. Terapi radiasi&lt;br /&gt;3. Berbagai obat seperti anti konvulsan, pengobatan tiroid, senyawa emas dan fenilbutason.&lt;br /&gt;4. Benzen&lt;br /&gt;5. Infeksi virus (khususnya virus khusunya virus hepatitis)&lt;br /&gt;Pengobatan&lt;br /&gt;Terutama dipusatkan pada perawatan supportif sampai terjadi penyembuhan sumsum tulang. Karena infeksi dan perdarahan yang disebabkan oleh defesiensi besi sel lain merupakan penyebab utama kematian, maka penting untuk mencegah perdarahan dan infeksi. &lt;br /&gt;Tindakan pencegahan dapat mencakup lingkungan yang dilindungi (ruangan denan aliran udaran mendatar atau tempat yang nyaman) dan higiene yang baik, pada perdarahan dan/atau  infeksi perlu dilakukan terapi komponen darah yang bijaksana, yaitu sel darah merah, granulosit, dan trombosit dan antibiotik. Agen-agen peransang sumsung tulang, seperti androgen diduga menimbulkan eritropoesis, tetapi defesiensinya tidak menentu, penderita anemia aplastik kronik dapat menyesuaikan diri dengan baik dan dapat dipertahankan Hb antara 8 dan 9 g dengan transfusi darah periodik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANEMIA DEFESIENSI BESI&lt;br /&gt;Pengertian&lt;br /&gt;Secara morfologis keadaan ini diklasifikasikan sebagai anemia mikrositik hipokrom disertai penurunan kuantitatif pada sintesis hemoglobin. Difisensi besi merupakan penyebab utama anemia di dunia. Khususnya terdapat pada wanita usia subur, sekunder karena kehilangan darah sewaktu menstruasi dan peningkatan kebutuhan besi selama hamil. &lt;br /&gt;Penyebab lain defesiensi besi adalah:&lt;br /&gt;1. Asupan besi yang tidak cukup, misalnya pada bayi yang  hanya diberi makan susu belaka sampai usia 12 – 24 bulan dan pada individu tertentu yang hanya memakan sayuran saja.&lt;br /&gt;2. Gangguan absobsi, seperti setelah gastrektomi&lt;br /&gt;3. Kehilangan darah yang menetap seperti pada perdarahan pada saluran cerna yang lambat karena polip, Neoplasma, gastritis, varises osefagus, makan aspirin, dan hemoroid.&lt;br /&gt;Dalam keadaan normal tubuh orang dewasa mengandung rata-rata 3 sampai 5 g besi, bergantung pada jenis kelamin dan besar tubuhnya, hampir duapertiga besi terdapat dalam hemoglobin yang dilepas pada proses penuaan dan kematian sel dan diangkut melalui transferin plasma kesumsum tulang untuk eritripoesis. Dengan kekecualian dalam jumlah yang kecil sekali dalam mioglobin (otot) dan dalam enzim-enzim hem, seperti sisanya disimpan dalam  hati, lipa dan dalam sumsung tulang sebagai feretin dan sebagai homosiderin untuk kebutuhan-kebutuhan lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala-gejala&lt;br /&gt;Gejala-gejala yang ditunjukkan; (besi plasma lebih kecil dari 40 mg/100 ml; Hb 6-7 mg/100ml) mempunyai rambut yang rapuh, dan halus serta kuku tipis, rata, mudah patah dan sebenarnya berbentuk seperti sendok (koilonikia). Selain itu, atropi papils lidah mengakibatkan lidah tampak pucat, licin, mengkilap, merah daging, meradang dan sakit. Dapat pula timbul stomatitis angularis, pecah-pecah dengan kemerahan dan rasa sakit disudut-sudut mulut.&lt;br /&gt;Pemeriksaan&lt;br /&gt;Pemeriksaan darah menunjukkan jumlah sel darah merah normal atau hampir normal dan kadar hemoglobin berkurang. Pada sediaan hapus darah perifer, eritrosit mikrositik dan hipokrom (MCP dan MCHC berkurang, dan MCH berkurang) disertai dengan poikilisitosis dan anisosotosis. Jumlah retikulosit mungkin normal atau berkurang. Kadar besi berkurang walaupun kapasitas mengikat  besi serum total meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengobatan&lt;br /&gt;Pengobatan defisiensi besi mengharuskan identifikasi dan menemukan penyebab dasar anemia. Pembedahan mungkin deperlukan untuk menghambat perdarahan aktif yang diakibatkan oleh polip, tukak, keganasan, dan hemoroid; perubahan diet mungkin diperlukan untuk bayi yang hanya diberi susu atau individu dengan idiosinkrasi makanan atau yang menggunakan  aspirin dalam dosis besar. Walaupun modifikasi diet dapat menambah basi yang tersedia (misalnya hati), masih dibutuhkan suplemen besi untuk meningkatkan  hemoglobin dan mengembalikan persediaan besi. Besi tersedia dalam dalam bentuk parenteral  dan oral. Sebagian besar penderita memberi respon yang baik terhadap senyawa senyawa oral seperti ferosulfat. Preparat  besi parenteral  digunakan secara sangat selektif, sebaba harganya mahal dan mempunyai insidens besar tejadi reaksi yang merugikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANEMIA MEGALOBLASTIK&lt;br /&gt;Pengertian&lt;br /&gt;Anemia megaloblastik diklasfikasikan menurut morfologinya sebgai anemia makrositik normokrom. &lt;br /&gt;Penyebab&lt;br /&gt;Anemia megaloblastik sering disebabkan oleh defesiensi vitamin B12  dan asam folat yang mengakibatkan sitesis DNA terganggu. Defesiensi ini mungkin sekunder karena malnutrisi, malabsobsi, kekurangan faktor intrinsik (seperti terlihat pada anemia pernisiosa dan pos gastrektomi), infestasi prasit, penyakit usus, dan keganansa, serta agen kemoterapik. Invidu dengan infeksi cacing pita (dengan, Diphilloborithrium latum) akibat makan ikan segar yang terinfeksi, cacing pita berkompertisi dengan hospes dalam mendapatkan vitamin B¬12  dari makanan. Yang mengakibatkan anemia megaloblastik.&lt;br /&gt;Gejala-gejala&lt;br /&gt;Selain gejala-gejala anemia seperti yang dijelaskan sebelumnya, penderita anemia megaloblastik sekunder karena  defesiensi folat  dapat seperti malnutrisi dan mengalami glositis berat (radang lidah disertaai rasa sakit), diare dan kehilangan nafsu makan. Kadar folat serum juga menurun (&lt;4ng/ml). Hitung retikulosit biasanyan berkurang disertai penurunan hematokrit dan hemoglobin.&lt;br /&gt;Pengobatan&lt;br /&gt;Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, pengobatan bergantun pada identifikasi dan menghilangkan penyebab dasarnya. Tindakan ini adalan memperbaiki defisiensi diet dan terpi pengganti dengan asam folat atau vitamin B12.  penderita yang kecanduan alkohol yang dirawat dirumah sakit sering memberi respon “spontan’ bila diberikan diet seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASUHAN KEPERAWATAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGKAJIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKTIVITAS ISTIRAHAT&lt;br /&gt;gejala  - Keletiha, kelamahan, malaise umum&lt;br /&gt;- Kehilangan prodiktivitas , penurunan semangat untk bekerja.&lt;br /&gt;- Toleransi terhadap latihan rendah&lt;br /&gt;- Kebutuhan untik tidur dan istirahat lebih banyak.&lt;br /&gt;Tanda   - Takikardia/takikpnea; dispnea pada bekerja atau istirahat.&lt;br /&gt;- Letargi, menarik diri, apatis, lesu,  dan kurang tertarik pada sekitarnya, kelemahan otot dan penurunan kekuatan.&lt;br /&gt;- Ataksia, tubuh tidak tegak.&lt;br /&gt;Bahu menurun, postur lunglai, berjalan lambat, dan tanda-tanda lain yang menunjukkan keletihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIRKULASI&lt;br /&gt;Gejala  - Riwayat kehilangan darah kronis, misalnya kehilangan gastrointestinal kronis, menstruasi berat, angina, CHF (akibat kerja jantung berlebihan)&lt;br /&gt;- Riwayat endokarditis infektif kronik&lt;br /&gt;- Palpitasi  (takikardia kompensasi)&lt;br /&gt;Tanda   - Tekanan darah peningkatan sistolik dengan diastolik stabil dan tekanan nadi melebar; hipotensi postura.&lt;br /&gt;- Disaritmia; abnormalitas EKG, misalnya, depresi segmen ST dan pendataran atau depresi gelombang T; takikardi.&lt;br /&gt;- Baunyi jantung murmur sistolik (DB)&lt;br /&gt;- Warn ekstremitas; pucat pada kulit dan membran mukosa  (konjungtiva, mulut, faring, bibir) dan dasar kuku. (catatan; pada pasien kulit hitam, pucat dapat tampak sebagai keabu-abuan) kulit seperti berlilin, pucat (aplastik), atau kuning lemon terang (PA)&lt;br /&gt;- Skelera biru atau putih seperti mutiara (DB)&lt;br /&gt;- Pengisian kapiler melambat (penurunan aliran darah ke perifer dan vasokonstriksi  kompensasi)&lt;br /&gt;- Kuku mudah patah, berbentuk seperti sendok (Koilonokia) (DB)&lt;br /&gt;- Rambut; kering, mudah putus, menipis, tumbuh uban secara prematur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTEGRITAS EGO&lt;br /&gt;Gejala   - Keyakinan agama / budaya mempengaruhi pilihan pengobatan, misalnya transfusi darah.&lt;br /&gt;Tanda   - Defresi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ELIMINASI&lt;br /&gt;Gejala  - Riwayat pielonefritis, gagal ginjal.&lt;br /&gt;- Flatulen, sindrom malabsorbsi (DB).&lt;br /&gt;- Hematemesis, feses dengan darah segar, melena.&lt;br /&gt;- Diare atau konstipasi.&lt;br /&gt;- Penurunan haluaran urine.&lt;br /&gt;Tanda   - Distensi abdomen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKANAN / CAIRAN&lt;br /&gt;Gejala  - Penurunan masukan diet, masukan diet protein hewani rendah / masukan sereal tinggi (DB).&lt;br /&gt;- Nyeri mulut atau lidah, kesulitan menelan ( ulkus pada faring ).&lt;br /&gt;- Mual / muntah, dispepsia, anoreksia.&lt;br /&gt;- Adanya penurunan berat badan.&lt;br /&gt;- Tidak pernah puas mengunyah atau pika untuk es, kotoran, tepung jagung, cat, tanah liat, dan sebagainya (DB).&lt;br /&gt;Tanda   - Lidah tampak merah daging / halus (AP; defisiensi asam folat dan vitamin B 12.&lt;br /&gt;- Membran mukosa kering, pucat.&lt;br /&gt;- Turgor kulit : buruk, kering, tampak kisut / hilang elastisitas (DB).&lt;br /&gt;- Stomatitis dan glositis (status defisiensi).&lt;br /&gt;- Bibir : selitis, misalnya inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah ( DB ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HIGIENE&lt;br /&gt;Tanda  - Kurang bertenaga, penampilan tak rapih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NEUROSENSASI&lt;br /&gt;Gejala   - Sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinitus, ketidakmampuan berkonsentrasi.&lt;br /&gt;- Insomnia, penurunan penglihatan, dan bayangan pada mata.&lt;br /&gt;- Kelemahan, keseimbangan buruk, kaki goyah ; parastesia tangan / kaki (AP) ; klaudiaksi.&lt;br /&gt;- Sensasi menjadi dingin.&lt;br /&gt;Tanda   - Peka rangsang, gelisah, defresi, cenderung tidur, apatis.&lt;br /&gt;- Mental : tak mampu berespon lambat dan dangkal.&lt;br /&gt;- Oftalmik : hemoragis retina ( aplastik, AP ).&lt;br /&gt;- Epistaksis, perdarahan dari lubang – lubang ( aplastik ).&lt;br /&gt;- Gangguan koordinasi, ataksia : penurunan rasa getar dan posisi, tanda Romberg positif, paralisis ( AP ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NYERI / KENYAMANAN&lt;br /&gt;Gejala  - Nyeri abdomen samar ; sakit kepala ( DB ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERNAPASAN&lt;br /&gt;Gejala   - Riwayat TB, abses paru.&lt;br /&gt;- Napas pendek pada istirahat dan aktivitas.&lt;br /&gt;Tanda  - Takipnea, ortopnea, dan dispnea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEAMANAN&lt;br /&gt;Gejala  - Riwayat pekerjaan terpajan terhadap bahan kimia, misalnya ; benzen, insektisida, fenibultazon, naftalen.&lt;br /&gt;- Riwayat terpajan pada radiasi baik sebagai pengobatan atau kecelakaan.&lt;br /&gt;- Riwayat kanker, terapi kanker.&lt;br /&gt;- Tidak toleran terhadap dingin dan / atau panas.&lt;br /&gt;- Transfusi darah sebelumnya.&lt;br /&gt;- Gangguan penglihatan.&lt;br /&gt;- Penyembuhan luka buruk, sering infeksi.&lt;br /&gt;Tanda  - Demam rendah, menggigil, berkeringat malam.&lt;br /&gt;- Limfadenopati umum.&lt;br /&gt;- Peteki dan ekimosis (aplastik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKSUALITAS&lt;br /&gt;Gejala  - Perubahan aliran menstruasi, misalnya menoragia atau amenore (DB).&lt;br /&gt;- Hilang libido  ( pria dan wanita ).&lt;br /&gt;- Impoten.&lt;br /&gt;Tanda  - Serviks dan dinding vagina pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENYULUHAN / PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;Gejala  - Kecenderungan keluarga untuk anemi ( DB / AP ).&lt;br /&gt;- Penggunaan anti konvulsan masa lalu / saat ini, antibiotik, agen kemoterapi ( gagal sumsum tulang ), aspirin, obat anti inflamasi, anti koagulan.&lt;br /&gt;- Penggunaan alkohol kronis.&lt;br /&gt;- Adanya / berulang episode perdarahan aktif  ( DB ).&lt;br /&gt;- Riwayat penyakit hati, ginjal ; masalah hematologi ; penyakit seliak atau penyakit malabsorpsi lain ; enteritis regional ; manifestasi cacing pita ; poliendokrinopati ; masalah autoimun (misalnya ; antibodi pada sel parietal, faktor intrinsik, antibodi tiroid dan sel T ).&lt;br /&gt;- Pembedahan sebelumnya, misalnya; splenektomi; eksisi tumor; penggantian katup prostetik; eksisi bedah duodenum atau reseksi gaster, gastrektomi parsial / total ( DB/AP ).&lt;br /&gt;- Riwayat adanya masalah dengan penyembuhan luka atau perdarahan; infeksi kronis, ( RA ), penyakit granulomatus kronis, atau kanker ( sekunder anemia ).&lt;br /&gt;Pertimbangan   - DRG menunjukkan rerata lama dirawat : 4,6 hari&lt;br /&gt;Rencana pemulangan   - Dapat memerlukan bantuan dalam pengobatan ( injeksi); aktivitas perawatan diri dan / atau pemeliharaan rumah, perubahan rencan diet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK&lt;br /&gt;Jumlah darah lengkap ( JDL ) : Hemoglobin dan hematokrit menurun.&lt;br /&gt;- Jumlah eritrosit : menurun (AP), menurun berat (aplastik); MCV (volume korpuskular rerata) menurun dan mikrositik dengan eritrosit hipokromoik (DB), peningkatan (AP). Pansitopenia (aplastik).&lt;br /&gt;- Jumlah retikulosit : bervariasi, misalnya menurun (AP), meningkat (respons sumsum tulang terhadap kehilangan darah / hemolisis.&lt;br /&gt;- Pewarnaan SDM : mendeteksi perubahan warna dan bentuk (dapat mengindikasikan tipe khusus anemia).&lt;br /&gt;- LED : peningkatan menunjukkan adanya reaksi inflamasi, misalnya peningkatan kerusakan SDM atau penyakit malignasi.&lt;br /&gt;- Masa hidup SDM : berguna dalam membedakan diagnosa anemia, misalnya pada tipe anemia tertentu, SDM mempunyai waktu hidup lebih pendek.&lt;br /&gt;- Test kerapuhan eritrosit : menurun (DB).&lt;br /&gt;- SDP : jumlah sel total sama dengan SDM (diferensial) mungkin meningkat (hemolitik) atau menurun (aplastik).&lt;br /&gt;Jumlah trombosit : Menurun (aplastik); meningkat (DB); normal atau tinggi (hemolitik).&lt;br /&gt;- Hemoblobin elektroforesis : mengidentifikasi tipe struktur hemoglobin.&lt;br /&gt;- Billirubin serum (tak terkonjungasi) : meningkat (AP, HEMOLITIK).&lt;br /&gt;- Folat serum dan vitamin B 12 : membantu mengdiagnosa anemia sehubugngan defisensi masukan/absorbsi&lt;br /&gt;- Besi serum; meningkat (DB)&lt;br /&gt;- Feritin serum; menurun (DB)&lt;br /&gt;- Masa perdarahan; memanjang (aplastik)&lt;br /&gt;- LDH serum; mungkin meningkat (AP)&lt;br /&gt;- Tes schilling; penurunan ekskresi vitamin B12  urine (AP)&lt;br /&gt;- Guaiak; mungkin  positif untuk darah pada urine. Feses, dan isi gaster, menunjukkan perdarahan akut/kronis (AP)&lt;br /&gt;- Analisa gaster; penurunan sekresi dengan pH dan tak adanya asam hidroklorik bebas (AP)&lt;br /&gt;- Aspirasi sumsung tulang/pemeriksaan biopsi; sel mungkin tampak berubah dalam jumal, ukuran dan bentuk membentuk membedakan tipe anemia, misalnya, peningkatan megaloblastik (AP) ,lemak sumsung tulang  dengan penurunan sel darah (aplastik)&lt;br /&gt;- Pemeriksaan endoskopi dan radiografi; memeriksan sisi perdarahan ; perdarahan GI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRIORITAS KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Meningkatkan perfusi jaringan&lt;br /&gt;2. Memberikan kebutuhan nutrisi/cairan&lt;br /&gt;3. Mencegah konplikasi&lt;br /&gt;4. Memberikan informasi tentang proses penyakit, prognosis, dan program pengobatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUJUAN PEMULANGAN&lt;br /&gt;1. Kebuthan aktivitas sehari-sehari terpenuhi mandiri atau dengan bantuan orang lain.&lt;br /&gt;2. Komplikasi tercegah/minimal&lt;br /&gt;3. Proses penyakit/prognosis  dan program terpai di pahami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIAGNOSA KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Perubahan perfusi jaringan, berhubungan dengan :&lt;br /&gt; Penurrunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrien ke sel&lt;br /&gt;Ditandai dengan;&lt;br /&gt; Palpitasi, angina&lt;br /&gt; Kulit pucat, membran mukosa kering, kuku dan rambut rapuh&lt;br /&gt; Ekstremitas dingin&lt;br /&gt; Penurunan haluaran urine&lt;br /&gt; Mual/muntah&lt;br /&gt; Distensi abdomen&lt;br /&gt; Perubahan tekanan darah, pengisian kapiler lambat.&lt;br /&gt; Ketidak mampuan berkonsentrasi, disorientasi.&lt;br /&gt;Tujuan&lt;br /&gt; Menunjukkan perfusi adekuat, misalnya, tanda vital stabil; membran mukosa warna merah muda, pengisian kapiler baik, haluaran urine adekuat, mental seperti biasa.&lt;br /&gt;TINDAKAKAN/INTERVENSI  RASIONAL&lt;br /&gt;Mandiri  &lt;br /&gt;1.Awati tanda vital, kaji pegisian kapiler, warna kulit/membran mukosa, dasar kuku.&lt;br /&gt;R:/Memberikan informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menentukan kebutuhan intevensi&lt;br /&gt;2. Tinggikan kepala tempat tidur sesuai dengan toleransi  &lt;br /&gt;R:/Meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler, catatan; kontraindikasi bila ada hipotensi.&lt;br /&gt;3. Awasi upaya pernapasan; auskultasi bunyai napas perhatikan adventisius  Dispnea, R:/gemericik menunjukkan GJK karena regangan jantung lama/peningkatan kompensasi curah jantung.&lt;br /&gt;4.Selidiki keluhan nyeri dada, palpitasi. &lt;br /&gt;R:/Iskemia seluler mempengaruhi jaringan miokardial/potensial resiko infark.&lt;br /&gt;5.Kaji untuk respons verbal melambat, mudah teransang, agitasi, gangguan memori, bingung.  &lt;br /&gt;R:/Dapat mengindikasikan gangguan fungsi serebral karena hipoksia atau defesiensi vitamin B12&lt;br /&gt;6.Orientasi/orientasikan ulang pasien susuia kebutuhan, catat jadwal aktivitas pasien untuk dirujuk, berikan cukup waktu pasien untuk berpikir, komunikasikan dan aktiviatas  &lt;br /&gt;R:/Membantu memperbaiki proses pikir dan kemampuan melakukan/mempertahankan  kebutuhan AKS.&lt;br /&gt;7.Catat keluhan rasa dingin. Pertahankan suhu lingkungan  dan tubuh hangat sesuai indikasi. &lt;br /&gt;R:/Vasokonstriksi (ke organ vital) menurunkan sirkulasi verifer, kenyamanan pasien kebutuhan  rasa hangat harus seimbangn dengan kebutuhan  untuk menghindari panas berlebihan pencetus vasodilatasi (penurunan perfusi organ)&lt;br /&gt;Hindari penggunaan bantalan penghangat  atau botol air panas, ukur suhu air mandi dengan temometer.  Termoreseptor jaringan dermal dangkal karena gangguan oksigen.&lt;br /&gt;Kolaborasi  &lt;br /&gt;8. Awasi pemeriksaan laboratorium, misalnya Hb/Ht dan jumlah SDM, GDA.  R:/Mengidentifikasi defisiensi  dan kebutuhan pengobatan/respon terhadap terapi&lt;br /&gt;9. Berikan SDM darah lengkap/packed, produk darah sesuai indikasi. Awasi ketat untuk komplikasi transfusi.&lt;br /&gt;R:/Meningkatkan jumlah sel pembawa oksigen; memperbaiki defesiensi untuk menurunkan risiko perdarahan.&lt;br /&gt;10. Berikan oksigen tambagan sesuai indikasi &lt;br /&gt;R:/Memaksimalkan transpor oksigen ke jaringan&lt;br /&gt;11. Siapkan intervensi pembedahan sesuai indikasi &lt;br /&gt;R:/Transplanstasi sumsung tulang dilakukan pada kegagalan sumsung tulang . (anemia aplastik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Intolansi aktiviatas, berhubunga dengan ;&lt;br /&gt; Ketidak seimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan &lt;br /&gt;ditandai dengan&lt;br /&gt; Kelemahan dan kelelahan&lt;br /&gt; Mengeluh penurunan toleransi aktivitas/latihan&lt;br /&gt; Lebih bayak memerlukan istirahat/tidur.&lt;br /&gt; Palpitasi, takikardia, peningkatan tekanan darah/respons pernapasan dengan kerja ringan&lt;br /&gt;Tujuan;&lt;br /&gt; Melaporkan peningkatan toleransi aktivitas (termasuk aktivitas sehari-hari)&lt;br /&gt; Menunjukkan penurunan tanda tanda fisiologis intoleransi, misalnya nadi, pernapasan, dan tekanan darah masih dalam rentang normal pasien.&lt;br /&gt;TINDAKAN/INTERVENSI  RASIONAL&lt;br /&gt;1. Kaji kemampuan klien untuk melakukan tugas/AKS  normal, catat laporan kelelahan, keletihan, dan kesulitan menyelesaikan tugas.  &lt;br /&gt;R:Mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan&lt;br /&gt;2. Kaji kehilangan/gangguan keseimbangan gaya  jalan, kelemahan otot &lt;br /&gt;R: Menujukkan perubahan neurologi karenan defisiensi vitamin B12 memepengaruhi kemanan pasien/risiko cidera&lt;br /&gt;3.Awasi tekanan darah, nadi, pernapasan, selama dan sesudah aktivitas, catat respons terhadap tingkat  aktivias misalnya penigkatan denyut jantung/tekanan darah, disaritmia, pusing, dispnea, takipnea, dan sebagainya.  &lt;br /&gt;R:/Manifestasi kardiopulmonasi dari upaya jantung dan paru-paru untuk membawa jumlah oksigen  adekuat kejaringan&lt;br /&gt;4. Berikan lingkungan tenang, pertahankan tirah baring bila diindikasikan, pantau dan batasi pengunjung, telepon dan gangguan berulang tindakan yang tak direncanakan.  &lt;br /&gt;R:Meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh dan menurunkan regangan jantung paru.&lt;br /&gt;5. Ubah posisi pasien dengan perlahan dan pantau terhadap pusing.  &lt;br /&gt;R:Hipotensi postural atau hipoksi serebral dapat menyebabkan pusing, berdenyut, dan peningkatan risiko cedera.&lt;br /&gt;6.Prioritaskan jadwal asuhan keperawatan untuk meningktkan istirahat, pilih priode istirahat dengan priode aktivitas.  &lt;br /&gt;R: Mempertahankan tingkat energi dan meningkatkan regangan pada sistem jantung dan pernapasan.&lt;br /&gt;7. Berikan bantuan dalam aktivitas/ambulasi bila perlu memungkinkan pasien untuk melakukannya sebanyak mungkin.  &lt;br /&gt;R: Membantu bila perlu, harga diri ditingkatkan bila pasien melakukan sesuatu sendiri.&lt;br /&gt;8.Rencanakan kemajuan aktivitas dengan pasien, termasuk aktivitas yang pasien pandang perlu. &lt;br /&gt;9. Tingkatkan tingkat aktivitas sesuai toleransi.  &lt;br /&gt;R: Meningkatkan secara bertahap tingkat aktivitas sampai normal dan mempebaiki tonus otot/stamina tanpa kelemahan. Meningkatkan harga diri dan rasa terkontrol.&lt;br /&gt;10. Gunakan teknik penghematan energi, misalnya, mandi dengan duduk, duduk untuk melakukan tugas-tugas.  &lt;br /&gt;R: Mendorong pasien melakukan banyak dengan membatasi penyimpangan energi dan mencegah kelemahan.&lt;br /&gt;11.Anjurkan pasien untuk menghentikan aktivitas bila palpitasi, nyeri dada, napas pendek, kelemahan, atau pusing terjadi.  &lt;br /&gt;R: Regangan/stress kardiovulmonal berlebihan/stress dapat menimbulkan dekompansasi/kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, berhubungan degan:&lt;br /&gt; Kegagalan untuk mencerna makanan/absorbsi nutrien yang diperlukan untuk pembentukan SDM normal.&lt;br /&gt;Ditandai dengan:&lt;br /&gt; Penurunan berat badan/berat badan dibawah normal untuk, usia, tinggi, dan bangun badan.&lt;br /&gt; Penurunan lipata kulit trisep.&lt;br /&gt; Peruban gusi membran mukosa mulut&lt;br /&gt; Penurunan toleranasi untuk aktivitas, kelemahan dan kehilangan tonus otot.&lt;br /&gt;Tujuan; &lt;br /&gt; Menunjukkan peningkatan berat badan atau berat badan stabil dengan nilai laboratorium normal&lt;br /&gt; Tidak mengalami tanda mal nutrisi&lt;br /&gt; Menunjukkan perilaku, perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan atau mempertahankan berat badan yang sesuai.&lt;br /&gt;4. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit, berhubungan dengan;&lt;br /&gt; Perubahan sirkulasi dan neurologi (anemia)&lt;br /&gt; Gangguan mobilitas&lt;br /&gt; Defisit nutrisi.&lt;br /&gt;Ditandai dengan:&lt;br /&gt; Tidak dapat diterapkan adanya tanda-tanda dan gejala membuat diagnosa aktual&lt;br /&gt;Tujuan;&lt;br /&gt; Mempertahankan integriatas kulit&lt;br /&gt; Mengidentifikasi faktor risiko/perilaku untuk mencegah cedera dermal.&lt;br /&gt;5. Konstipas atau diare, berhubugan dengan;&lt;br /&gt; Penurunan masukan diet, perubahan proses-proses pencernaan&lt;br /&gt; Efek samping terapi obat&lt;br /&gt;Ditandai dengan;&lt;br /&gt; Perubahan pada frekuensi, karakteristik, dan jumlah feses.&lt;br /&gt; Mual/muntah, penurunan napsu makan.&lt;br /&gt; Laporan nyeri abdomen tiba-tiba, kram&lt;br /&gt; Gangguan bunyi usus.&lt;br /&gt;Tujuan;&lt;br /&gt; Membuat/kembali pola normal dari fungsi usus&lt;br /&gt; Menunjukkan perubahan perilaku/pola hidup yang diperlukan sebagai penyebab, faktor pemberat.&lt;br /&gt;6. Risiko tinggi terhadap infeksi, berhubungan dengan:&lt;br /&gt; Pertahan sekunder tidak adekuat misalnya penurunan hemoglobin leukopenia, atau penurunan granulosit (respons inflamasi tertekan)&lt;br /&gt; Pertahan utama tidak adekuat, misalnya kerusakan kulit, stasis cairan tubuh, prosedur invsif, penyakit kronis, malnutrisi.&lt;br /&gt; Diatandai dengan;&lt;br /&gt; Tidak dapat diterapkan adanya tanda-tanda dan gejala membuat diagnosa aktual&lt;br /&gt; Tujuan;&lt;br /&gt; Mengidentifikasi perliku untuk mencegah/menurunkan risiko infeksi.&lt;br /&gt; Meninkatkan penyembuhan luka, bebas drainase purulen, atau eritema, dan demam.&lt;br /&gt;7. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi prognosis, dan kebutuhan pengobatan, berhubungan dengan;&lt;br /&gt; Kurang terpajan/mengingat.&lt;br /&gt; Salah interpretasi informasi&lt;br /&gt; Tidak mengenal sumber informasi&lt;br /&gt;Ditandai dengan;&lt;br /&gt; Pertanyaan, meminta informasi&lt;br /&gt; Pernyataan salah konsepsi.&lt;br /&gt; Tidak akurat mengikuti instruksi&lt;br /&gt; Terjadi komplikasi yagng dapat dicegah.&lt;br /&gt;Tujuan;&lt;br /&gt; Menyatakan pemahaman proses penyakit, prosedur diagnostik, dan rencana pengobatan.&lt;br /&gt; Mengidentifikasi faktor penyebab&lt;br /&gt; Melakukan tindakan yang perlu/perubahan pola hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilynn E. Donges  Dkk.; Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.; Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC ; Jakarta 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Price &amp; Wilson,; Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit; Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soeparman dkk.; Ilmu Penyakit Dalam; Balai Penerbit FKUI; Jakarta 1990.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-8009813442083614781?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/8009813442083614781/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/anemia-pengertian-anemia-adalah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/8009813442083614781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/8009813442083614781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/anemia-pengertian-anemia-adalah.html' title='ASKEP ANEMIA'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-8809341666744773347</id><published>2010-02-01T05:43:00.000-08:00</published><updated>2010-02-01T05:43:42.641-08:00</updated><title type='text'>ASKEP BBLR</title><content type='html'>BAYI BERAT LAHIR RENDAH&lt;br /&gt;A.Pengertian&lt;br /&gt;Bayi Berat Lahir Rendah adalah bayi baru lahir dengan berat badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram atau bayi lahir dengan masa gestasi kurang dari 37 minggu (Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 1985)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.Pembagian BBLR&lt;br /&gt;Bayi berat lahir rendah dapat dibagi menjadi :&lt;br /&gt;1.Prematuritas murni&lt;br /&gt;Masa gestasi ibu kurang dari 37 minggu&lt;br /&gt;Penyebab :&lt;br /&gt;Faktor ibu&lt;br /&gt;Penyakit yang berhubungan dengan kehamilan, seperti : hipertensi, jantung, gangguan pembuluh darah (perokok), usia ibu kurang dari 20 tahun, keadaan social ekonomi yang buruk, jarak hamil dan bersalin terlalu dekat, gizi saat hamil kurang.&lt;br /&gt;Faktor janin&lt;br /&gt;Cacat bawaan, infeksi dalam rahim&lt;br /&gt;Faktor kehamilan&lt;br /&gt;Hidraminon, gameli, perdarahan antepartum, pre-eklampsi / eklampsi, ketuban pecah dini&lt;br /&gt;Karakteristik :&lt;br /&gt;Berat badan kurang dari 2500 gram, panjang kurang atau sama dengan 45 cm, lingkar dada kurang dari 30 cm, lingkar kepala kurang dari 33 cm.&lt;br /&gt;Masa gestasi kurang dsari 37 minggu&lt;br /&gt;Kulit tipis, transparan, lanugo banyak, lemak sub kutan tipis, ubun-ubun dan sutura lebar&lt;br /&gt;Otot hipotonik (lemah)&lt;br /&gt;Kepala tidak mau tegak&lt;br /&gt;Pernapasan tidak teratur dapat terjadi apnea (gagal napas)s&lt;br /&gt;Ekstremitas : paha abduksi, sendi lutut / kaki fleksi lurus&lt;br /&gt;Pernapasan sekutar 45 sampai 50 kali per menit&lt;br /&gt;Frekwensi nadi 100 sampai 140 kali per menit&lt;br /&gt;Penyakit yang sering ada pada BBLR&lt;br /&gt;Syndrom gangguan pernapasan idiopatik&lt;br /&gt;Pneumonia aspirasi&lt;br /&gt;Perdarahan intraventrikuler&lt;br /&gt;Fibriplasia retrorental&lt;br /&gt;Hyperbiolirubinemia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Dismaturitas&lt;br /&gt;Dismaturitas adalah bayi baru lahir yang berat badannya kurang disbanding bertat badan seharusnya untuk masa gestasi bayi itu.&lt;br /&gt;Gejala klinis :&lt;br /&gt;Berat badan kyrang dari 2500 gram&lt;br /&gt;Karakteristik sama dengan prematuritas tetapi kadang retardasi pertumbuhan dan wasting&lt;br /&gt;Komplikasi dismaturitas :&lt;br /&gt;Syndrom aspirasi mekonium&lt;br /&gt;Hypoglikemi simptomatik&lt;br /&gt;Asfiksia neonaturum&lt;br /&gt;Penyakit membrane hialin&lt;br /&gt;Hyperbilirubinemia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam BBLR adalah :&lt;br /&gt;Suhu Tubuh&lt;br /&gt;Pusat pengatur napas badan masih belum sempurna&lt;br /&gt;Luas badan bayi relatif besar sehingga penguapannya bertambah&lt;br /&gt;Otot bayi masih lemah&lt;br /&gt;Lemak kulit dan lemak coklat kurang, sehingga cepat kehilangan panas badan&lt;br /&gt;Kemampuan metabolisme panas masih rendah, sehingga bayi dengan berat badan lahir rendah perlu diperhatikan agar tidak terlalu banyak kehilangan panas badan dan dapat dipertahankan.&lt;br /&gt;Pernapasan&lt;br /&gt;Fungsi pengaturan pernapasan belum sempurna&lt;br /&gt;Surfaktan paru-paru masih kurang, sehingga perkembangannya tidak sempurna&lt;br /&gt;Otot pernapasan dan tulang iga lemah&lt;br /&gt;Dapat disertai penyakit : penyakit hialin membrane, mudah infeksi paru-paru dan gagal pernapasan.&lt;br /&gt;Alat pencernaan makanan&lt;br /&gt;Belum berfungsi sempurna sehingga penyerapan makanan dengan lemah / kurang baik&lt;br /&gt;Aktifitas otot pencernaan makanan masih belum sempurna , sehingga pengosongan lambung berkurang&lt;br /&gt;Mudah terjadi regurgitasi isi lambung dan dapat menimbulkan aspirasi pneumonia&lt;br /&gt;Hepar yang belum matang (immatur)&lt;br /&gt;Mudah menimbulkan gangguan pemecahan bilirubin, sehingga mudah terjadi hyperbilirubinemia (kuning) samai ikterus&lt;br /&gt;Ginjal masih belum matang&lt;br /&gt;Kemampuan mengatur pembuangan sisa metabolisme dan air masih belum sempurna sehingga mudah terjadi oedema&lt;br /&gt;Perdarahan dalam otak&lt;br /&gt;Pembuluh darah bayi BBLR masih rapuh dan mudah pecah&lt;br /&gt;Sering mengalami gangguan pernapasan, sehingga memudahkan terjadinya perdarahan dalam otak&lt;br /&gt;Perdarahan dalam otak memperburuk keadaan dan menyebabkan kematian bayi&lt;br /&gt;Pemberian O2 belum mampu diatur sehingga mempermudah terjadi perdarahan dan nekrosis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.PERAWATAN BBLR&lt;br /&gt;Dengan memperhatika gambaran klinis diatas dan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi pada bayio BBLR, maka perawatan dan pengawasan bayi BBLR ditujukan pada pengaturan panas badan, menghindari infeksi, pemberian makanan bayi dan pernapasan.&lt;br /&gt;Pengaturan Suhu Tubuh BBLR&lt;br /&gt;Bayi BBLR mudah dan cepat sekali menderita Hypotermia bila berada di lingkungan yang dingin. Kehilangan panas disebabkan oleh permukaan tubuh bayi yang realtif lebih luas bila dibandingkan dengan berat badan, kurangnyua jaringan lemak dibawah kulit, dan kekurangan lemak coklat (Brown Fat). Untuk mencegah hypotermi, perlu diusahakan lingkungan yang cukup hangat untuk bayi dan dalam keadaan istrahat konsumsi oksigen paling sedikit, sehingga suhu tubuh bayi tetap normal. Bila bayi dirawat dalam inkubator, maka suhunya untuk nayi dengan berat badan kurang dari 2000 gram adalah 35 0C dan  untuk bayi dengan BB 2000 gram sampai 2500 gram 34 0C, agar ia dapat mempertahankan suhu tubuh sekitar 37 0C. Kelembaban inkubator berkisar antara 50 – 60 persen. Kelembaban yang lebih tinggi diperlukan pada bayi dengan syndroma gangguan pernapasan. Suhu inkubator dapat diturunkan 1 0C per minggu untuk bayi dengan berat badan 2000 gram dan secara berangsur – angsur ia dapat diletakkan didalam tempat tidur bayi dengan suhu lingkungan 27 0C-29 0C. Bila inkubator tidak ada, pemanasan dapat dilakukan dengan membungkus bayi dan meletakkan botol-botol hangat disekitarnya atau dengan memasang lampu petromaks di dekat tempat tidur bayi atau dengan menggunakan metode kanguru. Cara lain untuk mempertahankan suhu tubuh bayi sekitar 36 0C - 37 0C adalah dengan memakai alat perspexheat shield yang diselimuti pada bayi didalam inkubator. Alat ini berguna untuk mengurangi kehilangan panas karena radiasi. Akhir-akhir ini telah dimulai digunakan inkubator yang dilengkapi dengan alat temperatur sensor (Thermistor probe). Alat ini ditempelkan dikulit bayi. Suhu inkubator dikontrol oleh alat servomechanism. Dengan cara ini suhu kulit bayi dapat dipertahankan pada derajat yang telah ditetapkan sebelumnya. Alat ini sangat bermanfaat untuk bayi dengan berat lahir yang sangat rendah.&lt;br /&gt; Bayi dalam inkubator hanya dipakaikan popok. Hal ini penting untuk memudahkan pengawasan mengenai keadan umum, perubahan tingkah laku, warna kulit, pernapasan, kejang dan sebagainya sehingga penyakit yang diderita dapat dikenal sedini mungkin dan tindakan serta pengobatan dapat dilaksanakan secepat-cepatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencegahan Infeksi&lt;br /&gt;Infeksi adalah masuknya bibit penyakit atau kuman kedalam tubuh, khususnya mikroba. Bayi BBLR sangat mudah mendapat infeksi. Infeksi terutama disebabkan oleh infeksi nosokomial. Kerentanan terhadapa infeksi disebabkan oleh kadar imunoglobulinserum pada bayi BBLR masih rendah, aktifitas bakterisidal neotrofil, efek sitotoksik limfosit juga masih rendah dan fungsi imun belum berpengalaman.&lt;br /&gt;Infeksi local bayi cepat menjalar menjadi infeksi umum. Tetapi diagnosis dini dapat ditegakkan jika cukup waspada terhadap perubahan (kelainan) tingkah laku bayisering merupakan tanda infeksi umum. Perubahan tersebut antara laian : malas menetek, gelisah, letargi, suhu tyubuh meningkat, frekwensi pernapasan meningkat, muntah, diare, berat badan mendadak turun.&lt;br /&gt;Fungsi perawatan disini adalah memberi perlindungan terhadap bayi BBLR dari infeksi. Oleh karena itu, bayi BBLR tidak boleh kontak dengan penderita infeksi dalam bentuk apapun. Digunakan masker dan baju khusus dalam penanganan bayi, perawatan luka tali pusat, perawatan mata, hidung, kulit, tindakan aseptic dan antiseptic alat-alat yang digunakan, isolasi pasien, jumlah pasien dibatasi, rasio perawat pasien ideal, mengatur kunjungan, menghindari perawatan yang yang terlalu lama, mencegah timbulnya asfiksia dan pemberian antibiotic yang tepat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengaturan Intake&lt;br /&gt;Pengaturan intake adalah menentukan pilihan susu, cara pemberian dan jadwal pemberian yang sesuai dengan kebutuhan bayi BBLR.&lt;br /&gt;ASI (Air Susu Ibu) merupakan pilihan pertama jika bayi mampu mengisap. ASI juga dapat dikeluaekan dan diberikan pada bayi yang tidak cukup mengisap. Jika ASI tidak ada atau tidak mencukupi khususnya pada bayi BBLR dapat digunakan susu Formula yang komposisinya mirip ASI atau susu formula khusu bayi BBLR.&lt;br /&gt; Cara pemberian makanan bayi BBLR harus diikuti tindakan  pencegahan khusus untuk mencegah terjadinya regurgitasi dan masuknya udara dalam usus. Pada bayi dalam incubator dengan kontak yang minimal, tempat tidur atau kasur incubator harus diangkat dan bayi dibalik pada sisi kanannya. Sedangkan pada bayi lebih besar dapat diberi makan dalam  posisi dipangku. Pada bayi BBLR yang lebih kecil, kurang giat dan mengisap dan sianosis ketika minum melalui botol atau menetek pada ibunya, makanan diberikam melalui NGT&lt;br /&gt;Jadwal pemberian makanan disesuaikan dengan kebutuhan dan berat badan bayi BBLR. Pemberian makanan interval tiap jam dilakukan pada bayi dengan Berat Badan   lebih rendah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERNAPASAN&lt;br /&gt;Jalan napas merupakan jalan udara melalui hidung, pharing, trachea, bronchiolus, bronchiolus respiratorius, dan duktus alveoleris ke alveoli. Terhambatnya jalan napas akan menimbulkan asfiksia, hipoksia dan akhirnya kematian. Selain itu bayi BBLR tidak dapat beradaptasi dengan asfiksia yang terjadi selama proses kelahiran sehingga dapat lahir dengan asfiksia  perinatal. Bayi BBLR berisiko mengalami serangan apneu dan defisiensi surfakatan, sehingga tidak dapat memperoleh oksigen yang cukup yang sebelumnya diperoleh dari plasenta. Dalam kondisi seperti ini diperlukan pembersihan jalan napas segera setelah lahir (aspirasi lendir), dibaringkan pada posisi miring, merangsang pernapasan dengan menepuk atau menjentik tumit. Bila tindakan ini gagal, dilakukan ventilasi, intubasi endotrakheal, pijatan jantung dan pemberian oksigen dan selama pemberian intake dicegah terjadinya aspirasi. Dengan tindakan ini dapat dicegah sekaligus mengatasi asfiksia sehingga memperkecil kematian bayi BBLR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. ASUHAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1.PENGKAJIAN&lt;br /&gt;Biodata, meliputi : Nama kedua orang tua klien, nama klien, umur dan jenis kelamin.&lt;br /&gt;Riwayat kelahiran lalu, meliputi : Berat badan lahir, adanya komplikasi atau tidak, jenis persalinan dan tempat lahir.&lt;br /&gt;Status gravida ibu, meliputi : G, P, A (Gravida, Partus, Abortus), umur kehamilan, presentasi bayi, pemeriksaan antenatal, HPHT dan taksiran partus.&lt;br /&gt;Riwayat persalinan, meliputi : BB / TB ibu, keadan umum ibu, jenis persalinan, indikasi persalinan, komplikasi persalinan, TTV ibu pada saat melahirkan.&lt;br /&gt;Keadaan bayi saat lahir, meliputi : lahir tanggal berapa, jenis kelamin, kelahiran tunggal atau ganda&lt;br /&gt;Apgar skore&lt;br /&gt;Pemeriksaan fisik, yaitu :&lt;br /&gt;a.Aktifitas istrahat&lt;br /&gt;Status sadar, bayi tampak semi koma saat tidur malam, meringis atau tersenyum adalah bukti tidur dengan gerakan mata cepat (REM), tidur sehari rata-rata 20 jam.&lt;br /&gt;b.Sirkulasi&lt;br /&gt;Rata-rata nadi apical 120-160 dpm, dapat berfluktuasi 70-100 dpm (tidur) samapai 180 dpm (menangis), nadi perifer mungkin lemah, nadi brachialis dan radialis lenih mudah dipalpasi daripada nadi femoralis, mur-mur jantungss.&lt;br /&gt;c.Eliminasi&lt;br /&gt;Abdomen lunak tanpa distensi, bising usus aktif, urine tidak berwarna atau kuning pucat, dengan 6-10 popok basah / 24 jam.&lt;br /&gt;d.Makanan / cairan&lt;br /&gt;Berat badan rerata 2500 – 4000 gram, kurang dari 2500 gram menunjukkan KMK (premature, syndrome rubella, gamely) lebih dari 4000 gram menunjukkan BMK (diabetes maternal atau dapat dihubungkan dengan herediter), pada mulut, saliva banyak.&lt;br /&gt;e.Neourosensori&lt;br /&gt;Lingkae kepala 32-37 cm, fontanel anterior dan posterior lunak dan datar, ceput suksadaneum mungkin ada selama 3-4 hari, mata dan kolopak mata mungkin edema, strabismus dan fenomena mata boneka mungkin ada, lipatan epicantus, adanya refleks (moro, plantar, palmar, babinski) tidak adanya kegugupan, letargi hipotonia, parese.&lt;br /&gt;f.Pernasan&lt;br /&gt;Takipnea sementara dapat terlihat, khususnya setelah kelahiran sesaria dan presentase bokong, pola pernafasan diafragmatik dan abdominal dengan gerakan sinkron dari dada dan abdomen, pernafasan dangkal dan cuping hidung, retraksi dinding dada, dan ronchi pada inpirasi atau ekspirasi dapat menandakan aspirasi&lt;br /&gt;g.Keamanan&lt;br /&gt;Karena kulit kemerahan atau kebiruan, cepal hemataom tampak sehari setelah kelahiran, peningkatan ukuran pada usia 2-3 hari kemudiandireabsorbsi perlahan lebih dari 1-6 bulan, pergerakan ekstremitas dan tonus otot baik.&lt;br /&gt;h.Seksualitas.&lt;br /&gt;Genetalia wanita : labia vagina agak kemerahan atau edema, tanda vagina / hymen dapat terlihat&lt;br /&gt;Genetalia pria : testis turun, scrotum tertutup dengan rugae, fimosis juga biasa terjadi&lt;br /&gt;i.Pemeriksaan Diagnostik :&lt;br /&gt;Leukosit   : 18.000 / mm3&lt;br /&gt;Hemoglobin  : 15-20 gram / dl&lt;br /&gt;Hematokrit  : 43 % - 61 %&lt;br /&gt;Bilirubin total : 6 mg/dl pada hari pertama kehidupan, 8 mg/dl 1-2 hari dan    12 minggu / dl pada 3-5 hari&lt;br /&gt;Dektrosit  : tetes glukosa pertama selama 4-6 jam pertama kelahiran rata-rata 40-50 mg/dl, meningkat 60 - s70 mg/dl pada hari ke-3&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2.Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;Gangguan pertukaran gas b/d ketidak adekuatan kadar surfaktan sekunder terhadap pertumbuhan organ paru yang tidak sempurna&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Setelah dilakukan tindakan keperawatan kadar PO2 / PCO2 dalam batas normal&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a.Tinjau ulang tentang kondisi bayi, lama persalinan, apgar skore, tindakan akan resusitasi saat kelahiran.&lt;br /&gt;R/ : Persalinan yang lama akan meningkatkan resiko hipoksia, dan depresi pernapasan dapat terjadi setelah pemberian atau penggunaan obat oleh ibu.&lt;br /&gt;b.Perhatikan usia gestasi, berat badan dan jenis kelamin&lt;br /&gt;R/ : Neonatus l;ahir sebelum minggu ke-30 atau BB kurang dari 1500 gram berisiko terhadap terjadinya RDS&lt;br /&gt;c.Kaji status pernapasan, perhatikan tanda-tanda distress pernapasan&lt;br /&gt;R/ : Takipnea menandakan distress pernapasan khususnya pernapasan lebih dari 60 kali permenit setelah 5 jam pertama kehidupan.&lt;br /&gt;d.Tingkatkan istrahat, minimalkan rangsangan dan penggunaan energi&lt;br /&gt;R/ : Mungkin perlu untuk mempertahankan kepatenan jalan napas, khususnya pada bayi yang menerima ventilasi terkontrol. Bayi biasanya tidak mengembangkan refleks terkoordinasi, untuk mengisap, menelan dan bernapas sampai gestasi minggu ke-32 sampai ke-34&lt;br /&gt;e.Observasi dan pantau tanda lokasi sianosis&lt;br /&gt;R/ : Sianosis adalah tanda lanjut dari PAO2 rendah dan tidak sampai ada sedikit lebih dari 3 gram / dl&lt;br /&gt;f.Kolaborasi dalam pemberian oksigen sesuai dengan kebutuhan&lt;br /&gt;R/ : Perbaikan kadar oksigen dan karbon dioksida dapat meningkatkan fungsi pernapasan.&lt;br /&gt;Pola napas tidak efektif b/d penurunan energi / kelelahan&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Mempertahankan pola napas periodic dengan membrane mukosa merah muda dan frekwensi jantung dalam batas normal.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a.Kaji frekwensi pernapasan dan pola pernapasan, perhatikan adanya apnoe, perubahan frekwensi jantung, tonus otot dan warna kulit.&lt;br /&gt;R/ : Membantu dalam membedakan periode perputaran pernapasan normal dari serangan apnoeik sejati, yang terutama sering terjadi sebelum gestasi minggu ke-30&lt;br /&gt;b.Lakukan section sesuai kebutuhan&lt;br /&gt;R/ : Menghilangkan mucus yang menyumbat jalan napas&lt;br /&gt;c.Pertahankan suhu tubuh optimal&lt;br /&gt;R/ : Inkubator dapat memanejemenkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi bayi&lt;br /&gt;d.Berikan rangsangan taktil yang segera bila terjadi apnea. Perhatikan adanya sianosis, bradikardi dan sebagainya.&lt;br /&gt;R/ : Merangsang SSP untuk meningkatkan gerakan tubuh dan kembalinya pernapasan spontan&lt;br /&gt;e.Pantau pemeriksaan laboratorium seperti AGD, elektrolit&lt;br /&gt;R/ : Hipoksia, asidosis metabolic, hyperkapnia, hypoglikemia, hipokalsemia dan sepsis dapat memperberat serangan apneik.&lt;br /&gt;f.Berikan oksigen sesuai indikasi&lt;br /&gt;R/ : Perbaikan kadar oksigen dan karbon dioksida dapat meningkatkan fungsi pernapasan.&lt;br /&gt;Hipotermi b/d penurunan lemak subkutan&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Setelah dilakukan tindakan keperawatan, suhu tubuh dalam batas normal.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a.Kaji suhu tubuh bayi dengan sering, ulangi  15 menit.&lt;br /&gt;R/ : Fluktuasi suhu tubuh pada bayi sering terjadi, dengan mengenali suhu tubuh  (panas atau dingin) maka akan dapat dihindari terjadinya komplikasi hypothermia atau hyperthermia&lt;br /&gt;b.Tempatkan bayi pada penghangat (incubator).&lt;br /&gt;R/ : Incubator dapat dimanajemenkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi &lt;br /&gt;c.Ganti pakaian dan linen tempat tidur bila basah&lt;br /&gt;R/ :Pertahankan lingkungan tetap kering dan mencegah dekubitur&lt;br /&gt;d.Perhatikan adanya takipone atau apnoe, sianosis umum&lt;br /&gt;R/ : Merangsang SSP untuk meningkatkan gerakan tubuh dan kembalinya pernapasan    spontan.&lt;br /&gt;e. Pantau pertambahan berat badan berturut-turut bila penambahan tidak akurat,  tingkat suhu lingkungan sesuai dengan indikasi.&lt;br /&gt;R/ : Mengetahui kenaikan BB bayi dan keefektifan pemberian nutrisi baik ASI maupun PASI dan mengetahui jumlah pemasukan&lt;br /&gt;f.Pantau frekuensi dan masukan makanan&lt;br /&gt; R/ : Untuk mengetahui seberapa banyak asupan nutrisi yang masuk  &lt;br /&gt; Kekurangan volume cairan b/d kehilangan cairan yang berlebihan akibat jaringan kulit yang tipis&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien bebas dari tanda-tanda dehidrasi&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a. Timbang BB bayi srtiap hari dengan ukuran yang sama dan waktu yang sama&lt;br /&gt;R/ : Mengetahui kenaikan BB bayi dan keefektifan pemberian nutrisi baik ASI maupun PASI dan mengetahui jumlah pemasukan&lt;br /&gt;b. Ukuran masukan (input) dan output cairan&lt;br /&gt;R/ : Perlu untuk menentukan fungsi ginjal, kebutuhan penggantian cairan dan penurunan resiko kelebihan cairan&lt;br /&gt;c. Pantau tanda-tanda vital&lt;br /&gt;d. Evaluasi turgor kulit, membrane mukosa, keadan fontanel anterior&lt;br /&gt;e. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi (Ht, Kalium, Serum)&lt;br /&gt; Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d malabsorbsi sekunder terhadap lemahnya tonus spinter oesofagus&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Setelah dilakukan tindakan keperawatan kebutuhan nutrisi terpenuhi&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a.Kaji maturitas refleks berkenan dengan pemberian makanan&lt;br /&gt;b.Auskultasi bisisng usus, kaji status pernapasan&lt;br /&gt;c.Kolaborasi dalam pemberian alat Bantu pemberian makanan sementara (magslang)&lt;br /&gt;d.Beri ASI/PASI sedikit-sedikit tapi sering&lt;br /&gt;e.Kaji tingkat energi dan penggunaannya&lt;br /&gt;f.Perhatikan adanya diare dan muntah&lt;br /&gt;Resiko komplikasi : hypewrbilirubin, pertumbuhan tulang, kerusakan SSP&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Komplikasi tidsak terjadi&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a.Kolaborasi dalam pemeriksaan tes Coomb pada tali pusat, bilirubin total dan sebagainya&lt;br /&gt;b.Observasi bayi dalam sinar alamiah, perhatikan selera dan mukosa oral, kulit dan sebagainya&lt;br /&gt;c.Beri intake nutrisi yang cukup sesuai kebutuhan&lt;br /&gt;d.Kolaborasi dalam pemberian Mg dan Ca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bobak Irene M dan Jensen Margaret D,  Perawatan Maternitas dan Ginekologi II. Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Padjajaran : Bandung 2000&lt;br /&gt;Wiknjosastro Hanifa, DSOG, dr. Prof. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta 1999&lt;br /&gt;Mochtar Rustam MPH. Dr. Prof. Sinopsis Obstetri Jilid I Edisi 2. penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta 1998&lt;br /&gt;Carpenito Linda J, Buku Saku keperawatan Edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran, EGC : Jakarta &lt;br /&gt;Manuaba Ida Bagus Gede DSOG. Dr. Prof. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta 1998&lt;br /&gt;Carpenito Linda J, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran, EGC : Jakarta 1997&lt;br /&gt;Doengoes Marilyn E. dan Moorhouse Mary Frances. Rencana Perawatan Maternal / Bayi. Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta 2001&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-8809341666744773347?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/8809341666744773347/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/askep-bblr.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/8809341666744773347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/8809341666744773347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/askep-bblr.html' title='ASKEP BBLR'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-736359463926752486</id><published>2010-02-01T05:37:00.000-08:00</published><updated>2010-02-01T05:37:55.398-08:00</updated><title type='text'>ASKEP PLASENTA PREVIA</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                 PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.1 Latar Belakang&lt;br /&gt;Perdarahan pada kehamilan harus dianggap sebagai kelainan yang berbahaya . Perdarahan pada kehamilan muda disebut sebagai abortus sedangkan perdarahan pada kehamilan tua disebut perdarahan anterpartum. Batas teoritis antara kehamilan muda dengan kehamilan tua adalah 22 minggu mengingat  kemungkinan hidup janin diluar uterus .&lt;br /&gt;Perdarahan anterpartum  biasanya berbatas pada perdarahan jalan lahir setelah kehamilan 22 minggu tapi tidak jarang terjadi pula pada usia kandungan kurang dari 22 minggu dengan patologis yang sama. Perdarahan saat kehamilan setelah 22 minggu biasanya lebih berbahaya dan lebih banyak daripada kehamilan sebelum 22 minggu . Oleh karena itu perlu penanganan yang cukup berbeda . Perdarahan antepartum yang berbahaya umumnya bersumber pada kelainan plasenta, sedangkan perdarahan yang tidak bersumber pada kelainan plasenta umpamanya kelainan serviks biasanya tidak seberapa berbahaya. Pada setiap perdarahan anterpartum pertama-tama harus selalu dipikirkan bahwa hal itu bersumber pada kelainan plasenta .&lt;br /&gt;Perdarahan anterpartum yang bersumber dari kelainan plasenta yang secara klinis biasanya tidak terlampau sukar untuk menentukannya ialah plasenta previa dan solusio plasenta serta perdarahan yang belum jelas sumbernya . Perdarahan anterpartum terjadi kira-kira 3 % dari semua persalinan yang terbagi atas plasenta previa , solusio plasenta dan perdarahan yang belum jelas penyebabnya .&lt;br /&gt;Pada umumnya penderita mengalami perdarahan pada triwulan tiga atau setelah usia kehamilan , namun beberapa penderita mengalami perdarahan sedikit-sedikit kemungkinan tidak akan tergesa-gesa datang untuk mendapatkan pertolongan karena disangka sebagai tanda permulaan persalinan biasa. Baru setelah perdarahan yang berlangsung banyak , mereka datang untuk mendapatkan pertolongan . &lt;br /&gt;Setiap perdarahan pada kehamilan lebih dari 22 minggu yang lebih banyak pada permulaan persalinan biasanya harus lebih dianggap sebagai perdarahan anterpartum apapun penyebabnya , penderita harus segera dibawah ke rumah sakit yang memiliki fasilitas  untuk transfusi darah dan operasi . Perdarahan anterpartum diharapkan penanganan yang adekuat dan cepat dari segi medisnya maupun dari aspek keperawatannya yang sangat membantu dalam penyelamatan ibu dan janinnya.&lt;br /&gt;I.2 Perumusan Masalah&lt;br /&gt;Berdasarkan dari latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut ;                                                                                                                                                             &lt;br /&gt;-Menjelaskan konsep dasar dari plasenta previa&lt;br /&gt;-Membuat asuhan keperawatan pada plasenta previa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                BAB II&lt;br /&gt;                               PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.1 Konsep Dasar Plasenta Previa&lt;br /&gt;1.Pengertian Plasenta Previa&lt;br /&gt;-Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir . Pada keadaan normal plasenta terletak dibagian atas uterus .&lt;br /&gt;- Plasenta previa adalah jaringan plasenta tidak tertanam dalam korpuks uteri jauh dari ostium internus servisis , tetapi terletak sangat dekat pada ostium internus tersebut.&lt;br /&gt;2.Klasifikasi Plasenta Previa &lt;br /&gt;Ada 4 derajat abnormalitas plasenta previa yang didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu yaitu :&lt;br /&gt;-Plasenta previa totalis , apabila seluruh pembukaan (ostium internus servisis) tertutup oleh jaringan plasenta . &lt;br /&gt;-Plasenta previa parsialis, apabila sebagian pembukaan (ostium internus servisis) tertutup oleh jaringan plasenta . &lt;br /&gt;-Plasenta previa marginalis , apabila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan (ostium internus servisis) &lt;br /&gt;-Plasenta letak rendah , apabila plasenta yang letaknya abnormal pada segmen bawah uterus belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir atau plasenta berada 3-4 cm diatas pinggir permukaan sehingga tidak akan teraba pada pembukaan jalan lahir . &lt;br /&gt;3.Etiologi Plasenta Previa&lt;br /&gt;Plasenta bertumbuh pada segmen bawah uterus tidak selalu jelas dapat diterangkan . bahwasanya vaskularisasi yang berkurang atau perubahan atropi pada desidua akibat persalinan yang lampau dapat menyebabkan plasenta previa , tidaklah selalu benar . Memang dapat dimengerti bahwa apabila aliran darah ke plasenta tidak cukup seperti pada kehamilan kembar maka plasenta yang letaknya normal sekalipun akan memperluaskan permukaannya sehingga mendekati atau menutupi sama sekali pembukaan jalan lahir .Frekuensi plasenta previa pada primigravida yang berumur lebih 35 tahun kira-kira 10 kali lebih sering dibandingkan dengan primigravida yang berumur kurang dari 25 tahun . Pada grandemultipara yang berumur lebih dari 30 tahun kira-kira 4 kali lebih sering dari grandemultipara yang berumur kurang dari 25 tahun (Kloosterman 1973).&lt;br /&gt;4.Manifestasi Klinik&lt;br /&gt;Adapun manifestasi klinik dari plasenta previa adalah :&lt;br /&gt;-Perdarahan tanpa nyeri, usia gestasi &gt; 22 minggu&lt;br /&gt;-Darah segar atau kehitaman dengan bekuan&lt;br /&gt;-Perdarahan dapat terjadi setelah miksi atau defekasi, aktivitas fisik, kontraksi Braxton Hicks atau koitus&lt;br /&gt;-Perdarahan permulaan jarang begitu berat . Biasanya perdarahan akan berhenti sendiri dan terjadi kembali tanpa diduga .&lt;br /&gt;-Pemeriksaan fisik&lt;br /&gt;Pemeriksaan luar bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas pintu atas panggul., ada kelainan letak janin&lt;br /&gt;Pemeriksaan inspekulo : Perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum.&lt;br /&gt;5.Insiden plasenta previa&lt;br /&gt;Menurut Brenner dkk (1978) menemukan dalam paruh terakhir kehamilan, insiden plasenta previa sebesar 8,6 % atau 1 dari 167 kehamilan. 20 % diantaranya merupakan plasenta previa totalis. (Williams,847).&lt;br /&gt;Di RS. DR Cipto Mangunkusumo antara tahun 1971-1975, terjadi 37 kasus plasenta previa diantara 4781 persalinan yang terdaftar atau kira-kira 1 diantara 125 persalinan  terdaftar (Ilmu Kebidanan, 367)&lt;br /&gt;Kejadian plasenta previa adalah 0,4-o,6 % dari keseluruhan persalinan. (Acuan Nasional, 16.&lt;br /&gt;6.Komplikasi &lt;br /&gt;Pada ibu dapat terjadi perdarahan hingga syok akibat perdarahan, anemia karena perdarahan.  Plasentitis, dan endometritis pasca persalinan.  Pad janin biasanya terjadi persalinan premature dan komplikasinya seperti asfiksia berat.&lt;br /&gt;7.Penatalaksanaan umum plasenta previa.&lt;br /&gt;Sebelum dirujuk, anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap kekiri, tidak melakukan senggama, menghindari peningkatan tekanan rongga perut&lt;br /&gt;( misalnya batuk, mengedan karena sulit buang besar )&lt;br /&gt;Perhatian : Tidak dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan dalam pada perdarahan antepartum sebelum tersediia persiapan untuk seksio sesarea. Pemeriksaan inspekulo secara hati-hati, dapat menentukan sumber perdarahan berasal dari kanalis serviks atau sumber lain (servisitis, polip, keganasan, laserasi atau trauma). Meskipun demikian, adanya kelainan di atas menyingkirkan diagnosa plasenta previa.&lt;br /&gt;Perbaiki kekurangan cairan/darah dengan memberi infuse cairan I.V (NaCl 0,9 % atau Ringer Laktat).&lt;br /&gt;Lakukan penilaian jumlah perdarahan :&lt;br /&gt;Jika perdarahan banyak dan berlangsung terus, persiapan sseksio sesarea tanpa memperhitungkan usia kehamilan/prematuris.Jika perdarahan sedikit dan berhenti dan fetus hidup tetap preatur, pertimbangkan ttettapi ekspektatif sampai persalinan atau terjadi perdarahan banyak.&lt;br /&gt;Terapi Ekspektatif&lt;br /&gt;Tujuan : supaya janin tidak terlahir premature dan upaya diagnosis dilakukan secara non invasive.&lt;br /&gt;Syarat terapi ekspektatif :&lt;br /&gt;-Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang kemudian berhenti&lt;br /&gt;-Belum ada tanda inpartu.&lt;br /&gt;-Keadaan umum ibu cukup baik (kadar Hb dalam batas norma).&lt;br /&gt;-Janin masih hidup.&lt;br /&gt;-Rawat inap, tirah baring dan berikut antibiotika profilaksis.&lt;br /&gt;Pemeriksaan USG untuk menentukan  implantasi plasenta, usia kehamilan, profil biofisik, letak, presentasi janin.&lt;br /&gt;Perbaiki anemia dengan pemberian sulfas ferosus atau ferosus fumarat per oral 60 mg selama 1 bulan.&lt;br /&gt;Pastikan tersedianya sarana untuk melakukan transfuse.&lt;br /&gt;Jika perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37 minggu masih lama, pasien dapat dirawat jalan (kecuali rumah pasien di luar kota atau diperlukan waktu &gt;2 jam untuk mencapai rumah sakit) dengan pesan segera kembali ke RS jika terjadi perdarahan.&lt;br /&gt;Jika perdarahan berulang pertimbangkan manfaat dan resiko ibu dan janin untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dibandingkan dengan terminasi kehamilan.&lt;br /&gt;Terapi Aktif&lt;br /&gt; Rencanakan terminasi kehamilan jika :&lt;br /&gt;-Janin matur&lt;br /&gt;-Janin mati atau menderita anomaly atau keadaan yang mengurangii kelangsungan hidupnya (misalnya anensefali).&lt;br /&gt;-Pada perdarahan aktif dan banyak, segera dilakukan terapi aktif tanpa memandang maturitas janin.&lt;br /&gt;Jika terdapat plasenta previa letak rendah dan perdarahan yang terjadi sangat sedikit, persalinan pervaginan masih mungkin. Jika tidak , lahirkan dengan seksio sesarea.&lt;br /&gt;Jika persalinan dengan seksio sesarea dan terjadi perdarahan dari tempat plasenta &lt;br /&gt;-Jahit tempat perdarahan dengan benang. &lt;br /&gt;-Pasang infuse oksitosin 10 unit 500 ml cairan IV  (NaCl atau Ringer Laktat) dengan kecepatan 60 tetes permenit.&lt;br /&gt;penanganan yang sesuai . Hal tersebut meliputi ligasi arteri atau histerektomi Jika perdarahan terjadi pascapersalinan, segera lakukan.&lt;br /&gt;Penanganan plasenta previ&lt;br /&gt;Syok&lt;br /&gt;Tidak syok&lt;br /&gt;1.Infus cairan&lt;br /&gt;2.oksigen (kalau ada)&lt;br /&gt;Cairan infus&lt;br /&gt;Rujuk kerumah sakit &lt;br /&gt;Aterm&lt;br /&gt;Belum aterm&lt;br /&gt;Periksa dalam di meja operasi &lt;br /&gt;1.Konservatif&lt;br /&gt;2.Rawat&lt;br /&gt;3.Kortikosteroid untuk pematangan paru-paru janin&lt;br /&gt;bila perdarahan ulang banyak dilakukan PDMO&lt;br /&gt;Plasenta previa&lt;br /&gt;Plasenta letak rendah&lt;br /&gt;Seksio sesaria Partus pervaginan &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;II. 2.  Asuhan keperawatan&lt;br /&gt;1.Pengkajian&lt;br /&gt;Sirkulasi&lt;br /&gt;Perdarahan vagina tanpa nyeri ( jumlah tergantung pada apaka previa marginal, parsial,atau total): Prdarahan besar dapat terjadi selama persalinan.&lt;br /&gt;Seksualitas&lt;br /&gt;Tinggi fundus 28 cm atau lebih.&lt;br /&gt;Djj dalam batas yang normal (DBN)&lt;br /&gt;Janin mungkin melingtang atau tidak turun.&lt;br /&gt;Uterus lunak.&lt;br /&gt;Pemeriksaan diagnostic.&lt;br /&gt;HDL ; dapat menunjukkan peningkatan sel darah putih(SDP), penurunan &lt;br /&gt;Hb dan Ht.&lt;br /&gt;USG ; Menetukan letak plasenta.&lt;br /&gt;2.Diagnosa keperawatan.&lt;br /&gt;Kekurangan volume cairan b/d kehilangan vaskuler berlebihan.&lt;br /&gt;Perubahan perpusi jaringan utero plasenta b/d Hipovolemia.&lt;br /&gt;Ansietas b/d Ancaman kematian ( dirasakan atau actual ) pada diri sendiri, janin.&lt;br /&gt;Resiko tinggi cedera (ibu) b/d Hipoksia jaringan / organ, profil darah abnormal, kerusakan system imun.&lt;br /&gt;3.Intervensi keperawatan.&lt;br /&gt;a.Kekurangan volume cairan b/d kehilangan vaskuler berlebihan.&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi;&lt;br /&gt;Mendemostrasikan kestabilan / perbaikan keseimbangan cairan yang dibuktikan oleh tanda-tanda vital stabil, pengisian kapiler cepat, sensorium tepat dan haluaran serta berat jenis urin adekuat secara individual.&lt;br /&gt;1)Evaluasi, laporkan, dan catat jumlah serta jumlah kehilangan darah.  Lakukan perhitungan pembalut Timbang pembalut pengalas.&lt;br /&gt;Rasional : Perkiraan kehilangan darah membantu membedakan diagnosa, Setiap gram peningkatan berat pembalut sama dengan kehilangan kira-kira 1 ml darah.&lt;br /&gt;2)Lakukan tirah baring. Instuksikan klien untuk menghindari Valsalva manover dan koitus.&lt;br /&gt;Rasional  :  Perdarahan dapat berhenti dengan reduksi aktivitas. Peningkatan tekanan abdomen atau orgasme ( yang meningkatkan aktivitas uterus) dapat meransang perdarahan&lt;br /&gt;3)Posisikan klien dengan tepat, telentang dengan panggul ditinggikan atau posisi semi – fowler. Hindari posisi trendelenburg.&lt;br /&gt;Rasional : Menjamin keadekuatan darah yang tersedia untuk otak; peninggian panggul menghindari kompresi vena kava. Posisi semi- fowler memungkinkan janin bertindak sebagai tanpon.&lt;br /&gt;4)Catat tanda – tanda vital Penisian kapiler pada dasar kuku, warna menbran mukosa/ kulit dan suhu. Ukur tekanan vena sentarl, bila ada&lt;br /&gt;Rasional :  Membantu menentukan beratnya kehilangan darah, meskipun sianosis dan perubahan pada tekanan darah, nadi adalah tanda-tanda lanjut dari kehilangan sirkulasi atau terjadinya syok&lt;br /&gt;5)Hindari pemeriksaan rectal atau vagina&lt;br /&gt;Rasional : Dapat meningkatkan hemoragi, khususnya bila plasenta previa marginal atau total terjadi.&lt;br /&gt;6)Berikan larutan intravena, ekspander plasma, darah lengkap, atau sel-sel kemasan, sesuai indikasi.&lt;br /&gt;Rasional: Meningkatkan volume darah sirkulasi dan mengatasi gejala-gejala syok.&lt;br /&gt;7)Siapkan untuk kelahiran sesaria.&lt;br /&gt;Rasional: Hemoragi berhenti bila plasenta diangkat dan sinus-sinus vena tertutup.&lt;br /&gt;b.Perubahan perpusi jaringan utero plasenta b/d Hipovolemia.&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi : Mendemonstrasikan perfusi adekuat, dibuktikan oleh DJJ dan aktivitas DBN serta tes nonstres reaktif (NST).&lt;br /&gt;1.Perhatikan status fisiologis ibu, status sirkulasi, dan volume darah.&lt;br /&gt;Rasional : Kejadian perdarahan potensial merusak hasil kehamilan , kemungkinan menyebabkan hipovolemia atau hipoksia uteroplasenta.&lt;br /&gt;2.Auskultasi dan laporkan DJJ , catat bradikardia atau takikardia. Catat perubahan pada aktivitas janin (hipoaktivitas atau hiperaktivitas&lt;br /&gt;Rasional : Mengkaji berlanjutnya hipoksia janin . Pada awalnya , janin berespon pada penurunan kadar oksigen dengan takikardia dan peningkatan gerakan . Bila tetap defisit, bradikardia dan penurunan aktivitas terjadi.&lt;br /&gt;3.Anjurkan tirah baring pada posisi miring kiri.&lt;br /&gt;Rasional : Menghilangkan tekanan pada vena kava inferior dan  meningkatkan sirkulasi plasenta/janin dan pertukaran oksigen.&lt;br /&gt;4.Berikan suplemen oksigen pada klien&lt;br /&gt;Rasional : Meningkatkan ketersediaan oksigen untuk ambilan janin. &lt;br /&gt;5.Ganti kehilangan darah/cairan ibu.&lt;br /&gt;Rasional : Mempertahankan volume sirkulasi yang adekuat untuk transport oksigen. &lt;br /&gt;6. Siapkan klien untuk intervensi bedah dengan tepat.&lt;br /&gt;Rasional : Pembedahan perlu bila terjadi pelepasan plasenta yang berat, atau bila perdarahan berlebihan , terjadi penyimpangan oksigen janin, dan kelahiran vagina tidak mungkin.&lt;br /&gt;c.Ansietas b/d ancaman kematian (dirasakan atau actual ) pada diri sendiri, janin.&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi : &lt;br /&gt;-Mendiskusikan ketakutan mengenai diri, janin, dan masa depan kehamilan, mengenai ketakutan yang sehat dan tidak sehat.&lt;br /&gt;-Mengungkapkan pengetahuan situasi yang akurat.&lt;br /&gt;-Melaporakan/menunjukkan berkurangnya ketakutan dan/atau perilaku yang menunjukkan ketakutan.&lt;br /&gt;1.Diskusikan situasi dan pemahaman tentang situasi dengan klien dan pasangan.&lt;br /&gt;Rasional : Memberikan informasi tentang reaksi individu terhadap apa yang terjadi.&lt;br /&gt;2.Pantau respon verbal dan nonverbal klien/pasangan.&lt;br /&gt;Rasional : Menandakan tingkat rasa takut yang sedang dialami klien/pasangan.&lt;br /&gt;3.Dengarkan masalah klien dan dengarkan secara aktif.&lt;br /&gt;Rasional : Meningkatkan rasa control terhadap situasi dan memberikan kesempatan pada klien untuk mengembangkan solusi sendiri.&lt;br /&gt;4.Berikan informasi dalam bentuk verbal dan tertulis dan beri kesempatan klien untuk mengajukan pertanyaan.Jawab pertanyaan dengan jujur.&lt;br /&gt;Rasional : Pengetahuan akan membantu klien mengatasi apa yang sedang terjadi dengan lebih efektif.&lt;br /&gt;5.Jelaskan prosedur dan arti gejala-gejala.&lt;br /&gt;Rasional : Pengetahuan dapat membantu menurunkan rasa takut dan meningkatkan rasa control terhadap situasi.&lt;br /&gt;d.Resiko tinggi cederabu) b/d hipoksia jaringan/ organ,profil darah abnormal,kerusakan system imun.&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi : Menunjukkan profil darah dengan hitung SDP, Hb, dan pemeriksaan koagulasi DBN normal.&lt;br /&gt;1.Kaji jumlah darah yang hilang. Pantau tanda/gejala syok&lt;br /&gt;Rasional : Hemoragi berlebihan dan menetap dapat mengancam hidup klien atau mengakibatkan infeksi pascapartum, anemia pascapartum, KID, gagal ginjal, atau nekrosis hipofisis yang disebabkan oleh hipoksia jaringan dan malnutrisi.&lt;br /&gt;2.Catat suhu, hitung SDP, dan bau serta warna rabas vagina, dapatkan kultur bila dibutuhkan.&lt;br /&gt;Rasional : Kehilangan darah berlebihan dengan penurunan Hb meningkatkan risiko klien untuk terkena infeksi.&lt;br /&gt;3.Catat masukan/haluaran urin. Catat berat jenis urin.&lt;br /&gt;Rasional : Penurunan perfusi ginjal mengakibatkan penurunan haluaran urin.&lt;br /&gt;4.Berikan heparin, bila diindikasikan.&lt;br /&gt;Rasional : Heparin dapat digunakan pada KID di kasus kematian janin, atau kematian satu janin pada kehamilan multiple, atau untukmemblok siklus pembekuan dengan melindungi factor-faktor pembekuan dan menurunkan hemoragi sampai terjadi perbaikan pembedahan.&lt;br /&gt;5.Berikan antibiotic secara parenteral.&lt;br /&gt;Rasional : Mungkin diindikasikan untuk mencegah atau meminimalkan infeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;1.Arif Mansjoer, 2001, Kapita Selekta Kedokteran , edisi ketiga . Media Aesculapius FKUI . Jakarta&lt;br /&gt;2.Marilynn E. Doenges &amp; Mary Frances Moorhouse, 2001, Rencana Perawatan Maternal/Bayi, edisi kedua. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.&lt;br /&gt;3.Murah Manoe dkk, 1999, Pedoman Diagnosis Dan Terapi Obstetri Dan Ginekologi. Bagian /SMF obstetri dan ginekologi FK Unhas . Ujung Pandang.&lt;br /&gt;4.Sandra M. Nettina, 2001, Pedoman Praktik Keperawatan. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.&lt;br /&gt;5.Sarwono, 1997, Ilmu Kebidanan. Yayasan bina pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-736359463926752486?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/736359463926752486/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/askep-plasenta-previa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/736359463926752486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/736359463926752486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/askep-plasenta-previa.html' title='ASKEP PLASENTA PREVIA'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-4454283764565104934</id><published>2010-02-01T05:32:00.003-08:00</published><updated>2010-02-02T20:51:50.059-08:00</updated><title type='text'>ASKEP MYASTHENIA GRAVIS</title><content type='html'>A.Definisi&lt;br /&gt;Myastenia gravis merupakan gangguan yang mempengaruhi trasmisi neuromuskuler pada otot tubuh yang kerjanya dibawah kesadaran seseorang (volunteer) . Karakteristik yang muncul berupa kelemahan yang berlebihan dan umumnya terjadi kelelahan pada otot-otot volunter dan hal itu dipengaruhi oleh fungsi saraf  cranial (Brunner and Suddarth 2002)&lt;br /&gt;Myasthenia gravis adalah gangguan neuromuskuler yang mempengaruhi transmisi impuls pada otot-otot volunter tubuh (Sandra M. Neffina 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.Etiologi&lt;br /&gt;Penyebaba gangguan ini tidak diketahui, tetapi kemungkin terjadi karena gangguan atau destruksi reseptor asetilkolin pada persimpangan neoromuskular akibat reaksi autoimun. Kontraksi otot mengalami kerusakan menyebabkan kelemahan otot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.Manifestasi Klinik&lt;br /&gt;Kelemahan otot ekstrim dan mudah mengalami kelelahan &lt;br /&gt;Diplobia (penglihatan ganda) &lt;br /&gt;Ptosis (jatuhnya kelopak mata)&lt;br /&gt;Disfonia (gangguan suara)&lt;br /&gt;Kelemahan diafragma dan otot-otot interkosal progressif menyebabkan gawat napas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.Diagnostik Test&lt;br /&gt;1.Test serum anti bodi resptor ACh yang positif pada 90% pasien.&lt;br /&gt;2.Test tensilon : injeksi iv memeperbaiki respon motorik sementara dan menurunkan gejala pada krisis miastenik untuk sementara waktu memperburuk gejala-gejala pada krisis kolinergik.&lt;br /&gt;3.Test elektro fisiologis untuk menunjukan penurunan respon rangsangan saraf berulang.&lt;br /&gt;4.CT dapat menunjukan hiperplasia timus yang dianggap menyebabkan respon autoimun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.Patofisiologi dan Penyimpangan KDM  &lt;br /&gt;Dasar ketidk normalan pada miastenia gravis adalah adanya kerusakan pada trasmisi inpuls saraf menuju sel-sel otot karena kehilangan kemampuan atau hilangnya reseptor normal membran post sinaps pada sambungan neuromuskuler. Penelitian memperlihakan adanya penurunan 70-90% reseptor asetilkolin pada sambungan neuromuskuler setiap individu. Miastenia gravis dipertimbangkan sebagai penyakit autoimun yang bersikap langsung melawan reseptor asetilkolin (AChR) yang merusak transmisi neuromuskuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F.Proses keperawatan&lt;br /&gt;1.Pengkajian &lt;br /&gt;oDisfungsi sistem saraf&lt;br /&gt;a)Gangguan penglihatan: diplopia dan ptosis karena kelemahan okuler &lt;br /&gt;b)Ekspresi wajah seperti topeng karena keterlibatan otot-otot muka &lt;br /&gt;c)Disafria atau disvagia karena kelemhan faringeal dan laringeal.&lt;br /&gt;oKelemahan otot yang ekstrim dan mudah letih dengan aktivitas dan bicara yang berulang&lt;br /&gt;oKemungkinan keterlibatan pernapasan dengan penurunan kapasitas vital&lt;br /&gt;2.Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;oPola napas tidak efektif yang berhubungan dengan kelemahan otot pernapasan.&lt;br /&gt;oKerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kelemahan otot-otot volunter.&lt;br /&gt;oResiko terhadap aspirasi yang berhubungan dengan kelemahan otot-otot bulbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Intervensi dan implementasi&lt;br /&gt;Pemantauan &lt;br /&gt;1)Pantau status pernapasan pasien untuk melihat adanya kemumgkinan gagal napas dan krisis miastenik atau kolinergik.&lt;br /&gt;2)Waspadai adanya tanda-tanda krisis yang mengancam :&lt;br /&gt;a)Distres pernapasan mendadak &lt;br /&gt;b)Tanda-tanda disvagia, disarfria, ptosis dan diplobia&lt;br /&gt;c)Takikardia, ansietas&lt;br /&gt;d)Pantau respon pasien terhadap terapi obat&lt;br /&gt;3)Pantau respon pasien terhadap terapi obat&lt;br /&gt;Perawatan penunjang &lt;br /&gt;1)Berikam medikasi sehingga efek puncaknya bersamaan dengan makan danaktivitas esensial.&lt;br /&gt;2)Bantu pasien membuat jadwal aktivitas yang realistik&lt;br /&gt;3)Berikan periode istirahat untuk meminimalkan keletihan&lt;br /&gt;4)Berikan alat bantu untuk membantu pasien melakukan aktivitas sehari-hari meskipun terjadi kelemahan.&lt;br /&gt;5) Jika pasien menderita diplopia berikan penutp mata untuk menggunakan mata yang lain untuk meminimalkan resiko terjatuh.&lt;br /&gt;6)Untuk menghindari aspirasi :&lt;br /&gt;a)Ajari pasien untuk memposisikan kepala pada posisi sedikit fleksi untuk melindungi jalan napas ketika sedang makan&lt;br /&gt;b)Sediakan alat pegisap sehingga pasien dapat mengoprasikannya&lt;br /&gt;c)Jika pasien sedang krisis atau mengalami gangguan menelan berikan cairan iv dan makan melalui selang nasogastrik, tinggikan kepala pada tempat tidur setelah pemberian makan&lt;br /&gt;d)Jika pasien memakai ventilator mekanik berikan pengisapan yang sering, kaji bunyi napas dan periksa, laporkan hasil sinar-X dada. &lt;br /&gt;7)Tunjukan pasien bagaimana caranya menahan dagu dengan tangan untuk menopang rahang bawah untuk membantu berbicara&lt;br /&gt;8)Jika bicara terganggu dengan sangat parah anjurkan pasien untuk menggunakan metode komunikasi alternatif seperti kartu flash atau papan huruf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan pasien dan pemeliharaan kesehatan &lt;br /&gt;1)Instruksikan pasien dan keluarga berkaitan dengan gejala krisis miastenia.&lt;br /&gt;2)Ajari pasien cara-cara untuk mencegah krisis dan memburuknya gejala;&lt;br /&gt;a)Hindari terpajan flu dan inveksi lain&lt;br /&gt;b)Hindari panas atau dingin yang berlebihan &lt;br /&gt;c)Beritahu pasien untuk menginformasikan pada dokter gigi tentang kondisi, karena penggunaan prokain (navokaine) tidak ditoleransi dengan baik dan dapat mencetuskan krisis&lt;br /&gt;d)Hindari kesedihan secara emosional &lt;br /&gt;3)Ajari pasien dan keluarga berkaitan dengan penggunaan pengisap rumah&lt;br /&gt;4)Tinjau kembali masa puncak obat dan bagaimana menjadwalkan akivitas untuk mendapatakn hasil yang baik&lt;br /&gt;5)Tekankan pentingnya priode istirahat yang terjadwal untuk menghindari keletihan&lt;br /&gt;6)Anjurkan pasien untuk memakai gelang kewaspaan medis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Evaluasi&lt;br /&gt;1) Mencapai fungsi pernapasan adekuat&lt;br /&gt;a)Menunjukan frekuensi pernapasan dan kedalaman pernapasan normal, dan kekuatan otot normal.&lt;br /&gt;b)Mentaati jadwal medikasi yang ditetapkan.&lt;br /&gt;c)Menyatakan bahwa tas resusitasi dan pengisapan fortabel untuk digunakan dirumah.&lt;br /&gt;d)Mengihindari situasi yang dapat mencetuskan flu dan infeksi, yang dapat memperberat gejala.&lt;br /&gt;2)Beradaptasi pada kerusakan mobilitas&lt;br /&gt;a)Menetapkan program istirahat dan latihan yang seimbang.&lt;br /&gt;b)Mengidentifikasi tindakan untuk menghemat energi.&lt;br /&gt;c)Menggunakan alat-alat bantu&lt;br /&gt;d)Menetapkan maantaati jadwal medikasi yang memaksimalkan kekuatan otot.&lt;br /&gt;3)Tidak mengalami aspirasi &lt;br /&gt;a)Menunjukan bunyi napas normal&lt;br /&gt;b)Makan dengan lambat dan memilih diet (lunak) yanag sesuai.&lt;br /&gt;c)Menetapkan jadwal medikasi yang sesuai dengan waktu makan.&lt;br /&gt;4)Mengalami pemulihan krisis miasteniak dan kolinergik&lt;br /&gt;a)Menyebutkan tanda dan gejala.&lt;br /&gt;b)Mentaati program medikasi&lt;br /&gt;c)Menggunakan gelang waspada medik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-4454283764565104934?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/4454283764565104934/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/myasthenia-gravis.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/4454283764565104934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/4454283764565104934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/myasthenia-gravis.html' title='ASKEP MYASTHENIA GRAVIS'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-6242274289557190211</id><published>2010-02-01T05:29:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T20:52:29.332-08:00</updated><title type='text'>ASKEP HERNIA INGUINALIS</title><content type='html'>A.KONSEP DASAR MEDIK&lt;br /&gt;1.Pengertian&lt;br /&gt;Hernia adalah protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek/bagian yang lemah dari dinding rongga. Hernia inguinalis lateralis adalah hernia yang melalui hernia annulus inguinalis atau lateralis, menyusuri kanalis yang keluar dari rongga perut melalui inguinalis eksterna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Etiologi&lt;br /&gt;Kongenital&lt;br /&gt;Terjadi akibat prosesus vaginalis peritonium disertai dengan annulus inguinalis yang cukup lebar, terutama ditemukan pada bayi&lt;br /&gt;Akuisita&lt;br /&gt;Akuisita ditemukan adanya faktor kausa yang berperan untuk timbulnya hernia yaitu :&lt;br /&gt;a. Prosesus vaginalis yang terbuka, yang disebabkan oleh;&lt;br /&gt;Pekerjaan mengangkat barang-barang berat.&lt;br /&gt;Batuk kronik, bronchitis kronik, TBC.&lt;br /&gt;Hipertropi prostat dan konstipasi.&lt;br /&gt;b.Kelemahan otot dinding perut, yang disebabkan oleh;&lt;br /&gt;Usia tua, sering melahirkan.&lt;br /&gt;Kerusakan moninguinalis dan iliofermalis setelah apendiktomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Pathofisiologi&lt;br /&gt;Defek pada dinding otot mungkin kongenital karena kelemahan jaringan atau ruas paling dalam lumen inguinalis atau dapat disebaabkan karena trauma tekanan intra atau kegemukan. Mengangkat beban yang berat juga menyebabkan meningkatnya tekanan intra abdominal, seperti batuk dan cedera traumatik karena tekanan tumpul. Kedua faktor ini terjadi bersamaan dengan kelelahan otot, individu akan mengalami hernia dan bila isi kanong hernia dapat dipindahkan kekantong abdomen yang termanipulasi.&lt;br /&gt;Bila tekanan dari cincin hernia (cincin dari jaringan otot yang dilalui oleh protusi usus) memotong suplai darah kesegmen hernia dari usus menjadi terstragulasi. Situasi ini adalaah kedaruratan bedah karena usus terlepas. Usus ini cepat menjadi gangren karena kekurangan suplai darah. Henia ini terjadi melalui cincin inguinalis dan dapat menjadi sangat berat dan sering turun ke skrotum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Insiden&lt;br /&gt;Hernia inguinalis umumnya lebih sering terjadi pada pria dibanding wanita. Insidennya tinggi pada bayi dan anak kecil. Pada bayi dan anak sekitar 1-2 % sisi kanan dan biasanya lebih sering (60 %) dibanding pada sisi kiri (20 %) bilateral sebanyak (0-15 %).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Manifestasi Klinik&lt;br /&gt;Umumnya klien mengatakan adanya benjolan pada lipatan paha. Pada bayi dan anak adanya benjolan yang hilang timbul dilipatan paha, dan hal ini biasanya diketahui oleh orang tuanya.&lt;br /&gt;Pada inspeksi, diperhatikan pada keadaan osimetris pada kedua sisi lipatan paha,posisi berdiri dan berbaring. Pada saat batuk dan mengedan biasanya akan timbul benjolan.&lt;br /&gt;Pada palpasi, teraba isis usus, omentum (seperti karet)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Test Diagnostik&lt;br /&gt;Tindakan diagnostik yaitu :&lt;br /&gt;a. Foto thoraaks: Menunjukan adanya massa tanpa udara jika omentum yang masuk dan massa yang berisi udara jika lambung adalah usus yang masuk.&lt;br /&gt;b. Laboratorium : Menunjukan adanya peningkatn pada hasil pemeriksaan SGOT.&lt;br /&gt;c. CKG : Biasanya dilakukan untuk persiapan operasi.&lt;br /&gt;6.Penatalaksanaan Medis&lt;br /&gt;Pada hernia inguinalis lateralis responbiliti maka dilakukan bedah elektif.&lt;br /&gt;Pada trepopiblis, maka diusahakan agaar isis hernia dapat dimasukan kembali.&lt;br /&gt;Istirahat baring.&lt;br /&gt;Kompres es.&lt;br /&gt;Diusahakan sebelum dilakukan pembedahan, diberikan diet khusus.&lt;br /&gt;Melakukan penekanan secara kontinue pada benjolan.&lt;br /&gt;Tindakan pembedahan :&lt;br /&gt;-Herniotomie (memotong hernia).&lt;br /&gt;-Neriorafi (menjahit kantong hernia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.KONSEP KEPERAWATAN&lt;br /&gt;Data Dasar Pengkajian Pasien &lt;br /&gt;Data yang diperoleh atau dikaji tergantung pada tempat terjadinya, beratnya, apakah akut atau kronik apakah berpengaruh terhadap struktur disekelilingnya dan banyaknya akar saraf yang terkompresi atau tertekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas/Istirahat&lt;br /&gt;Gejala : Riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat benda berat, duduk, mengemudi dalam waktu lama.&lt;br /&gt;Membutuhkan matras/papan yanag keras saat tidur.&lt;br /&gt;Penurunan rentang gerak dari ekstremitas pada salah satu bagian tubuh.&lt;br /&gt;Tidak mampu melakukan aktivitas yang biasa dilakukan.&lt;br /&gt;Tanda : Atropi otot pada bagian yang terkena.&lt;br /&gt;Gangguan dalam berjalan.&lt;br /&gt;Eliminasi&lt;br /&gt;Gejala : Konstipasi, mengalami kesulitan dalam defekasi, adanya inkontinensia atau retensi urine.&lt;br /&gt;Integritas Ego&lt;br /&gt;Gejala : Ketakutan akan timbulnya paralisis, ansietas masalah pekerjaan, finansial keluarga.&lt;br /&gt;Tanda : Tampak cemas, depresi menghindar dari keluarga atau orang terdekat.&lt;br /&gt;Neuro Sensori&lt;br /&gt;Gejala : Kesemutan, kekauan, kelemahan dari tangan atau kaki.&lt;br /&gt;Tanda : Penurunan refleks tendon dalam, kelemahan otot, hipotonia. Nyeri tekan atau spasme otot pada vertebralis.&lt;br /&gt;Penurunan persepsi nyeri (sensorik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyeri/Kenyamanan&lt;br /&gt;Gejala : Nyeri seperti tertusuk pisau yang akan semakin memburuk dengan adanya batuk, bersin, membengkokan badan, mengangkat, defekasi, mengangkat kaki ataua fleksi pada leher, nyeri yang tiada hentinya atau adanya episode nyeri yanag lebih berat secara intermiten. Nyeri yang menjalar pada kaki, bokong (lumbal) atau bahu/lengan, kaku pada leher  atau servikal. Terdengar adanya suara ‘krek’ saat nyeri bahu timbul/saat trauma atau merasa ‘punggung patah’.&lt;br /&gt;Keterbatasan untuk mobilisasi atau membungkuk kedepan.&lt;br /&gt;Tanda : Sikap dengan cara bersandar dari bagian tubuh yang tekena. Perubahan cara berjalan, berjalan dengan terpincang-pincang, pinggang terangkat pada bagian tubuh yang terkena.&lt;br /&gt;Nyeri pada palpasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.PROSES KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1.Pengkajian&lt;br /&gt;Pengkajian data fisik berdasarkan pada pengkajian abdomen dapat menunjukan benjolan pada lipat paha atau area umbilikal. &lt;br /&gt;Keluhan tentang aktivitas yang mempengaruhi ukuran benjolan. Benjolan mungkin ada secara spontan atau hanya tampak pada aktivitas yang meningkatkan tekaanan intra abdomen, seperti batuk, bersin, mengangkat berat atau defekasi.&lt;br /&gt;Keluhan tentang ketidaknyamanan. Beberapa ketidaknyamanan dialami karena tegangan.  yang meningkatkan tekaanan intra abdomen, seperti batuk, bersin, mengangkat berat atau defekasi.&lt;br /&gt;Keluhan tentang ketidaknyamanan. Beberapa ketidaknyamanan dialami karena tegangan. Nyeri menandakan strangulasi dan kebutuhan terhadap pembedahan segera. Selain itu manifestasi obstruksi usus dapat dideteksi (bising usus, nada tinggi sampai tidak ada mual/muntah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;a.  Nyeri (secara khusus saat mengejan) yang berhubungan dengan kondisi hernia atau intervensi pembedahan.&lt;br /&gt;b. Retensi perkemihan berhubungan dengan nyeri.&lt;br /&gt;c. Kurang pengetahuan; potensial terhadap komplikasi GI berkenaan dengan adanya hernia dan tindakan yang dapat mencegah kekambuhaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Perencanaan/Implementasi&lt;br /&gt;Tujuan yang harus dicapai adalah adanya kenyamanan yang sudah dapat diarasakan oleh pasien, pasien dapat berkemih tanpa kesulitan lagi, tidak adanya infeksi. Pasien dapat mengungkapkan pengetahuannya tentang tanda-tanda daan gejala komplikasi dan memenuhi tindakan yang diprogramkan untuk pencegahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Intervensi &lt;br /&gt;Kaji dan dokumentasikan nyeri; beratnya, karakternya, lokasi, durasi, faktor pencetus dan metode-metode penghilangnya. Gunakan skala nyeri pada pasien, rentangkan ketidaaknyamanan dari 0 (tanpa nyeri) sampai 10 (nyeri paling hebat).&lt;br /&gt;Beritahu pasien untuk menghindari mengejan, merenggang, batuk dan mengangkat beban berat.&lt;br /&gt;Berikan analgesik sesuai program bila dindikasikan, secara khusus sebelum aktivitas pasca operasi.&lt;br /&gt;Kaji dan dokumentasikan distensi suprapubik atau laporan klien tentang tidak dapat berkemih.&lt;br /&gt;Pantau keluaran urine. Dokumentasikan dan laporkan berkemih sering &lt;100 ml.&lt;br /&gt;Untuk mempermudah berkemih dengan mengimplementasikan intervensi berikut; posisikan pada posisi normal untuk berkemih, biarkan pasien mendengar bunyi air mengalir atau tempatkan tangan pasien di air hangat.&lt;br /&gt; Anjurkan pasien untuk waspada dan melaporkan nyeri berat, menetap; mual dan muntah, demam dan distensi abdomen.&lt;br /&gt; Anjurkan pasien untuk mengkonsumsi diet tinggi serat atau menggunakan suplemen diet serat untuk mencegah konstipasi. Anjurkan masukan cairan sedikitnya 2-3 ltr/hr untuk meningkatkan konsistensi faeces lunak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Evaluasi&lt;br /&gt;Hasil yang diharapkan :&lt;br /&gt;Dalam 1 jam intervensi, persepsi subyektif pasien tentang ketidaknyamanan menurun, dibuktikan dengan skala nyeri. Indikator-indikator obyektif seperti meringis tidak ada atau menurun.&lt;br /&gt;Dalam 8-10 jam pasca pembedahan, pasien berkemih tanpa kesulitan. Keluaran urine 100 ml setiap berkemih dan adekuat (kira-kira 1000-1500 ml) lebih periode 24 jam.&lt;br /&gt;Setelah instruksi, pasien mengungkapkan pengetahuan tentang tanda-tanda dan gejala komplikasi dan memenuhi tindakan yang diprogramkan untuk pencegahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;1.Brunner &amp; Suddarth, 2002, Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol. 1, EGC, Jakarta.&lt;br /&gt;2.Barbara C. Lag, 1996, Keperawatan Medikal Bedah Bagian I dan 3, Yayasan TAPK Pengajaraan, Bandung.&lt;br /&gt;3.Mansjoer, Arif dkk., 2001, Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid I, Medica Aesculapius FKUI, Jakarta.&lt;br /&gt;4.R. Syamsuhidayat &amp; Wim de Jong, 2001, Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Revisi, EGC, Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-6242274289557190211?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/6242274289557190211/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/hernia-inguinalis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/6242274289557190211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/6242274289557190211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/hernia-inguinalis.html' title='ASKEP HERNIA INGUINALIS'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-952779740759113671</id><published>2010-02-01T05:25:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T20:52:49.409-08:00</updated><title type='text'>ASKEP CHRONIC KIDNEY DISEASE(CKD)</title><content type='html'>A. Pengertian&lt;br /&gt;CKD adalah gangguang fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan ginjal gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.Etiologi&lt;br /&gt;Hal-hal yang dapat menyebabkan penyakit CKD adalah:&lt;br /&gt;Diabetes Mellitus&lt;br /&gt;glumeruonefritis akut&lt;br /&gt;pielonefritis&lt;br /&gt;hipertensi&lt;br /&gt;obstruksi traktus urinarius&lt;br /&gt;lesi herediter (penyakit ginjal polikistik, gangguan fungsi vaskuler, infeksi, medikasi, agen toksik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.Patofisiologi&lt;br /&gt;ada dua pendekatan teoritis yang biasanya diajukan untuk menjelaskan gangguan fungsi ginjal kronik antara lain:&lt;br /&gt;1.sudut pandang tradisional&lt;br /&gt;menjelaskan bahwa semua unit nefron yang telah terserang penyakit namun dalam stadium berbeda dan bagian-bagian spesifik dari nefron yang berkaitan dengan fungsi tertentu dapat benar-benar rusak dan bertambah strukturnya.&lt;br /&gt;2.hipotesis brichker&lt;br /&gt;bahwa bila nefron terserang penyakit maka seluruh unitnya akan hancur namun sisa nefron yang utuh masih berfungsi&lt;br /&gt;D.Perjalanan klinik&lt;br /&gt;Perjalanan umum gagal progresif dibagi tiga stadium:&lt;br /&gt;1.Stadium Satu&lt;br /&gt;Penurunan cadangan ginjal dimana, kreatinin, serum, dan kadar BUN normal dan penderita asimtomatik. Gangguan fungsi ginjal mungkin hanya dapat diketahui dengan memberikan beban kerja yang berat pada ginjal tersebut. Misalnya: tes pemekatan kemih yang lama atau dengan mengadakan tes GFR.&lt;br /&gt;2.Stadium dua&lt;br /&gt;Insufisiensi ginjal dimana lebih dari 75% jaringan yang berfungsi telah rusak BUN mulai menigkat.&lt;br /&gt;3.Stadium Tiga&lt;br /&gt;Stadium akhir gagal ginjal progresif adalah gagal ginnjal kronik atau uremia (90% nefron hancur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.Manifestasi klinik&lt;br /&gt;Karena ginjal kronik, maka setiap sistem tubuh dipengaruhi oleh kondisi uremia, maka pasien akan memperlihatkan tnda dan gejala:&lt;br /&gt;1.Manifestasi kardiovaskuler mencakup hipertensi, penyakit jantung koroner, edema pulmonal, perikarditis.&lt;br /&gt;2.Gejala dermatologi&lt;br /&gt;Pruritus&lt;br /&gt;3.Gejala gastrointestinal&lt;br /&gt;Anoreksia, mual muntah&lt;br /&gt;4.neuromuskuler&lt;br /&gt;kesadaran berubah tidak mampu berkonsentrasi, kedutan otot, kejang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F.Penatalaksanaan&lt;br /&gt;Tujuan penatalaksanaan untuk mempertahankan fungsi ginjal dan homeostasis selama mungkin. Seluruh faktor yang berperan dalam gagal ginjal kronik.&lt;br /&gt;Obat anti hipertensi, eritropoietin suplemen besi, agen pengikat fosfat dan kalsium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G.Pengkajian&lt;br /&gt;1.Aktifitas/istirahat&lt;br /&gt;Gejala:&lt;br /&gt;Kelelahan ekstrim, kelemahan, malaise, gangguan tidur&lt;br /&gt;Tanda:&lt;br /&gt;Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak&lt;br /&gt;2.Sirkulasi&lt;br /&gt;Gejala:&lt;br /&gt;Riwayat hipertensi lama dan berat, palpitasi, nyeri dada (angina)&lt;br /&gt;Tanda:&lt;br /&gt;Hipertensi, DVJ, nadi kuat, edema jaringan umum, pitting pada kaki, telapak tangan pada kaki, disritmia jantung, nadi lemah, halus, hipotensi ortostatik menunjukkan hipovolemi, pucat, kulit coklat kehijauan, kuning.&lt;br /&gt;3.Integritas ego&lt;br /&gt;Gejala:&lt;br /&gt;Faktor stres, contoh finansial, hubungan, dan sebagainya, perasaan tak berdaya, tak ada harapan, tak ada kekuatan.&lt;br /&gt;Tanda:&lt;br /&gt;Menolak, ansietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan kepribadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Eliminasi&lt;br /&gt;Gejala:&lt;br /&gt;Penurunan frekuensi urin, oliguria, anuria, abdomen kembung, diare, atau konstipasi&lt;br /&gt;Tanda:&lt;br /&gt;Perubahan warna urin, contoh: kuning pekat, merah, coklat, berawan, oliguria dapat menjadi anuria.&lt;br /&gt;5.Makanan/cairan&lt;br /&gt;Gejala:&lt;br /&gt;Peningkatan berat badan cepat(edema),penurunan berat badan(malnutrisi),anoreksia, nyeri ulu hati,mual muntah,rasa metalik tak sedap pada mulut(pernapasan amonia),penggunaan diuretik.&lt;br /&gt;Tanda:&lt;br /&gt;Distensi abdomen(asites),pembesaran hati(tahap akhir),perubahan turgor kulit\kelembaban,edema,ulserasi gusi,perdarahan gusi \lidah,penurunan otot,penurunan lemak subcutan,penampilan tak bertenaga.&lt;br /&gt;6.Neorosensori&lt;br /&gt;Gejala:&lt;br /&gt;Sakit kepala,penglihatan kabur, kram otot,kejang.&lt;br /&gt;Tanda:&lt;br /&gt;Gangguan status muntah,contoh penurunan lapang perhatian,ketidak manpuan berkonsenterasi,kehilangan memori, kacau.&lt;br /&gt;7.Nyeri/kenyamanan&lt;br /&gt;Gejala:&lt;br /&gt;Nyeri panggul,sakit kepala,kram otot\nyeri kaki(memburuk pada malam hari)&lt;br /&gt;Tanda:&lt;br /&gt;Perilaku berhati-hati/distraksi,gelisah.&lt;br /&gt;8.Pernapasan&lt;br /&gt;Gejala:&lt;br /&gt;Napas pendek,dispnea nokturnalparoksismal,batuk dengan\tanpa sputum kental,dan banyak.&lt;br /&gt;Tanda:&lt;br /&gt;Thipnea,dispnea,peningkatan frekuensi\kedalaman,batuk produktif.&lt;br /&gt;9.Keamanan&lt;br /&gt;Gejala:&lt;br /&gt;Kulit gatal.&lt;br /&gt;Tanda:&lt;br /&gt;Pruritus&lt;br /&gt;10.Seksualitas&lt;br /&gt;Gejala:&lt;br /&gt;Penurunan libido,amenore,abnormalitas.&lt;br /&gt;11.Interaksi Sosial&lt;br /&gt;Gejala:&lt;br /&gt;Kesulitan menentukan kondisi,contohtak mampu bekerja,mempertahankanfungsi peran biasanyadalam keluarga.&lt;br /&gt;12.Penyuluhan/pembelajaran&lt;br /&gt;Gejala:&lt;br /&gt;Riwayat DM keluarga,penyakit polikistik,nefritis herediter,kalkulus urinaria,maglinasi.&lt;br /&gt;H.Diagnosa keperawatan&lt;br /&gt;Penurunan curah jantung&lt;br /&gt;Gangguan integritas kulit &lt;br /&gt;Kelebihan volume cairan&lt;br /&gt;IIntervensi keperawatan&lt;br /&gt;Diagnosa I&lt;br /&gt;•Auskultasi bunyi jantung dan paru&lt;br /&gt;•Observasi tekanan darah&lt;br /&gt;•Selidiki keluhan yeri&lt;br /&gt;•Awasi pemeriksaan laboratorium:kalium,natrium,kalsium,magnesium,BUN.&lt;br /&gt;Diagnosa II&lt;br /&gt;•Inspeksi kulit terhadap perubahan warna, turgor, vaskuler, perhatikan kemerahan, observasi terhadap emosi, ekimosis, purpura&lt;br /&gt;•Pantau masukan cairan dan hidrasi kulit serta membran mukosa.&lt;br /&gt;•Inspeksi area tergantung pada edema&lt;br /&gt;•Berikan perawatan kulit, batasi penggunaan sabun&lt;br /&gt;Diagnosa III&lt;br /&gt;•Pertahankan pencatatan volume cairan, intake dan output.&lt;br /&gt;•Perhatikan adanya edema perifer, pernapasan gemercik, dispnoe, ortopnoe, distensi vena leher.&lt;br /&gt;•Perhatikan perubahan mental.&lt;br /&gt;•Awasi kadar natrium serum&lt;br /&gt;J.Evaluasi&lt;br /&gt;Mempertahankan curah jantung dengan bukti tekanan darah dan frekuensi jantung dalam batas normal, nadi perifer kuat, dan sama dengan waktu pengisian kapiler.&lt;br /&gt;mempertahankan kulit utuh, mencegah terjadinya cedera kulit.&lt;br /&gt;mempertahankan keseimbangan cairan dibuktikan dengan berat badan dan tanda vital stabil, turgor kulit baik, membran mukosa lembab, tak ada perdarahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Brunner &amp; Suddarth, 2001. Keperawatan Medikal Bedah, volume 2. EGC: Jakarta.&lt;br /&gt;Doenges, Moorhouse, Geissler, 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC: Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-952779740759113671?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/952779740759113671/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/chronic-kidney-diseaseckd.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/952779740759113671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/952779740759113671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/chronic-kidney-diseaseckd.html' title='ASKEP CHRONIC KIDNEY DISEASE(CKD)'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-5675390170158976533</id><published>2010-02-01T05:20:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T20:53:05.637-08:00</updated><title type='text'>ASKEP PENYAKIT MENIERE</title><content type='html'>A.Pengertian&lt;br /&gt;Penyakit meniere adalah suatu kelainan labirin yang etiologinya belum diketahui dan mempunyai trias gejala yang khas,yaitu gangguan pendengaran,tinnitus dan serangan vertigo (Kapita Selekta Edisi 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.Etiologi&lt;br /&gt;Etilogi dari penyakit ini belum diketahui secara pasti namun diduga adalah merupakan:&lt;br /&gt;1.Pengaruh neurokimia dan hormonal abnormal pada aliran darah yang menuju ke labirin.&lt;br /&gt;2.Gangguan elektrolit dalam cairan labirin.&lt;br /&gt;3.Reaksi alergi.&lt;br /&gt;4.Gangguan autoimun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Patofisiologi.&lt;br /&gt;Hidrops (pembengkakan) endolif akibat endolif dalam skala media oleh stria vaskularis terhambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Manifestasi Klinik&lt;br /&gt;Meniere ditandai oleh 4 (empat) gejala :&lt;br /&gt;Kehilangan pendengaran sensorineoral progresif.&lt;br /&gt;Plukteatif &lt;br /&gt;Tinitus atau suara berdenging.&lt;br /&gt;Veritgo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Pemeriksaan Penunjang&lt;br /&gt;1.Tes gliserin :pasien diberikan minuman gliserin 1,2 ml/kg BB setelah diperiksa tes kalori dan audiogram.setelah dua jam diperiksa kembali dan dibandingkan.&lt;br /&gt;2.Audiogram :tuli sensorineural,terutama nada rendah dan selanjutnya dapat ditemukan rekrutinen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Penatalaksanaan&lt;br /&gt;Pasien harus dirawat di rumah sakit, berbaring dalam posisi yang meringankan keluhan diberikan diet rendah garam dan pemberian diuretik ringan.obat-obatan sistomatik anti vertigo seperti dimenhidrinat 3x50 mg atau prometazin 3x25 mg,obat vasodilator perofer seperti papaverin dan betahistin,atau operasi shunt.dapat pulah diberikan obat antiiskemia dan neurotonik.adaptasi dengan latihan dan fisioterapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASUHAN KEPERAWATAN.&lt;br /&gt;1. Pengkajian&lt;br /&gt;Fokus dari pengkajian keperawatan untuk pasien dengan penyakit meniere adalah diarahkan kepada pengamatan terhadap makan makanan yang tinggi kandungan vasoaktifnya,riwayat trauma, riwayat hipertensi, riwayat alergi, faktor stres, emosional sakit kepala yang hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;1.Resiko tinggi cedera b/d perubahan mobilitas karena gangguan cara jalan dan vertigo.&lt;br /&gt;2.Ansietas b/d ancaman,atau perubahan status kesehatan dan efek ketidakmampuan vertigo.&lt;br /&gt;3.Resiko terhadap trauma b/d kesulitan keseimbangan.&lt;br /&gt;4.Kurang perawatan diri,makan,mandi/higiene,berpakaian/berdandan,toileting,b/d disfungsi labirin dan vertigo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Intervensi Keperawatan&lt;br /&gt;1.Diagnosa : Resiko tinggi cedera b/d perubahn mobilitas karena gangguan cara jalan dan vertigo.&lt;br /&gt;Tujuan :Tetap bebas dari cedera yang berkaitan dengan ketidakseimbangan dan/jatuh Intervensi :&lt;br /&gt;Kaji vertigo yang meliputi riwayat, amitan, gambaran serangan, durasi, frekuensi, dan adanya gejala telinga yang terkait kehilangan pendengaran, tinitus, rasa penuh di telinga.&lt;br /&gt;Rasional : Riwayat memberikan dasar untuk intervensi selanjutnya.&lt;br /&gt;Kaji luasnya ketidakmampuan dalam hubungannya dengan aktivitas hidup sehari-hari.&lt;br /&gt;Rasional : Luasnya ketidakmampuan menurunkan resiko jatuh.&lt;br /&gt;Ajarkan atau tekankan terapi vestibular/keseimbangan sesuai ketentuan&lt;br /&gt;Rasional : Latihan mempercepat kompensasi labirin yang dapat mengurangi vertigo dan gangguan cara jalan. &lt;br /&gt;Berikan atau ajari cara pemberian obat anti vertigo aaaaaadan atau obat peneang vestibular serta beri petunjuk pada pasien mengenai efek sampingnya.&lt;br /&gt;Rasional :Menghilangkan gejala akut vertigo.&lt;br /&gt;Dorong pasien untuk berbaring bila merasa pusing,dengan pagar tempat tidur dinaikkan.&lt;br /&gt;Rasional :Mengurangi kemungkinan jatuh dan cedera.&lt;br /&gt;Letakkan bantal pada kedua sisi kepal untuk membatasi gerakkan&lt;br /&gt;Rasional :Gerakkan akan memperberat vertigo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Diagnosa; Ansietas b/d ancaman,atau perubahan status kesehatan dan efek ketidakmampuan vertigo.&lt;br /&gt;Tujuan : Mengurangi atau tidak mengalami ansietas.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;oKaji tingkat ansietas. Bantu pasien mengidentifikasi keterampilan koping yang telah dilakukan dengan berhasil pada masa lalu.&lt;br /&gt;Rasional : Memandukan intervensi terapeutik dan partisipatif dalam perawatan diri, keterampilan koping pada masa lalu dapat mengurangi ansietas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oBeri informasi mengenai vertigo dan penanganannya.&lt;br /&gt;Rasional :  Meningkatkan pengetahuan membantu mengurangi ansietas&lt;br /&gt;oDorong pasien  mendiskusikan ansietas dan gali keprihatinan mengenai serangan vertigo.&lt;br /&gt;Rasional :Meningkatkan kesadaran dan pemahaman hubungan antara tingkat antietas dan perilaku.&lt;br /&gt;oAjarkan pasien teknik penatalaksanaan stress atau lakukan rujukan bila perluh.&lt;br /&gt;Rasional : Memperbaiki manajemen stress, mengurangi frekwensi dan beratnya serangan fertigo.&lt;br /&gt;oBeri upaya kenyamanan dan hindari aktivitas yang menyebebkan stress&lt;br /&gt;Rasional : situasi penuh stress dapat memperberat gejala kondisi ini..&lt;br /&gt;oInstruksikan pasien dalam aspek program pengobatan&lt;br /&gt;Rasional : pengetahuan pasien membantu mengurangi ansietas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Diagnosa : Resiko terhadap trauma b/d kesulitan keseimbangan.&lt;br /&gt;Tujuan :  Mengurangi resiko trauma dengan mengadaptasi lingkungan rimah dan dengan menggunakan alat rehabilitatif bila perlu.&lt;br /&gt;Intervensi : &lt;br /&gt;•Lakukan pengkajian untuk gangguan keseimbangan dan /atau fertigo dengan menarik riwayat dan dengan pemeriksaan adanya nistagmus, romberg positif, dan ketidak mampuan melakukan romberg tandem.&lt;br /&gt;Rasional : Kelainan vestibuler perifer menyebabkan gejala dan tanda ini.&lt;br /&gt;•Bantu ambulasi bila ada indikasi&lt;br /&gt;Rasional : Cara jalan yang abnormal yang dapat membuat pasien tidak      bisa tegak dan jatuh&lt;br /&gt;•Lakukan pengkajian ketajaman penglihatan dan defisit proprioseptif&lt;br /&gt;Rasional : keseimbangan tergantung pada sistem visual, vestibuler dan propriosep&lt;br /&gt;•Dorong peningkatan tingkat aktivitas dengan atau tanpa menggunakan alat bantu&lt;br /&gt;Rasional : peningkatan aktivitas dapat membantu mencapai kembali   sistem keseimbangan.&lt;br /&gt;•Bantu mengidentifikasi bahaya dilingkungan rumah&lt;br /&gt;Rasional : Adaptasi terhadap lingkungan rumah dapat menurunkan resiko jatuh selama proses rehabilitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Diagnosa : Kurang perawatan diri, makan, mandi atau higienic, berpakaian atau berdandan, toileting b/d disfungsi labirin dan fertigo.&lt;br /&gt;Tujuan : bergabung dalam aktivitas pengalih&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;•Kaji tingkat dan jenis aktivitas pengalih untuk merencanakan aktivitas yang sesuai.&lt;br /&gt;Rasional : Kebosanan dapat terlihat, begitu juga depresi, membantu menentukan toleransi maupun kesukaan.&lt;br /&gt;•Diskusikan pola aktivitas pengalih yang biasa dengan pasien. Berikan kesempatan untuk melanjutkan aktivitas pengalih yang sangat berarti.&lt;br /&gt;Rasional : Untuk menyediakan informasi mengenai stresor yang nyata maupun yang dirasakan yang mempengaruhi tingkat aktivitas, mendukung rasa harga diri dan produktifitas pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tindakan/Implementasi&lt;br /&gt;a) Resiko tinggi cedera&lt;br /&gt;o Mengkaji vertigo yang meliputi riwayat, awitan, gambaran seragam, durasi, frekwensi adanya gejala telinga yang terkait ( kehilangan pendengaran, tinitus, rasa penuh ditelinga ).&lt;br /&gt;oMengkaji luasnya ketidak mampuandalam hubungannya dengan aktivitas hidup sehari-hari&lt;br /&gt;oMengajarkan atau menekankan terapi vestibuler/keseimbangan yang sesuai dengan ketentuan.&lt;br /&gt;oMemberikan atau mengajari cara pemberian obat anti vertigo dan atau obat penenangvestibuler serta memberi petunjuk pada pasien mengenai efek sampingnya.&lt;br /&gt;oMendorong pasien untuk berbaring bila merasa pusing, dengan pagar tempat tidur dinaikan.&lt;br /&gt;oMeletakan bantal pada kedua sisi kepala untuk membatasi gerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b)Ansietas&lt;br /&gt;oMengkaji tingkat ansietas. Membantu pasien mengidentifikasi keterampilan koping yang telah dilakukan dengan berhasil pada masa lalu.&lt;br /&gt;oMemberikan informasi mengenai vertigo dan penanganannya&lt;br /&gt;oMendorong pasien mendiskusikan ansietas dan menggali keprihatinan mengenai serangan vertigo&lt;br /&gt;oMengajarkan pasien teknik penatalaksanaanstress atau melakukan rujukan bila perlu.&lt;br /&gt;oMemberikan upaya kenyamanan dan mungkin dari aktivitas yang menyebabkan stres.&lt;br /&gt;oInstruksikan pasien dalam aspek program pengobatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c)Resiko terhadap trauma&lt;br /&gt;oMelakukan pengkajian untuk gangguan keseimbangan dan atau vertigo dengan menarik riwayat dan dengan pemeriksaan adanya nistagmus, romberg positif, dan ketidakmampuan melakukan romberg tandem.&lt;br /&gt;oMembantu ambulasi bila ada indikasi&lt;br /&gt;oMelakukan pengkajian ketajaman penglihatan devisit proprioseptif&lt;br /&gt;oMendorong peningkatan aktivitas dengan atau tanpa menggunakan alat bantu.&lt;br /&gt;oMembantu mengidentifikasi bahaya dilingkungan rumah&lt;br /&gt;d)Kurang perawatan diri, makan, mandi/higiene, berpakaian/berdandan, toileting&lt;br /&gt;oMengkaji tingkat dan jenis aktivitas pengalih untuk merencanakan aktivitas yang sesuai .&lt;br /&gt;oMendiskusikan pola aktivitas pengalih yang biasa dengan pasien. Memberikan kesempatan untuk melanjutkan aktivitas pengalih yang sangat berarti&lt;br /&gt;5. Evaluasi&lt;br /&gt;Hasil yang diharapkan :&lt;br /&gt;1.Memperlihatkan adanya pengurangan resiko cedera :&lt;br /&gt;•Klien mengerti dan mampu mengikuti terapi vestibular&lt;br /&gt;•Klien tahu dan mengerti cara meminum obat yang benar dan efek samping obat&lt;br /&gt;•Dan mempertahankan tirah baring bila merasa pusing.&lt;br /&gt;2.Memperlihatkan penurunan ansietas atau tidak mengalami ansietas :&lt;br /&gt;•Melaporkan atau mendiskusikan ansietas&lt;br /&gt;•Mengikuti teknik penatalaksanan stress&lt;br /&gt;•Memperlihatkan kenyamanan&lt;br /&gt;•Menghindari aktivitas yang menyebabkan stress&lt;br /&gt;3.Memperlihatkan adanya pengurangan resiko terhadap trauma :&lt;br /&gt;•Memperlihatkan peningkatan aktivitas tanpa menggunakan alat bantu&lt;br /&gt;•Mampu mengidentifikasi bahaya dilingkungan rumah&lt;br /&gt;4.memperlihatkan perubahan atau peningkatan personal hygiene ;&lt;br /&gt;•Melakukan aktivitas yang sesuai dengan jenis aktivitas pengalih&lt;br /&gt;•Melaporkan pola aktivitas pengalih&lt;br /&gt;•Mampu melanjutkan aktivitas pengalih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-5675390170158976533?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/5675390170158976533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/penyakit-meniere.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/5675390170158976533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/5675390170158976533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/penyakit-meniere.html' title='ASKEP PENYAKIT MENIERE'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-9203154506672486699</id><published>2010-02-01T05:15:00.001-08:00</published><updated>2010-02-01T05:15:10.095-08:00</updated><title type='text'>ASKEP KATARAK</title><content type='html'>A.KONSEP DASAR MEDIK&lt;br /&gt;1.1Pengertian&lt;br /&gt;Katarak adalah opasitas lensa kristalina yang normalnya jernih dan merupakan suatu daerah yang berkabut dan keruh didalam lensa. &lt;br /&gt;Pada stadium dini pembentukan katarak, protein dalam serabut-serabut lensa dibawah kapsul mengalami denaturasi. Lebih lanjut protein tadi berkoagul;asi membentuk daerah keruh menggantikan serabut-serabut protein lensa yang dalam keadaan normal seharusnya transparan.&lt;br /&gt;Bila  suatu katarak telah menghalangi cahaya dengan hebat sehingga sangat mengganggu penglihatan, maka keadaan itu perlu diperbaiki dengan cara mengangkat lensa melalui operasi. Bila ini dilakukan, maka mata kehilangan sebagaian besar daya biasnya, dan harus digantikan dengan lensa konveks berdaya penuh didepan mata, atau sebuah lensa buatan ditanam didalam mata pada tempat lensa dikeluarkan.&lt;br /&gt;1.2Etiologi&lt;br /&gt;Sebagian besar katarak yang disebut katarak senilis, terjadi akibat perubahan-perubahan degeneratif yang berhubungan dengan pertambahan usia. Pajanan terhadap sinar matahari selama hidup, alkohol, merokok dan asupan vitamin antioksidan yang kurang dalam jangka waktu yang lama serta predisposisi herediter berperan dalam munculnya katarak senilis. &lt;br /&gt;Katarak dapat timbul pada usia berapa saja setelah trauma lensa, infeksi mata, atau akibat pajanan radiasi atau obat tertentu. Janin yang tepajan virus rubella dapat mengalami katarak. Para pengidap diabetes melitus kronik sering mengalami katarak, yang kemungkinan besar disebabkan oleh gangguan aliran darah ke mata dan perubahan penanganan dan metabolisme glukosa.&lt;br /&gt;1.3Patofisiologi dan Dampak Pada penyimpangan KDM&lt;br /&gt;Lensa yang normal adalah struktur yang posterior iris yang jernih, transparan, berbentuk seperti kancing baju, mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleus, di perifer ada korteks, dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsul anterior dan posterior. Dengan bertambahnya usia, nukleus mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan. Di sekitar opasitas terdapat densitas seperti duri di anterior dan posterior nukleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna nampak seperti kristal salju pada jendela.&lt;br /&gt;Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi. Perubahan pada serabut halus multipel (zunula) yang memanjng dari badan silier ke sekitar daerah diluar lensa, misalnya dapat menyebabkan penglihatan mengalami distorsi. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnta protein lensa normal terjadi disertai influks air kedalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak.&lt;br /&gt;Katarak biasanya terjadi bilateral, namun mempunyai kecepatan yang berbeda. Dapat disebabkan oleh kejadian trauma maupun sistemis, seperti diabetes melitus, namun merupakan konsekuensi dari proses penuaan yang normal. Kebanyakan katarak berkembang secara kronik dan matang ketika seseorang memasuki dekade ke tujuh.  Katarak dapat bersifat kongenital dan harus diidentifikasi awal, karena bila tidak terdiagnosis dapat menyebabkan  ambliopia dan kehilangan penglihatan permanen. &lt;br /&gt;1.4Manifestasi Klinis&lt;br /&gt; Penurunan ketajaman penglihatan, silau dan gangguan fungsional sampai derajat tertentu.&lt;br /&gt;pengembunan seperti mutiara keabuanpada pupil sehingga retina tidak akan tampak dengan oftalmoskop.&lt;br /&gt;Pandangan kabur atau redup, menyilaukan dengan distorsi  bayangan dan susah melihat di malam hari.&lt;br /&gt; Pupil yang normalnya hitam akan tampak kekuningan, abu-abu atau putih.&lt;br /&gt;1.5Diagnostik Tes Yang Lasim&lt;br /&gt;Selain uji mata yang biasa, keratometri dan pemeriksaan lampu slit dan oftalmoskopis, maka A-scan ultrasound (echography) dan hitung sel endotel sangat berguna sebagai alat diagnostik, khususnya bila dipertimbangkan akan di lakukan pembedahan. Dengan hitung sel endotel 2000 sel/mm3, pasien merupakan kandidat yang baik untuk dilakukan fakoemulsifikasi dan implantasi IOL.&lt;br /&gt;1.6Penatalaksanaan Medis&lt;br /&gt;Pengobatan berupa eksisi seluruh lensa untuk diganti oleh lensa buatan, atau fragmentasi lensa dengan ultrasound atau laser, diikuti oleh aspirasi fragmen dan penggantian lensa.&lt;br /&gt;Pembedahan diindikasikasikan bagi yang memerlukan penglihatan akut untuk bekerja atau keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASUHAN KEPERAWATAN KATARAK&lt;br /&gt;PENGKAJIAN&lt;br /&gt;     Data-data yang perlu dikaji pada asuha keperawatan dengan katarak adalah :&lt;br /&gt;      1. Riwayat perjalanan penyakit&lt;br /&gt;a. Pola aktivitas/istirahat&lt;br /&gt;        Gejala : Perubahan aktivitas biasanya/hoby sehubungan dengan gangguan penglihatan.&lt;br /&gt;b. Pola nutrisi&lt;br /&gt;       Gejala : Mual/muntah (glaukoma akut)&lt;br /&gt;c. Pola neurosensori&lt;br /&gt;       Gejala : Gangguan penglihatan (kabur/tak jelas), sinar terang menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer,kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/ merasa diruang gelap.&lt;br /&gt;   d. Pola penyuluhan/pembelajaran&lt;br /&gt;       Gejala : Riwayat keluarga glaukoma, diabetes, gangguan sistem vaskuler, riwayat stress, alergi, ketikseimbangan endokrin, terpajan pada radiasi, steroid/toksisitas fenotiazin.&lt;br /&gt;DIAGNOSA KEPERWATAN&lt;br /&gt;1.Ketakutan atau ansietas yang berhubungan dengan kerusakan sensori dan kurangnya pemahaman mengenai perawatan pascaoperatif, pemberian obat.&lt;br /&gt;2.Resiko terhadap cedera yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan atau kurang pengetahuan.&lt;br /&gt;3.Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasif (bedah pengangkatan katarak)&lt;br /&gt;4.Nyeri yang berhubungan dengan trauma peningkatan TIO,inflamasi intervensi bedah, atau pemberian tetes mata dilator.&lt;br /&gt;5.Potensial terhadap kurang perawatan diri yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTERVENSI KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1.Ketakutan atau ansietas yang berhubungan dengan kerusakan sensori dan kurangnya pemahaman mengenai perawatan pascaoperatif, pemberian obat.&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi: menurunkan stress emosional, ketakutan dan      depresi, penerimaan pembedahan dan pemahaman instruksi.&lt;br /&gt;Kaji derajat dan durasi gangguan visual. Dorong percakapan untuk mengetahui keprihatinan, perasaan dan tingkat pemahaman.&lt;br /&gt;R/:Informasi dapat menghilangkan ketakutan yang tidak  diketahui. &lt;br /&gt;Orientasika pasien pada lingkungan yang baru.&lt;br /&gt;R/:  pengenalan terhadap lingkungan membantu mengurangi   ansietas dan meningkatkan ansietas.&lt;br /&gt; Jelaskan rutinitas operatif&lt;br /&gt;R/:  pasien yang telah mendapat mendapat informasi lebih    mudah menerima penanganan dan mematuhi instruksi.&lt;br /&gt;Jelaskan intervensi sedetil-detilnya&lt;br /&gt;R/: pasien yang mengalami gangguan visual bergantung pada masukan indera lai untuk mendapatkan informasi.&lt;br /&gt;Dorong untuk menjalankan kebiasaa hidup seharihari bila mampu.&lt;br /&gt;R/: perawatan diri dan kemandirian akan meningkatkan rasa sehat&lt;br /&gt;Dorong partisipasi keluarga atau orang yang berarti dalam perawatan pasien.&lt;br /&gt;R/: pasien mungkin tak mampu melakukan semua tugas sehubungan dengan penanganan dan perawatan diri.&lt;br /&gt;Dorong partisipasi dalam aktivitas sosial dan pengalihan bila memungkinkan.&lt;br /&gt;R/:isolasi sosial dan waktu luang yang terlau lama dan menimbulkan perasaan negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Resiko terhadap cedera yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan atau kurang pengetahuan.&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi: dapat menurunkan resiko terjadinya cedera.&lt;br /&gt;Bantu pasien ketika mampu melakukan ambulasi pascaoperasi sampai stabil dan sampai mencapai penglihatan dan ketrampilan koping yang memadai.&lt;br /&gt;R/:   menurunkan resiko jatuh atau cedera ketika langkah sempoyongan atau tidak mempunyai ketrampilan koping untuk kerusakan penglhatan.    &lt;br /&gt;Bantu pasien manata lingkungan&lt;br /&gt;R/: memfasilitasi kemendirian dan menurunkan resiko cedera&lt;br /&gt;Orientasikan pasien pada ruangan&lt;br /&gt;R/: meningkatkan keamanan mobilitas dalam lingkungan.&lt;br /&gt;Bahas perlunya penggunaan perisai metal atau kacamata bila diperlukan.&lt;br /&gt;R/: temeng logam atau kaca mata melindungi mata terhadap cedera.&lt;br /&gt;Jangan memberikan tekanan pada mata yang terkena trauma&lt;br /&gt;R/:tekanan pada mata dapat menyebabkan kerusakan serius   lebih lanjut.&lt;br /&gt;Gunakan prosedur yanga memadai ketika memberikan obat mata.&lt;br /&gt;R/: cedera dapat terjadi bila wadah obat menyentuh mata.&lt;br /&gt;3. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasif (bedah pengangkatan katarak)&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi : menunjukan peningkatan penyembuhan luka tepat waktu, bebas drainase purulen, eritema dan demam.&lt;br /&gt;Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh/mengobati mata.&lt;br /&gt;R/:menurunkan jumlah bakteri pada tangan, mencegah kontaminasi area operasi.&lt;br /&gt;Gunakan teknik yang tepat untuk embersihkan mata dari dalam keluar dengan tisu basah/bola kapas untuk tiap usapan, ganti balutan, dan masukan lensa kontak bila menggunakan.&lt;br /&gt;R/:tehnik aseptik menurunkan resiko penyebaran bakteri dan kontaminasi silang.&lt;br /&gt;Tekankan untuk tidak menyentuh/ menggaruk mata yang dioperasi.&lt;br /&gt;R/: mancegah kontaminasi dan kerusakan sisi operasi&lt;br /&gt;Observasi tanda terjadinya infeksi.&lt;br /&gt;R/:Infeksi mata terjadi 2-3 hari setelah prosedur dan memerlukan upaya intervensi.&lt;br /&gt;Berikan obat sesuai indikasi.&lt;br /&gt;R/:Sediaan topikal digunakan secara profilaksis, dimana terapi lebih diperlukan bila terjadi infeksi.&lt;br /&gt;4.Nyeri yang berhubungan dengan trauma peningkatan TIO,inflamas intervensi bedah, atau pemberian tetes mata dilator.&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi: &lt;br /&gt;Berikan obat untuk mengontrol nyeri dan TIO sesuai resep&lt;br /&gt;R/;pemakaian obat sesuai resep akan mengurangi nyeri dan TIO serta meningkatkan rasa nyaman.&lt;br /&gt;Berikan kompres dingin sesuai permintaan untuk trauma tumpul&lt;br /&gt;R/: mengurangi edema akan mengurangi nyeri. Kurangi tingkat pencahayaan, cahaya diredupkan, diberi tirai/kain.&lt;br /&gt;R/: tingkat pencahayaan yang lebih rendah lebih nyaman setelah pembedahan.&lt;br /&gt;Dorong penggunaan kaca mata hitam pada cahaya kuat.&lt;br /&gt;R/: cahaya yang kuat menyebabkan rasa tak nyaman setelah penggunaan tetes mata dilator.&lt;br /&gt;5.Potensial terhadap kurang perawatan diri yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan.&lt;br /&gt;    Kriteria evaluasi; Klien dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri&lt;br /&gt;Beri instruksi pada pasien atau orang terdekat mengenai tanda dan gejala koplikasi yang harus dilaporkan segera kepada dokter&lt;br /&gt;R/:penemuan dan penenganan awal komplikasi dapat mengurangi resiko kerusaka lebih lanjut.&lt;br /&gt;Beri instruksi lisan dan tertulis untuk pasien dan orang yang berarti mengenai tehnik yang benar memberikan obat.&lt;br /&gt;R/:pemakaian teknik yang benar akan mengurangi resiko infeksi dan cedera mata.&lt;br /&gt;Evaluasi perlunya bantuan setelah pemulangan&lt;br /&gt;R/:sumber daya harus tersedia untuk layanan kesehatan, pendamping dan teman dirumah.&lt;br /&gt;Ajari pasien dan keluarga teknik panduan penglihatan.&lt;br /&gt;R/:memungkinkan tindakan yang aman dalam lingkungan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-9203154506672486699?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/9203154506672486699/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/askep-katarak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/9203154506672486699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/9203154506672486699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/askep-katarak.html' title='ASKEP KATARAK'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-6370524859552500238</id><published>2010-02-01T05:08:00.000-08:00</published><updated>2010-02-01T05:09:45.184-08:00</updated><title type='text'>ASKEP EPILEPSI</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;                                 PENDAHULUAN&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;I.1 Latar Belakang&lt;br /&gt;Epilepsi merupakan suatu gangguan neurologis yang relatif sering terjadi dan merupakan gangguan fungsionaris kronis yang ditandai oleh aktivitas serangan yang berulang. Serangan kejang yang merupakan gejala atau manifestasi utama epilepsi dapat diakibatkan karena kelainan fungsional (motorik dan sensorik/psikis). Serangan tersebut tidak lama, tidak terkontrol serta timbul secara episodic dan berkaitan dengan pengeluaran impuls oleh serebral yang berlebihan dan berlangsung lokal.&lt;br /&gt;Epilepsi oleh Hipocrates diidentifikasi sebagai sebuah masalah yang ada kaitannya dengan otak. Epilepsi dapat menyerang segala kelompok usia, juga segala jenis bangsa dan keturunan diseluruh dunia. Pada kebanyakan kasus mungkin terdapat interaksi antara predisposisi pembawaan dan factor-faktor lingkungan.&lt;br /&gt;Fase dari aktivitas kejang adalah fase prodormal, aura, ikatal, dan poksital. Fase prodormal meliputi perubahan alam perasaan atau tingkah laku yang mungkin mengawali kejang beberap jam/beberapa hari. Fase aura adalah awal dari munculnya aktivitas kejang dan dapat berupa gangguan penglihatan, pendengaran atau rasa raba. Fase ikatal merupakan fase dari aktivitas kejang dan biasanya terjadi gangguan musculoskeletal. Sedangkan fase poksital adalah periode waktu dari kekacauan mental / somnolent / peka rangsang yang terjadi setelah kejang tersebut.&lt;br /&gt;I.2  Rumusan Masalah&lt;br /&gt;Insiden epilepsi sesungguhnya tidak diketahui, namun diperkirakan jumlah penderita epilepsy sekitar 0,5% penduduk. Perkiraan ini menimbulkan baanyak keraguan dan dianggap konservatif apakah suatu serangan kejang dapat dikategorikan sebagai serangan epilepsy. Banyak pasien merahasiakan penyakit ini sebab masyarakat memiliki pandangan yang negatif.  Belajar menyesuaikan diri terhadap diskriminasi sehubungan dengan pekerjaan, pendidikan, dan sosial seringkali lebih sulit dibanding mengatasi epilepsinya sendiri.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian tersebut diatas maka kelompok menyajikan sebuah “term of reference” yaitu bagaimana etiologi, pathofisiologi, manifestasi klinis, penatalaksanaan, dan proses keperawatan pasien dengan epilepsi berdasarkan sebelas pola yang diperkenalkan oleh Gordon Maslow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                       BAB II&lt;br /&gt;                                  TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.1  Pengertian&lt;br /&gt;Epilepsi adalah suatu gangguan serebral kronis dengan berbagai macam etiologi, yang ditandai oleh timbulnya serangan paroksismal yang berkala sebagai akibat lepasnya muatan listrik serebral secara eksesif. Epilepsi juga sering didefenisikan sebagai suatu gangguan serebral yang ditandai dengan kejang akibat pembebasan listrik yang tidak terkontrol dari sel syaraf korteks serebral, yang ditandai dengan serangan tiba-tiba, terjadi gangguan kesadaran ringan, aktivitas motorik dan/gangguan fenomena sensori. Secara umum epilepsy didefenisikan sebagai gejala-komplek dari banyak gangguan fungsi otak yang dikarektiristik dengan kejang berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.2  Etiologi&lt;br /&gt;Secara umum penyebab epilepsi belum diketahui dengan jelas (idiopatik). Penelitian yang dilakukan oleh para ahli belum mampu menjawab secara pasti penyebab terjadinya epilepsi. Namun ada beberapa faktor yang sering mengakibatkan terjadinya kejang yang juga menjadi pemicu terjadinya serangan epilepsi yaitu; akibat trauma jalan lahir, asphyxia neonatorum, cedera kepala, beberapa penyakit infeksi (seperti virus, bakteri dan parasit), keracunan (karbon monooksida), masalah-masalah sirkulasi darah, demam, gangguan metabolisme dan intoksikasi obat-obatan atau alkohol.&lt;br /&gt;Adapun beberapa faktor yang menjadi faktor prepitasi (faktor yang memicu terjadinya serangan) adalah; (1) faktor sensoris (seperti cahaya yang berkedip-kedip, bunyi-bunyi yang mengejutkan, air panas), (2) faktor sistemis (seperti demam, penyakit infeksi, obat-obat tertentu), dan (3) faktor mental (seperti stress dan gangguan emosi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.3  Pathofisiologi&lt;br /&gt;Gejala-gejala yang ditimbulkan akibat serangan epilepsi sebagian karena serangan epilepsi, sebagian karena otak mengalami kerusakan dan berat atau ringannya gangguan tersebut tergantung dari lokasi dan keadaan pathologinya. Bila terjadi lesi pada bagian otak tengah, thalamus dan korteks serebri kemungkinan bersifat epileptogenik. Sedangkan lesi pada serebelum dan batang otak  biasanya tidak meyebabkan serangan epileptik.&lt;br /&gt;Serangan epilepsi terjadi karena adanya lepasan muatan listrik yang berlebihan dari neuron-neuron di susunan syaraf pusat yang terlokalisir pada neuron-neuron tersebut. Gangguan abnormal dari lepasnya muatan listrik ini terjadi karena adanya gangguan keseimbangan antara proses eksesif/eksitasi dan inhibisi pada interaksi neuron. Selain itu hal tersebut diatas juga dapat disebabkan karena gangguan pada sel neuronnya sendiri atau transmisi sinaptiknya. Transmisi sinaptik oleh neurotransmitter yang bersifat eksitasi atau inhibitor dalam keadaan gangguan keseimbangan akan mempengaruhi polarisasi membran sel, sehingga jika sampai pada tingkat membran sel maka neuron epileptik ditandai oleh proses biokimia tertentu yaitu; (1) ketidakstabilan membran sel syaraf sehingga sel mudah diaktifkan, (2) neuron yang hipersensitivitas dengan ambang yang menurun sehingga mudah terangsang secara berturut-turut, (3) kemungkinan terjadi polarisasi yang berlebihan, hyperpolarisasi atau terhentinya repolarisasi, karena terjadi perbedaan potensial listrik lapisan intra sel dan ekstra sel dimana lapisan intra sel lebih rendah, (4) adanya ketidakseimbangan ion yang mengubah lingkungan kimia dari neuron yang menyebabkan membran neuron mengalami depolarisasi.&lt;br /&gt;Neurotransmiter yang bersifat inhibisi akan menimbulkan keadaan depolarisasi yang akan melepaskan muatan listrik secara berlebihan yaitu asetikolin, noradrenalin, dopamine dan hidroksitriptamin.&lt;br /&gt;Penyebaran epileptik dari neuron-neuron kebagian otak lain dapat terjadi oleh gangguan pada kelompok neuron inhibitor yang berfungsi menahan pengaruh neuron lain sehingga terjadi sinkronisasi dan aktivasi yang berulang-ulang sehingga terjadi perluasan sirkuit kortikokortikal melalui serabut asosiasi atau ke kontralateral melalui korpus kalosum, projeksi thallamokortikal difusi, penyebaran keseluruh ARAS sehingga klien kehilangan kesadaran atau gangguan pada formatio retikularis sehingga sistem motoris kehilangan kontrol normalnya, dan menimbulkan kontraksi otot polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.4  Manifestasi Klinis&lt;br /&gt;Bergantung pada lokasi muatan neuron-neuron, kejang dapat direntang dari serangan awal sederhana sampai gerakan konvulsif memanjang dengan hilangnya kesadaran. Pola awal kejang menunjukan daerah otak dimana kejang tersebut berasal. Pada kejang parsial sederhana, hanya satu jari atau tangan yang bergetar, mulut dapat tersentak tanpa terkontrol. Individu berbicara tanpa dipahami, pusing, merasa melihat sinar, bunyi, bau atau rasa yang tidak umum atau tidak nyaman.&lt;br /&gt;Pada kejang parsial kompleks, individu tetap tidak bergerak atau bergerak secara automatik tetapi tidak sesuai dengan tempat dan waktu, mengalami emosi berlebihan seperti takut, marah, gembira atau sensitive terhadap rangsangan.&lt;br /&gt;Pada kejang umum, atau lebih dikenal dengan kejang grand mal, melibatkan kedua hemisfer otak sehingga menyebabkan kedua sisi tubuh bereaksi. Biasanya terjadi kekakuan intens pada seluruh tubuh yang diikuti dengan kejang yang bergantian dengan relaksasi dan kontraksi otot. Klien sering mengalami penekanan pada lidah dan inkontinensia urine dan faeces. Setelah satu atau dua menit gerakan konvulsi akan menghilang, pasien rileks dan mengalami koma dan disertai bunyi napas yang bising. Pada keadaan postikal (setelah kejang) pasien sering mengalami konfusi, sulit bangun dan tidur berjam-jam. Banyak klien mengeluh sakit kepala dan otot setelah serangan berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.5  Evaluasi Diagnosa&lt;br /&gt;Pengkajian diagnostik bertujuan dalam menentukan tipe kejang, frekuensi, beratnya dan faktor-faktor pencetus. Sebuah penelitian dilakukan untuk penyakit atau cedera kepala yang dapat mempengaruhi otak. Selain itu dapat pulah dilakukan pengkajian fisik dan neurologik, haematologi, dan serologic. Pencitraan CT digunakan untuk mendeteksi lesi pada otak, fokal abnormal, serebro-vasculer abnormal, dan perubahan degeneratif serebral.&lt;br /&gt;Elektroenchefalogram (EEG) melengkapi bukti diagnostik dalam proporsi substansial dari pasien epilepsi dan membantu menklasifikasi tipe kejang. Keadaan abnormal pada EEG selalu terus menerus terlihat diantara kejang, atau jika letupan muncul mungkin akibat dari hiperventilasi atau selama tidur. Mikroelektroda dapat dimasukan kedalam otak untuk memeriksa aksi dari sel otak tunggal. Ini perlu dicatat karena ada beberapa orang yang mengalami kejang dengan EEG normal. Telemetri dan alat komputer digunakan untuk mengambil dan sebagai pusat pembacaan EEG dalam pita komputer sambil klien melakukan aktivitasnya.&lt;br /&gt;Selain menggunakan EEG dan CT Scan, dalam menentukan diagnosa epilepsy dapat pulah dilakukan pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan kadar elektrolit, glukosa, ureum/kratinin dan sel darah merah. Selain itu dapat pula dilakukan foto rontgen untuk mengidentifikasi adanya fraktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.6  Penatalaksanaan&lt;br /&gt;Penatalaksanaan epilepsi dilakukan secara individual untuk memenuhi kebutuhan khusus masing-masing pasien dan tidak hanya untuk mengatasi tetapi juga mencegah kejang. Penatalaksanaan yang berbeda ini disebabkan karena bentuk epilepsy yang muncul akibat kerusakan otak dan juga bergantung pada perubahan kimia otak.&lt;br /&gt;Penatalaksanaan pada penderita epilepsi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu; penatalaksanaan primer dan penatalaksanaan sekunder. Penatalaksanaan primer epilepsi dilakukan dengan memberikan obat-obatan untuk mencegah serangan kejang atau untuk mengurangi frekuensinya sehingga klien dapat menjalani kehidupan normalnya. Obat yang diberikan disesuaikan dengan jenis serangannya dan biasanya menggunakan kombinasi obat-obatan dengan tujuan untuk mengurangi efek samping yang ditimbulkan. Namun saat ini dokter  cenderung menggunakan satu jenis obat dengan sedapat mungkin mengurangi dosis obat yang diberikan.&lt;br /&gt;Jenis obat yang sering digunakan pada pengobatan epilepsi adalah; &lt;br /&gt;Golongan Barbiturat, seperti Fenobarbital dan Pirimidon&lt;br /&gt;Golongan Hidantoin, seperti Fanitoin/Dilantin dan Mefenitoin&lt;br /&gt;Golongan Iminostilben, seperti Karbamazepin&lt;br /&gt;Golongan Benzodiazepin, seperti Diazepam dam Klonazepam&lt;br /&gt;Golongan Suksinimid, seperti Etosuksimid dan Metosuksimid&lt;br /&gt;Golongan Asam valproat/depakene.&lt;br /&gt;Pengobatan epilepsy dapat juga dilakukan dengan pembedahan. Pembedahan ini diindikasikan bagi untuk pasien yang mengaalami epilepsi akibat tumor intrakranial, abses, kista, atau adanya anomali vaskuler.&lt;br /&gt;Penatalaksanaan sekunder yang dapat dilakukan adalah dengan mempertahankan patensi jalan napas dan mencegah terjdinya cedera. Mempertahankan klien dalam posisi berbaring kesalah satu sisi dapat mengurangi kemungkinan aspirasi isi lambung dan saliva serta mencegah lidah jatuh kebelakang. Mencegah terjadinya cedera dilakukan dengan melindungi kepala saat terjadi serangan serta memindahkan benda-benda yang dapat membahayakan penderita. Selain itu penting dilakukan pendekatan secara holistik yang meliputi aspek psikologis penderita dan sikap keluarga, masyarakat terhadap penderita epilepsi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.7  Proses Keperawatan&lt;br /&gt;Asuhan Keperawatan yang diberikan kepada klien dengan epilepsy adalah berdasarkan pada tahapan-tahapan dalam proses keperawatan. Tahapan-tahapan tersebut meliputi pengkajian, penentuan diagnosa, perencanaan, implementasi, dan evalusi.&lt;br /&gt;a)Pengkajian&lt;br /&gt;Pada tahap ini perawat mengumpulkan semua informasi termasuk tentang riwayat kejang. Hal-hal yang perlu dikaji antara lain:&lt;br /&gt;Riwayat kesehatan yang berhubungan dengan faktor resiko bio-psiko-sosial-spiritual.&lt;br /&gt; Aktivitas/Istirahat&lt;br /&gt;Data Subyektif :  Keadaan umum lemah, lelah, menyatakan keterbatasan aktifitas, tidak dapaat merawat diri sendiri.&lt;br /&gt;Data Obyektif   :   Menurunnya kekuatan otot/otot yang lemah&lt;br /&gt;Peredaran darah&lt;br /&gt;Data Obyektif : Data yang diperoleh saat serangan yaitu; hipertensi, denyut nadi meningkat, cyanosis. Setelah serangan tanda-tanda vital dapat kembali normal atau menurun, disertai nadi dan pernapasan menurun. &lt;br /&gt;Eliminasi&lt;br /&gt;Data Subyektif :   Tidak dapat menahan BAB/BAK&lt;br /&gt;Data Obyektif :   Saat serangan terjadi peningkatan tekanan pada kandung kemih dan otot spincter, setelah serangan dalam keadaan inkontinentia otot-otot kandung kemih dan spincter rileks.&lt;br /&gt;Makanan/cairan&lt;br /&gt;Data Subyektif :   Selama aktivitas serangan makanan sangat sensitive&lt;br /&gt;Data Obyektif  :   Gigi/gusi mengalami kerusakan selama serangan, gusi hiperplasia/bengkak akibat efek samping dari obat dilantin.&lt;br /&gt;Persyarafan&lt;br /&gt;Data Subyektif :  Selama serangan; ada riwayat yeri kepala, kehilangan kesadaran/pinsan, kehilangan kesadaran sesaat/lena, klien menangis, jatuh, disertai komponen motorik seperti kejang tonik-klonik, mioklonik, tonik, klonik, atonik. Klien menggigit lidah, mulut berbuih, ada incontinentia urine dan faeces, bibir dan muka berubah warna (biru), mata/kepala menyimpang pada satu posisi  dan beberapa gerakan terjadi dimana lokasi dan sifatnya berubah pada satu posisi atau keduanya.&lt;br /&gt;Sesudah serangan; klien mengalami lethargi, bingung, otot sakit, gangguan bicara, nyeri kepala. Ada perubahan dalam gerakan misalnya hemiplegi sementara, klien ingat/tidak terhadap kejadian yang dialaminya. Terjadi perubahan kesadaran/tidak, pernafasan, denyut jantung. Ada cedera seperti luka memar, geresan dll.&lt;br /&gt;Riwayat sebelum serangan; lamanya serangan, frekuensi serangan, ada factor prepitasi (suhu tinggi, kurang tidur, emosional labil), pernah menderita sakit berat yang disertai hilangnya kesadaran. Pernah mengkonsumsi obat-obatan tertentu/alcohol. Ada riwayat penyakit yang sama dalam keluarga.&lt;br /&gt;Interaksi sosial&lt;br /&gt;Data Subyektif :   Terjadi gangguan interaksi dengan orang lain/keluarga karena malu&lt;br /&gt;Konsep diri&lt;br /&gt;Data Subyektif :  Merasa rendah diri, ketidak berdayaan, tidak mempunyai harapan.&lt;br /&gt;Data Obyektif :  Selalu waspada/berhati-hati dalam hubungan dengan   orang lain.&lt;br /&gt;Kenyamanan/Nyeri&lt;br /&gt;Data Subyektif: Sakit kepala, nyeri otot/punggung, nyeri abnormal paroksismal selama fase iktal&lt;br /&gt;Data Obyektif : Tingkah laku yang waspada, gelisah/distraksi dan perubahan tonus otot.&lt;br /&gt;b)Perumusan Diagnosa/masalah klien&lt;br /&gt;Masalah keperawatan yang mungkin timbul pada klien dengan epilepsi adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1)Potensial terjadi kecelakaan: trauma, kekurangan oksigen &lt;br /&gt;Kemungkinan Penyebab : hilangnya koordinasi otot-otot tubuh, kelemahan, keterbatasan pengobatan, ketidakseimbangan emosional, penurunan tingkat kesadaran.&lt;br /&gt;2)Tidak efektifnya jalan napas/pola napas &lt;br /&gt;Kemungkinan Penyebab :  sumbatan tracheobronchial dan aspiasi.&lt;br /&gt;3)Gangguan konsep diri: harga diri rendah, identitas diri tidak jelas&lt;br /&gt;Kemungkinan Penyebab :   tidak mampu mengontrol diri saat terjadi  serangan.&lt;br /&gt;4)Kurangnya pengetahuan tentang keadaan yang diderita &lt;br /&gt;Kemungkinan Penyebab :   keterbatasan pengetahuan, informasi yang salah dan kegagalan pengobatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c)Perencanaan&lt;br /&gt;1)Potensial terjadinya kecelakaan/trauma&lt;br /&gt;Tujuan/Kriteria Evaluasi :&lt;br /&gt;Pasien mengemukakan faktor-kaktor yang dapat menyebabkan trauma, dan pengaruh obat-obat yang diberikan. Pasien memperlihatkan tingkah laku yang kooperatif dan terhindar dari penyebab trauma. Pasien dapat menghindari keadaan yang dapat menyebabkan serangan yang tiba-tiba.&lt;br /&gt;2)Pola napas tidak efektif&lt;br /&gt;Tujuan/Kriteria Evaluasi :&lt;br /&gt;Jalan napas/pola napas menjadi efektif dan tidak terjadi aspirasi&lt;br /&gt;3)Gangguan konsep diri&lt;br /&gt;Tujuan/Kriteria Evaluasi :&lt;br /&gt;Klien dapat mengidentifikasi perasaan, pola koping yang positif. Secara verbal mempunyai peningkatan harga diri. Menerima keadaan dirinya dan perubahan fungsi/peran/gaya hidup yang dihadapinya. &lt;br /&gt;4)Kurangnya pengetahuan tentang keadaan yang diderita&lt;br /&gt;Tujuan/Kriteria Evaluasi :&lt;br /&gt;Secara verbal mengerti dengan keadaannya dan mengidentifikasi macam-macam stimulus yang dapat menyebabkan serangan, memperlihatkan perubahan tingkah laku yang positif sesuai dengan keadaannya. Klien dapat mengontrol secara rutin untuk memperoleh pengobatan yang teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d)Implementasi/Intervensi&lt;br /&gt;1)Potensial terjadinya kecelakaan/trauma&lt;br /&gt;Intervensi Keperawatan :&lt;br /&gt;Bersama klien mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan serangan secara tiba-tiba.&lt;br /&gt;Bila serangan tidak terjadi ditempat tidur letakan bantal dibawah kepala klien atau kepala klien dipangkuan perawat untuk mencegah kepala terbentur dilantai.&lt;br /&gt;Observasi tanda-tanda vital&lt;br /&gt;Dampingi klien selama serangaan berlangsung untuk mencegah bahaya luka fisik, aspirasi dan tergigitnya lidah.&lt;br /&gt;Miringkan kepala untuk mencegah aspirasi&lt;br /&gt;Bila memungkinkan dapat menggunakan spatel lidah saat terjadi serangan&lt;br /&gt;Hindarkan alat/benda yang membahayakan&lt;br /&gt;Longgarkan pakaian yang sempit dan pegang ekstremitas klien&lt;br /&gt;Catat semua gejala dan tipe serangan epilepsy&lt;br /&gt;Diskusikan tentang tanda-tanda serangan yang mendadak&lt;br /&gt;Tindakan kolaboratif:&lt;br /&gt;Berikan obat-obat sesuai program, misalnya anti epileptik, luminal, diazepam, glukosa, thiamine dan lain-lain&lt;br /&gt;Monitor dan catat efek samping obat tersebut&lt;br /&gt;Monitor tingkat keseimbangan elektrolit dan glukosa&lt;br /&gt;2)Pola napas tidak efektif&lt;br /&gt;Intervensi Keperawatan:&lt;br /&gt;Bila klien tidak sadar, jaga agar pernafasan tetap lancar dan terbuka. Observasi tanda-tanda vital untuk menjaga kesimbangan makanan/cairan dan elektroloit tubuh, bila perlu beri infus dan NGT.&lt;br /&gt;Bila terdapat lendir pada jalan napas, lakukan suntion&lt;br /&gt;Tindakan kolaboratif:&lt;br /&gt;Beri oksigen sesuai program&lt;br /&gt;Monitor intubasi bila terpasang&lt;br /&gt;3)Gangguan konsep diri&lt;br /&gt;Intervensi Keperawatan: &lt;br /&gt;Diskusi tentang perasaan yang dialami klien&lt;br /&gt;Dorong klien untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya&lt;br /&gt;Kaji kemampuan klien yang positif yang sesuai dengan keadaan sehingga dapat memanfaatkan kemampuan tersebut untuk meningkatkan harga diri klien dan dapat hidup dimasyarakat.&lt;br /&gt;Tindakan Kolaboratif :&lt;br /&gt;Anjurkan klien untuk masuk dalam kelompok penderita epilepsi, (bila ada)&lt;br /&gt;Diskusikan dengan phsikolog tentang keadaan klien.  &lt;br /&gt;4)Kurangnya pengetahuan tentang keadaan yang diderita&lt;br /&gt;Intervensi Keperawatan :&lt;br /&gt;Kaji keadaan pathologi/kondisi klien dan pengobatan yang pernah diperolehnya.&lt;br /&gt;Beri penjelasan kepada klien untuk mengontrol dan minum obat secara teratur.&lt;br /&gt;Jelaskan kepada klien tentang keadaan-keadaan yang sedang dihadapinya dan faktor-faktor yang dapat menimbulkan serangan; &lt;br /&gt;•Jumlah yang tidak adequate dari obat anti-epilepsi dalam darah,&lt;br /&gt;•Obat-obat yang tidak cocok,&lt;br /&gt;•Terjadinya hiperventilasi,&lt;br /&gt;•Trauma otak, demam, penyakit tertentu,&lt;br /&gt;•Kurang/tidak tidur,&lt;br /&gt;•Stress emosional,&lt;br /&gt;•Perubahan hormonal, misalnya hamil atau menstruasi,&lt;br /&gt;•Nutrisi yang buruk,&lt;br /&gt;•Cairan dan elektrolit yang tidak seimbang, dan&lt;br /&gt;•Alkohol atau obat-obatan.&lt;br /&gt;Jelaskan keadaan yang harus dihadapi terhadap keadaannya, misalnya pekerjaan, mengendarai mobil, olah raga dan rekreasi dan sebagainya.&lt;br /&gt;Anjurkan klien untuk selalu membawa tanda pengenal bila bepergian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e)Evaluasi&lt;br /&gt;Pada tahap ini perawat mengkaji kembali hal-hal yang telah dilakukan, berdasarkan pada kriteria hasil yang telah ditetapkan. Apabila masih terdapat masalah-masalah klien yang belum teratasi, perawat hendaknya mengkaji kembali hal-hal yang berkenaan dengan masalah tersebut dan kembali melakukan intervensi keperawatan. Sebaliknya bila masalah klien telah teratasi maka perlu dilakukan pengawasan dan pengontrolan yang teratur untuk mencegah timbulnya serangan atau gejala-gejala yang memicu terjadinya serangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                    BAB III&lt;br /&gt;                                    PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.1 Kesimpulan&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian tersebut diatas maka dapat disimpulkan beberap hal yang menjadi pokok dalam pembahasan yaitu:&lt;br /&gt;a) Epilepsi merupakan gangguan otak kronik dengan ciri timbulnya gejala-gejala berupa serangan yang berulang-ulang yang diakibatkan karena pelepasan impuls listrik abnormal pada sel-sel syaraf otak dan bersifat reversible dengan berbagai macam etiologi.&lt;br /&gt;b) Sebagian besar kasus epilepsi adalah epilepsi idiopatik (belum jelas peneyebabnya) dan secara medis dapat dikurangi frekuensi serangan dengan memberikan obat-obat epileptik.&lt;br /&gt;c) Dalam Proses Keperawatan klien dengan epilepsi ada beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya status epileptikus yang dapat menimbulkan cedera dan sumbatan jalan napas; sedangkan dalam penatalaksanaan secara kontekstual penting untuk membantu klien menentukan konsep dirinya dan gambaran diri sehubungan dengan keadaan yang dialaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.2 Saran&lt;br /&gt;Makalah kecil ini mencoba mengupas konsep medis dan konsep keperawatan tentang epilepsi. Kelompok menyadari bahwa apa yang disajikan masih jauh dari kesempurnaan, dan oleh karenya kelompok sangat mengharapkan masukan dari rekan-rekan mahasiswa dan terlebih kepada Bapak dosen pembimbing mata kuliah ini sehingga apa yang dibahas diatas tidak hanya merupakan sesuatu yang sifatnya kontekstual dan hanya merupakan sebuah konsep, melainkan dapat menjadi pijakan bagi mahasiswa dalam konteks aplikatifnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR  PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Bruner &amp; Suddarth, 1997, Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, ECG- Kedokteran, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Doenges, Moorhause &amp; Geisher, 2002, Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, ECG- Kedokteran, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Sylvia Price &amp; Wilson, 1995, Pathofisiologi, Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, ECG-Kedokteran, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan, 1995, Asuhan Keperawatan pada Klien Gangguan Sistem Persyarafan, DEPKES, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Arif Mansjoer dkk., 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius, FK-UI, Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-6370524859552500238?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/6370524859552500238/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/bab-i-pendahuluan-i.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/6370524859552500238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/6370524859552500238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/bab-i-pendahuluan-i.html' title='ASKEP EPILEPSI'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-4661138970134026988</id><published>2010-02-01T05:02:00.001-08:00</published><updated>2010-02-02T20:53:22.477-08:00</updated><title type='text'>ASKEP INFARK MIOKARDIUM AKUT</title><content type='html'>A.KONSEP DASAR MEDIK&lt;br /&gt;I.PENGERTIAN&lt;br /&gt;Infark Miokardium Akut (IMA) adalah nekrosis miokard akibat aliran darah keotot jantung terganggu. Umumnya IMA didasari oleh adanya arterosklerosis pembuluh darah kororner. Nekrosis miokard ini hampir selalu terjadi akibat penyumbatan total arteri korornaria oleh trombus yang terbentuk pada plaque arterosklerosis yang tidak stabil; juga seringkali mengikuti ruptur plague pada arteri koroner dengan stenosis ringan. Kerusakan miokard ini terjadi dari endokardium ke epikardium, menjadi komplit dan irreversibel dalam 3-4 jam dan akan terus mengalami proses injury selama beberapa minggu atau bulan.&lt;br /&gt;Secara morfologis IMA dibedakan atas dua jenis yaitu IMA transmural,  yang mengenai seluruh dinding miokard dan terjadi pada daerah distribusi suatu arteri koroner; dan IMA sub-endokardial  dimana nekrosis hanya terjadi pada bagian dalam dinding ventrikel dan umumnya berupa bercak-bercak dan tidak konfluens. IMA sub-endokardial dapat regional (terjadi pada distribusi satu arteri koroner) atau difus (terjadi pada distribusi lebih dari satu arteri koroner).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.ETIOLOGI&lt;br /&gt;Penyebab penurunan suplay darah mungkin disebabkan karena penyempitan kritis arteri koroner karena arterosklerosis atau penyumbatan total arteri oleh emboli ataupun trombus. Penurunan aliran koroner juga dapat diakibatkan oleh adanya shock atau perdarahan. Pada setiap kasus ini selalu terjadi ketidakseimbangan antara suplay dan kebutuhan oksigen dijantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.PATHOFISIOLOGI&lt;br /&gt;Infark Miokard merupakan blok total yang mendadak dari arteri koroner. Lamanya kerusakan miokardial bervariasi dan tergantung pada besarnya daerah yang diperfusi oleh arteri yang tersumbat. Gambaran dari infark miokard ini juga tergantung pada lokasi dan luasnya daerah sumbatan pada arteri koroner.&lt;br /&gt;Dua jenis  komplikasi penyakit IMA terpenting adalah komplikasi haemodinamik dan aritmia. Segera setelah terjadi IMA, daerah miokard setempat akan memperlihatkan penonjolan sistolik (diskinesia) dengan akibat penurunan ejection fraction, stroke volume dan peningkatan volume akhir sistolik dan akhir diastolik ventrikel kiri. Tekanan akhir diastolik ventrikel kiri naik akan diikuti oleh kenaikan tekanan akhir atrium, dan pada peningkatan tekanan atrium kiri diatas  25 mmHg yang lama kan menyebabkan transudasi cairan kejaringan interstisium paru (gagal jantung). Perburukan haemodinamik ini bukan saja disebabkan karena daerah yang mengalami infark, tetapi juga daerah yang mengalami iskhemik disekitarnya. &lt;br /&gt;Miokard yang masih relatif baik akan mengadakan kompensasi, khususnya dengan bantuan rangsangan adrenergik, untuk mempertahankan curah jantung tetapi dengan akibat terjadi peningkatan kebutuhan oksigen miokard. Kompensasi ini jelas tidak memadai bila daerah yang bersangkutan juga mengalami iskhemia atau bahkan sudah terjadi fibrotik. Bila infark kecil dan miokard yang harus berkompensasi masih normal, maka perburukan haemodinamika akan minimal, sebaliknya bila infark yang terjadi luas dan miokard yang berkompensasi sudah buruk akibat iskhemia atau infark lama maka akan terjadi peningkatan tekanan akhir diastolik ventrikel kiri dan menyebabkan terjadinya gagal jantung. Sebagai akibat IMA sering terjadi perubahan bentuk serta ukuraan ventrikel kiri dan ketebalan ventrikel baik yang terkena infark maupun yang tidak. Perubahan tersebut menyebakan remodelliong ventrikel yang nantinya akan mempengaruhi fungsi ventrikel yaitu timbulnya aritmia.&lt;br /&gt;Perubahan-perubahan hemodinamik IMA ini tidak statis. Bila IMA makin membaik, maka fungsi jantung akan membaik walaupun tidak diobati. Hal ini disebabkan karena daerah-daerah yang sebelumnya terjadi iskhemia mengalami perbaikan. Daerah-daerah tersebut akan mengalami akinetik, karena terbentuk jaringan parut yang kaku. Sebaliknya perburukan hemodinamik akan terjadi bila iskhemia berkepanjangan atau infark meluas, karena akan timbul penyulit mekanis seperti ruptur septum ventrikel, regurgitasi mitral akut dan anurisma ventrikel akan memperburuk faal hemodinamik jantung.&lt;br /&gt;Aritmia merupakan penyulit IMA yang terjadi terutama pada saat-saat pertama setelah serangan. Hal ini disebabkan oleh adanya perubahan-perubahan masa refrakter, daya hantar rangsang dan kepekaan terhadap rangsangan. Sisten syaraf otonom juga berperan besar terhadap terjadinya aritmia karena pasien IMA umumnya mengalami peningkatan tonus parasimpatis dengan kecenderungan bradiaritmia meningkat, sedangkan peningkatan tonus simpatis pada IMA inferior akan mempertinggi kecenderungan terjadinya fibrilasi ventrikel dan perluasan infark.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV.MANIFESTASI KLINIS&lt;br /&gt;Banyak penelitian yang menunjukan pasien dengan infark miokard biasanya pria, diatas 40 tahun dan meengalami arterosklerosis pada pembuluh koronernya, sering disertai hipertensi arterial. Serangan juga terjadi pada wanita dan priaa muda diawal 30-an atau bahkan 20-an. Wanita yang memakai kontrasepsi pil dan kebiasaan merokok memepunyai resiko tinggi.&lt;br /&gt;Keluhan yang khas adalah nyeri dada retrosternal, seperti diremas-remas, ditekan, ditusuk, panas atau ditindih barang berat. Nyeri dapat menjalar kelengan (umumnya kiri), bahu, leher, rahang bahkan kepunggung dan epigastrium. Nyeri berlangsung lebih lama dari angina pektoris biasa dan tak responsif terhadap nitrogliserin. Kadang-kadang, terutama pada pasien dengan diabetes dan orang tua tidak ditemukan nyeri sama sekali. Nyeri dapat disertai perasaan mual, muntah, sesak, pusing, keringat dingin, berdebar-debar, atau sinkope dan pasien sering tampak ketakutan.  &lt;br /&gt;Walau IMA dapat merupakan manifestasi pertama penyakit jantung koroner, namun bila anamnese dilakukan dengan teliti hal ini sering sebenarnya sudah didahului dengan keluhan-keluhan angina, perasaan tidak enak didada, atau epigastrium. Kelainan pada pemeriksaan jasmani tidak ada yang karakteristik dan dapat normal. Dapat ditemukan BJ 2 yang pecah paradoksal, irama gallop. Adanya krepitasi basal merupakan tanda bendungan pada paru-paru. Tachicardia, kulit yang pucat, dingin, dan hipotensi ditemukan pada kasus yang relatif lebih berat, kadang-kadang ditemukan pulsasi diskinetik yang nampak atau teraba didinding dada pada IMA interior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V.PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK&lt;br /&gt;Riwayat pasien; pengambilan riwayat pasien dilakukan dengan dua tahap :&lt;br /&gt;1)Riwayat penyakit sekarang.&lt;br /&gt;2)Riwayat penyakit dahulu, serta riwayat kesehatan keluarga, khususnya yang berhubungan dengan insiden penyakit jantung dalam keluarga.&lt;br /&gt;Elektrokardiogram (EKG), memberi informasi tentang elktrofisiologi jantung.&lt;br /&gt;Ekokardiogram, digunakan untuk evaluasi lebih jauh mengenai fungsi jantung, khususnya ventrikel.&lt;br /&gt;Enzim dan Isoenzim serum. Pemeriksaan rangkaian enzim meliputi kreatininkinase dan laktat dehidrogenase.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI.PENATALAKSANAAN&lt;br /&gt;Tujuannya adalah memperkecil kerusakan jantung sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi. Kerusakan jantung diperkecil dengan cara segera mengembalikan keseimbangan antara kebutuhan dan suplay oksigen jantung. Therapi obat-obatan, pemberian oksigen dan tirah baring dilakukan secara bersamaan untuk tetap mempertahankan fungsi jantung. &lt;br /&gt;Ada tiga kelas obat-obatan yang biasa digunakan untuk meningkatkan supaly oksigen yaitu :&lt;br /&gt;Vasodilator&lt;br /&gt;Vasodilator pilihan yang digunakan untuk mengurangi nyeri jantung adalah Nitrogliserin (NTG) intravena. NTG menyebabkan dilatasi arteri dan vena yang mengakibatkan pengumpulan darah diperifer, sehingga menurunkan jumlah darah yang kembali kejantung (pre load) dan mengurangi beban kerja (work load) jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antikoagulan&lt;br /&gt;Heparin adalah antikoagulan pilihan untuk membantu mempertahankan integritas jantung. Heparin memperpanjang waktu pembekuan darah sehingga dapat menurun kan kemungkinan pembentukan trombus dan selanjutnya menurunkan aliran darah.&lt;br /&gt;Tranbolitik&lt;br /&gt;Tujuan pemberian obat ini adalah untuk melarutkan setiap trombus yang telah terbentuk diarteri koroner, memperkecil penyumbatan, dan juga luasnya infark.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;Pengkajian&lt;br /&gt;a.Sirkulasi&lt;br /&gt;-Tekanan darah: dapat normal, naik-turun, perubahan postular dicatat dari tempat tidur/berdiri.&lt;br /&gt;-Nadi: dapat normal penuh/tak kuat, lemah/kuat kualitasnya dengan pengisian kapiler lambat, tidak teratur (disritmia) mungkin terjadi.&lt;br /&gt;-Bunyi jantung: Bunyi jantung ekstra S3/S4 mungkin menunjukan gagal jantung, penurunan kontraktilitas atau komplain ventrikel. &lt;br /&gt;-Murmur: Bila ada menunjukan gagal katup atau disfungsi otot kapiler.&lt;br /&gt;-Irama jantung : Dapat teratur/tidak&lt;br /&gt;-Edema: Distensi vena jugular, edema dependen/perifer, krekels mungkin ada dengan gagal jantung/ventrikel.&lt;br /&gt;-Warna: Pucat&lt;br /&gt;b.Aktivitas&lt;br /&gt;-Kelemahan: gelisah &lt;br /&gt;-Tachikardia: dispose pada saat aktivitas/istirahat&lt;br /&gt;c.Pernapasan&lt;br /&gt;-Dispnea pada saat/tanpa kerja&lt;br /&gt;-Riwayat merokok&lt;br /&gt;-Peningkatan frekuensi pernapasan&lt;br /&gt;-Pucat&lt;br /&gt;-Bunyi napas: bersih atau krekel/mengi&lt;br /&gt;-Sputum: bersih&lt;br /&gt;d.Ketidaknyamanan&lt;br /&gt;-Nyeri dada yang timbul mendadak (dapat/tidak berhubungan dengan aktivitas) tidak hilang dengan istirahat&lt;br /&gt;-Lokasi: tipikal pada dada anterior, sub strenal prekorda dapat menyebar ketangan, leher, rahang. Tidak tentu lokasinya seperti epigastrium, siku, rahang, abdomen dan punggung.&lt;br /&gt;-Kualitas: menyempit berat, menetap, tertakan.&lt;br /&gt;-Intensitas biasanya 10 pada skala 1:10 mungkin pengalaman nyeri yang paling buruk yang pernah dialami. &lt;br /&gt;-Wajah meringis, perubahan postur tubuh.&lt;br /&gt;-Menangis, merintih.&lt;br /&gt;-Menarik diri&lt;br /&gt;-Respon otomatik: perubahan frekuensi/irama jantung, tekanan darah, pernapasan dan warna kulit.&lt;br /&gt;e.Makanan/Cairan&lt;br /&gt;-Mual/kehilangan napsu makan.&lt;br /&gt;-Kulit kering dan berkeringat.&lt;br /&gt;-Muntah.&lt;br /&gt;-Penurunan berat badan.&lt;br /&gt;f.Eliminasi&lt;br /&gt;-Produksi urine berkurang&lt;br /&gt;-Bunyi usus menurun&lt;br /&gt;g.Neurosensori&lt;br /&gt;-Pusing, berdenyut selama tidur atau pada saat bangun.&lt;br /&gt;-Perubahan mental&lt;br /&gt;-Kelemahan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;(1)Nyeri dada berhubungan dengan Iskhemia jaringan jantung&lt;br /&gt;(2Gangguan intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplay oksigen.&lt;br /&gt;(3)Kecemasan berhubungan dengan rasa takut akibat perubahan status kesehatan.&lt;br /&gt;(4)Resiko tinggi menurunnya curah jantung berhubungan dengan kerusakan jaringan mikard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisa Data dan Intervensi&lt;br /&gt;(1)Nyeri dada berhubungan dengan Iskhemia jaringan jantung, ditandai dengan:&lt;br /&gt;DS  :  Keluhan nyeri pada dada.&lt;br /&gt;DO  :  Wajah meringis&lt;br /&gt;Gelisah&lt;br /&gt;Perubahan nadi&lt;br /&gt;Perubahan tekanan darah&lt;br /&gt;Perubahan postur tubuh&lt;br /&gt;Tujuan  :  Nyeri dada hilang dengan kriteria hasil :&lt;br /&gt;-Klien tidak mengeluh nyeri&lt;br /&gt;-Ekspresi wajah rileks&lt;br /&gt;-Tidak gelisah&lt;br /&gt;-Postur tubuh baik&lt;br /&gt;-Nadi normal 60 kali/menit&lt;br /&gt;-Tekanan darah normal 120/90 mmHg&lt;br /&gt;Intervensi : &lt;br /&gt;-Pantau karakteristik nyeri, laporan verbal, petunjuk non verbal dan respon hemodinamik (gelisah, berkeringat, napas cepat, tekanan darah, frekuensi jantung)&lt;br /&gt;Rasional :  Untuk membandingkan nyeri yang ada, riwayat verbal dan penyelidikan lebih dalam terhadap faktor pencetus harus ditindak agar nyeri hilang.&lt;br /&gt;-Anjurkan klien untuk melaporkan saat nyeri dirasakan&lt;br /&gt;Rasional :  Penundaan pelaporan nyeri menghambat peredaran nyeri dan memerlukan peningkatan dosis.&lt;br /&gt;-Beri lingkungan yang tenang/ataur posisi yang nyaman&lt;br /&gt;Rasional : Menurunkan rangsangan eksternal dimana ansietas dan regangan jantung serta keterbatasan koping.&lt;br /&gt;-Bantu klien untuk melakukan teknik relaksasi&lt;br /&gt;Rasional :  Membantu dalam menurunkan persepsi/respon nyeri, memberikan kontrol situasi, meningkatkan kemampuan koping.&lt;br /&gt;-Berikan oksigen dengan kanule atau masker&lt;br /&gt;Rasional :  Meningkatkan jumalh oksigen yang ada untuk pemakaian miokardial, mengurangi ketidaknyamanan.&lt;br /&gt;-Kolaborasi pemberian obat analgesik&lt;br /&gt;Rasional : Menurunkan nyeri hebat, memberikan sedasi dan mengurangi kerja miokard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)Gangguan intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplay oksigen dengan kriteria :&lt;br /&gt;DS :   Keluhan gangguan frekuensi jantung.&lt;br /&gt;DO :   Gangguan frekuensi jantung&lt;br /&gt;Perubahan tekanan darah&lt;br /&gt;Terjadinya disritmia&lt;br /&gt;Nyeri dada&lt;br /&gt;Perubahan warna kulit&lt;br /&gt;Sesak&lt;br /&gt;Lelah &lt;br /&gt;Tujuan  :  Aktivitas terpenuhi dengan kriteria hasil :&lt;br /&gt;-Peningkatan toleransi aktivitas&lt;br /&gt;-Frekuensi jantung normal&lt;br /&gt;-Tekanan darah normal&lt;br /&gt;-Nyeri berkurang&lt;br /&gt;-Kulit hangat, merah muda&lt;br /&gt;-Frekuensi pernapasan normal&lt;br /&gt;-Tidak lelah&lt;br /&gt;Intervensi : &lt;br /&gt;-Catat frekuensi jantung, irama dan perubahan tekanan darah sebelum, selama dan sesudah aktivitas.&lt;br /&gt;Rasional :  Kecenderungan menentukan respon pasien terhadap aktivitas dan dapat mengidentifikasikan penurunan oksigen miokardial yanmg memerlukan penurunan tingkat aktivitas.&lt;br /&gt;-Tingkatkan istirahat / batasi aktivitas. &lt;br /&gt;Rasional :  Menurunkan kerja miokardial / konsumsi oksigen menurunkan resiko komplikasi.&lt;br /&gt;-Anjurkan klien menghindarkan peningkatan tekanan abdomen. &lt;br /&gt;Rasional : Aktivitas yang memerlukan menahan napas dan menunduk dapat mengakibatkan bradikardi dan juga menurunkan curah jantung dan tachikardia dan peningkatan tekanan darah.&lt;br /&gt;-Jelaskan pola peningkatan bertahap dan tingkat aktivitasnya.&lt;br /&gt;Rasional : Aktivitas yang maju memberikan kontrol jantung meningkatkan regangan dan mencegah aktivitas yang berlebihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3)Kecemasan berhubungan dengan rasa takut akibat perubahan status kesehatan dengan kriteria :&lt;br /&gt;DS  :  Klien bertanya tentang keadaannya.&lt;br /&gt;DO  :  Ketakutan&lt;br /&gt;Tegang&lt;br /&gt;Gelisah&lt;br /&gt;Prilaku menentang&lt;br /&gt;Tujuan  :  Cemas hilang dengan kriteria hasil :&lt;br /&gt;-Tidak takut&lt;br /&gt;-Tidak gelisah&lt;br /&gt;-Ekspresi wajah ceria&lt;br /&gt;-Prilaku berkerja sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi : &lt;br /&gt;-Identifikasi dan ketahui persepsi pasien terhadap ancaman / situasi.&lt;br /&gt;Rasional :  Koping terhadap nyeri dan trauma emosi sulit pasien dapat takut mati atau/cemas akan berkelanjutan.&lt;br /&gt;-Catat adanya kegelisahan, menolak/menyangkal.&lt;br /&gt;Rasional :  Peningkatan terhadap frekuensi hidup antara individu dan dampak penolakan telah berarti dua.&lt;br /&gt;-Mempertahankan rasa percaya.&lt;br /&gt;Rasional :Pasien dan orang terdekat dapat dipengaruhi oleh cemas/ketidaktenangan anggota tim kesehatan.&lt;br /&gt;-Kaji tanda verbal dan normal pernapasan.&lt;br /&gt;Rasional :  Pasien mungkin tidak menimbulkan masalah secara langsung tetapi kata-kata, tindakan dapat menunjukan rasa agitasi, marah dan gelisah. Intervensi dapat membantu pasien meningkatkan kontrol terhadap prilakunya sendiri.&lt;br /&gt;-Orientasikan pasien pada orang terdekat terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diterapkan.&lt;br /&gt;Rasional : Perkiraan dan informasi dapat menurunkan kecemasan pasien.&lt;br /&gt;-Dorong pasien/orang terdekat untuk mengkomunikasikan dengan seseorang berbagai pertanyaan dan masalah.&lt;br /&gt;Rasional : Berbagai informasi membentuk dukungan dan kenyamanan dan dapat menghilangkan tegangan terhadap kekuatiran yang tidak diekspresikan.&lt;br /&gt;(4)Resiko tinggi menurunnya curah jantung berhubungan dengan kerusakan jaringan miokard dengan kriteria :&lt;br /&gt;DS  :  - &lt;br /&gt;DO  :   Perubahan frekuensi, irama dan konduksi jantung&lt;br /&gt;Peningkatan tahanan vasculer sistemik (TVS)&lt;br /&gt;Disritmia&lt;br /&gt;Perubahan tekanan darah&lt;br /&gt;Produksi urine menurun&lt;br /&gt;Dispnea&lt;br /&gt;Tujuan  :  curah jantung baik dengan kriteria hasil :&lt;br /&gt;-Frekuensi/irama jantung normal&lt;br /&gt;-TVS normal&lt;br /&gt;-Disritmia hilang&lt;br /&gt;-Produksi urine normal&lt;br /&gt;-Tidak dispnea&lt;br /&gt;Intervensi : &lt;br /&gt;-Auskultasi tekanan darah.&lt;br /&gt;Rasional :  Hipotensi dapat terjadi sampai dengan disfungsi ventrikel, hipoperfusi miokardial dan rangsangan vegal. Hipertensi juga merupakan fenomena umum kemungkinan berhubungan dengan nyeri, cemas, pengeluaran katekolamin atau masalah vascular sebelumnya, hipotensi artostatik mungkin berhubungan dengan komplikasi infark miokard.&lt;br /&gt;-Evaluasi kualitas, kesamaan nadi.&lt;br /&gt;Rasional :Penurunan curah jantung mengakibatkan menurunnya kelemahan.kekuatan nadi.&lt;br /&gt;-Catat terjadinya S3 dan S4.&lt;br /&gt;Rasional :  S3 biasanya dihubungkan dengan BJ koroner tetapi yang terlihat pada gagal jantung dan kelebihan kerja ventrikel kiri yang disertai infark berat. S4 mungkin berhubungan dengan iskhemia miokard kekakuan ventrikel, hipertensi pulmonal sistemik.&lt;br /&gt;-Pantau adanya murmur.&lt;br /&gt;Rasional :  Menunjukan gangguan aliran darah normal dalam jantung, katup tak baik, kerusakan septum dan fibrasi otot kapiler/ korda mandinea, adanya gesekan dengan infakr juga berhubungan dengan inflamasi.&lt;br /&gt;-Auskultasi bunyi napas.&lt;br /&gt;Rasional :  Krekels menunjukan kongesti paru yang mungkin terjadi karena penurunan fungsi miokard.&lt;br /&gt;-Pantau frekuensi jantung, irama, disritmia.&lt;br /&gt;Rasional :  Frekuensi dan irama jantung berespon terhadap obat dan aktivitas sesuai dengan terjadinya komplikasi/disritmia (khususnya kontraksi ventrikel prematur atau blok jantung berlanjut) yang mempengaruhi fungsi jantung.&lt;br /&gt;-Catat respon terhadap dan peningkatan istirahat dengan cepat.&lt;br /&gt;Rasional :  Kelelahan latihan meningkatkan konsumsi/kebutuhan oksigen daan mempengaruhi fungsi miokard.&lt;br /&gt;-Berikan pispot disamping tempat tidur bila tidak mampu kekamar kecil.&lt;br /&gt;Rasional :  Mengupayakan penggunaan bedpan dapat melahkan dan secara psikologis penuh stres, juga meningkatkan oksigen dan kerja jantung.&lt;br /&gt;-Berikan makanan kecil/mudah dikunyah.&lt;br /&gt;Rasional :  Makanan dalam jumlah besar dapat meningkatkan kerja miokardium dan menyebabkan rangsangan yang mengakibatkan bradikardia/denyut ektopik. Cafein adalah perangsang langsung pada jantung yang dapat meningkatkan frekuensi jantung.&lt;br /&gt;-Berikan oksigen.&lt;br /&gt;Rasional : Meningkatkan jumlah sediaan oksigen untuk kebutuhan miokard, menurunkan iskhemia dan disritmia lanjut.&lt;br /&gt;-Kaji ulang EKG&lt;br /&gt;Rasional :  memberikan informasi sehubungan dengan kemajuan/perbaikan infark status fungsi ventrikel, keseimbangan elektrolit dan efek terapi obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Balai Penerbit FKUI, 1996, Jakarta.&lt;br /&gt;2.Silvia &amp; Wilson, Pathofisiologi (Konsep Klinis Proses-proses Penyakit), EGC, 1995, Jakarta.&lt;br /&gt;3.Brunner &amp; Suddarth, Keperawatan Medikal Bedah, EGC, 2002, Jakarta.&lt;br /&gt;4.Staf Pengajar Patologi Anatomi, Patologi, Bagian Patologi Anatomi FKUI, Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-4661138970134026988?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/4661138970134026988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/infark-miokardium-akut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/4661138970134026988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/4661138970134026988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/infark-miokardium-akut.html' title='ASKEP INFARK MIOKARDIUM AKUT'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-6546714892319237173</id><published>2010-02-01T04:54:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T20:53:39.421-08:00</updated><title type='text'>ASKEP TUMOR UTERUS</title><content type='html'>I.KONSEP DASAR MEDIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.Pengertian&lt;br /&gt;`Tumor uterus adalah tumor alat genital yang bersifat neoflasma jinak yang terdapat pada ektoserviks maupun endoserviks-endometrium Atau suatu tumor jinak yang berbatas tegas, tidak berkapsul yang berasal dari otot polos dan jaringan ikat fibrous . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BJenis – jenis tumor uterus berdasarkan letaknya&lt;br /&gt;Ektoserviks terbagi atas :&lt;br /&gt;Kista jaringan embrional : berasal dari saluran mesonefridikus wolffi terdapat pada dinding samping ektoserviks. Kista endometriosis yang letaknya suferfisial. Folikel atau kista nabothi yaitu kista retensi kelenjar endoserviks, biasanya terdapat pada wanita multipara, sebagai penampilan servisitis. Kista ini jarang mendapat ukuran besar berwarna putih mengkilat bersih cairan mucus. Kalau kista ini membesar akan menyebabkan nyeri.&lt;br /&gt;Papiloma dapat tunggal maupun multiple seperti kondiloma akuminata. Kebanyakan papiloma ini adalah sisa epitel yang terlebih pada trauma bedah maupun persalinan.&lt;br /&gt;Hemangioma ini jarang terjadi biasanya terletak pada superficial yang dapat membesar pada waktu kehamilan yang dapat menyebabkan metroragi&lt;br /&gt;Endoserviks terdiri atas:.&lt;br /&gt;adalah suatu adenoma maupun adenofibroma yang berasal dari selaput lender endoserviks. Yang tangkainya dapat panjang keluar dari vulva. Epitel yang melapisi adalah epitel endoserviks yang dapat juga mengalami metaplasi menjadi lebih semakin kompleks.bagian polip ini biasa menjadi nekrosis dan mengalami perdarahan . polip ini berkembang karena pengaruh radang maupun virus.&lt;br /&gt;Endometrium&lt;br /&gt;Polip endometrium sering didapati terutama dengan pemeriksaan histeroskopi. Polip berasal antara lain dari adnoma, adenofibroma, mioma , submukusum, plasenta.insiden tidak diketahui paling sering pada perempuan berumur 30-59 tahun. Kurang dari sepertiga memperllihatkan endometrium fungsional. Bisa memperlihatkan hyperplasia kistik. Bisa menonjol melalui serviks &lt;br /&gt;Adenoma- adenufibroma yang biasannya terdiri dari epitel endometrium dengan stroma yang sesuai dengan daur haid. Adenoma ini biasanya  merupakan penampilan hyperplasia endometrium, dengan konsistensi lunak dan berwarna kemerah merahan . Gangguan yang sering ditimbulkan adalah metroragi sampai menometroragi, infertilitas.Pula mempunyai kecenderungan kambuh kembali.&lt;br /&gt;Mioma submukosum:sarang mioma dapat tumbuh bertangkai dan keluar dari uterus menjadi mioma yang dilahirkan. Tumor berkonsistensi kenyal berwarna putih&lt;br /&gt;Polip plasenta: berasal dari plasenta yang tertinggal setelah partus maupun abortus. Polip plasenta menyebabkan uterus mengalami sub-involusi yang menimbulkan perdarahan.&lt;br /&gt;Miometrium&lt;br /&gt;Neoplasma jinak ini berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang menumpangnya ,sehingga dalam kepustakaan dikenal juga istilah fibromioma,leiomioma, ataupun pibroid. &lt;br /&gt;Berdasarkan otopsi novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun mempunyai sarang mioma, pada wanita yang berkulit hitam ditemukan lebih banyak.Mioma  uteri belum pernah terjadi sebelum menars. Setelah menopause hanya kira-kira 10% mioma yang masih tumbuh.&lt;br /&gt;C.Etiologi&lt;br /&gt;•Wanita dengan nullypara ( wanita kurang subur ).&lt;br /&gt;•Etiologi secara pasti tidak diketahui&lt;br /&gt;•Tetapi ada korelasi antara pertumbuhan  tumor dengan peningkatan reseptor estrogen-progesteron pada jaringan mioma uteri dan juga dipengaruhi oleh hormone pertumbuhan.&lt;br /&gt;•faktor genetic&lt;br /&gt;•Resiko tinggi wanita dengan umur diatas 35 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.Patofisiologi&lt;br /&gt;Sarang mioma diuterus dapat berasal dari serviks uterus hanya 1-3%, sisanya adalah dari korpurs uterus.&lt;br /&gt;Menurut letaknya,mioma dapat kita  dapati sebagai:&lt;br /&gt;Mioma submukosum : berada dibawah endemetrium dan menonjol kedalam rongga uterus. Mioma submukosum dapat tumbuh bertangkai menjadi polip, kemudian dilahirkan melalui saluran serviks (myomgeburt). Mioma subserosum dapat tumbuh diantara kedua lapisan ligamentum latum menjadi mioma intraligameter.&lt;br /&gt;Mioma intra mural : mioma terdapat diding uterus diantara serabut mioma meometrium. &lt;br /&gt;Mioma subserosum : apabila tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol pada permukaan uterus, diliputi oleh serosa. Mioma subserosum dapat pula tumbuh menempel pada jaringan lain misalnya ke ligamentum atau omentum dan kemudian membebaskan diri Dario uterus, sehingga disebut wandering / parasitic fibroid. Jarang sekali ditemukan satu macam mioma saja dalam satu uterus. Mioma pada servik dapat menonjol kedalam saluran servik sehingga ostium uteri eksternum berbentuk bulan sabit. Apabila mioma dibelah maka tampak bahwa mioma terdiri atas berkas otot polos dan jaringan ikat yang tersusun seperti konde/ pusaran air ( whorl  like pattern), dengan pseudokapsule yang terdiri dari jaringan ikat longgar yang terdesak karena pertumbuhan sarang mioma ini. Dengan pertumbuhan  mioma dapat mencapai  berat lebih 5 kg. jarang sekali mioma ditemukan pada wanita subur  berumur &lt;br /&gt;20 thn, paling banyak pada umur 35 – 45 tahun ( kurang lebih 25%).  Pertumbuhan mioma diperkirakan memerlukan waktu 3 tahun agar dapat mencapai ukuran sebesar tinju, akan tetapi beberapa kasus ternyata tumbuh cepat. Setelah menopause banyak mioma menjadi lisut  hanya &lt;br /&gt;10 % saja masih tumbuh lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.Manifestasi klinik&lt;br /&gt;Gejala yang dikeluhkan sangat tergantung pada tempat sarang mioma berada (serviks, intramural,submukus,subserus), besarnya tumor, perubahan dan komplikasi yang terjadi.&lt;br /&gt;Gejala tersebut dapat digolongkan sebagai berikut.&lt;br /&gt;Perdarahan abnormal &lt;br /&gt;ganguan perdarahan yang terjadi umumnya adalah hipermenore,menoragia dan dapat juga terjadi metroragia.&lt;br /&gt;Rasa nyeri&lt;br /&gt;yang timbul  karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma,yang disertai  nekrosis dan peradangan.&lt;br /&gt;Gejala dan tanda penekanan. &lt;br /&gt;Gangguan ini tergantung dari besar dan tempat mioma uteri. Penekanan pada kandung  akan menyebabkan  poliuri, pada ureter dapat menyebabkan  hidroureter dan hidronefrosis, pada penekanan dapat menyebabkan obstipasi dan tenesmia, pada pembuluh darah dan pembuluh limfe dipanggul dapat menyebabkan edema tungkai.&lt;br /&gt;Adanya rasa penuh atau berat pada perut bagian bawah dan teraba massa yang padat kenyal&lt;br /&gt;Gangguan haid atau perdarahan abnormal dari uterus yaitu hipermenore, metroragi, dismenorea&lt;br /&gt;Rasa nyeri akibat torsi atau mengalami degenerasi&lt;br /&gt;Infertilitas&lt;br /&gt;Abortus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F.Pemeriksaan diagnostic&lt;br /&gt;•Pemerikasaan pelvis mendeteksi pembesaran uterus&lt;br /&gt;•USG abdominal dan transvaginal dapat membantu menegakkan dugaan klinis.&lt;br /&gt;•Aspirat endoservikal menunjukan sel abnormal.&lt;br /&gt;•Biopsi endometrial.&lt;br /&gt;•Dilatasi dan kuretase merupakan alat diagnostik yang paling akurat.&lt;br /&gt;•Pemeriksaan tambahan meliputi pemeriksaan metastatik (sinar X dan sitoskopi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G.Komplikasi&lt;br /&gt;•Degenerasi ganas &lt;br /&gt;Mioma uteri yang menjadi leimiosarkoma ditemukan hanya 0,32 – 0,6 % dari seluruh mioma serta merupakan 50 – 70 % dari semua sarcoma uterus.&lt;br /&gt;•Torsi (putaran tangkai)&lt;br /&gt;Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi akut hingga mengalami nekrosis, kemudian terjadilah sindrom abdomen akut.&lt;br /&gt;•Mioma uteri dapat mempengaruhi kehamilan, menyebabkan infertilitas: resiko terjadinya abortus bertambah karena distorsi rongga uterus khususnya pada mioma sub mukosum, letak janin menghalangi kemajuan kehamilan karena letaknya pada serviks uteri menyebabkan inersia maupun autonia uteri.&lt;br /&gt;H.Penanganan secara umum&lt;br /&gt;Tidak semua mioma uteri memerlukan pengobatan bedah, 55 % dari semua mioma uteri tidak membutuhkan pengobatan dalam bentuk apa pun, terutama apabila mioma itu masih kecil dan tidak menimbulkan gangguan atau keluhan. Pemberian GnRHa (buseriline acetate) selam 16 minggu pada mioma uteri menghasilkan degenerasi hialin di miometrium hingga uterus dalam keseluruhannya menjadi lebih kecil.&lt;br /&gt;Pengobatan operatif. Miomektomi adalah pengambilan sarang mioma saja tanpa pengangkatan uterus, hal ini dapat dikerjakan pada mioma sub mukosum pada myom geburt dengan cara ektirvasi pada vagina. 25 – 35 % memerlukan histerektomi (per abdominal atau per vaginam) tindakan ini dilakukan dengan alasan mencegah akan timbulnya karsinoma servisis uteri. Penanganan operatif ini dilakukan bila ukuran tumor lebih besar dari ukuran uterus , pertumbuhan tumor cepat, bila dapat menjadi penyulit pada kehamilan berikutnya, penekanan pada jaringan sekitarnya&lt;br /&gt;Radioterapi. Tindakan ini bertujuan agar ovarium tidak berfungsi lagi sehingga penderita mengalami menopause. Tindakan ini dilakukan jika tidak ada keganasan pada uterus.&lt;br /&gt;Penanganan konservatif dilakukan bila mioma yang kecil pada pra dan post menopause tanpa gejala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II..KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN &lt;br /&gt;1Pengkajian&lt;br /&gt;a.Aktifitas istirahat &lt;br /&gt;Gejala :  Gangguan tidur/istirahat, lemah.&lt;br /&gt;Tanda :  Takikardia dan takipneu pada keadaan istirahat atau dengan aktivitas.&lt;br /&gt;b. Sirkulasi&lt;br /&gt;Tanda :  Hipotensi/hipertensi (termasuk hipertensi maligna).&lt;br /&gt;c. Eliminasi&lt;br /&gt;Gejala :  Perubahan pola berkemih, nyeri tekan abdomen, konstipasi.&lt;br /&gt;Tanda :  Abdomen keras (distensi abdomen).&lt;br /&gt;d. Integritas ego&lt;br /&gt;Gejala :  Stress, masalah financial yang berhubungan dengan kondisi.&lt;br /&gt;Tanda :  Ansietas.&lt;br /&gt;e. Makanan dan cairan&lt;br /&gt;Gejala :  Penurunan berat badan.&lt;br /&gt;Tanda :  Mulut kering, turgor jelek.&lt;br /&gt;f. Neorosensori&lt;br /&gt;Gejala :  Sakit kepala&lt;br /&gt;Tanda :  Menurunnya kekuatan otot.&lt;br /&gt;g. Nyeri/kenyamanan&lt;br /&gt;Gejala :  Abdomen yang tegang atau nyeri (sedang/berat).&lt;br /&gt;Tanda :  Wajah meringis.&lt;br /&gt;h. Pernafasan&lt;br /&gt;Gejala :  Sesak pada dada, nafas pendek yang progresif.&lt;br /&gt;Tanda :  Takipneu.&lt;br /&gt;i. Seksualitas&lt;br /&gt;Gejala :  Keinginan untuk kembali seperti fungsi normal.&lt;br /&gt;Tanda :  Menstruasi tidak teratur.&lt;br /&gt;j.Keamanan&lt;br /&gt;Gejala :  Adanya perasaan cemas.&lt;br /&gt;k.Interaksi social&lt;br /&gt;Gejala : Mempertanyakan kemampuan untuk mandiri, tidak mampu membuat rencana.&lt;br /&gt;Tanda :  Perubahan pada interaksi keluarga/orang terdekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2Diagnosa keperawatan&lt;br /&gt;a.Nyeri b/d pembesaran uterus ( tekanan pada jaringan sekitar, stimulasi ujung saraf parasimpatis dan simpatis.&lt;br /&gt;b.Gangguan dalam eliminasi  BAB dan BAK b/d penekanan pada kandung kemih dan vecalis&lt;br /&gt;c.Gangguan pola tidur b/d nyeri&lt;br /&gt;d.Ansietas b/d ancaman yang dirasakan pada diri&lt;br /&gt;e.Kurangbpengetahuan b/d kurang imformasi dan mispersepsi tentang penyakitnya&lt;br /&gt;f.Resiko pola napas tidak efektif b/d pergeseran diagpragma karena pembesaran uterus.&lt;br /&gt;3Intervensi keperawatan&lt;br /&gt;1.Nyeri b/d pembesaran uterus ( tekanan pada jaringan sekitar, stimulasi ujung saraf parasimpatis dan simpatis.&lt;br /&gt;Kriteria hasil; Mengindentifikasi atau menggunakan tekhnik untuk mengontrol nyeri&lt;br /&gt;Kaji derajat ketidak nyamanan melalui isyasarat verbal dan nonverbal,  perhatikan pengaruh budaya terhadap pengaruh nyeri&lt;br /&gt;Rasional :  Tindakan dan reaksi nyeri adalah individual dan berdasarkan pengalaman masa lalu, serta memahami perubahan fisiologis dan latar belakang budaya&lt;br /&gt;Bantu dalam penggunaan teknik pernapasan atau relaksasi yang tepat dan masase abdomen.&lt;br /&gt;Rasional :  Dapat memblok imfuls nyeri dalam kortes serebri&lt;br /&gt;Bantu tindakan kenyamanan misalnya istirahat punggung perubahan posisi, pertikaran linen&lt;br /&gt;Rasional :  Meningkatkan relaxsasi dan meningkatkan perasaan sejahtrah dan posisi miring kiri menurunkan tekanan uterus pada vena kava tetapi perubahan posisi secara realisti mencegah iskimia jaringan atau kekakuan otot dan meningkatkan kenyamanan.&lt;br /&gt;Berikan informasi tentang ketersediaan realistic serta realistic efek samping&lt;br /&gt;Rasional :  Memungkinkan klien membuat pilihan persetujuan tentang cara pengontrolan rasa nyeri&lt;br /&gt;Berikan realistic seperti alfaprodin hidroklorida ( nisentil ) atau meperidin hidroklorida ( Demerol ) melalui IV atau IM&lt;br /&gt;Rasional :   Pemberian dengan cara IV disukai karena menjamin pemberian analgesic lebih cepat dan absorsinya seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Gangguan dalam eliminasi  BAB dan BAK b/d penekanan pada kandung kemih dan rectum&lt;br /&gt;Kriteria hasil : Dapat mengosongkan kandung kemih pada setiap berkemih serta pola defikasi yang optimal &lt;br /&gt;Kaji fungsi urinarius, perhatikan frekuensi dan jumlah berkemih per hari dan perasaan kandung kemih penuh.&lt;br /&gt;Rasional :   Berkemih harus dalam jumlah sedang untuk dapat dikatakan cukup.&lt;br /&gt;Diskusikan kebutuhan dan penggantian cairan normal.&lt;br /&gt;Rasional :   6-8 gelas cairan per hari membantu mencegah statis.&lt;br /&gt;Perhatikan riwayat trauma kandung kemih.&lt;br /&gt;Rasional :   Faktor-faktor ini memperberat infeksi akibat perubahan pada pola eliminasi.&lt;br /&gt;Anjurkan klien untuk rendam duduk (dalam air hangat) atau menggunakan mandi pancuran hangat  bila ia sulit berkemih.&lt;br /&gt;Rasional :   Air hangat yang dialirkan di atas tubuh atau relaksasi perineum dan uretra memudahkan berkemih.&lt;br /&gt;Evaluasi sifat dan beratnya masalah yang berkenaan dengan defekasi.&lt;br /&gt;Rasional :   Membantu menetukan kebutuhan-kebutuhan individu dan memilih intervensi yang tepat.&lt;br /&gt;Tentukan metode-metode yang digunakan untuk memperbaiki konstipasi.&lt;br /&gt;Rasional :   Setiap upaya harus di buat untuk menggunakan diet dan latihan untuk meningkatkan fungsi usus.&lt;br /&gt;Tinjau ulang masukan diet dan cairan, anjurkan peningkatan masukan cairan, buah-buahan dan sayur-sayuran.&lt;br /&gt;Rasional :   Merangsang peristaltic, menurunkan absorbsi air berlebihan dari bahan fecal, sehingga meningkatkan feses yang lebih lunak.&lt;br /&gt;Catat adanya hemoroid/perdarahan.&lt;br /&gt;Rasional :   Perdarahan atau nyeri hemoroid dapat meningkatkan kemungkinan bahwa klien akan menunda defekasi yang akan memperberat konstipasi dan feses kering dan cairan lebih banyak di absorbsi dari feses.&lt;br /&gt;3.Gangguan pola tidur b/d nyeri&lt;br /&gt;Kriteria hasil; Melaporkan rasa sejahtera dan istirahat.&lt;br /&gt;Kaji tingkat kelelahan dan kebutuhan untuk istirahat&lt;br /&gt;Rasional :   Dengan mengetahui tingkat kelelahan klien dapat memberikan intervensi yang tepat sesuai kebutuhan&lt;br /&gt;Kaji factor-factor bila ada yang mempengaruhi istirahat. Organisasikan perawatan untuk meminimalkan gangguan dan memberi istirahat serta periode tidur yang ekstra&lt;br /&gt;Rasional :   Dapat membantu meningkatkan istirahar, tidur dan relaksasi sehingga terpenuhi kepenuhan tidurnya.&lt;br /&gt;Kaji lingkungan rumah, bantuan dirumah, dan anggota keluarga yang lain.&lt;br /&gt;Rasional :   Bantu klien dalam merencanakan periode tidur atau istirahat pada siang hari secara realistic.&lt;br /&gt;Berikan obat obatan misalnya analgesic&lt;br /&gt;Rasional :   Mungkin diperlukan untuk meningkatkan relaksasi dan tidur sesuai kebutuhan.&lt;br /&gt;Anjurkan klien untuk menggunakan tablet vitamin dan besi setiap hari dan pilih diet dengan tepat&lt;br /&gt;Rasional :   Membatu memperbaiki kadar Hb diperlukan untuk transport O2 dan meningkatkan pemulihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Ansietas b/d ancaman yang dirasakan pada diri&lt;br /&gt;Kriteria hasil;   Melaporkan ansietas berkurang serta dapat diatasi dan nampak rilex&lt;br /&gt;Jelaskan prosedur intervensi keperawatan dan pertahankan komunikasi terbuka&lt;br /&gt;Rasional :   Pengetahuan untuk realist aktivitas ini dapat menurunkan rasa takut dari ketidaktahuan&lt;br /&gt;Anjurkan pengguanaan tekhnik relaxsasi.&lt;br /&gt;Rasional :   Memungkinkan klien mendapatkan keuntungan maximal dari priode isterahat, mencegah kelelahan otot dan memperbaiki aliran darah uterus.&lt;br /&gt;Anjurkan pengungkapan rasa takut&lt;br /&gt;Rasional :   Dapat membantu menurunkan ansietas dan merangsang identifikasi perilaku koping.&lt;br /&gt;Tentukan tingkat ansietas klien dan sumber dari masalah&lt;br /&gt;Rasional :   Pelaksanaan operasi mungkin dipandang sebagai suatu kegagalan dalam hidup klien.&lt;br /&gt;Bantu klien atau pasangan mengindentifikasi mekanisme koping yang lasim dan perkembangan strategi koping baru jika dibutuhkan.&lt;br /&gt;Rasional :   Membantu memfasilitasi adaptasi yang positip serta mengurangi perasaan ansietas.&lt;br /&gt;Berikan imformasi yang akurat tentang keadaan klien&lt;br /&gt;Rasional :   Hayalan yang disebabkan oleh kurangnya imformasi atau kesalah pahaman dapat meningkatkan tingkat ansietas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Kurang pengetahuan b/d kurang imformasih dan mispersepsi tentang penyakitnya&lt;br /&gt;Kriteria hasil; Meningkat pemahaman tentang proses penyakitnya.&lt;br /&gt;Tinjau ulang tengtang imformasi yang diterima dan berikan informasi atau perjelas kesalahan konsep bila perlu.&lt;br /&gt;Rasional :   Pengulangan imformasi membantu memberikan kesempatan untuk diskusi tentang ide – ide dan masalah – masalah.&lt;br /&gt;Diskusikan harapan klien mengenai pekerjaan, keluarga dan kebutuhan – kebutuhannya sendiri&lt;br /&gt;Rasional :   Keseimbangan kebutuhan-kebutuhan yang banyak dapat berlebihan khususnya bila harapan klien atau keluarga yang tidak realistic.&lt;br /&gt;Bantu dalam mengembangkan rencana-rancana realistic, Indentifikasi sumber – sumber dan penyusunan tujuan.&lt;br /&gt;Rasional :   Pembagian tugas dan tanggung jawab membantu menurunkan kelelahan individu, meningkatkan adaftasi dan meningkatkan kesejahteran umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Resiko pola napas tidak efektif b/d pergeseran diagfragma karena pembesaran uterus.&lt;br /&gt;Kriteria hasil; Mendemonstrasikan prilaku yang mengoptimalkan  fungsi pernapasan&lt;br /&gt;Kaji status pernapasan klien.&lt;br /&gt;Rasional :   Menentukan luas atau beratnya masalah yang terjadi meskipun kapasitas vital meningkat fungsi pernapasan diubah saat kemampuan diagfragma untuk turun pada saat inspirasi berkurang oleh pembesaran uterus.&lt;br /&gt;Kaji kadar hemoglobin dan hematokrit, tekankan pentingnya masukan vitamin.&lt;br /&gt;Rasional :   Kurangnya kadar Hb mengakibatkan kemungkinan anemia dan menurunkan kapasitas pembawa O2.&lt;br /&gt;Berikan imformasi tentang rasional untuk kesulitan pernapasan dan program aktivitas atau latihan realistic.&lt;br /&gt;Rasional Dapat menurunkan kemungkinan gejala – gejala pernapasan yang berlebihan.&lt;br /&gt;Tinjau ulang tindakan yang dapat dilakukan klien untuk mengurangi masalah, misalnya : postur yang baik, makan sedikit tapi sering, dengan menggunakan posisi semi fowler untuk duduk atau tidur bila gejala berat&lt;br /&gt;Rasional :   Postur yang baik dan makan sedikit membantu memaksimalkan penurunan diagfragma, meningkatkan kertersediaan ruang untuk ekspansi paru. Perubahan posisi tegak dapat meningkatkan ekspansi paru .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Implementasi&lt;br /&gt;Pada tahap implementasi atau pelaksanaan dari asuhan keperawatan meninjau kembali dari apa yang telah direncanakan / intervensi sebelumnya, dengan tujuan utama pada pasien dapat mencakup pola napas yang efektif, peredaan nyeri, mempertahankan pola eliminasi yang baik, pemenuhan istirahat tidur yang adekuat, pengurangan kecemasan, peningkatan pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Evaluasi&lt;br /&gt;Hasil yang diharapkan dari intervensi yang telah ditetapkan adalah:&lt;br /&gt;1.Apakah klien dapat menunjukkan tanda peredaan nyeri&lt;br /&gt;2.Apakah klien dapat mempertahankan pola eliminasinya &lt;br /&gt;3.Apakah klien dapat mempertahankan istirahat yang adekuat&lt;br /&gt;4.Apakah klien mampu menunjukkan penurunan perasaan cemas.&lt;br /&gt;5.Apakah klien menunjukkan peningkatan pengetahuan mengenai penyakitnya.&lt;br /&gt;6.Apakah klien dapat mempertahankan pola napas yang efektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Brunner dan Suddarth. Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8. Vol 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Murah manoe, Dr,IMS, SPog, Pedoman diagnosis dan terapi obstetric dan ginekologi, Rs umum pusat ujung pandang,1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Marilyn E Dounges and Moorhouse dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, edisi3, Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta, 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Marilyn E Dounges and Moorhouse . 1999. Rencana perawatan maternal/bayi, edisi2, Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta, 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Sarwono prawiharjdo, Prof. Dr. dr, Ilmu kandunagan, edisi 2, cetakan ketiga, Jakarta, 1999.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-6546714892319237173?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/6546714892319237173/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/tumor-uterus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/6546714892319237173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/6546714892319237173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/tumor-uterus.html' title='ASKEP TUMOR UTERUS'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-240455315794427830</id><published>2010-02-01T04:48:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T20:53:56.797-08:00</updated><title type='text'>ASKEP ULKUS PEPTIKUM</title><content type='html'>A. KONSEP DASAR MEDIK&lt;br /&gt;DEFENISI&lt;br /&gt;Ulkus peptikum adalah rusaknya lapisan mukosa pada daerah lambung duodenum dalam esophagus. Ulkus peptikum sering disebut sebagai ulkus lambung,duodenal atau esophageal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ETIOLOGI&lt;br /&gt;Ulkus terbentuk apabila sel-sel mukosa usus tidak menghasilkan mucus yang adekuat untuk melindungi diri terhadap pencernaan asam atau apabila terjadi produksi asam yang berlebihan di lambung yang mengalahkan pertahanan mucus. Penyaluran asam yang berlebihan ke duodenum juga akan mengakibatkan ulkus.&lt;br /&gt;Etiologi ulkus peptikum kurang dipahami meskipun bakteri gram negatif H.Pylori telah sangat diyakini sebagai penyebab. Diketahui bahwa ulkus peptikum terjadi hanya pada area saluran Gastrointestinal yang terpajan pada asam hidroklorida dan pepsin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PATOFISIOLOGI&lt;br /&gt;Ulkus peptikum terjadi terutama pada mukosa gastroduodenal karena jaringan ini tidak dapat menahan kerja asam lambung pencernaan (asam hidroklorida dan pepsin). Erosi yang terjadi berkaitan dengan peningkatan konsentrasi dan kerja asam-pepsin atau berkenaan dengan penurunan pertahanan normal dari mukosa.&lt;br /&gt;Sekresi lambung terjadi pada 3 fase yang serupa :&lt;br /&gt;a.Fase sefalik ( psikis )&lt;br /&gt;Dimulai dengan adanya rangsangan seperti pandangan ,bau atau rasa makanan dimana reseptor kortikal serebral bekerja merangsang saraf vagal. Intinya, makanan yang tidak menimbulkan nafsu makan mempunyai sedikit efek pada sekresi lambung. Inilah yang menyebabkan makanan saring secara konfensional diberikan pada pasien dengan ulkus peptikum.&lt;br /&gt;b.Fase lambung&lt;br /&gt;Pada fase lambung, asam lambung dilepaskan sebagai akibat dari rangsangan kimiawi terhadap reseptor di dinding lambung. Refleks vagal menyebabkan sekresi asam sebagai respon terhadap distensi lambung oleh makanan.&lt;br /&gt;c.Fase usus&lt;br /&gt;Makanan dalam usus halus menyebabkan pelepasan hormon (dianggap menjadi gastrin, yang pada intinya dapat merangsang sekresi asam lambung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MANIFESTASI KLINIK.&lt;br /&gt;1.Nyeri&lt;br /&gt;Biasanya, pasien dengan ulkus mengeluh nyeri tumpul seperti tertusuk atau sensasi bakar di epigastrium tengah atau dipunggung. Hal ini diyakini bahwa nyeri terjadi bila kandungan asam lambung dan duodenum meningkat menimbulkan erosi dan merangsang ujung saraf yang terpajan. Teori lain menunjukan bahwa kontak lesi dengan asam merangsang mekanisme refleks lokal yang memulai kontraksi otot halus sekitarnya.&lt;br /&gt;2.Muntah&lt;br /&gt;Meskipun jarang pada ulkus duodenal tak terkomplikasi, muntah dapat mejadi ulkus peptikum hal ini dihubungkan dengan obstruksi jalan keluar lambung oleh spasme mukosa pylorus atau oleh obstruksi mekanis, yang dapat dihubungkan dengan pembentukan jaringan parut atau pembengkakan akut dari membran mukosa yang mengalami inflamasi disekitarnya pada ulkus akut.&lt;br /&gt;3.Konstipasi dan perdarahan&lt;br /&gt;Konstipasi dapat terjadi pada pasien dengan ulkus, kemungkinan sebagai akibat dari diet dan obat-obatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EVALUASI DIAGNOSTIK&lt;br /&gt;1. Pemeriksaan dengan barium terhadap saluran gastrointestinal dapat menunjukan adanya ulkus.&lt;br /&gt;2.Endoskopi gastrointestinal atas digunakan untuk mengidentifikasi perubahan inflamasi, ulkus dan lesi.&lt;br /&gt;3.Pemeriksaan feses dapat diambil setiap hari sampai laporan laboratorium  negatif terhadap darah samar.&lt;br /&gt;4.Pemeriksaan sekretori lambung merupakan nilai yang menentukan dalam mendiagnosis aklorhidria (tidak terdapat asam hidroklorida dalam getah lambung dan syndrom ZOLLINGER-ELLISON).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOMPLIKASI&lt;br /&gt;1.Hemoragi-gastrointestinal atas&lt;br /&gt;2.Perforasi&lt;br /&gt;3.Penetrasi&lt;br /&gt;4.Obstruksi pilorik ( obstruksi jalan keluar lambung )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENATALAKSANAAN&lt;br /&gt;1.Identifikasi dan penghindaran makanan yang menyebabkan sekresi HCL yang berlebihan.&lt;br /&gt;2.Pendidikan ( HE ) mengenai menghindari alkohol dan kafein.&lt;br /&gt;3.Berhenti merokok karena tembakau dapat memperlambat penyembuhan.&lt;br /&gt;4.Penatalaksanaan stress, teknik-teknik relakasasi atau sedatif untuk mengatasi pengaruh psikologis.&lt;br /&gt;5.Antasid untuk menetralkan asam.&lt;br /&gt;6.Salah satu kemajuan dalam pengobatan adalah pemberian antibiotik yang spesifik untuk H. Pylori.&lt;br /&gt;7. Antagonis reseptor histamin 2 untuk mengurangi sekresi asam oleh sel-sel parietal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.KONSEP DASAR KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1.Pengkajian&lt;br /&gt;Data pengkajian ulkus peptikum meliputi :&lt;br /&gt;Nyeri ulkus peptikum biasanya digambarkan sebagai rasa terbakar atau menggrogoti dan terjadi kira-kira 2 jam setelah makan. Nyeri ini sering membangunkan pasien antara tengah malam dan jam 3 pagi. Pasien biasanya mengatakan bahwa nyeri dihilangkan dengan menggunakan antasida, makan makanan atau dengan muntah.&lt;br /&gt;Pasien ditanyakan kapan muntah terjadi, bila terjadi seberapa banyak? Apakah muntahan merah terang atau seperti warna kopi.&lt;br /&gt;Apakah pasien mengalami defekasi disertai feses berdarah? &lt;br /&gt;Mengkaji kebiasaan makan pasien, termasuk kecepatan makan, makanan reguler, kesukaan terhadap makanan yang pedas, penggunaan bumbu, penggunaan minuman yang mengandung kafein.&lt;br /&gt;Kaji tingkat ketegangan pasien atau kegugupan.&lt;br /&gt;Apakah pasien merokok? Bila ya, seberapa banyak?&lt;br /&gt;Bagaimana pasien mengekspresikan marah, terutama dalam konteks kerja dan kehidupan keluarga.&lt;br /&gt;Adakah stress pekerjaan atau ada masalah dengan keluarga.&lt;br /&gt;Adakah riwayat keluarga dengan penyakit ulkus.&lt;br /&gt;Pemeriksaan tanda-tanda vital sebagai indikator anemia &lt;br /&gt;( takikardia dan hypotensi ).&lt;br /&gt;Pemeriksaan feses terhadap darah samar.&lt;br /&gt;Pemeriksaan fisik, khususnya pada abdomen di palpasi untuk melokalisasi nyeri tekan.&lt;br /&gt;2.Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;Berdasarkan pada data pengkajian, diagnosa keperawatan dapat mencakup :&lt;br /&gt;Nyeri b/d efek sekresi asam lambung pada jaringan yang rusak.&lt;br /&gt;Ansietas b/d koping dengan penyakit akut.&lt;br /&gt;Kurang pengetahuan tentang pencegahan gejala dan penatalaksanaan kondisi.&lt;br /&gt;3.Perencanaan dan Implementasi&lt;br /&gt;Tujuan&lt;br /&gt;Tujuan utama dapat mencakup penghilangan nyeri, penurunan ansietas, penambahan pengetahuan tentang pelaksanaan dan pencegahan kekambuhan ulkus dan tidak adanya komplikasi.&lt;br /&gt;Intervensi keperawatan&lt;br /&gt;oMenghilangkan nyeri&lt;br /&gt;Penghilangan nyeri dapat dilakukan dengan obat yang diresepkan. Aspirin dan makanan serta minuman yang mengandung kafein (cola, teh, kopi, coklat) dihindari. Pasien dianjurkan untuk makan dalam suasana rileks. Pasien selanjutnya dianjurkan teknik relaksasi untuk membantu mengatasi stress dan nyeri serta meningkatkan upaya penghentian merokok.&lt;br /&gt;oMengurangi ansietas&lt;br /&gt;Perawat mengkaji apakah pasien mengetahui dan ingin mengetahui tentang diagnosa penyakit serta mengevaluasi tingkat ansietas. Informasi diberikan sesuai tingkat pemahaman pasien, dan semua pertanyaan dijawab. Pasien dianjurkan untuk mengekspresikan rasa takut secara terbuka. Tes diagnostik dijelaskan dan obat-obatan diberikan sesuai jadwal. Perawat berinteraksi dengan pasien dengan cara yang rileks dan membantu dalam mengidentifikasi stressor serta menjelaskan teknik koping efektif dan metode relaksasi. Perawat mendorong keluarga pasien untuk berpartisipasi dalam perawatan dan memberikan dorongan emosional bila tepat.&lt;br /&gt;oPendidikan pasien dan pertimbangan rencana pulang&lt;br /&gt;Untuk mengatasi penyakit ulkus dengan berhasil, pasien harus memahami situasi dan faktor-faktor yang akan membantu atau memperberat kondisi terdiagnosis, antara lain:&lt;br /&gt;Obat-obatan&lt;br /&gt;Apakah pasien mengetahui jenis obat-obatan yang digunakan dirumah? (termasuk nama, dosis, frekuensi, dan kemungkinan efek samping). Apakah pasien memahami pentingnya melanjutkan obat-obatan meskipun setelah tanda dan gejala berkurang?. Apakah pasien mengetahui jenis obat yang harus dihindari?.&lt;br /&gt;Diet&lt;br /&gt;Apakah pasien mengetahui mana yang cenderung menyebabkan gejala?. Apakah pasien mengetahui bahwa kopi, teh, cola dan alkohol mempunyai potensial menghasilkan asam?. Apakah pasien memahami kebutuhan untuk menghindari makan terlalu banyak serta pentingnya makan teratur dalam suasana rileks?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merokok&lt;br /&gt;Apakah pasien mengetahui bahwa merokok meningkatkan iritasi pada ulkus dan dapat mempengaruhi penyembuhan ulkus?. Apakah perawat membuat pasien sadar akan adanya program untuk penghentian merokok?. &lt;br /&gt;Istirahat dan penurunan stress&lt;br /&gt;Apakah pasien sadar tentang sumber stress dalam keluarga dan lingkungan kerja?. Apakah penyakit ini dan situasi lain menimbulkan gejala stres atau koping buruk dalam keluarga atau lingkungan kerja?. Dapatkah pasien beristirahat selama siang hari?. Dapatkah pasien merencanakan untuk menambahkan periode istirahat atau rileks setelah periode stress yang tidak dapat dihindari? Apakah pasien memerlukan konseling psikososial?&lt;br /&gt;Kewaspadaan terhadap komplikasi&lt;br /&gt;Apakah pasien sadar terhadap tanda dan gejala komplikasi yang harus dilaporkan?&lt;br /&gt;Hemoragi: kulit dingin, konfusi, peningkatan frekwensi jantung, sulit bernafas, darah dalam feces.&lt;br /&gt;Penetrasi dan perforasi: nyeri abdomen berat, abdomen kaku dan nyeri tekan, muntah, peningakatan suhu, peningkatan frekwensi jantung.&lt;br /&gt;Obstruksi pilorik: mual, muntah, distensi abdomen, nyeri abdomen. &lt;br /&gt;Perawatan pasca-pengobatan&lt;br /&gt;Apakah pasien memahami bahwa pengwasan lanjutan diperlukan selama kira-kira satu tahun dan bahwa ulkus dapat kambuh? Apakah pasien mengetahui cara mencari bantuan medis bila gejala berulang? Pasien dan keluarga diinformasikan bahwa pembedahan tidak menjamin kesembuhan ulkus.&lt;br /&gt;o Memantau hemoragi gastrointestinal atas&lt;br /&gt;Perawat mengkaji pasien terhadap gejala pusing atau pingsan, mual dapat mendahului atau menyertai perdarahan. Tanda vital dievaluasi untuk takikhardi, hipotensi dan takipnea. Feses ditest terhadap darah nyata atau samar dan haluaran urine 24 jam dicatat untuk mendeteksi anuria atau oliguria (tidak ada atau terjadi penurunan produksi urine). Seringkali perdarahan dari ulkus peptikum berhenti secara spontan, namun kekambuhan perdarahan. Karena perdarahan dapat fatal, maka penyebab dan beratnya hemoragi dengan cepat diidentifikasi dan kehilangan darah diatasi untuk mencegah syok hipovolemik.&lt;br /&gt;Penatalaksanaan perdarahan saluran gastro intestinal atas terdiri dari:&lt;br /&gt;a.Penentuan  cepat jumlah kehilangan darah dan kecepatan perdarahan&lt;br /&gt;b.Dengan cepat mengganti darah yang telah hilang &lt;br /&gt;c.Menghentikan perdarahn dengan air atau lavase salin&lt;br /&gt;d.Menstabilkan pasien&lt;br /&gt;e.Mendiagnosa dan mengobati penyebab&lt;br /&gt;Tindakan untuk mengatasi perdarahan:&lt;br /&gt;a.Persiapan jalur intavena perifer untuk infus salin atau larutan ringer lactat dan darah dibuat. Perawat perlu membantu pemasangan aarteri pulmonal untuk memantau hemodinamik. Terapi komponen darah dimulai bila ada tanda-tanda takhikardi, berkeringat dan dingin pada ekstremitas.&lt;br /&gt;b.Hemoglobin dan hematokrit dipantau untuk membantu mengevaluasi perdarahan. &lt;br /&gt;c.Kateter urine indweling dipasang untuk memantau haluaran urine.&lt;br /&gt;d.Intubasi nasogastrik digunakan untuk membedakan darah segar dari materi kopi gelap, membantu menghilangkan bekuan dan asam, mencegah mual dan muntah dan untuk pemantauan lebih lanjut.&lt;br /&gt;e.Terapi oksigen dapat diberikan khususnya untuk pasien lansia. &lt;br /&gt;f.Pasien ditempatkan pada posisi recumbent untuk mencegah syok hipopolemik. Namun untuk mencegah aspirasi akibat muntah, pasien ditempatkan pada posisi miring.&lt;br /&gt;g.Tanda vital dipantau sesuai kondisi klien. &lt;br /&gt;oMemantau adanya perforasi&lt;br /&gt;Tanda dan gejala yang perlu diperhatikan mencakup hal berikut:&lt;br /&gt;a.  Nyeri abdomen atas yang tiba-tiba dan hebat (menetap dan meningkat dalam intensitas)&lt;br /&gt;b.Nyeri yang dapat menyebar ke bahu khususnya bahu kanan karena iritasi saraf frenik di diafragma&lt;br /&gt;c.Muntah dan kolaps (pingsan)&lt;br /&gt;d.Nyeri tekan dan kaku hebat pada abdomen (seperti papan)&lt;br /&gt;e.Syok &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi bedah segera didindikasikan karena peritonitis kimia terjadi dalam beberapa jam setelah perforasi dan diikuti dengan peritonitis bakterial, perforasi harus ditutup dengan cepat.&lt;br /&gt;oMemantau adanya penetrasi atau obstruksi&lt;br /&gt;Pasien biasanya mengeluh nyeri punggung dan epigastrik yang tidak hilang dengan obat yang biasa efektif. Seperti juga perforasi, penetrasi biasanya memerlukan intervensi bedah. Obstruksi pilorik terjadi bila area distal pada sfingter pilorik menjadi jaringan parut dan mengeras karena spasme atau edema atau karena jaringan parut yang terbentuk bila ulkus sembuh dan rusak. Pasien mempunyai gejala mual  dan muntah, konstipasi, lambung penuh dan akhirnya penurunan berat badan. &lt;br /&gt;4.Evaluasi&lt;br /&gt;Hasil yang diharapkan :&lt;br /&gt;Bebas dari nyeri diantara makan.&lt;br /&gt;Sedikit mengalami ansietas dengan menghindari stress.&lt;br /&gt;Mematuhi program terapeutik &lt;br /&gt;oMenghindari makanan dan minuman yang mengiritasi&lt;br /&gt;oMakan dengan jadwal teratur&lt;br /&gt;oMeminum obat yang diresepkan sesuai jadwal&lt;br /&gt;oMenggunakan mekanisme koping untuk mengatasi stress&lt;br /&gt;Tidak mengalami komplikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Brunner and suddart. 2000. Keperawatan medical bedah volume 2. Edisi 8. Jakarta: EGC.&lt;br /&gt;2. Crowin Elizabet.J. 2000. Patofisiologi, Jakarta, EGC.&lt;br /&gt;3. Swearingen. 2000. Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 2 Jakarta: EGC.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-240455315794427830?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/240455315794427830/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/ulkus-peptikum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/240455315794427830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/240455315794427830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/ulkus-peptikum.html' title='ASKEP ULKUS PEPTIKUM'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-7287274954712517792</id><published>2010-02-01T04:44:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T20:54:23.781-08:00</updated><title type='text'>ASKEP RETENSIO PLASENTA</title><content type='html'>I.KONSEPMEDIK&lt;br /&gt;A.Pengertian&lt;br /&gt;Retensio Placenta adalah tertahannya atau keadaan dimana uri/placenta belum lahir dalam waktu satu jam setelah bayi lahir. &lt;br /&gt;Pada proses persalinan, kelahiran placenta kadang mengalami hambatan yang dapat berpengaruh bagi ibu bersalin. Dimana terjadi keterlambatan bisa timbul perdarahan yang merupakan salah satu penyebab kematian ibu pada masa post partum. Apabila sebagian placenta lepas sebagian lagi belum, terjadi perdarahan karena uterus tidak bisa berkontraksi dan beretraksi dengan baik pada batas antara dua bagian itu. Selanjutnya apabila sebagian besar  placenta sudah lahir, tetapi sebagian kecil masih melekat pada dinding uterus, dapat timbul perdarahan masa nifas.&lt;br /&gt;Disamping kematian, perdarahan post partum akibat retensio placenta memperbesar kemungkinan terjadinya infeksi puerperal karena daya tahan penderita yang kurang. Oleh karena itu sebaiknya penanganan kala III pada persalinan mengikuti prosedur tetap yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.Etiologi&lt;br /&gt;Penyebab terjadinya Retensio Placenta adalah :&lt;br /&gt;1)Placenta belum lepas dari dinding uterus&lt;br /&gt;Placenta yang belum lepas dari dinding uterus. Hal ini dapat terjadi karena (a) kontraksii uterus kurang kuat untuk melepaskan placenta, dan (b) placenta yang tumbuh melekat erat lebih dalam. Pada keadaan ini tidak terjadi perdarahan dan merupakan indikasi untuk mengeluarkannya. &lt;br /&gt;2)Placenta sudah lepas tetapi belum dilahirkan. Keadaan ini dapat terjadi karena atonia uteri dan dapat menyebabkan perdarahan yang banyak dan adanya lingkaran konstriksi pada bagian bawah rahim. Hal ini dapat disebabkan karena (a) penanganan kala III yang keliru/salah dan (b) terjadinya kontraksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi placenta (placenta inkaserata).&lt;br /&gt;Menurut tingkat perlekatannya, retensio placenta dibedakan atas beberapa tingkatan yaitu sebagai berikut :&lt;br /&gt;oPlacenta Adhesiva; placenta melekat pada desidua endometrium lebih dalam &lt;br /&gt;oPlacenta Inkreta; placenta melekat sampai pada villi khorialis dan tumbuh lebih dalam menembus desidua sampai miometrium.&lt;br /&gt;oPlacenta Akreta; placenta menembus lebih dalam kedalam miometrium tetapi belum mencapai lapisan serosa.&lt;br /&gt;oPlacenta Perkreta; placenta telah menembus mencapai serosa atau peritonium dinding rahim.&lt;br /&gt;oPlacenta Inkarserata; adalah tertahannya di dalam kavum uteri karena kontraksi ostium uteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.Penanganan&lt;br /&gt;1)Penanganan Umum&lt;br /&gt;oJika placenta terlihat dalam vagina, mintalah ibu untuk mengedan. Jika anda dapat merasakan placenta dalam vagina, keluarkan placentaa tersebut.&lt;br /&gt;oPastikan kandung kemih sudah kosong.&lt;br /&gt;oJika placenta belum keluar, berikan oksitoksin 10 unti i.m. Jika belum dilakukan pada penanganan aktif kala III.&lt;br /&gt;oJika uterus berkontraksi, lakukan PTT.&lt;br /&gt;oJika PTT belum berhasil cobalah untuk melakukan pengeluaran placenta secara manual.&lt;br /&gt;2)Penanganan Khusus&lt;br /&gt;oRetensio placenta dengan separasi parsial :&lt;br /&gt;-Tentukan jenis retensio yang terjadi.&lt;br /&gt;-Regangan tali pusat dan minta klien untuk mengedan, bila ekspulsi placenta tidak terjadi, coba traksi terkontrol tali pusat.&lt;br /&gt;-Pasang infus oksitoksin 20 unit dalam 500 ml cairan dengan 40 tetes/menit.&lt;br /&gt;-Bila traksi terkontrol gagal, lakukan manual placenta.&lt;br /&gt;-Transfusi jika perlu.&lt;br /&gt;-Beri antibiotik dan atasi komplikasi.&lt;br /&gt;oPlacenta inkaserata :&lt;br /&gt;-Tentukan diagnosa kerja&lt;br /&gt;-Siapkan alat dan bahan untuk menghilangkan konstriksi serviks dan melahirkan plasenta.&lt;br /&gt;-Siapkan anastesi serta infus oksitoksin 20 ui dalam 500 ml dengan 40 tetes/menit.&lt;br /&gt;-Pemantauan tanda vital, kontraksi uterus, TFU, perdarahan pasca tindakan.&lt;br /&gt;oPlacenta akreta :&lt;br /&gt;-Tentukan diagnosis&lt;br /&gt;-Stabilitas pasien&lt;br /&gt;-Rujuk klien ke RS karena tindakan kasus ini perlu dioperasi.&lt;br /&gt;oPlacenta manual :&lt;br /&gt;-Kaji ulang indikasi dan persetujuan tindakan.&lt;br /&gt;-Kaji ulang prinsip perawatan dan pasang infus.&lt;br /&gt;-Berikan sedativa, analgetik, dan antibiotik dengan dosis tunggal.&lt;br /&gt;-Pasang sarung tangan DTT.&lt;br /&gt;-Jepit tali pusat, tegangkan sejajar lantai.&lt;br /&gt;-Masukan tangan secara obstetrik menelusuri tali pusat dan tangan lain menahan fundus uteri.&lt;br /&gt;-Cari insersi pinggir placenta dengan bagian lateral jari-jari tangan.&lt;br /&gt;-Buka tangan obstetrik seperti memberi salam dan jari-jari dirapatkan, untuk menentukan tempat implantasi.&lt;br /&gt;-Gerakan tangan secara perlahan bergeser kekranial sehingga semua permukaan maternal plasenta dapat dilepaskan.&lt;br /&gt;-Jika tidak terlepas kemungkinan akreta. Siapkan untuk laparatomi.&lt;br /&gt;-Pegang plasenta, keluarkan tangan beserta plasenta secara pelahan.&lt;br /&gt;-Pindahkan tangan luar kesupra simphisis untuk menahan uterus saat placenta dikeluarkan, dan periksa placenta.&lt;br /&gt;-Berikan oksitoksin 10 iu dalam 500 ml cairan dengan 60 tts/menit.&lt;br /&gt;-Periksa dan perbaiki robekan jalan lahir.&lt;br /&gt;-Pantau tanda vital dan kontrol kontraksi uterus dan TFU.&lt;br /&gt;-Teruskan infus dan transfusi jika perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;A.Pengkajian&lt;br /&gt;Beberapa hal yang perlu dikaji dalam asuhan keperawatan pada ibu dengan retensio placenta adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;Identitas klien&lt;br /&gt;Data biologis/fisiologis meliputi; keluhan utama, riwayat kesehatan masa lalu, riwayat penyakit keluarga, riwayat obstetrik (GPA, riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas), dan pola kegiatan sehari-hari sebagai berikut :&lt;br /&gt;1)Sirkulasi :&lt;br /&gt;-Perubahan tekanan darah dan nadi (mungkintidak tejadi sampai kehilangan darah bermakna)&lt;br /&gt;-Pelambatan pengisian kapiler&lt;br /&gt;-Pucat, kulit dingin/lembab&lt;br /&gt;-Perdarahan vena gelap dari uterus ada secara eksternal (placentaa tertahan)&lt;br /&gt;-Dapat mengalami perdarahan vagina berlebihan&lt;br /&gt;-Haemoragi berat atau gejala syock diluar proporsi jumlah kehilangan darah.&lt;br /&gt;2)Eliminasi :&lt;br /&gt;-Kesulitan berkemih dapat menunjukan haematoma dari porsi atas vagina&lt;br /&gt;3)Nyeri/Ketidaknyamanan :&lt;br /&gt;-Sensasi nyeri terbakar/robekan (laserasi), nyeri tekan abdominal (fragmen placenta tertahan) dan nyeri uterus lateral.&lt;br /&gt;4)Keamanan :&lt;br /&gt;-Laserasi jalan lahir: darah memang terang sedikit menetap (mungkin tersembunyi) dengan uterus keras, uterus berkontraksi baik; robekan terlihat pada labia mayora/labia minora, dari muara vagina ke perineum; robekan luas dari episiotomie, ekstensi episiotomi kedalam kubah vagina, atau robekan pada serviks.&lt;br /&gt;5)Seksualitas :&lt;br /&gt;-Uterus kuat; kontraksi baik atau kontraksi parsial, dan agak menonjol (fragmen placenta yang tertahan)&lt;br /&gt;-Kehamilan baru dapat mempengaruhi overdistensi uterus (gestasi multipel, polihidramnion, makrosomia), abrupsio placenta, placenta previa.&lt;br /&gt;Pemeriksaan fisik meliputi; keadaan umum, tanda vital, pemeriksaan obstetrik (inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi).&lt;br /&gt;Pemeriksaan laboratorium. (Hb 10 gr%)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.Diagnosa dan Rencana Intervensi Keperawatan&lt;br /&gt;1.Defisit volume cairan tubuh berhubungan dengan kehilangan melalui vaskuler yang berlebihan.&lt;br /&gt;Intervensi : &lt;br /&gt;-Tinjau ulang catatan kehamilan dan persalinan/kelahiran, perhatiakan faktor-faktor penyebab atau pemberat pada situasi hemoragi (misalnya laserasi, fragmen plasenta tertahan, sepsis, abrupsio plasenta, emboli cairan amnion atau retensi janin mati selama lebih dari 5 minggu)&lt;br /&gt;Rasional : Membantu dalam membuat rencana perawatan yang tepat dan memberikan kesempatan untuk mencegah dan membatasi terjadinya komplikasi.&lt;br /&gt;-Kaji dan catat jumlah, tipe dan sisi perdarahan; timbang dan hitung pembalut, simpan bekuan dan jaringan untuk dievaluasi oleh perawat.&lt;br /&gt;Rasional : Perkiraan kehilangan darah, arteial versus vena, dan adanya bekuan-bekuan membantu membuat diagnosa banding dan menentukan kebutuhan penggantian.&lt;br /&gt;-Kaji lokasi uterus dan derajat kontraksilitas uterus. Dengan perlahan masase penonjolan uterus dengan satu tangan sambil menempatkan tangan kedua diatas simpisis pubis.&lt;br /&gt;Rasional : Derajat kontraktilitas uterus membantu dalam diagnosa banding. Peningkatan kontraktilitas miometrium dapat menurunkan kehilangan darah. Penempatan satu tangan diatas simphisis pubis mencegah kemungkinan inversi uterus selama masase.&lt;br /&gt;-Perhatikan hipotensi atau takikardi, perlambatan pengisian kapiler atau sianosis dasar kuku, membran mukosa dan bibir.&lt;br /&gt;Rasional :   Tanda-tanda ini menunjukan hipovolemi dan terjadinya syok. Perubahan pada tekanan darah tidak dapat dideteksi sampai volume cairan telah menurun sampai 30 - 50%. Sianosis adalah tanda akhir dari hipoksia.&lt;br /&gt;-Pantau parameter hemodinamik seperti tekanan vena sentral atau tekanan baji arteri pulmonal bila ada.&lt;br /&gt;Rasional :  Memberikan pengukuran lebih langsung dari volume sirkulasi dan kebutuhan penggantian. &lt;br /&gt;-Lakukan tirah baring dengan kaki ditinggikan 20-30 derajat dan tubuh horizontal.&lt;br /&gt;Rasional : Perdarahan dapat menurunkan atau menghentikan reduksi aktivitas. Pengubahan posisi yang tepat meningkatkan aliran balik vena, menjamin persediaan darah keotak dan organ vital lainnya lebih besar. &lt;br /&gt;-Pantau masukan dan keluaran, perhatikan berat jenis urin.&lt;br /&gt;Rasional :  Bermanfaat dalam memperkirakan luas/signifikansi kehilangan cairan. Volume perfusi/sirkulasi adekuat ditunjukan dengan keluaran 30 – 50 ml/jam atau lebih besar.&lt;br /&gt;-Hindari pengulangan/gunakan kewaspadaan bila melakukan pemeriksaan vagina dan/atau rektal&lt;br /&gt;Rasional : Dapat meningkatkan hemoragi bila laserasi servikal, vaginal atau perineal atau hematoma terjadi.&lt;br /&gt;- Berikan lingkungan yang tenang dan dukungan psikologis&lt;br /&gt;Rasional :  Meningkatkan relaksasi, menurunkan ansietas dan kebutuhan metabolik.&lt;br /&gt;-Kaji nyeri perineal menetap atau perasaan penuh pada vagina. Berikan tekanan balik pada laserasi labial atau perineal.&lt;br /&gt;Rasional :  Haematoma sering merupakan akibat dari perdarahan lanjut pada laserasi jalan lahir.&lt;br /&gt;-Pantau klien dengan plasenta acreta (penetrasi sedikit dari myometrium dengan jaringan plasenta), HKK atau abrupsio placenta terhadap tanda-tanda KID (koagulasi intravascular diseminata).&lt;br /&gt;Rasional : Tromboplastin dilepaskan selama upaya pengangkatan placenta secara manual yang dapat mengakibatkan koagulopati.&lt;br /&gt;-Mulai Infus 1 atau 2 i.v dari cairan isotonik atau elektrolit dengan kateter !8 G atau melalui jalur vena sentral. Berikan darah lengkap atau produk darah (plasma, kriopresipitat, trombosit) sesuai indikasi. &lt;br /&gt;Rasional :  Perlu untuk infus cepat atau multipel dari cairan atau produk darah untuk meningkatkan volume sirkulasi dan mencegah pembekuan.&lt;br /&gt;-Berikan obat-obatan sesuai indikasi : &lt;br /&gt;Oksitoksin, Metilergononovin maleat, Prostaglandin F2 alfa.&lt;br /&gt;Rasional : Meningkatkan kontraktilitas dari uterus yang menonjol dan miometrium, menutup sinus vena yang terpajan, dan menghentikan hemoragi pada adanya atonia.&lt;br /&gt;Magnesium sulfat&lt;br /&gt;Rasional :  Beberapa penelitian melaporkan penggunaan MGSO4 memudahkan relaksasi uterus selama pemeriksaan manual.&lt;br /&gt;Terapi Antibiotik.&lt;br /&gt;Rasional :  Antibiotok bertindak secara profilaktik untuk mencegah infeksi atau mungkin perlu diperlukan untuk infeksi yang disebabkan atau diperberat pada subinvolusi uterus atau hemoragi.&lt;br /&gt;-Pantau pemeriksaan laboratotium sesuai indikasi : Hb dan Ht.&lt;br /&gt;Rasional :  Membantu dalam menentukan kehilangan darah. Setiap ml darah membawa 0,5 mgHb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Resiko tinggi terjadi Infeksi berhubungan dengan trauma jaringan. &lt;br /&gt;Intervensi : &lt;br /&gt;-Demonstrasikan mencuci tangan yang tepat dan teknik perawatan diri. Tinjau ulang cara yang tepat untuk menangani dan membuang material yang terkontaminasi misalnya pembalut, tissue, dan balutan.&lt;br /&gt;Rasional : Mencegah kontaminasi silang/penyebaran organinisme infeksious..&lt;br /&gt;-Perhatikan perubahan pada tanda vital atau jumlah SDP&lt;br /&gt;Rasional :  Peningkatan suhu dari 100,4 ºF (38ºC) pada dua hari beturut-turut (tidak menghitung 24 jam pertama pasca partum), tachikardia, atau leukositosis dengan perpindahan kekiri menandakan infeksi.&lt;br /&gt;-Perhatikan gejala malaise, mengigil, anoreksia, nyeri tekan uterus atau nyeri pelvis.&lt;br /&gt;Rasional : Gejala-gejala ini menandakan keterlibatan sistemik, kemungkinan menimbulkan bakterimia, shock, dan kematian bila tidak teratasi.&lt;br /&gt;-Selidiki sumber potensial lain dari infeksi, seperti pernapasan (perubahan pada bunyi napas, batuk produktif, sputum purulent), mastitis (bengkak, eritema, nyeri), atau infeksi saluran kemih (urine keruh, bau busuk, dorongan, frekuensi, nyeri).&lt;br /&gt;Rasional : Diagnosa banding adalah penting untuk pengobatan yang efektif.&lt;br /&gt;-Kaji keadaan Hb atau Ht. Berikan suplemen zat besi sesuai indikasi.&lt;br /&gt;Rasional : Anemia sering menyertai infeksi, memperlambat pemulihan dan merusak sistem imun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Nyeri berhubungan dengan trauma atau distensi jaringan.&lt;br /&gt;Intervensi : &lt;br /&gt;-Tentukan karakteristik, tipe, lokasi, dan durasi nyeri. Kaji klien terhadap nyeri perineal yang menetap, perasaan penuh pada vagina, kontraksi uterus atau nyeri tekan abdomen.&lt;br /&gt;Rasional : Membantu dalam diagnosa banding dan pemilihan metode tindakan. Ketidaknyamanan berkenaan dengan hematoma, karena tekanan dari hemaoragik tersembunyi kevagina atau jaringan perineal. Nyeri tekan abdominal mungkin sebagai akibat dari atonia uterus atau tertahannya bagian-bagian placenta. Nyeri berat, baik pada uterus dan abdomen, dapat terjadi dengan inversio uterus.&lt;br /&gt;-Kaji kemungkinan penyebab psikologis dari ketidaknyamana.&lt;br /&gt;Rasional : Situasi darurat dapat mencetuskan rasa takut dan ansietas, yang memperberat persepsi ketidaknyamanan.&lt;br /&gt;-Berikan tindakan kenyamanan seperti pemberian kompres es pada perineum atau lampu pemanas pada penyembungan episiotomi.&lt;br /&gt;Rasional : Kompres dingan meminimalkan edema, dan menurunkan hematoma serta sensasi nyeri, panas meningkatkan vasodilatasi yang memudahkan resorbsi hematoma.&lt;br /&gt;-Berikan analgesik, narkotik, atau sedativa sesuai indikasi&lt;br /&gt;Rasional : Menurunkan nyeri dan ancietas, meningkatkan relaksasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovalemia&lt;br /&gt;Intervensi : &lt;br /&gt;-Perhatikan Hb/Ht sebelum dan sesudah kehilangan darah. Kaji status nutrisi, tinggi dan berat badan.&lt;br /&gt;Rasional :  Nilai bandingan membantu menentukan beratnya kehilangan darah. Status yang ada sebelumnya dari kesehatan yang buruk meningkatkan luasnya cedera dari kekurangan oksigen.&lt;br /&gt;-Pantau tanda vital; catat derajat dan durasi episode hipovolemik. &lt;br /&gt;Rasional : Luasnya keterlibatan hipofisis dapat dihubungkan dengan derajat dan durasi hipotensi. Penigkatan frekuensi pernapasan dapat menunjukan upaya untuk mengatasi asidosis metabolik.&lt;br /&gt;-Perhatikan tingkat kesadaran dan adanya perubahan prilaku.&lt;br /&gt;Rasional :  Perubahan sensorium adalah indikator dini dari hipoksia, sianosis, tanda lanjut dan mungkin tidak tampak sampai kadar PO2 turun dibawah 50 mmHg.&lt;br /&gt;-Kaji warna dasar kuku, mukosa mulut, gusi dan lidah, perhatikan suhu kulit. &lt;br /&gt;Rasional :  Pada kompensasi vasokontriksi dan pirau organ vital, sirkulasi pada pembuluh darah perifer diperlukan yang mengakibatkan sianosis dan suhu kulit dingin.&lt;br /&gt;-Beri terapi oksigen sesuai kebutuhan&lt;br /&gt;Rasional :  Memaksimalkan ketersediaan oksigen untuk transpor sirkulasi kejaringan.&lt;br /&gt;-Pasang jalan napas; penghisap sesuai indikasi&lt;br /&gt;Rasional : Memudahkan pemberian oksigen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Ancietas berhubungan dengan ancaman perubahan pada status kesehatan.&lt;br /&gt;Intervensi : &lt;br /&gt;-Evaluasi respon psikologis serta persepsi klien terhadap kejadian hemoragii pasca partum. Klarifikasi kesalahan konsep.&lt;br /&gt;Rasional : Membantu dalam menentukan rencana perawatan. Persepsi klien tentang kejadian mungkin menyimpang, akan memperberat ancietasnya.&lt;br /&gt;-Evaluasi respon fisiologis pada hemoragik pasca partum; misalnya tachikardi, tachipnea, gelisah atau iritabilitas.&lt;br /&gt;Rasional :  Meskipun perubahan pada tanda vital mungkin karena respon fisiologis, ini dapat diperberat atau dikomplikasi oleh faktor-faktor psikologis.&lt;br /&gt;-Sampaikan sikap tenang, empati dan mendukung.&lt;br /&gt;Rasional : Dapat membantu klien mempertahankan kontrol emosional dalam berespon terhadap perubahan status fisiologis. Membantu dalam menurunkan tranmisi ansietas antar pribadi. &lt;br /&gt;-Bantu klien dalam mengidentifikasi perasaan ansietas, berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan.&lt;br /&gt;Rasional : Pengungkapan memberikan kesempatan untuk memperjelas informasi, memperbaiki kesalahan konsep, dan meningkatkan perspektif, memudahkan proses pemecahan masalah.&lt;br /&gt;-Beritahu kepada klien tujuan dari setiap tindakan yang akan dilakukan&lt;br /&gt;Rasional : Kecemasan klien akan berkurang bila sebelum sebuah tindakan dilakukan oleh perawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Kurang Pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi yang diperoleh.&lt;br /&gt;Intervensi : &lt;br /&gt;-Jelaskan faktor predisposisi atau penyebab dan tindakan khusus terhadap penyebab hemoragi.&lt;br /&gt;Rasional : Memberikan informasi untuk membantu klien/pasangan memahami dan mengatasi situasi.&lt;br /&gt;-Kaji tingkat pengetahuan klien, kesiapan dan kemampuan klien untuk belajar. Dengarkan, bicarakan dengan tenang, dan berikan waktu untuk bertanya dan meninjau materi.&lt;br /&gt;Rasional :  Memberikan informasi yang perlu untuk mengembangkan rencana perawatan individu. Menurunkan stress dan ancietas, yang menghambat pembelanjaran, dan memberikan klarifikasi dan pengulangan untuk meningkatkan pemahaman.&lt;br /&gt;-Diskusikan implikasi jangka pendek dari hemoragi pasca partum, seperti perlambatan atau intrupsi pada proses kedekatan ibu-bayi (klien tidak mampu melakukan perawatan terhadap diri dan bayinya segera sesuai keinginannya).&lt;br /&gt;Rasional : Menurunkan ansietas dan memberikan kerangka waktu yang realistis untuk melakukan ikatan serta aktivitas-aktivitas perawatan bayi.&lt;br /&gt;-Diskusikan implikasi jangka panjang hemoragi pasca partum dengan tepat, misalnya resiko hemoragi pasca partum pada kehamilan selanjutnya, ataonia uterus, atau ketidakmampuan untuk melahirkan anak pada masa datang bila histerektomie dilakukan.&lt;br /&gt;Rasional : Memungkinan klien untuk membuat keputusan berdasarkan informasi dan mulai mengatasi perasaan tentang kejadian-kejadian masa lalu dan sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.Kesimpulan&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka dapat disimpulkan beberapa hal yaitu sebagai berikut:&lt;br /&gt;Retensio placenta adalah keadaan dimana uri/placenta belum lahir dalam waktu satu jam setelah bayi lahir &lt;br /&gt;Ada dua keadaan yang menyebabkan terjadinya retensio placenta yaitu; (a) placenta belum terlepas dari dinding rahim karena tumbuh melekat lebih dalam, dan (b) placenta telah terlepas tetapi belum dapat dikeluarkan yang terjadi akibat penanganan kala III yang salah.&lt;br /&gt;Masalah keperawatan yang dapat terjadi pada atonia uteri adalah defisit volume cairan tubuh, resiko terjadi infeksi, nyeri, gangguan perfusi jaringan, ancietas,  dan kurangnya pengetahuan klien tentang keadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.Saran &lt;br /&gt;Hemoragi pasca partum biasanya didefenisikan sebagai kehilangan darah lebih dari 500 ml selama dan/atau setelah kelahiran. Ini adalah salah satu penyebab tersering kematian pada ibu. Mudah-mudahan makalah ini memberikan wawasan kepada kita tentang retensio sebagai salah satu penyebab perdarahan post partum. Dan kepada ibu dosen pembimbing mata kuliah ini kiranya dapat memberikan masukan, kritik dan saran guna melengkapi pengetahuan tentang retensio placenta terutama yang berkaitan dengan asuhan keperawatan secara lebih khusus pada ibu yang mengalami retensio placenta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR  PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Harry Oxorn, Ilmu Kebidanan Patofisiologi dan Persalinan, Edisi Human Labor and Birth, Yayasan Essentia Medica, 1990.&lt;br /&gt;2.Mary Hamilton, Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas, EGC, Jakarta, 1995.&lt;br /&gt;3.Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 2002.&lt;br /&gt;4.Muliyati, Buku Panduan Kuliah Keperawatan Maternitas, Makassar, 2005.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-7287274954712517792?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/7287274954712517792/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/retensio-plasenta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/7287274954712517792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/7287274954712517792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/retensio-plasenta.html' title='ASKEP RETENSIO PLASENTA'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-3253892806187829540</id><published>2010-02-01T04:37:00.000-08:00</published><updated>2010-02-01T04:37:10.282-08:00</updated><title type='text'>ASKEP HEPATITIS</title><content type='html'>LAPORAN PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Konsep Medik&lt;br /&gt;A. Pengertian&lt;br /&gt;Hepatitis adalah peradangan pada hati atau infeksi pada hati (Elizabeth J. Corwin, 2001). Hepatitis ada yang akut dan ada juga yang kronik. Hepatitis akut adalah penyakit infeksi akut dengan gejala utama yang berhubungan erat dengan adanya nekrosis pada jaringan hati (Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid I).&lt;br /&gt;Hepatitis kronik adalah suatu sindrom klinis dan patologis yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi yang ditandai oleh berbagai tingkat peradangan dan nekrosis pada hati yang berlangsung terus-menerus tanpa penyembuhan dalam waktu palaing sedikit 6 bulan (Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Etiologi&lt;br /&gt;1. Virus hepatitis A, B, C, D, E dan G yang masing-masing menyebabkan tipe hepatitis yang berbeda.&lt;br /&gt;2. Alkohol&lt;br /&gt;3. Keracunan Obat-obatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Manifestasi Klinik&lt;br /&gt;1. Stadium pra-ikterik berlangsung selama 4-7 hari. Pasien mengeluh sakit kepala, lemah, anoreksia, mual, muntah, demam, nyeri pada otot  dan nyeri di perut kanan atas.Urine menjadi lebih coklat.&lt;br /&gt;2. Stadium ikterik yang berlangsung selama 3-6 minggu.Ikterus mula-mula terlihat pada sklera kemudian pada kulit seluruh tubuh.&lt;br /&gt;3. Stadium pasca ikterik (rekonvalesensi)&lt;br /&gt;Ikterus mereda warna urine dan tinja menjadi normal lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Komplikasi&lt;br /&gt;Dapat terjadi komplikasi ringan, misalnya kolestasis berkepanjangan relapsing hepatitis atau hepatitis kronik persisten dengan gejala asimtomatik dan AST fluktuatif.Komplikasi berat yang dapat terjadi adalah hepatitis kronik aktif, sirosis hati, hepatits fulminan atau karsinoma hepatoseluler.Selain itu dapat pula terjadi anemi aplastik, glomerulonefritis, necrositing vaskulitis atau mixede craiyon bilinemia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;E. Pemeriksaan Penunjang&lt;br /&gt;o Urine dan tinja &lt;br /&gt;o Kelainan darah&lt;br /&gt;o Kelainan hematologis &lt;br /&gt;o Biopsi hati dengan jarum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Penatalaksanaan&lt;br /&gt;Penatalaksanaan pada klien dengan hepatitis dapat dilakukan dengan istirahat, diet, dan pengobatan medikamentosa.&lt;br /&gt;1. Istirahat. Pada periode akut dan keadaan lemah klien harus banyak istirahat karena dapat mempercepat proses penyembuhan.&lt;br /&gt;2. Diet. Jika pasien mual, napsu makan menurun atau muntah-muntah, sebaiknya diberikan infus. Jika tidak dapat diberikan makanan yang mengandung cukup kalori (30-35 kal/kg BB) dengan protein cukup (1 g/kg BB).&lt;br /&gt;3. Medikameentosa. Obat-obat yang dapat diberikan adalah :&lt;br /&gt; Kortikosteroid, dapat diberikan pada kolestasis yang berkepanjangan dimana transminase serum telah kembali normal. Pada keadaan ini dapat diberikan prednison 3 x 10 mg selama 7 hari.&lt;br /&gt; Vitamin K diberikan bila ada perdarahan.&lt;br /&gt; Berikan obat-obat yang bersifat melindungi hati.&lt;br /&gt; Golongan Antibiotik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Konsep Keperawatan&lt;br /&gt;1. Pengkajian&lt;br /&gt;Untuk pengkajian pada pasien hepatits data-data yang di perroleh tergantung pada penyebab dan beratnya kerusakan/gangguan hati. Adapun faktor-faktor utama yang perlu dikaji pada pasien hepatitis :&lt;br /&gt; Aktvitas / istirahat&lt;br /&gt;Gejala : Kelemahan, kelelahan, malaise umum.&lt;br /&gt; Sirkulasi&lt;br /&gt;Tandanya :  Bradikardi (hiperbilirubinemia berat), ikterik pada sklera, kulit dan membran mukosa.&lt;br /&gt; Eliminasi&lt;br /&gt;Gejala   : Urine gelap &lt;br /&gt;    Diare/konstipasi; warna tanah liat &lt;br /&gt; Adanya/berulangnya haemodialisa.&lt;br /&gt; Makanan/cairan&lt;br /&gt;Gejalanya : Hilangnya napsu makan (anoreksia), penurunan berat badan atau peningkatan (edema), mual/muntah.&lt;br /&gt;Tanda       : Asites &lt;br /&gt; Neorosensori&lt;br /&gt;Tanda       : Peka rangsang, cenderung tidur, letargi, asteriksis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nyeri/kenyamanan&lt;br /&gt;Gejalanya : Kram abdomen, nyeri tekan pada kuadran kanan atas, mialgia, artralgia, sakit kepala, gatal (pruritus)&lt;br /&gt;Tanda       : Otot tegang, gelisah.&lt;br /&gt; Pernapasan&lt;br /&gt;Gejalanya : Tidak minat atau enggan merokok (perokok)&lt;br /&gt; Keamanan&lt;br /&gt;Gejalanya : Adanya transfusi darah/produk darah&lt;br /&gt;Tanda       : Demam&lt;br /&gt; Urtikaria, lesi makulo papular, eritema tak beraturan, eksaserbasi jerawat, angioma jaringan, eritema palma, ginekomastia (kadang ada pada hapatitis alkoholik), splenomegali, pembesaran nodus servikal posterior.&lt;br /&gt; Seksualitas&lt;br /&gt;Gejalanya : Pola hidup/prilaku meningkat resiko terpajan (contoh homo seksual aktif, biseksual pada wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Diagnosa keperawatan&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil pengkajian tersebut, maka di temukan beberapa diagnosa keperawatan pada klien dengan hepetitis yaitu :&lt;br /&gt;1. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan gangguan absorbsi dan fungsi metebolisme pencernaan makanan.&lt;br /&gt;2. Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan terbentuknya ruam-ruam kulit.&lt;br /&gt;3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Intervensi keperawatan &lt;br /&gt;1. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan gangguan fungsi absorbsi dan fungsi metebolisme pencernaan makanan.&lt;br /&gt;Tujuan : Mempertahankan intake makanan dan minuman yang adekuat untuk mempertahankan atau meningkatkan BB.&lt;br /&gt;Intervensi : &lt;br /&gt; Awasi pemasukan diet/jumlah kalori. Berikan makan sedikit dalam frekuensi sering dan tawarkan makan pagi paling besar.&lt;br /&gt;Rasional : Makan banyak sulit untuk mengatur bila pasien anoreksia. Anoreksia juga paling buruk pada siang hari, membuat asupan makanan yang sulit pada sore hari.&lt;br /&gt; Berikan perawatan mulut sebelum makan.&lt;br /&gt;Rasional : Menghilangkan rasa tak enak dapat meningkatkan napsu makan.&lt;br /&gt; Anjurkan makan dalam posisi duduk tegak&lt;br /&gt;Rasional : Menurunkan rasa penuh abdomen dapat meningkatkan pemasukan.&lt;br /&gt; Dorong pemasukan sari jeruk, minuman karbonat dan permanen berat sepanjang hari.&lt;br /&gt;Rasional : Bahan ini merupakan bahan ekstra kalori dan dapat lebih mudah dicerna/toleran bila makanan lain tidak&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2. Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan terbentuknya ruam-ruam kulit.&lt;br /&gt;Tujuan : Dapat mempertahankan integritas kulit dalam keadan normal&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt; Gunakan air mandi dingin dan soda kue atau mandi kanji. Hindari sabun alkali. Berikan minyak kalamin sesuai indikasi.&lt;br /&gt;Rasional : Mencegah kulit kering berlebihan. Memberikan penghilang gatal.&lt;br /&gt; Anjurkan untuk menggunakan buku-buku jari untuk menggaruk bila tidak terkontrol. Pertahankan kuku jari terpotong pendek pada pasien koma selama jam tidur.&lt;br /&gt;Rasional : Menurunkan potensial cedera kulit.&lt;br /&gt; Berikan masege pada waktu tidur.&lt;br /&gt;Rasional : Bermanfaat dalam meningkatkan tidur dengan menurunkan iritasi kulit.&lt;br /&gt; Hindari komentar tentang penampilan pasien.&lt;br /&gt;Rasional : Meminimalkan stress psikologi sehubungan dengan perubahan kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.&lt;br /&gt;Tujuan : Menunjukan tehnik/perilaku yang memampukan kembali melakukan aktivitas. &lt;br /&gt;Intervensi : &lt;br /&gt;   Tingkatkan tirah baring/duduk. Ciptakan lingkungan yang tenang, batasi pengunjung sesuai keperluan.&lt;br /&gt;Rasional : Meningkatkan istirahat dan ketenangan. Menyediakan energi yang digunakan untuk penyembuhan. Aktivitsa dan posisi duduk yang tepat diyakini menurunkan aliran darah kekaki yang mencegah sirkulasi optimal kehati.&lt;br /&gt; Ubah posisi dengan sering. Berikan perawatan kulit yang baik.&lt;br /&gt;Rasional : Meningkatkan hasil pernapasan dan meminimalkan takanan pada area tertentu untuk menurunkan resiko kerusakan jaringan.&lt;br /&gt; Lakukan tugas dengan cepat dan sesuai toleransi.&lt;br /&gt;Rasional : Memungkinkan periode tambahan istirahat tanpa gangguan. &lt;br /&gt; Tingkatkan aktivitas sesuai toletansi, bantu klien untuk melakukan latihan rentang gerak sendi pasif/aktif.&lt;br /&gt;Rasional : Tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan aktivitas. Ini dapat terjadi karena keterbatasan aktivitas yang mengganggu periode istirahat. &lt;br /&gt; Dorong penggunaan teknik menejemen stress, contoh relaksasi progresif, visualisasi, bimbingan imajinasi. Berikan aktivias hiburan yang tepat seperti nonton tv, radio, membaca.&lt;br /&gt;Rasional : Meningkatkan relaksasi dan penghematan energi, memusatkan kembali latihan dan dapat meningkatkan koping. &lt;br /&gt; Awasi terulangnya anoreksia dan nyeri tekan karena pembesaran hati. &lt;br /&gt;Rasional : Menunjukan kurangnya resolusi/akseserbasi penyakit, memerlukan istirahat lanjut, mengganti program terapi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4. Implementasi&lt;br /&gt;Tujuan utama mencacup :&lt;br /&gt;1. Mempertahankan intake makanan dan minuman yang adekuat untuk mempertahankan BB atau meningkatkan BB.&lt;br /&gt;2. Dapat mempertahankan integritas kulit dalam keadaan normal.&lt;br /&gt;3. Dapat kembali melakukan aktivitas dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Evaluasi&lt;br /&gt;Hasil yang diharapkan :&lt;br /&gt;1. -  Menunjukan perilaku perubahan pola hidup untuk meningkatan/mempertahankan BB yang sesuai.&lt;br /&gt;-  Menunjukan peningkatan BB mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal dan bebas tanda malnutrisi.&lt;br /&gt;2. -  Menunjukan jaringan/kulit utuh, bebas ekskoriasi.&lt;br /&gt;-  Melaporkan tak ada/penurunan pruritus/lecet.&lt;br /&gt;3. - Menyatakan pemahaman situasi/faktor resiko dan program pengobatan individu.&lt;br /&gt;- Menunjukan teknik/perilaku yang memampuakan kembali melakukan aktivitas&lt;br /&gt;- Melaporkan kemampuan melakukan peningkatan toleransi aktivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Corwin, J. Elizabeth, 2001, Buku Saku Pathofisiologi, EGC, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mansjoer, Arif dkk., 2001, Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid I, Medica Aesculapius FKUI, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Brunner &amp; Suddarth, 2001, Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol. 2, EGC, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Suyono, Slamet dkk., 2001, Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi 3, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-3253892806187829540?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/3253892806187829540/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/askep-hepatitis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/3253892806187829540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/3253892806187829540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/askep-hepatitis.html' title='ASKEP HEPATITIS'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-4455508259417852356</id><published>2010-02-01T04:33:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T20:54:43.538-08:00</updated><title type='text'>ASKEP KARSINOMA SERVIKS</title><content type='html'>KARSINOMA SERVIKS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Pendahuluan&lt;br /&gt;Karsinoma serviks uteri merupakan kanker ginekologis yang menempati urutn kedua tersering(setelah kanker payudara). Resiko setiap tahun pada wanita diatas 35 tahun adalah 16/100 000. Insiden puncak terjadi antara usia 45 dan 55 tahun dan insiden ini cenderung terjadi pada usia yang lebih muda. Kanker serviks biasanya tambah kearah dalam sehingga menimbulkan pembesaran serviks.&lt;br /&gt;Lebih dari 85% kanker serviks adalah karsinoma sel sekunder sisanya adalah adenokarsinoma yang berasal dari sel yang melapisi kanalis servikalis atau muaranya. Lama kelamaan kanker dapat menyebar secara langsung kearah atas mengenai rongga uterus atau kebawah mengenai vagina atau melalui aliran limfatik ke nodus limfatikus iliaka eksterna(47 kasus) nodus limfatikus obtttturator(7% kasus) atau nodus paraservikalis (2% kasus). Penyebaran ini dapat dideteksi pada pemeriksaan klinis dan CAT SCAN, sehingga memungkinkan ahli onkologi menentukan stadiun pada awal pemeriksaan, semakin besar kemungkinan keterlibatan nodus limfatikus dan semakin buruk promosinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Etiologi&lt;br /&gt;Penyebab langsung karsinoma uterus belum diketahui, faktor ekstrinstik yang diduga berhubungan dengan insiden karsinoma serviks uteri adalah smegma, infeksi virus Human Papilima Virus (HPV) dan Spermatozoa. Karsinoma serviks uteri timbul  di sambungan skuamokolumner serviks. Faktor resiko yang berhubungan dengan karsinoma serviks ialah perilaku seksual yang berhubungan dengan mitra seks multipel, paretas, nutrisi, rokok, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Pathologi&lt;br /&gt;Karsinoma serviks timbul dibatas antara epitel yang melapisis ektoserviks (porsio) dan endoserviks kanalis serviks yang disebut sebagai squamo-columnar junction (SCJ). Histologik antara epitel gepeng berlapis (squamous kompleks) dari porsio dengan epitel kuboid/silindris pendek selapis bersilia dari endoserviks kanalis serviks. Pada wanita muda SCJ ini berada diluar ostium uteri eksternum sedangkan pada wanita berumur &gt;35 tahunSCJ berada didalam kanalis serviks.&lt;br /&gt;Pada awal perkembangannya kanker serviks tak memberi tanda-tanda dan keluhan. Pada pemeriksaan dengan spekulum, tampak sebagai porsio yang erosif (mutaplasi skuamousa) yang fisiologik atau patologik. Tumor dapat tumbuh; a) eksofitik, mulai dari SCJ kearah lumen vagina sebagai masa proliferatif yang mengalami infeksi sekunder dan nekrosis; b) endofitik, mulai dari SCJ tumbuh kedalam stroma serviks daan cenderung untuk mengadakan infiltrasi menjadi ulkus; dan c) ulseratif, mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan serviks dengan melibatkan awal fornises vagina untuk menjadi ulkus yang luas.&lt;br /&gt;Serviks yang normal secara alami mengalami proses metaplasia (erosio) akibat saling mendesak kedua jenis epitel yang melapisi. Dengan masuknya mutagen, porsio yang erosif (metaplasia skuamosa) yang semula fisiologik dapat berubah menjadi patologik (displastik-diskariotik) melalui tingkatan NIS-I, II, III dan KIS untuk akhirnya menjadi karsinoma infasif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Klasifikasi Menurut Figo 1978&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat  Kriteria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0 Karsinoma insitu atau karsinoma intra epitel&lt;br /&gt;1 Proses terbatas pada serviks (perluasan ke korpus uterus tidak dinilai).&lt;br /&gt;Ia Karsinoma serviks preklinis hanya dapat didiagnosis secara mikroskopik kedalamnya &gt;3-5 mm dari epitel basal dan memanjang tadak lebih dari 7 mm.&lt;br /&gt;Ib Lesi invasif  &gt;5 mm dibagi atas lesi &lt; 4 cm dan &gt; 4 cm.&lt;br /&gt;II Proses keganasan talah keluar dari seviks dan menjalar ke 2/3 bagian atas vagina dan atau ke parametrium tetapi tidak sampai dinding panggul.&lt;br /&gt;IIa Penyebaran hanya kevagina, parmetrium masih bebas dari infiltrat tumor.&lt;br /&gt;IIb Penyebaran keparametrium, uni atau bilateral tetapi belum sampai dinding panggul.&lt;br /&gt;III Penyebaran sampai 1/3 destal vagina atau keparametrium sampai dinding panggul.&lt;br /&gt;IIIa Penyebaran sampai 1/3 distal vagina, namuin tidak sampai kedinding panggul.&lt;br /&gt;IIIb Penyebaran sampai dinding panggul, atau proses pada tingkat 1/II tetapi sudah ada gangguan faal ginjal/hidronefrosis.&lt;br /&gt;IV Proses keganasan telah keluar dri panggul kecil dan melibatkan mukosa rektum dan atau vesika urinaria (dibuktikan secara histologi) tau telah bermetastasis keluar panggul atu ketempat yang jauh.&lt;br /&gt;IVa Telah bermetastasis keorgan sekitarnya&lt;br /&gt;IVb  Telah bermetastasis jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Pemeriksaan Penunjang&lt;br /&gt;a) Sitologi dengan cara Paps Smear.&lt;br /&gt;b) Kolposkopi&lt;br /&gt;c) Servikografi&lt;br /&gt;d) Pemeriksaan visual langsung  &lt;br /&gt;e) Gineskopi&lt;br /&gt;f) Pap net (pemeriksaan terkomputerisasi dengan hasil lebih sensitivitas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Manifestasi Klinis&lt;br /&gt; Keluhan metroragi&lt;br /&gt; Keputihan atau purulen yang berbau (khas) dan tidak gatal&lt;br /&gt; Perdarahan pasca coitus/perdarahan spontan&lt;br /&gt; Obstruksi total vesica urinaria&lt;br /&gt; Cepat lelah&lt;br /&gt; Kehilangan BB&lt;br /&gt; Anemia&lt;br /&gt; Serviks membesar, ireguler dan teraba lunak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Penatalaksanaan&lt;br /&gt;Penatalaksanaan pada klien dengan karsinoma serviks dapat dilakukan dilakukan berdasarkan klasifikasi yang dikemukakan oleh Figo tahun 1978 yaitu sebagai berikut :&lt;br /&gt;Tingkat Panatalaksanaan&lt;br /&gt;0, Ia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ib, IIa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IIb, III, IV&lt;br /&gt;IVa, IVb - Biopsi kerucut&lt;br /&gt;- Histerectomi transvaginal&lt;br /&gt;- Histerectomi radikal dengan limfaadenoktomi panggul dan evaluasi kelenjar limfe para aorta (bila terdapat metastasis dilakukan radioterapi psca pembedahan).&lt;br /&gt;- Histerectomi transvaginal&lt;br /&gt;- Radioterapi&lt;br /&gt;- Radiasi paliatif, dan&lt;br /&gt;- Kemoterapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Prognosis&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang menentukan prognosis ialah umur penderita, keadaan umum, tingkat klinik keganasan, ciri histologik sel tumor, kemampuan ahli atau tim ahli yang menangani dan sarana pengobatan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Asuhan Keperawatan&lt;br /&gt;A. Pengkajian&lt;br /&gt;Beberapa hal yang perlu dikaji dalam asuhan keperawatan pada ibu dengan retensio placenta adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt; Identitas klien&lt;br /&gt; Data biologis/fisiologis meliputi; keluhan utama, riwayat kesehatan masa lalu, riwayat penyakit keluarga, riwayat obstetrik (GPA, riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas), dan pola kegiatan sehari-hari sebagai berikut :&lt;br /&gt;1) Sirkulasi :&lt;br /&gt;- Perubahan tekanan darah dan nadi (mungkin tidak tejadi sampai kehilangan darah bermakna)&lt;br /&gt;- Pelambatan pengisian kapiler&lt;br /&gt;- Pucat, kulit dingin/lembab&lt;br /&gt;- Perdarahan vena gelap dari uterus ada secara eksternal &lt;br /&gt;- Haemoragi berat atau gejala syock diluar proporsi jumlah kehilangan darah.&lt;br /&gt;2) Eliminasi :&lt;br /&gt;- Kesulitan berkemih dapat menunjukan haematoma dari porsio atau serviks.&lt;br /&gt;3) Nyeri/Ketidaknyamanan :&lt;br /&gt;- Sensasi nyeri terbakar/robekan (laserasi), dan nyeri uterus lateral.&lt;br /&gt;4) Keamanan :&lt;br /&gt;- Laserasi jalan lahir: darah memang terang sedikit menetap (mungkin tersembunyi) dengan uterus keras, uterus berkontraksi baik; robekan terlihat pada labia mayora/labia minora, dari muara vagina ke perineum; robekan luas dari episiotomie, ekstensi episiotomi kedalam kubah vagina, atau robekan pada serviks.&lt;br /&gt;5) Seksualitas :&lt;br /&gt;- Uterus kuat; kontraksi baik atau kontraksi parsial, dan agak menonjol (fragmen placenta yang tertahan).&lt;br /&gt;- Kehamilan baru dapat mempengaruhi overdistensi uterus (gestasi multipel, polihidramnion, makrosomia), abrupsio placenta, placenta previa.&lt;br /&gt; Pemeriksaan fisik meliputi; keadaan umum, tanda vital, pemeriksaan obstetrik (inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi).&lt;br /&gt; Pemeriksaan laboratorium. (Hb 10 gr%)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;1. Devisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan vascular yang berlebihan.&lt;br /&gt;2. Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan, pembedahan.&lt;br /&gt;3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan fungsi seksualitas.&lt;br /&gt;4. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.&lt;br /&gt;5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kegagalan memperoleh informasi yang adekuat sehubungan dengan keadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Intervensi dan Implementasi&lt;br /&gt;Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan vaskuler yang berlebihan.&lt;br /&gt;Intervensi : &lt;br /&gt;a. Tinjau ulang catatan kehamilan dan persalinan/kelahiran, perhatikan faktor-faktor penyebab atau pemberat pada situasi hemoragi. &lt;br /&gt;Rasional :  Membantu dalam membuat rencana perawatan yang tepat dan memberikan kesempatan untuk mencegah dan membatasi terjadinya komplikasi.&lt;br /&gt;b. Kaji dan catat jumlah, tipe dan sisi perdarahan; timbang dan hitung pembalut, simpan bekuan dan jaringan untuk dievaluasi oleh perawat.&lt;br /&gt;Rasional : Perkiraan kehilangan darah, arterial versus vena, dan adanya bekuan-bekuan membantu membuat diagnosa banding dan menentukan kebutuhan penggantian.&lt;br /&gt;c. Perhatikan hipotensi atau takikardi, perlambatan pengisian kapiler atau sianosis dasar kuku, membran mukosa dan bibir.&lt;br /&gt;Rasional : Tanda-tanda ini menunjukan hipovolemi dan terjadinya syok. Perubahan pada tekanan darah tidak dapat dideteksi sampai volume cairan telah menurun sampai 30 - 50%. Sianosis adalah tanda akhir dari hipoksia.&lt;br /&gt;d. Pantau parameter hemodinamik seperti tekanan vena sentral atau tekanan baji arteri pulmonal bila ada.&lt;br /&gt;Rasional :  Memberikan pengukuran lebih langsung dari volume sirkulasi dan kebutuhan penggantian. &lt;br /&gt;e. Lakukan tirah baring dengan kaki ditinggikan 20-30 derajat dan tubuh horizontal.&lt;br /&gt;Rasional : Perdarahan dapat menurunkan atau menghentikan reduksi aktivitas. Pengubahan posisi yang tepat meningkatkan aliran balik vena, menjamin persediaan darah keotak dan organ vital lainnya lebih besar.&lt;br /&gt;f. Pertahankan aturan puasa saat menentuka status/kebutuhan klien.&lt;br /&gt;Rasional :  Mencegah aspirasi isi lambung dalam kejadian dimana sensorium berubah dan/atau intervensi pembedahan diperlukan. &lt;br /&gt;g. Pantau masukan dan keluaran, perhatikan berat jenis urin.&lt;br /&gt;Rasional :  Bermanfaat dalam memperkirakan luas/signifikansi kehilangan cairan. Volume perfusi/sirkulasi adekuat ditunjukan dengan keluaran 30 – 50 ml/jam atau lebih besar.&lt;br /&gt;h. Hindari pengulangan/gunakan kewaspadaan bila melakukan pemeriksaan vagina dan/atau rektal&lt;br /&gt;Rasional :  Dapat meningkatkan hemoragi bila laserasi servikal, vaginal atau perineal atau hematoma terjadi.&lt;br /&gt;i. Berikan lingkungan yang tenang dan dukungan psikologis&lt;br /&gt;Rasional :  Meningkatkan relaksasi, menurunkan ancietas dan kebutuhan metabolik.&lt;br /&gt;j. Kaji nyeri perineal menetap atau perasaan penuh pada vagina. Berikan tekanan balik pada laserasi labial atau perineal.&lt;br /&gt;Rasional :  Haematoma sering merupakan akibat dari perdarahan lanjut pada laserasi jalan lahir.&lt;br /&gt;k. Mulai Infus I atau 2 IV dari cairan isotonik atau elektrolit dengan kateter !8 G atau melalui jalur vena sentral. Berikan darah lengkap atau produk darah (plasma, kriopresipitat, trombosit) sesuai indikasi. &lt;br /&gt;Rasional :  Perlu untuk infus cepat atau multipel dari cairan atau produk darah untuk meningkatkan volume sirkulasi dan mencegah pembekuan.&lt;br /&gt;l. Berikan obat-obatan sesuai indikasi : &lt;br /&gt;Oksitoksin, Metilergononovin maleat, Prostaglandin F2 alfa.&lt;br /&gt;Rasional : Meningkatkan kontraktilitas dari uterus yang menonjol dan miometrium, menutup sinus vena yang terpajan, dan menghentikan hemoragi.&lt;br /&gt;Terapi Antibiotik.&lt;br /&gt;Rasional :  Antibiotok bertindak secara profilaktik untuk mencegah infeksi atau mungkin perlu diperlukan untuk infeksi yang disebabkan atau diperberat pada subinvolusi uterus atau hemoragi.&lt;br /&gt;m. Pantau pemeriksaan laboratotium sesuai indikasi : Hb dan Ht.&lt;br /&gt;Rasional : Membantu dalam menentukan kehilangan darah. Setiap ml darah membawa 0,5 mg Hb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyeri berhubungan dengan trauma atau distensi jaringan, prosedur pembedahan.&lt;br /&gt;Intervensi : &lt;br /&gt;a. Tentukan karakteristik, tipe, lokasi, dan durasi nyeri. Kaji klien terhadap nyeri perineal yang menetap, perasaan penuh pada vagina, kontraksi uterus atau nyeri tekan abdomen.&lt;br /&gt;Rasional : Membantu dalam diagnosa banding dan pemilihan metode tindakan. Ketidaknyamanan berkenaan dengan hematoma, karena tekanan dari hemaoragik tersembunyi kevagina atau jaringan perineal. Nyeri tekan abdominal mungkin sebagai akibat dari atonia uterus atau tertahannya bagian-bagian placenta. Nyeri berat, baik pada uterus dan abdomen, dapat terjadi dengan inversio uterus.&lt;br /&gt;b. Kaji kemungkinan penyebab psikologis dari ketidaknyamanan.&lt;br /&gt;Rasional :  Situasi darurat dapat mencetuskan rasa takut dan ansietas, yang memperberat persepsi ketidaknyamanan.&lt;br /&gt;c. Berikan tindakan kenyamanan seperti pemberian kompres es pada perineum.&lt;br /&gt;Rasional : Kompres dingan meminimalkan edema, dan menurunkan hematoma serta sensasi nyeri, panas meningkatkan vasodilatasi yang memudahkan resorbsi hematoma.&lt;br /&gt;d. Berikan analgesik, narkotik, atau sedativa sesuai indikasi&lt;br /&gt;Rasional :  Menurunkan nyeri dan ancietas, meningkatkan relaksasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancietas berhubungan dengan ancaman perubahan pada status kesehatan atau kematian.&lt;br /&gt;Intervensi : &lt;br /&gt;a. Evaluasi respon psikologis serta persepsi klien terhadap kejadian hemoragi pasca partum. Klarifikasi kesalahan konsep.&lt;br /&gt;Rasional :  Membantu dalam menentukan rencana perawatan. Persepsi klien tentang kejadian mungkin menyimpang, memperberat ancietasnya.&lt;br /&gt;b. Evaluasi respon fisiologis pada hemoragik; misalnya tachikardi, tachipnea, gelisah atau iritabilitas.&lt;br /&gt;Rasional :  Meskipun perubahan pada tanda vital mungkin karena respon fisiologis, ini dapat diperberat atau dikomplikasi oleh faktor-faktor psikologis.&lt;br /&gt;c. Tunjukan sikap tenang, empati dan mendukung.&lt;br /&gt;Rasional :  Dapat membantu klien mempertahankan kontrol emosional dalam berespon terhadap perubahan status fisiologis. Membantu dalam menurunkan tranmisi ansietas antar pribadi. &lt;br /&gt;d. Bantu klien dalam mengidentifikasi perasaan ancietas, berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan.&lt;br /&gt;Rasional : Pengungkapan memberikan kesempatan untuk memperjelas informasi, memperbaiki kesalahan konsep, dan meningkatkan perspektif, memudahkan proses pemecahan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resiko tinggi terjadi Infeksi berhubungan dengan trauma jaringan. &lt;br /&gt;Intervensi : &lt;br /&gt;a. Demonstrasikan mencuci tangan yang tepat dan teknik perawatan diri. Tinjau ulang cara yang tepat untuk menangani dan membuang material yang terkontaminasi misalnya pembalut, tissue, dan balutan.&lt;br /&gt;Rasional : Mencegah kontaminasi silang / penyebaran organinisme infeksious.&lt;br /&gt;b. Perhatikan perubahan pada tanda vital atau jumlah SDP&lt;br /&gt;Rasional :  Peningkatan suhu dari 100,4 ºF (38ºC) pada dua hari beturut-turut (tidak menghitung 24 jam pertama pasca partum), tachikardia, atau leukositosis dengan perpindahan kekiri menandakan infeksi.&lt;br /&gt;c. Perhatikan gejala malaise, mengigil, anoreksia, nyeri tekan uterus atau nyeri pelvis.&lt;br /&gt;Rasional : Gejala-gejala ini menandakan keterlibatan sistemik, kemungkinan menimbulkan bakterimia, shock, dan kematian bila tidak teratasi.&lt;br /&gt;d. Selidiki sumber potensial lain dari infeksi, seperti pernapasan (perubahan pada bunyi napas, batuk produktif, sputum purulent), mastitis (bengkak, eritema, nyeri), atau infeksi saluran kemih (urine keruh, bau busuk, dorongan, frekuensi, nyeri).&lt;br /&gt;Rasional : Diagnosa banding adalah penting untuk pengobatan yang efektif.&lt;br /&gt;e. Kaji keadaan Hb atau Ht. Berikan suplemen zat besi sesuai indikasi.&lt;br /&gt;Rasional : Anemia sering menyertai infeksi, memperlambat pemulihan dan merusak sistem imun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang Pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.&lt;br /&gt;Intervensi : &lt;br /&gt;a. Jelaskan faktor predisposisi atau penyebab dan tindakan khusus terhadap penyebab hemoragi.&lt;br /&gt;Rasional : Memberikan informasi untuk membantu klien/pasangan memahami dan mengatasi situasi.&lt;br /&gt;b. Kaji tingkat pengetahuan klien, kesiapan dan kemampuan klien untuk belajar. Dengarkan, bicarakan dengan tenang, dan berikan waktu untuk bertanya dan meninjau materi.&lt;br /&gt;Rasional :  Memberikan informasi yang perlu untuk mengembangkan rencana perawatan individu. Menurunkan stress dan ancietas, yang menghambat pembelajaran, dan memberikan klarifikasi dan pengulangan untuk meningkatkan pemahaman.&lt;br /&gt;c. Diskusikan implikasi jangka pendek dari hemoragi, seperti klien tidak mampu melakukan perawatan terhadap bayi dan dirinya.&lt;br /&gt;Rasional : Menurunkan ansietas dan memberikan kerangka waktu yang realistis untuk melakukan aktivitas perawatan dirinya dan bayi.&lt;br /&gt;d. Diskusikan implikasi jangka panjang Ca Seriks dengan tepat, misalnya resiko hemoragi kehamilan selanjutnya, atonia uterus, atau ketidakmampuan untuk melahirkan anak pada masa datang bila histerektomie dilakukan.&lt;br /&gt;Rasional : Memungkinan klien untuk membuat keputusan berdasarkan informasi dan mulai mengatasi perasaan tentang kejadian-kejadian masa lalu dan sekarang.&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Arif Mansjoer dkk., 2001, Kapita Selekta Kedokteran Jilid I, Media Aesculapius FKUI, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sarwono, 1999, Ilmu Kandungan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirahardjo, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Brunner &amp; Suddarth, 2000, Keperawaatan Medikal Bedah, Penerbit EGC, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dongoes, 2001, Konsep Keperawatan Maternal, EGC, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Derek Llewellyn – Jones, 2002, Dasar-dasar Obstetri dan Ginekologi, Pustaka Nasional, Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-4455508259417852356?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/4455508259417852356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/karsinoma-serviks.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/4455508259417852356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/4455508259417852356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/karsinoma-serviks.html' title='ASKEP KARSINOMA SERVIKS'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-5677606691682597057</id><published>2010-02-01T04:27:00.001-08:00</published><updated>2010-02-02T20:56:17.790-08:00</updated><title type='text'>ASKEP TUMOR MAKSILLA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;LAPORAN PENDAHULUAN&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;I. KONSEP DASAR MEDIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. PENGERTIAN&lt;br /&gt;Pengertian tumor secara umum : suatu pertumbuhan sel-sel abnormal yang cenderung menginvasi jaringan sekitarnya dan menyebar ke tempat-tempat jauh.&lt;br /&gt;Pengertian tumor secara khusus : suatu pertumbuhan yang terjadi di maksillaris yang cenderung mengimvasi jaringan sekitarnya dan bermetastase ketempat-tempat jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. ETIOLOGI&lt;br /&gt; Cara dan mekanisme terjadinya tumor disebut karsinogenesis&lt;br /&gt; Penyebabnya belum diketahui secara pasti&lt;br /&gt; Perubahan dari sel normal menjadi sel tumor dipengaruhi oleh banyak faktor (multi faktor) dan bersifat individual atau tidak sama pada setiap orang.&lt;br /&gt; Bahan kimia&lt;br /&gt;Berbagai bahan kimia dapat merangsang sel-sel untuk meningkatkan atau menurungkan tingkat reproduksi sel diantaranya : INTERLEUKIN yang dikeluarkan oleh sel sistem immun merangsang proliferasi sel. INTERMIN yang dihasilkan oleh sel-sel yang terinfeksi virus dan sel-sel sistem immun dan peradangan dapat mempengaruhi kecepatan reproduksi berbagai sel tubuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. PATOFISIOLOGI&lt;br /&gt;Tumor menyebar secara lokal sewaktu tonjolan-tonjolan mencederai dan mematikan sel-sel yang disekitarnya.tumor yang sedang tumbuh dapat mematikan sel-sel sekitarnya dengan menekan sel-sel tersebut atau dengan menghancurkan suplai darah dan mengeluarkan bahan kimia serta enzim yang menghancur kan  integritas membran sel disekitarnya,sehingga sel tersebut mengalami lisis dan kematian,setelah sel-sel disekitarnya mati tumpor dapat dengan mudah tumbuh untuk menempati ruang yang ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan sel yang abnormal &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Invasi Jaringan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Limpogen dan hematogen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghancurkan sel sel darah merah  Menghancurkan integritas membran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penurunan sel darah merah   Lisis ( kematian sel - sel jaringan )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daya tahan tubuh menurun    Pertumbuhan jaringan yang abnormal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Risiko infeksi    Penekanan pada saraf saraf perifer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reseptor nyeri&lt;br /&gt;Keterbatasan aktivitas  &lt;br /&gt;Korteks serebri&lt;br /&gt;Gangguan dalam proses mastikasi             Nyeri&lt;br /&gt;Pemberian makanan cair&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asupan Nutrisi &amp;lt; dari kebutuhan                     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. TANDA DAN GEJALA&lt;br /&gt; Peninggian atau peningkatan tekanan intrakranial &lt;br /&gt; Ataksia&lt;br /&gt; Perubahan tingkah laku&lt;br /&gt; Paralisis saraf kranial&lt;br /&gt; Adanya massa&lt;br /&gt; Nyeri bila ada metastasis&lt;br /&gt; Pertumbuhan polipoid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala akibat pengobatan:&lt;br /&gt; Tindakan pembedahan : nyeri pasca bedah, ileus paralitik, gangguan nutrisi, mutilasi&lt;br /&gt; Kemoterapi : pansitopenia, imunosupresi, gangguan metabolik, alopesia, muntah, peningkatan berat badan, mukositis, konstipasi, pankreatitis, dan kardiotoksik&lt;br /&gt; Radioterapi : reaksi kulit dan mukositis, mual dan muntah, pertumbuhan yang terlambat, kerusakan otak, sindrom somnolen pascaradiasi, alopesia, kegagalan kelenjar eksokrin dan endokrin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. PENATALAKSANAAN&lt;br /&gt; Pembedahan&lt;br /&gt; Terapi radiasi&lt;br /&gt; Kemoterapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. KOMPLIKASI&lt;br /&gt; Infeksi&lt;br /&gt;Sering terjadi pada stadium lanjut pada para pengidap tumor.&lt;br /&gt; Kematian&lt;br /&gt;Hasil akhir dari tumor yang tumbuh akan menghancurkan sel-sel yang hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. PENCEGAHAN&lt;br /&gt; Menghindari merokok&lt;br /&gt; Makanan yang kaya buah dan rendah lemak&lt;br /&gt; Meghindari penyakit menular seksual &lt;br /&gt; Uji penapisan secara dini&lt;br /&gt; Deteksi dini yang sudah ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. KONSEP DASAR KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. PENGKAJIAN&lt;br /&gt;Data dasar pengkajian pada pasien tumor yaitu:&lt;br /&gt; Aktifitas atau istirahat&lt;br /&gt;Gejala :   kelemahan atau keletihan&lt;br /&gt;Perubahan pada pola istirahat dan jam kebiasan tidur pada malam hari, adanya faktor-faktor yang mempengaruhi : nyeri, ansietas dan berkeringat pada malam hari.&lt;br /&gt; Sirkulasi&lt;br /&gt;Gejala :  palpitasi, nyeri dada pada saat beraktifitas.&lt;br /&gt;Kebiasaan : perubahan pada tekanan darah.  &lt;br /&gt; Integritas ego&lt;br /&gt;Gejala :  faktor stress dan cara mengatasi stress&lt;br /&gt;Masalah tentang perubahan dalam penampilan misalnya : alopesia, lesi cacat, pembedahan, penyangkal diagnosa, perasaan tidak berdaya.&lt;br /&gt;Tanda : menyangkal, menarik diri dan marah.&lt;br /&gt; Makanan dan cairan&lt;br /&gt;Gejala : perubahan pada pola defekasi misalnya : darah pada feses, nyerei pada defekasi, dan perubahan pada eliminasi urinarius.&lt;br /&gt;Tanda :  perubahan pada bising usus, distensi abdomen.&lt;br /&gt; Neurosensori&lt;br /&gt;Gejala :  pusing.&lt;br /&gt; Nyeri dan kenyamanan&lt;br /&gt;Gejala : tidak ada nyeri atau derajat bervariasi misalnya ketidaknyamanan ringan sampai nyeri berat.&lt;br /&gt; Pernapasan&lt;br /&gt;Gejala :  Merokok, pemajanan abses.&lt;br /&gt; Keamanan&lt;br /&gt;Gejala :  Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen.&lt;br /&gt;Tanda :  demam dan ruang kulit.&lt;br /&gt; Seksualitas&lt;br /&gt;Gejala : masalah seksual misalnya:dampak pada hubungan, perubahan pada tingkat kepuasan dan herpes genital.&lt;br /&gt; Interaksi sosial&lt;br /&gt;Gejala : ketidak adekuatan atau kelemahan sistem pengdukung, riwayat perkawinan, masalah tentang fungsi / tanggung jawab peran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. DIAGNOSA KEPERAWATAN&lt;br /&gt; Nyeri berhubungan dengan adanya pertumbuhan jaringan yang abnormal.&lt;br /&gt; Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan anatomi wajah.&lt;br /&gt; Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum &lt;br /&gt; Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.&lt;br /&gt; Kecemasan berhubungan  dengan proses penyakirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. PERENCANAAN&lt;br /&gt;Sasaran utama untuk pasien mencangkup perbaikan pada kondisi membran mukosa oral, perbaikan pada masukan nutrisi, mendapatkan citra diri yang positif, mendapatkan kenyamanan, perubahan metode komunikasi, tidak adanya infeksi, pemahaman tentang penyakit dan pengobatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. IMPLEMENTASI&lt;br /&gt; Peningkatan perawatan mulut&lt;br /&gt;Dimaksudkan untuk mengidentifikasi pasien yang berisiko mengalami komplikasi oral dan membantu pasien menurunkan komplikasi. Adanya gangguan membran mukosa oral dihubungkan dengan pengobatan diberikan pada perawatan primer.  &lt;br /&gt; Menjamin masukan makanan dan cairan adekuat&lt;br /&gt;Perawat menganjurkan perubahan dalam konsistensi makanan dan frekuensi makan, berdasarkan pada kondisi penyakit dan pilihan pasien.&lt;br /&gt; Mendukung citra diri positif&lt;br /&gt;Perawat harus menentukan ansietas mayor pasien dengan memperhatikan hubungan interpersonal. &lt;br /&gt; Meminimalkan ketidaknyamanan dan nyeri.&lt;br /&gt;Perawat menganjurkan untuk menghindari makanan yang merangsang.&lt;br /&gt; Meningkatkan komunikasi efektif &lt;br /&gt; Meningkatkan kontrol infeksi&lt;br /&gt; Pendidikan pasien dan pertimbangan perawatan dirumah. &lt;br /&gt;E. EVALUASI&lt;br /&gt; Menunjukkan bukti membran mukosa oral utuh.&lt;br /&gt;1. Bebas dari nyeri dan ketidaknyamanan rongga oral &lt;br /&gt;2. Tidak terlihat perubahan pada integritas membran.&lt;br /&gt;3. Mengidentifikasi dan menghindari makanan yang mengiritasi &lt;br /&gt;4. Menyebutkan tindakan yang perlu untuk perawatan mulut prefentif&lt;br /&gt;5. Mentaati program pengobatan.&lt;br /&gt;6. Membatasi atau menghindari penggunaan alkohol dan tembakau.&lt;br /&gt; Mencapai dan mempertahankan berat badan yang diinginkan &lt;br /&gt; Mempunyai citra diri positif&lt;br /&gt;1. Mengungkapkan ansietas.&lt;br /&gt;2. Mampu menerima perubahan dan mengubah konsep diri dengan sesuai&lt;br /&gt; Mengungkapkan bahwa nyeri tidak ada atau dapat ditoleransi, menghindari makanan dan cairan yang menyebabkan ketidaknyamanan.&lt;br /&gt; Mengalami penurunan rasa takut yang berhubungan dengan nyeri, isolasi, dan ketidakmampuan mengatasi&lt;br /&gt;1. Menerima bahwa nyeri akan teratasi bila tidak di hilangkan.&lt;br /&gt;2. Mengekspresikan dengan bebas rasa takut dan masalahny.&lt;br /&gt; Bebas dari infeksi&lt;br /&gt;1. Menunjukkan nilai-nilai laboratorium normal.&lt;br /&gt;2. Tidak demam.&lt;br /&gt;3. Melakukan hygiene oral setiap setelah makan dan pada saat tidur.&lt;br /&gt; Mendapatkan informasi tentang proses penyakit dan program pengobatan.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Brunner and suddart. 2000. Keperawatan medical bedah volume 2. Edisi 8. Jakarta: EGC.&lt;br /&gt;2. Crowin Elizabet.J. 2000. Patofisiologi, Jakarta, EGC.&lt;br /&gt;3. Swearingen. 2000. Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 2 Jakarta: EGC.&lt;br /&gt;4. Marylyn E Doengoes, mary Friences 1992. Rencana Asuhan Keperawatan edisi, 3 EGC, jakarta&lt;br /&gt;5. Brenda G. Bare , 2001. buku ajar KMB, Edisi 8 Vol I EGC Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-5677606691682597057?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/5677606691682597057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/tumor-maksilla_01.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/5677606691682597057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/5677606691682597057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/tumor-maksilla_01.html' title='ASKEP TUMOR MAKSILLA'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-2780756491590178072</id><published>2010-02-01T04:20:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T20:55:29.050-08:00</updated><title type='text'>ASKEP KUSTA</title><content type='html'>KUSTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengertian&lt;br /&gt;Penyakit kusta adalah suatu penyakit  kronis menular yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium leprae. Penyakit ini terutama menyerang pada masyarakat dinegara-negara berkembang dan menimbulkan dampak psikologis, sosial dan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Etiologi&lt;br /&gt;Penyakit ini disebabkan oleh M. leprae yang merupakan basil tahan asam (BTA), bersifat obligat intraseluler, menyerang sel saraf perifer, kulit, dan organ lain seperti mukosa saluran napas bagian atas, hati, dan sumsum tulang kecuali susunan saraf pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Manifestasi Klinik&lt;br /&gt;Menurut WHO (1995), seseorang didiagnosis menderita penyakit kusta apabila terdapat satu dari tanda kardinal berikut :&lt;br /&gt;1. Adanya lesi kulit yang khas dan kehilangan sensibilitas.&lt;br /&gt;Lesi kulit dapat tunggal ataupun multipel, biasanya hipopigmentasi tetapi kadang-kadang lesi kemerahan atau berwarna tembaga. Lesi dapat bervariasi tetapi umumnya berupa makula, papul atau nodul.&lt;br /&gt;2. BTA Positif.&lt;br /&gt;Pada beberapa kasus ditemukan basil tahan asam dari kerokan jaringan kulit.&lt;br /&gt;Bila ragu-ragu maka dianggap sebagai kasus dicurigai dan periksa ulang setiap 3 bulan sampai ditegakan diagnosis kusta atau penyakit lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Klasifikasi&lt;br /&gt;Menurut Departemen Kesehatan Ditjen P2MPLP (1999) dan WHO (1995) penyakit ini dapat diklasifikasikan  menjadi dua tipe yaitu Pause Basilier (PB) dan Multi Basier (MB).&lt;br /&gt;Secara awam kusta dikenal ada dua macam yakni kusta kering dan kusta basah. Jika kusta terlambat diobati maka akan timbul kerusakan saraf dengan akibat berupa mati rasa (terhadap stimulus panas, dingin, nyeri), kelumpuhan otot, buta, dan akibat lain yang disebabkan oleh proses immunologis yang disebut reaksi kusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Patofisiologi&lt;br /&gt;Setelah M. leprae masuk kedalam tubuh, perkembangan penyakit kusta bergantung pada kerentanan seseorang. Respon tubuh terhadap masa tunas dilampaui tergantung pada derajat sistem immunitas seluler (cellular mediated immune) pasien. Kalau sistem immunitas seluler tinggi, penyakit berkembang kearah tuberkuloid dan bila rendah, berkembang kearah lepromatosa. &lt;br /&gt;Teori yang paling banyak digunakan adalah penularan melalui kontak/sentuhan yang berlangsung lama, namun berbagai penelitian mutakhir mengarah pada droplet infection yaiut penularan melalui selaput lendir pada saluran napas. M. leprae tidak dapat bergerak sendiri dan tidak menghasilkan racun yang dapat merusak kulit, sedangkan ukuran fisiknya yang lebih besar dari pada pori-pori kulit. Oleh karena itu, M. leprae yang karena sesuatu hal menempel pada kulit kita, tidak dapat menembus kulit jika tidak ada luka pada kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Diagnosis Tes&lt;br /&gt;Diagnosa pasti ditegakan bila dpdapatkan kuman kusta pada kerokan kulit di daerah khas dan pada kuping. Pengobatan penyakit kusta berlangsung 6-36 bulan dan bisa gratis di puskasmas. Pencegahannya dengan menjaga kebersihan pribadi, mandi teratur 2 kali sehari dengan sabun, makanan sehat secara seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Pengobatan&lt;br /&gt;Sejak tahun 1941, digunakn DDS (Diethil-Diphenyl-Sulphone) yang dikenal juga sebagai Dapson dengan lama pengobatan seumur hidup. Sejak 1982 WHO memperkenalkan MDT (multiple drug therapi),yang di Indonesia dimulai sejak 1983 dengan menggunakan Rifampicin dan DDS (untuk kusta kering dengan lama pengobatan 6 bulan) dan untuk kusta basah masih ditambah dengan lamparene denagn lama pengobatan 2 tahun. Panduan terbaru dari WHO menyatakan bahwa untuk pengobatan kusta basah cukup[ satu tahun saja. Dengan pengobatan MDT,  Micobacterium Leprae di dalam tubuh penderita akan mati dalam 2 kali8 24 jam. Pada beberapa keadaan, ada Mycobacterium Leprae yang tidur (dormant) dimana metabolismenya praktis nol, sehingga walaupun ada obat yang mematikan namun kuman tetap tyidak mengambilnya karena memang tidak mengambil bahan makanan sama sekali sehingga tetap hidup.&lt;br /&gt;Diharapkan selama masa pengobatan tersebut, kuman – kuman terbangun sedikit demi sedikit sehingga  pada saat masa pengobatan selesai seluruh kuman telah musnah. Pada panderita kusta pengobatan berlangsung 6 hingga 12 bulan. Sebab sesuai dengan jenisnya (ada kusta basah dan kusta kering). Selama pengobatan, penderita harus secara rutin, teratur sampai sembuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASUHAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.1  Pengkajian&lt;br /&gt;Pada pengkajian klien penderita kusta dapat ditemukan gejala-gejala sebagai berikut:&lt;br /&gt;- Aktivitas/ istirahat.&lt;br /&gt;Tanda: - penurunan kekuatan otot.&lt;br /&gt;- gangguan massa otot.&lt;br /&gt;- Perubahan tonus otot.&lt;br /&gt;- Sirkulasi.&lt;br /&gt;Tanda: - Penurunan nadi perifer&lt;br /&gt;- Vasokontriksi perifer.&lt;br /&gt;- Integritas ego.&lt;br /&gt;Gejala: - Masalah tentang keluarga, pekerjaan, keuangan, kecacatan,&lt;br /&gt;Tanda: - Ansietas, menyangkal, menarik diri.&lt;br /&gt;- Makanan/cairan.&lt;br /&gt;- Anoreksia.&lt;br /&gt;- Neurosensori.&lt;br /&gt;Gejala: - kerusakan saraf terutama saraf tepi, penekanan saraf tepi.&lt;br /&gt;Tanda: - peruubahan perilaku, penurunan refleks tendon.&lt;br /&gt;- Nyeri kenyamanan.&lt;br /&gt;Gejala: Tidak sensitive terhadap sentuhan, suhu, dan tidak merasakan nyeri.&lt;br /&gt;- Pernapasan.&lt;br /&gt;Gejala: Pentilasi tidak adekuat, takipnea.&lt;br /&gt;- Keamanan.&lt;br /&gt;Tanda: lesi kulit dapat tunggal/multiple, biasanya hipopigmentasi tetapi kadang-kadang lesi kemerahan atau berwarna tembaga, lesi dapat berpariasi tetapi umumnya berupa macula, papula dan nodul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.2  Pemeriksaan klinis&lt;br /&gt;1. Inspeksi, pasien diminta memejamakan mata, menggerakkan mulut, bersiul, dan tertawa untuk mengetahui fungsi saraf wajah semua kelainan kulit diseluruh tubuh diperhatikan, seperti adanya macula, nodul, jaringan parut, kulit yang keriput, penebalan kulit, dan kehilangan rambut tubuh (alopesia dan madarosis).&lt;br /&gt;2. Pemeriksaan sensibilitas. Pada lesi kulit dengan menggunakan kapas (rasa raba), Jarum pentul yang tajam dan tumpul (rasa nyeri, serta air panas dan dingin dalam tabung reaksi (rasa suhu).&lt;br /&gt;3. Pemeriksaan saraf tepi dan fungsinya dilakukan pada: nervus Auricularis magnus,Nervus ulnaris,Nervus radialis, Nervus medianus, nervus peroneus dan nervus tibialis posterior. Hasil pemeriksaan yang perlu dicatat adalah pembesaran, konsistensi, penebalan, dan adanya nyeri tekan. Perhatikan raut muka pasien apakah ia kesakitan atau tidaksaraf-saraf diraba.&lt;br /&gt;4. Pemeriksaan fungsi saraf otonom, yaitu: memeriksa ada tidaknya kekeringan pada lesi akibat tidak berfungsinya kelenjar keringat dengan menggunakan pensil tinta (uji gunawan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.3  Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt; Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan fungsi barier kulit.&lt;br /&gt; Gangguan rasa nyaman gatal berhubungan dengan lesi kulit.&lt;br /&gt; Gangguan pola tidur berhubungan dengan priritus.&lt;br /&gt; Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kuilit yang tidak baik.&lt;br /&gt; Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan kerusakan pada kulit, pertahanan tubuh menurunun.&lt;br /&gt; Gangguan interaksi social berhubungan dengan persepsi penampilan.&lt;br /&gt; Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya imformasi terhadap perawatan kulit.&lt;br /&gt; Ansietas berhubungan dengan poerubahan status kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;!.4  Intervensi Keperawatan&lt;br /&gt;a. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan fungsi barier kulit.&lt;br /&gt;Tujuan:  Untuk memelihara integritas kulit/ mencapai penyembuhan tepat waktu.&lt;br /&gt;Intervensi:&lt;br /&gt; Kaji kulit setiap hari. Catat warna, turgor, sirkulasi dan sensasi. Gambarkan lesi dan amati perubahan.&lt;br /&gt;Rasional :  Menentukan garis dasar dimana perubahan pada status dapat dibandikan dan lakukan intervensi yang tepat.&lt;br /&gt; Pertahankan/intruksikan dalam hygiene kulit, misalnya membasuh kemudian mengerinkannya dengan berhati-hati dan melakukan masase dengan menggunakan losion atau krim.&lt;br /&gt;Rasional : Masase meningkatkan sirkulasi kulit dan meningkatkan kenyamanan.&lt;br /&gt; Gunting kuku secara teratur&lt;br /&gt;Rasional : Kuku yang panjang/kasar, meningkatkan resiko kerusakan dermal.&lt;br /&gt; Dapatkan kultur dari lesi kulit terbuka.&lt;br /&gt;Rasional : Dapat mengidentifikasi bakteri patogen dan pilihan perawatan yang sesuai.&lt;br /&gt; Gunakan/berikan obat topical atau sistemik sesuai indikasi.&lt;br /&gt;Rasional : Digunakan pada perawatan lesi kulit.&lt;br /&gt; Lindungi lesi dengan salep antibiotic sesuai petunjuk.&lt;br /&gt;Rasional :  Melindungi area lesi dari kontaminasi bakteri dan meningkatkan penyembuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Gangguan rasa nyaman gatal berhubungan dengan lesi kulit.&lt;br /&gt;Tujuan: Untuk mengurangi rasa gatal sehingga tercapai kenyamanan pasien.&lt;br /&gt; Upayakan untuk menemukan penyebab  gangguan rasa nyaman.&lt;br /&gt;Rasional : Membantu mengidentifikasi tindakan yang tepat untuk memberikan kenyamanan .&lt;br /&gt; Mencapai hasil-hasil observasi  secara rinci dengan memakai terminology deskriftif.&lt;br /&gt;Rasional : Deskrifsi yang akurat tentang erupsi kulit diperlukan diagnosis dan pengobatan. Banyak kondisi tampak serupa tapi mempunyai etiologi yang berbeda.&lt;br /&gt; Mengantisipasi reaksi alergi yang mungkin terjadi.&lt;br /&gt;Rasional : Lesi yang menyeluru terutama dengan awitan yang mendadak dapat menunjukkan reaksi alergi terhadap obat.&lt;br /&gt; Pertahankan kelembaban kira-kira 60%. Gunakanlah alat pelembab.&lt;br /&gt;Rasional : Dengan kelembaban yang rendah kulit akan kehilangan air. &lt;br /&gt; Pertahankan lingkungan dingin .&lt;br /&gt;Rasional : Kesejukan mengurangi gatal.&lt;br /&gt; Gunakan sabun ringan (dove) atau sabun yang dibuat untuk kulit sensitive (Neutrogena, aveno ).&lt;br /&gt;Rasional : Upaya ini mencakup tidak adanya larutan detergen, zat pewarna atau bahan pengeras.&lt;br /&gt; Lepaskan kelebihan pakaianatau peralatan ditemp[at tidur.&lt;br /&gt;Rasional : Meningkatkan lingkungan yang sejuk.&lt;br /&gt; Cuci linen tempat tidur dan  pakaian dengan sabun ringan&lt;br /&gt;Rasional : Sabun yang keras dapat menimbulkan iritasi kulit.&lt;br /&gt; Hentikan pemajanan berulang terhadap detergen ,pembersih dan pelarut.&lt;br /&gt;Rasional : Setiap substansi yang menghilangkan air, lipid atau protein dari epidermis akan mengubah fungsi barier kulit.&lt;br /&gt; Membantu pasien menerima terapi yang lama yang diperlukan pada tahap penyembuhan.&lt;br /&gt;Rasional : Tindakan koping biasanya akan meningkatkan kenyamanan.&lt;br /&gt; Menasehati pasien untuk menghindari pemakaian salep atau lotion yang diberi tampa resep dokter.&lt;br /&gt;Rasional : Masalah pasien dapat disebabkan oleh iritasi atau sensitisasi karena pengobatan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan pruritus.&lt;br /&gt;Tujuan: Untuk mencapai istirahat tidur yang cukup.&lt;br /&gt; Menasehati pasien untuk menjaga kamar tidur agar tetap memiliki ventilasi dan kelembaban yang baik.&lt;br /&gt;Rasional : Udara yang kering menimbulkan rasa gatal. Lingkungan yang nyaman meningkatkan relaksasi.&lt;br /&gt; Menjaga agar kulit agar selalu lembab .&lt;br /&gt;Rasional : Tindakan ini mencegah kehilangan air. Kulit yang kering dan gatal biasanya tidak dapat dikendalikan  tetapi dapat disaembuhkan. &lt;br /&gt; Menjaga jadwal tidur yang teratur.Pergi tidur pada saat yang sama dan bangun pada saat yang sama.&lt;br /&gt;Rasional : Dengan jadwal tidur yang teratur akan terpenuhi kebutuhan tidur klien.&lt;br /&gt; Menghindari minuman yang mengandung kafein menjelang tidur malam hari.&lt;br /&gt;Rasional : Kafein memiliki efek puncak 2-4 jam sesudah dikomsumsi. &lt;br /&gt; Melaksanakan gerak badan secara teratur .&lt;br /&gt;Rasional : Gerak badan memberikan efek yang menguntungkan untuk tidur jika dilaksanakan pada malam hari.&lt;br /&gt; Mengerjakan hal-hal yang ritual dan rutin menjelang tidur.&lt;br /&gt;Rasional : Tindakan ini memudahkan peralihan dari keadaan terjaga menjadi keadaan tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kuilit yang tidak baik.&lt;br /&gt;Tujuan : Klien dapat mengembangkan peningkatan penerimaan diri &lt;br /&gt; Kaji adanya gangguan pada citra diri pasien (menghindari kontak mata, ucapan yang merendahkan diri sendiri, ekspresi perasaan muak terhadap kondisi kulitnya.&lt;br /&gt;Rasional : Gangguan citra diri akan menyertai setiap penyakit atau keadaan yang tampak nyata bagi pasien. Kesan seseorang terhadap dirinya sendiri akan berpengaruh pada konsep diri.&lt;br /&gt; Identifikasi stadium psikososial tahap perkembangan.&lt;br /&gt;Rasional : Terdapat hubungan antara stadium perkenmbangan, citra diri dan reaksi serta pemahaman pasioen terhadap kondisi kulitnya.&lt;br /&gt; Berikan kesempatan untuk pengungkapan. Dengarkan (dengan cara yang terbuka, tidak menghakimi) untuk mengespresikan berduka atau anseitas tentang perubahan citra tubuh.&lt;br /&gt;Rasional : Pasien membutuhkan pengalaman didengarkan dan dipahami. Mendukung upaya pasien untuk memperbaiki citra diri. &lt;br /&gt; Bersikap realistic selama pengobatan, pada penyuluhan kesehatan.&lt;br /&gt;Rasional : Meningkatkan kepercayaan dan mengadakan hubungan antara pasien dan perawat.&lt;br /&gt; Berikan harapan dalam parameter situasi individu: jangan memberikan keyakinan yang salah.&lt;br /&gt;Rasional : Meningkatkan perilaku positif dan memberikan kesempatan untuk menyusun tujuan dan rencana untuk masa depan berdasarkan realita.&lt;br /&gt; Dorong interaksi keluarga dan dengan tim rehabilitasi.&lt;br /&gt;Rasional : Mempertahankan pola komunikasi dan memberikan dukungan  terus menerus pada pasien dan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan kerusakan pada kulit, pertahanan   tubuh menurun.  &lt;br /&gt;Tujuan :  Mencapai penyembuhan tepat waktu, tanpa komplikasi &lt;br /&gt; Ukur tanda-tanda vital termasuk suhu&lt;br /&gt;Rasional : Memberikan imformasi data dasar, peningkatan suhu  secara berulang-ulang dari demam yang terjadi untuk menujukkan bahwa tubuh bereaksi pada  proses infeksi yang baru, dimana obat tidak lagi secara efektive mengontrol infeksi yang tidak dapat disembuhkan.&lt;br /&gt; Tekankan pentingnya tekhnik cuci tanganyang baik untuk semua individu yang dating kontak dengan pasien&lt;br /&gt;Rasional : Mengcegah kontaminasi silang; menurungkan resiko infeksi.&lt;br /&gt; Gunakan saputangan , masker dan tekniik aseptik selama perawatan dan berikan pakaian yang steril atau baru&lt;br /&gt;Rasional : Mengcegah terpajan pada organisme infeksius.&lt;br /&gt; Observasi lesi secara periodic&lt;br /&gt;Rasional : Untuk mengetahui perubahan respon terhadap terapi.&lt;br /&gt; Berikan lingkungan yang bersih dan berventilasi yang baik. Periksa pengunjung atau staf terhadap tanda infeksi dan pertahankan kewaspadaan sesuai indikasi.&lt;br /&gt;Rasional : Mengurangi  patogen pada system integument dan mengrangi kemungkinan pasien mengalami infeksi nosokomial.&lt;br /&gt; Berikan preparat antibiotic yang diresepkan dokter.&lt;br /&gt;Rasional : Membunuh atau mencegah pertumbuhan mikroorganisme penyebab infeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya imformasi terhadap perawatan kulit.&lt;br /&gt;Tujuan :   Klien mendapatkan imformasih yang adekuat tentang perawatan kulit.&lt;br /&gt; Tentukan apakah pasien mengetahui (memahami dan salah mengerti) tentang kindisi dirinya.&lt;br /&gt;Rasional : Memberikan data dasar untuk mengembangkan rencana penyuluhan.&lt;br /&gt; Jaga agar pasien mendapatkan informasi yang benar, memperbaiki kesalahan persepsi /imformasi.&lt;br /&gt;Rasional : Pasien harus memiliki perasaan bahwa ada sesuatu yang dapat mereka perbuat. Kebanyakan pasien merasakan mamfaat dan merasa lebih.&lt;br /&gt; Berikan imformasi yang spesifik dalam bentuk tulisan misalnya jadwal dalam minum obat.&lt;br /&gt;Rasional : Imformasi tertulis dapat membantu mengingatkan pasien.&lt;br /&gt; Jelaskan penatalaksanaan minum obat: dosis, frekuensi, tindakan, dan perlunya terapi dalam jangka waktu lama.&lt;br /&gt;Rasional : Meningkatkan partisipasi klien, mematuhi aturan terapi dan mencegah putus obat.&lt;br /&gt; Berikan nasehat pada pasien untuk menjaga agar kulit tetap lembab dan fleksibel dengan tindakan hidrasi serta lotion kulit.&lt;br /&gt;Rasional : Stratum korneum memerlukan air agar fleksibilitas kulit btetap terjaga.. pemberian lotion untuk melembabkan kulit akan mencegah agar kulit tidak menjadi kering, kasar, retak dan bersisik.&lt;br /&gt; Dorong pasien agar mendapat status nutrisi yang sehat.&lt;br /&gt;Rasional : Penampakan kulit mencerminkan kesehatan umum seseorang.perubahan pada kulit dapat mendakan status nutrisi yang abnormal. Nutrisi yang optimal meningkatkan regenerasi jaringan dan penyembuhan umum kesehatan.&lt;br /&gt; Tekankan perlunya atau pentingnya mengevaluasi perawatan atau rehabilitasi.&lt;br /&gt;Rasional : Dukungan jangka panjang dengan evaluasi ulang kontinu dan perubahan terapi dibutuhkan untuk penyembuhan optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.&lt;br /&gt;Tujuan:  Pasien dapat menunjukkan penurunan ansietas sehingga dapat menerimah perubahan status kesehatannya dengan cara sehat.&lt;br /&gt; Berikan penjelasan yang sering dan imformasi tentang prosedur perawatan.&lt;br /&gt;Rasional : Pengetahuan  diharapkan  menurunkan ketakutan dan ancietas, memperjelas kesalahan  konsep dan meningkatkan kerjasama.&lt;br /&gt; Libatkan pasien atau orang terdekat dalam proses pengambilan keputusan.&lt;br /&gt;Rasional : Meningkatkan rasa control dan kerjasama, menurunkan perasaan tak berdaya atau putuis asa. &lt;br /&gt; Kaji status mental terhadap penyakit &lt;br /&gt;Rasional : Pada awalnya pasien dapat men ggunakan penyangkalan untuk menurungkan dan menyaring imformasi secara keseluruhan.&lt;br /&gt; Berikan orientasi konstan dan konsisten.&lt;br /&gt;Rasional : Membantu pasien tetap berhubungan dengan lingkungan dan realitas.&lt;br /&gt; Dorong pasien untuk bicara tentang penyakitnya.&lt;br /&gt;Rasional : Pasien perlu membicarakan apa yang terjadi terus menerus untuk membuat beberapa  rasa terhadap situasi apa yang menakutkan.&lt;br /&gt; Jelaskan pada pasien apa yanga terjadi. Berikan kesempatan untuk bertanya dan berikan jawaban terbuka atau jujur.&lt;br /&gt;Rasional : Pernyataan kompensasi menunjukkan realitas situasi yang dapat membantu pasien atau orang terdekat menerima realitas dan mulai menerima apa yang terjadi.&lt;br /&gt; Identifikasi metode koping atau penanganan stuasi stress sebelumnya.&lt;br /&gt;Rasional : Perilaku masalalu yang berhasil dapat digunakan untuk membantu situasi saat ini.&lt;br /&gt; Dorong keluarga atau orang terdekat mengunjungi dan mendiskusikan yang terjadi pada keluarga. Mengingatkan pasien kejadian masa lalu dan akan datang.&lt;br /&gt;Rasional : Mempertahankan kontak dengan realitas keluarga, membuat rasa kedekatan dan kesinambungan hidup.&lt;br /&gt; Berikan sedative ringan sesuai indikasi.&lt;br /&gt;Rasional : Obat ansietas diperlukan untuk periode singkat sampai pasien lebih stabil secara psikis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR  PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Arief Mansjoer dkk., 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius FKUI, Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-2780756491590178072?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/2780756491590178072/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/laporan-pendahuluan-penyakit-kusta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/2780756491590178072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/2780756491590178072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/laporan-pendahuluan-penyakit-kusta.html' title='ASKEP KUSTA'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-5989792848253571092</id><published>2010-01-31T21:39:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T20:56:35.973-08:00</updated><title type='text'>ASKEP BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA (BPH)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;I. Pengertian&lt;br /&gt;Hiperplasia prostat jinak (benign prostatic hyperplasia) adalah pembesaran kelenjar periurethral yang mendesak jaringan prostat keperifer dan menjadi simpai bedah (pseudokapsul). BPH merupakan kelainan kedua tersering yang dijumpai pada lebih dari 50% pria berusia diatas 60 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Etiologi&lt;br /&gt;Ada beberapa teori yang mengemukakan penyebab terjadinya hipertropi prostat antar lain :&lt;br /&gt;1. Teori sel Stem ( Isaacs 1984,1987 )&lt;br /&gt;Berdasarkan teori ini jaringan prostat pada orang dewasa berada pada keseimbangan antara pertumbuhan sel dan sel yang mati.Keadaan ini disebut Steady State. Pada jaringan prostat terdapat sel stem yang dapat berproli serasi lebih cepat sehingga terjadi hiperplasia kelenjar penuretral.&lt;br /&gt;2. Teori Mc Neal ( 1987 )&lt;br /&gt;Menurut Mc Neal pembesaran  prostat jinak dimulai dari zona transisi yang letaknya sebelah proksimal dan spinater eksternal pada kedua sisi verumen tatum di zona periuretral.&lt;br /&gt;3. Teori Di Hidro Testosteron ( DHT )&lt;br /&gt;Testosteron yang diohasilkan oleh sel leyding jumlah testosteron yang dihasilkan oleh testis kira-kira 90 % dari seluruh produksi testosteron. Sedang yang 10 % dihasilkan oleh kelenjar adrenal. Sebagian besar testosteron dalam keadaan terikat dengan protein dalam bentuk serum.&lt;br /&gt;Bendung hormon ( SBH ) sekitar 20 % testosteron berada dalam keadaan bebas dan testosteron bebas inilah yang memegang peranan peranan dalam proses terjadinya pembesaran prostat testosteron  bebas dapat masuk ke dalam sel prostat dengan menembus membran sel ke dalam sitoplasma sel prostat sehingga membentuk DHT heseplar kompleks yang akan mempengaruhi asam RNA yang menyebabkan terjadinya sintyesis protein sehingga dapat terjadi profilikasi sel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Manifestasi Klinik&lt;br /&gt;Gejala klinik dapat berupa :&lt;br /&gt;o Frekuensi berkemih bertambah&lt;br /&gt;o Nocturia&lt;br /&gt;o Kesulitan dalam memulai (hesitency) dan mengakhiri berkemih&lt;br /&gt;o Miksi terputus (hermittency)&lt;br /&gt;o Urine masih tetap menetes setelah selesai berkemih (terminal dribbling)&lt;br /&gt;o Pancaran miksi menjadi lemah (poor stream)&lt;br /&gt;o Rasa nyeri pada waktu berkemih (dysuria)&lt;br /&gt;o Rasa belum puas setelah miksi&lt;br /&gt;Gejala kilinis tersebut diatas dapat terbagi 4 grade yaitu :&lt;br /&gt;1. Pada grade I  (congestif)&lt;br /&gt;a. Mula-mula pasien berbulan-bulan atau bertahun-tahun susah kencing dan  mulai mengedan.&lt;br /&gt;b. Kalau miksi merasa tidak puas.&lt;br /&gt;c. Urine keluar menetes dan puncuran lemah.&lt;br /&gt;d. Nocturia.&lt;br /&gt;e. Ereksi lebih lama dari normal dan libido lebih dari normal.&lt;br /&gt;f. Pada Citoscopy kelihatan hiperemia dan orifreum urether internal lambat laun terjadi varises akhirnya bisa terjadi pendarahan (blooding).  &lt;br /&gt;2. Pada Grade 2 (residual)&lt;br /&gt;a. Bila miksi terasa panas&lt;br /&gt;b. Nocturi bertambah berat&lt;br /&gt;c. Tidak dapat buang air kecil  (kencing tidak puas)&lt;br /&gt;d. Bisa terjadi infeksi  karena sisa air kencing&lt;br /&gt;e. Tejadi panas tinggi dan bisa meninggal&lt;br /&gt;f. Nyeri pad daerah pinggang dan menjalar keginjal.&lt;br /&gt;3. Pada grade 3 (retensi urine)&lt;br /&gt;a. Ischuria paradorsal&lt;br /&gt;b. Incontinential paradorsal&lt;br /&gt;4. Pada grade 4&lt;br /&gt;a. Kandung kemih penuh.&lt;br /&gt;b. Penderita merasa kesakitan.&lt;br /&gt;c. Air kencing menetes  secara periodik (overflow incontinential).&lt;br /&gt;d. Pada pemeriksaan fisik yaitu palpasi abdomen bawah untuk meraba  ada tumor kerena bendungan hebat.&lt;br /&gt;e. Dengan adanya infeksi penderita bisa meninggal  dan panas tinggi sekitar 40-41  C.&lt;br /&gt;f. Kesadaran bisa menurun.&lt;br /&gt;g. Selanjutnya penderita bisa koma  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan gambaran klinik hipertrofi prostat dapat dikelompokan dalam empat  (4) derajat gradiasi sebagai berikut :&lt;br /&gt;Derajat Colok Dubur Sisa Volume Urine&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt;IV Penonjolan prostat, batas atas mudah diraba.&lt;br /&gt;Penonjolan prostat jelas, batas atas dapat mudah dicapai.&lt;br /&gt;Batas atas prostat tidak dapat diraba &amp;lt; 50 ml 50 – 100 ml  &amp;gt; 100 ml&lt;br /&gt;Retensi urine total&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. Pathofisiologi&lt;br /&gt;Dengan bertambahnya usia akan terjadi perubahan keseimbangan testoteron estrogen, karena produksi testoteron menurun dan terjadi konversi testoteron menjadi estrogen pada jaringan adiposa diperifer. Bila perubahan mikroskopik ini terus berkembang akan terjadi perubahan patologi anatomik. Pada tahap awal setelah terjadi pembesaran prostat, resistensi pada leher vesika dan daerah prostat meningkat, dan detrusor menjadi lebih tebal. Penonjolan serat detrusor kedalam kandung kemih dengan sistoskopi akan terlihat seperti balok yang disebut tuberkulasi. Fase penebalan detrusor ini disebut fase kompensasi otot dinding. Apabila kedaan ini berlanjut maka detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi berkontraksi sehingga terjadi retensi urine.&lt;br /&gt;Biasanya ditemukan gejala obstruksi dan iritasi. Gejala obstruksi terjadi karena detrusor gagal berkontraksi sehingga kontraksi menjadi terputus.Gejala iritasi terjadi karena pengosongan kandung kemih yang tidak sempurna saat miksi atau pembesaran prostat yang menyebabkan rangsangan pada kandung kemih, vesika sering berkontraksi meskipun belum penuh. Apabila vesika menjadi dekompensasi, akan terjadi retensi urine sihingga pada akhir miksi masih ditemukan sisa urine dalam kandung kemih dan timbul rasa tidak tuntas pada akhir miksi. Jika keadaan ini berlanjut pada suatu saat akan terjadi kemacetan total, sehingga penderita tidak mampu lagi miksi.&lt;br /&gt;Karena produksi urine terus terjadi maka vesika tidak mampu lagi menampung urine sehingga tekanan intra vesika terus meningkat melebihi tekanan tekanan sfingter dan obstruksi sehingga menimbulkan inkontinensia paradoks. Retensi kronik menyebabkan refluk vesiko-ureter, hidroueter, hidronefrosis dan gagal ginjal. Prose kerusakan ginjal dipercepat apabila terjadi infeksi. Sisa urine yang terjasi selama miksi akan menyebabkan terbentuknya batu endapan yang dapat menyebabkan hematuria, sistisis dan pielonefritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. Pemeriksaan Diagnostik&lt;br /&gt;1. Pemeriksaan radiologik seperti foto polos abdomen dan pielografi intravena.&lt;br /&gt;2. USG transabdominal atau transrektal (transrectal ultrasonography), untuk mengetahui pembesaran prostat, menentukan volume buli-buli, mengukur sisa urine dan keadaan patologi lain (tumor, divertikel, batu).&lt;br /&gt;3. Systokopi.&lt;br /&gt;4. IVP&lt;br /&gt;5. Urinalisa dan Kultur urine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI. Komplikasi&lt;br /&gt; Retensi Urine&lt;br /&gt; Perdarahan&lt;br /&gt; Perubahan VU; trabekulasi, divertikulasi.&lt;br /&gt; Infeksi saluran kemih akibat kateterisasi&lt;br /&gt; Hidroureter&lt;br /&gt; Hidronefrosis&lt;br /&gt; Cystisis, prostatitis, epididymitis, pyelonefritis.&lt;br /&gt; Hipertensi, Uremia&lt;br /&gt; Prolaps ani/rectum, hemorroid.&lt;br /&gt; Gagal ginjal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VII. Penatalaksanaan&lt;br /&gt;Penatalaksanaan dapat dilakukan berdasarkan derajat berat-ringannya hipertrofi prostat. &lt;br /&gt;1. Derajat I; biasanya belum membutuhkan tindakan pembedahan. Pengobatan konservatif yang dapat diberikan adalah penghambat adrenoreseptor alfa seperti; alfazosin, prazosin, dan terazosin. &lt;br /&gt;2. Derajat II; merupakan indikasi untuk melakukan pembedahan. Biasanya dianjurkan untuk dilakukan reseksi endoskopik melalui urethra (trans urethra resection).&lt;br /&gt;3. Derajat III; pada derajat ini reseksi endoskopik dapat dilakukan secara terbuka. Pembedaahan terbuka dapat dilakukan melalui transvesikel, retropibik atau perineal. &lt;br /&gt;4. Derajat IV; pada derajat ini tindakan pertama adalah membebaskan klien dari retensi urine total, dengan memasang kateter atau sistostomi. Selanjutnya dapat dilakukan pembedahan terbuka. Untuk klien dengan keadaan umum lemah dapat diberikan pengobatan konservatif yaitu penghambat adrenoreseptor daan obat antiandrogen.&lt;br /&gt;Pengobatan invasif lainnya ialah pemanasan prostat dengan gelombang mikro yang disalurkan kekelenjar prostat. Juga dapat digunakan cahaya laser yang disebut transurethral ultrasound guide laser induced prostatecthomy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VIII. Asuhan Keperawatan&lt;br /&gt;A. Pengkajian&lt;br /&gt;1. Sirkulasi ; peningkatan tekanan darah (efek pembesaran ginjal)&lt;br /&gt;2. Eliminasi  ; penurunan kekuatan /dorangan aliran urine&lt;br /&gt;keragu-raguan berkemih awal.&lt;br /&gt;Ketidak mampuan mengosongkan kandung kemih&lt;br /&gt;Nukturia, Disuria Dan Hematurioa&lt;br /&gt;ISK berulang, riwayat batu (stetis urine)&lt;br /&gt;Konstipasi&lt;br /&gt;Massa pada dibawah abdomen.&lt;br /&gt;Nyeri tekan kandung kemih&lt;br /&gt;Hernia ingiunalis&lt;br /&gt;3. Makanan dan Cairan; Anoreksia, mual, muntah, Penurunan berat badan.&lt;br /&gt;4. Nyeri  : Nyeri supra pubis, nyeri panggul,punggung bawah.&lt;br /&gt;5. Kecemasan ; Demam&lt;br /&gt;6. Seksualitas   ; Takut incontunesia atau menetes selama hubungan seksual&lt;br /&gt;Penurunan kontruksi ejakolansi&lt;br /&gt;Pembesaran, nyeri tekan pada prostat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;1. Gangguan eliminasi retensi urine berhubungan dengan obstruksi mekanik pembesaran prostat, dekompensasi otot destrusor, ketidakmampuan kandung kemih untuk berkontruksi dengan adekuat ditandai dengan frekuensi keraguan berkemih, ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih, distensi kandung kemih.&lt;br /&gt;2. Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa , ditandai  : keluhan nyeri meringis, gelisah.&lt;br /&gt;3. Resiko kekurangan kekurangan volume cairan berhubungan dengan hilangnya cairan tubuh secara tidak normal, seperti pendarahan melalui kateter, muntah.&lt;br /&gt;4. Ansietas  berhubungan dengan perubahan status kesehatan, kemungkinan prosedur bedah di tandai: peningkatan tekanan,ketakutan, kekhawatiran.&lt;br /&gt;5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakitnya ditandai: klien sering  menanyakan tentang keadaan penyakitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Intervensi/Rasional&lt;br /&gt;o Gangguan eliminasi retensi berhubungan dengan obstruksi mekanik, pembesaran prostat, dekonpensasi otot destrusor.&lt;br /&gt;Tujuan : &lt;br /&gt;- Berkemih dengan jumlah yang cukup tak teraba disertai kandung kemih.&lt;br /&gt;- Menunjukkan residu pasca berkemih kurang dari 50 ml dengan tak adanya tetesan/kelebihan aliran.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;1. Dorong klien untuk berkemih tiap 2 sampai 4 jam.&lt;br /&gt;Rasional :  meminimalkan  retensi urine berlebihan pada kandung kemih.&lt;br /&gt;2. Observasi aliran urine. Perhatikan ukuran dari kekuatan&lt;br /&gt;Rasional:  berguna untuk mengevaluasi obstruksi dan piulihan intervensi&lt;br /&gt;3. Awasi dan catat waktu, jumlah tiap berkemih. Perhatikan penurunan pengeluaran urine dan perubahan berat jenis.&lt;br /&gt;Rasional:   retensi urinr meningkatkan tekanan dalam saluran perkemihan bagian atas yang dapat mempengaruhi ginjal.&lt;br /&gt;4. Anjurkan untuk  minum air 3000 ml/hari&lt;br /&gt;Rasional:  peningkatan aliran cairan mempertahankan perfusi ginjal dan membersihkan ginjal, kandung kemih dari pertumbuhan  bakteri.&lt;br /&gt;5. Lakukan kateterisasi  dan perawatan parianal.&lt;br /&gt;Rasional:  menurunkan resiko infeksi asendens. &lt;br /&gt;6. Kolaborasi pemberian Obat anti spasmodik, suoasitoria rektal, antibiotik&lt;br /&gt;Rasional : menghilangkan spasme kandung kemih, sedangkan antibiotik untuk melawan infeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa, distensi kandung kemih,kolik ginjal,infeksi urinaria.&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;- Melaporkan nyeri hilang / terkontrol&lt;br /&gt;- Tampak rileks.&lt;br /&gt;- Mampu untuk tidur/istirahat dengan tepat &lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;1. Kaji tingkat nyeri&lt;br /&gt;Rasional:   memberi informasi dalam keefektifan intervensi.&lt;br /&gt;2. Plester selang drainase pada paha dan keteter pada abdomen.&lt;br /&gt;Rasional:  mencegah penarikan kandung kemih dan erosi pertemuan penis skrotal.&lt;br /&gt;3. Pertahankan tirah baring.&lt;br /&gt;Rasional:  mungkin diperlukan pada awal retensi akut namun ambulasi dini dapat memperbaiki pola berkemih normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan drainase kandung  kemih yang terlalu distensi secara kronik.&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;- Mempertahankan hidrasi adekauat dibuktikan oleh tanda vitat stabil, nadi perifer teraba, pengisian kapiler baik membran mukosa lembab.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;1. Awasi output cairan tiap jam dan catat pengeluaran urine &lt;br /&gt;Rasional:  diuresis cepat dapat mengakibatkan kekurangan volume total cairan karena tidak cukupnya jumlah natrium diabsorpsi dalam tubulus ginjal.&lt;br /&gt;2. Anjurkan infek oral berdasarkan kebutuhan individu&lt;br /&gt;Rasional:   hemostatis, pengurangan cadangan dan peningkatan resiko dehidrasi hipopolemik  &lt;br /&gt;3. Awasi tekanan darah dan nadi obserfasi pengisian kafiler dan membran mukosa oral.&lt;br /&gt;Rasional :   deteksi dini adanya hipopolemik sistem&lt;br /&gt;4. Kolaborasi pemerian cairan IV (garam faal hipertonik) sesuai kebutuhan.&lt;br /&gt;Rasional : pemberian cairan IV menggantikan cairan dan natrium yang hilang untuk mencegah / memperbaiki hipopolemik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Ansietas  berhubungan dengan perubahan status kesehatan kemungkinan prosedur bedah.&lt;br /&gt;Tujuan:&lt;br /&gt;- Tampak rileks&lt;br /&gt;- Melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat ditangani&lt;br /&gt;- Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;1. Bina hubungan saling percaya pada pasien atau keluarganya selalu ada di dekat pasien.&lt;br /&gt;Rasional:  menunjukkan perhatian dan keinginan untuk membantu&lt;br /&gt;2. Berikan  informasi tentang prosedur dan tes khusus dan apa yang akan terjadi  contoh; kateter urine berdarah.&lt;br /&gt;Rasional:  membantu pasien maemahami tujuan dari apa yang  dilakukan dan mengurangi masalah kesehatan karena ketidaktahuan termasuk ketakutan akan kanker.&lt;br /&gt;3. Dorong pasien/orang terdekat untuk menyatakan masalah.&lt;br /&gt;Rasional:  mendefenisikan masalah memberikan kesempatan untuk menjawab pertanyaan, memperjelas kesalahan konsep dan solusi  pemecahan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Kurang pengetahuan  berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses pengobatan.&lt;br /&gt;Tujuan:&lt;br /&gt;- Menyatakan pemahaman proses penyakit.&lt;br /&gt;- Berpartisipasi dalam proses pengobatan&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;1. Kaji ulang proses penyakitb pengalaman pasien.&lt;br /&gt;Rasional:  memberikan dasar pengetahuan di mana pasien dapat membuat pilihan informasi terapi.&lt;br /&gt;2. Dorong menyatakan rasa takut/perasaan dan perhatian.&lt;br /&gt;Rasional:  membantu pasien mengalami perasaan  dapat merupakan rehabilitasi vital. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Implementasi&lt;br /&gt;Implementasi atau pelaksanaan tindakan keperawatan dilakukan berdasarkan rencana tindakan keperawaatan yanag telah disusun tersebut diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Evaluasi&lt;br /&gt;Tahap ini dilakukan dengan mengevaluasi tujuan yang telah dibuat, apakah tujuan pelaksanaan tindakan keperawatan telah mencapai kriteria hasil yang diharapkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Corwin, J. Elizabeth, 2001, Buku Saku Pathofisiologi, EGC, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Doenges, Moorhouse &amp;amp; Geissler, 2001, Rencana Asuhan Keperawatan, Penerbit EGC, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Brunner &amp;amp; Suddarth, 2001, Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol. 3, EGC, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sjamsuhidajat &amp;amp; Wim de Jong, 1997, Ilmu Bedah, Penerbit EGC, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Price &amp;amp; Wilson, 1995, Pathofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, Penerbit EGC, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Staf Pengajar Patologi Anatomi FKUI, 1993, Patologi, Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/92591801282232523-5989792848253571092?l=dastodebelto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dastodebelto.blogspot.com/feeds/5989792848253571092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/01/benigna-prostat-hiperplasia-bph_31.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/5989792848253571092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/92591801282232523/posts/default/5989792848253571092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dastodebelto.blogspot.com/2010/01/benigna-prostat-hiperplasia-bph_31.html' title='ASKEP BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA (BPH)'/><author><name>WWW.DASTO DE BELTO.BLOGSPOT.COM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14337910437043931658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_V_EkBlq7hxE/S2ZdxHigshI/AAAAAAAAAAY/JAAuD_YeJ-o/S220/de+belto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-92591801282232523.post-2469919905811690816</id><published>2010-01-31T20:45:00.000-08:00</published><updated>2010-01-31T20:45:11.770-08:00</updated><title type='text'>ASKEP BRONCHOPNEUMONIA</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_editdata.mso" rel="Edit-Time-Data"&gt;&lt;/link&gt;&lt;o:smarttagtype name="place" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="City" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:Wingdings;	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0;	mso-font-charset:2;	mso-generic-font-family:auto;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}@font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}@font-face	{font-family:"Arial Narrow";	panose-1:2 11 6 6 2 2 2 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:647 2048 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0in;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}h1	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-link:"Heading 1 Char";	mso-style-next:Normal;	margin:0in;	margin-bottom:.0001pt;	text-align:center;	line-height:150%;	mso-pagination:widow-orphan;	page-break-after:avoid;	mso-outline-level:1;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-font-kerning:0pt;}h2	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-link:"Heading 2 Char";	mso-style-next:Normal;	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:0in;	margin-left:17.1pt;	margin-bottom:.0001pt;	text-align:justify;	text-indent:0in;	line-height:150%;	mso-pagination:widow-orphan;	page-break-after:avoid;	mso-outline-level:2;	mso-list:l12 level1 lfo1;	tab-stops:list -17.1pt;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";}h3	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-link:"Heading 3 Char";	mso-style-next:Normal;	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:0in;	margin-left:.5in;	margin-bottom:.0001pt;	text-align:center;	line-height:150%;	mso-pagination:widow-orphan;	page-break-after:avoid;	mso-outline-level:3;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";}h4	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-link:"Heading 4 Char";	mso-style-next:Normal;	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:0in;	margin-left:25.65pt;	margin-bottom:.0001pt;	text-align:justify;	text-indent:-25.65pt;	line-height:150%;	mso-pagination:widow-orphan;	page-break-after:avoid;	mso-outline-level:4;	mso-list:l7 level2 lfo5;	tab-stops:list 22.8pt .5in;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";}p.MsoTitle, li.MsoTitle, div.MsoTitle	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-link:"Title Char";	margin:0in;	margin-bottom:.0001pt;	text-align:center;	line-height:150%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:19.0pt;	mso-bidi-font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";	font-weight:bold;}p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText	{mso-style-unhide:no;	mso-style-link:"Body Text Char";	margin:0in;	margin-bottom:.0001pt;	text-align:center;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}p.MsoBodyTextIndent, li.MsoBodyTextIndent, div.MsoBodyTextIndent	{mso-style-unhide:no;	mso-style-link:"Body Text Indent Char";	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:0in;	margin-left:102.6pt;	margin-bottom:.0001pt;	text-align:justify;	mso-pagination:widow-orphan;	tab-stops:62.7pt 71.25pt 79.8pt;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}p.MsoBodyTextIndent2, li.MsoBodyTextIndent2, div.MsoBodyTextIndent2	{mso-style-unhide:no;	mso-style-link:"Body Text Indent 2 Char";	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:0in;	margin-left:105.45pt;	margin-bottom:.0001pt;	text-align:justify;	mso-pagination:widow-orphan;	tab-stops:62.7pt 79.8pt 105.45pt;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}p.MsoBodyTextIndent3, li.MsoBodyTextIndent3, div.MsoBodyTextIndent3	{mso-style-unhide:no;	mso-style-link:"Body Text Indent 3 Char";	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:0in;	margin-left:28.5pt;	margin-bottom:.0001pt;	text-align:justify;	line-height:150%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}span.Heading1Char	{mso-style-name:"Heading 1 Char";	mso-style-unhide:no;	mso-style-locked:yes;	mso-style-link:"Heading 1";	mso-ansi-font-size:12.0pt;	mso-bidi-font-size:12.0pt;	font-weight:bold;}span.Heading2Char	{mso-style-name:"Heading 2 Char";	mso-style-unhide:no;	mso-style-locked:yes;	mso-style-link:"Heading 2";	mso-ansi-font-size:12.0pt;	mso-bidi-font-size:12.0pt;	font-weight:bold;}span.Heading3Char	{mso-style-name:"Heading 3 Char";	mso-style-unhide:no;	mso-style-locked:yes;	mso-style-link:"Heading 3";	mso-ansi-font-size:12.0pt;	mso-bidi-font-size:12.0pt;	font-weight:bold;}span.Heading4Char	{mso-style-name:"Heading 4 Char";	mso-style-unhide:no;	mso-style-locked:yes;	mso-style-link:"Heading 4";	mso-ansi-font-size:12.0pt;	mso-bidi-font-size:12.0pt;	font-weight:bold;}span.BodyTextIndentChar	{mso-style-name:"Body Text Indent Char";	mso-style-unhide:no;	mso-style-locked:yes;	mso-style-link:"Body Text Indent";	mso-ansi-font-size:12.0pt;	mso-bidi-font-size:12.0pt;}span.BodyTextIndent2Char	{mso-style-name:"Body Text Indent 2 Char";	mso-style-unhide:no;	mso-style-locked:yes;	mso-style-link:"Body Text Indent 2";	mso-ansi-font-size:12.0pt;	mso-bidi-font-size:12.0pt;}span.BodyTextIndent3Char	{mso-style-name:"Body Text Indent 3 Char";	mso-style-unhide:no;	mso-style-locked:yes;	mso-style-link:"Body Text Indent 3";	mso-ansi-font-size:12.0pt;	mso-bidi-font-size:12.0pt;}span.BodyTextChar	{mso-style-name:"Body Text Char";	mso-style-unhide:no;	mso-style-locked:yes;	mso-style-link:"Body Text";	mso-bidi-font-size:12.0pt;}span.TitleChar	{mso-style-name:"Title Char";	mso-style-unhide:no;	mso-style-locked:yes;	mso-style-link:Title;	mso-ansi-font-size:19.0pt;	mso-bidi-font-size:12.0pt;	font-weight:bold;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:113.4pt 85.05pt 85.05pt 113.4pt;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0	{mso-list-id:43844241;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:1705927690 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}@list l0:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:47.4pt;	mso-level-number-position:left;	margin-left:47.4pt;	text-indent:-.25in;	font-family:Symbol;}@list l1	{mso-list-id:103234030;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:724883800 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}@list l1:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:.75in;	mso-level-number-position:left;	margin-left:.75in;	text-indent:-.25in;	font-family:Symbol;}@list l2	{mso-list-id:172382688;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:1013981326 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}@list l2:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:52.2pt;	mso-level-number-position:left;	margin-left:52.2pt;	text-indent:-.25in;	font-family:Symbol;}@list l3	{mso-list-id:277683569;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:957389044 67698697 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}@list l3:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:35.1pt;	mso-level-number-position:left;	margin-left:35.1pt;	text-indent:-.25in;	font-family:Wingdings;}@list l4	{mso-list-id:468128959;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:534797942 67698703 67698697 67698705 67698697 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;}@list l4:level1	{mso-level-tab-stop:.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;}@list l4:level2	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:1.0in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	font-family:Wingdings;}@list l4:level3	{mso-level-text:"%3\)";	mso-level-tab-stop:117.0pt;	mso-level-number-position:left;	margin-left:117.0pt;	text-indent:-.25in;}@list l4:level4	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:2.0in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	font-family:Wingdings;}@list l4:level5	{mso-level-number-format:alpha-lower;	mso-level-tab-stop:2.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;}@list l5	{mso-list-id:651913499;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:-96403952 -1237296436 67698693 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}@list l5:level1	{mso-level-start-at:0;	mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:-;	mso-level-tab-stop:1.0in;	mso-level-number-position:left;	margin-left:1.0in;	text-indent:-.25in;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}@list l5:level2	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:1.0in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	font-family:Wingdings;}@list l6	{mso-list-id:782115094;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:101478208 -1237296436 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}@list l6:level1	{mso-level-start-at:0;	mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:-;	mso-level-tab-stop:1.0in;	mso-level-number-position:left;	margin-left:1.0in;	text-indent:-.25in;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}@list l7	{mso-list-id:828905681;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:556925010 67698697 -1260356124 67698703 1443656926 67698697 1508170020 67698689 67698691 67698693;}@list l7:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	font-family:Wingdings;}@list l7:level2	{mso-level-number-format:roman-upper;	mso-level-style-link:"Heading 4";	mso-level-tab-stop:.5in;	mso-level-number-position:left;	margin-left:.5in;	text-indent:-.5in;}@list l7:level3	{mso-level-tab-stop:1.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;}@list l7:level4	{mso-level-number-format:alpha-upper;	mso-level-tab-stop:2.0in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;}@list l7:level5	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:2.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	font-family:Wingdings;}@list l7:level6	{mso-level-number-format:alpha-lower;	mso-level-tab-stop:3.0in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;}@list l7:level7	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:3.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	font-family:Symbol;}@list l8	{mso-list-id:971059462;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:-425172658 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}@list l8:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:52.2pt;	mso-level-number-position:left;	margin-left:52.2pt;	text-indent:-.25in;	font-family:Symbol;}@list l9	{mso-list-id:996300494;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:-1505722912 67698697 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}@list l9:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:35.1pt;	mso-level-number-position:left;	margin-left:35.1pt;	text-indent:-.25in;	font-family:Wingdings;}@list l10	{mso-list-id:1056976443;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:-2081802362 67698703 67698695 67698703 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;}@list l10:level1	{mso-level-tab-stop:.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;}@list l10:level2	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:1.0in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	mso-ansi-font-size:8.0pt;	font-family:Wingdings;}@list l10:level3	{mso-level-tab-stop:117.0pt;	mso-level-number-position:left;	margin-left:117.0pt;	text-indent:-.25in;}@list l11	{mso-list-id:1147163456;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:-135238752 67698699 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}@list l11:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	font-family:Wingdings;}@list l12	{mso-list-id:1233808597;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:550958804 -1213328624 -857329984 -645352360 67698699 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;}@list l12:level1	{mso-level-number-format:roman-upper;	mso-level-style-link:"Heading 2";	mso-level-tab-stop:.75in;	mso-level-number-position:left;	margin-left:.75in;	text-indent:-.5in;	mso-ascii-font-family:"Arial Narrow";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";	mso-hansi-font-family:"Arial Narrow";	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l12:level2	{mso-level-number-format:alpha-upper;	mso-level-tab-stop:1.0in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;}@list l12:level3	{mso-level-tab-stop:117.0pt;	mso-level-number-position:left;	margin-left:117.0pt;	text-indent:-.25in;}@list l12:level4	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:2.0in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	font-family:Wingdings;}@list l13	{mso-list-id:1248535824;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:684732556 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}@list l13:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	font-family:Symbol;}@list l14	{mso-list-id:1358652766;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:1177464034 67698699 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}@list l14:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	font-family:Wingdings;}@list l15	{mso-list-id:1425222336;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:1960767476 67698697 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}@list l15:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:37.05pt;	mso-level-number-position:left;	margin-left:37.05pt;	text-indent:-.25in;	font-family:Wingdings;}@list l16	{mso-list-id:1478374727;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:793028894 67698689 67698703 67698699 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}@list l16:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:.75in;	mso-level-number-position:left;	margin-left:.75in;	text-indent:-.25in;	font-family:Symbol;}@list l16:level2	{mso-level-tab-stop:1.25in;	mso-level-number-position:left;	margin-left:1.25in;	text-indent:-.25in;}@list l16:level3	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:1.75in;	mso-level-number-position:left;	margin-left:1.75in;	text-indent:-.25in;	font-family:Wingdings;}@list l17	{mso-list-id:1574192465;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:-67727620 67698697 67698689 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}@list l17:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:47.4pt;	mso-level-number-position:left;	margin-left:47.4pt;	text-indent:-.25in;	font-family:Wingdings;}@list l17:level2	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:83.4pt;	mso-level-number-position:left;	margin-left:83.4pt;	text-indent:-.25in;	font-family:Symbol;}@list l18	{mso-list-id:1647779915;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:1226494354 -1237296436 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}@list l18:level1	{mso-level-start-at:0;	mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:-;	mso-level-tab-stop:1.0in;	mso-level-number-position:left;	margin-left:1.0in;	text-indent:-.25in;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}@list l19	{mso-list-id:1679576634;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:2023127046 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;}@list l19:level1	{mso-level-tab-stop:.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;}@list l20	{mso-list-id:1892694528;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:-1739446634 67698697 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}@list l20:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:47.4pt;	mso-level-number-position:left;	margin-left:47.4pt;	text-indent:-.25in;	font-family:Wingdings;}@list l21	{mso-list-id:1936816905;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:-1428797652 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}@list l21:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:66.45pt;	mso-level-number-position:left;	margin-left:66.45pt;	text-indent:-.25in;	font-family:Symbol;}@list l22	{mso-list-id:1980916284;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:-1152896618 67698697 67698705 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}@list l22:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:117.0pt;	mso-level-number-position:left;	margin-left:117.0pt;	text-indent:-.25in;	font-family:Wingdings;}@list l22:level2	{mso-level-text:"%2\)";	mso-level-tab-stop:153.0pt;	mso-level-number-position:left;	margin-left:153.0pt;	text-indent:-.25in;}@list l23	{mso-list-id:2084448195;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:1259349782 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;}@list l23:level1	{mso-level-tab-stop:.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;}@list l24	{mso-list-id:2100985285;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:-1471650748 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}@list l24:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:52.2pt;	mso-level-number-position:left;	margin-left:52.2pt;	text-indent:-.25in;	font-family:Symbol;}@list l25	{mso-list-id:2107076518;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:-398655534 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}@list l25:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:66.45pt;	mso-level-number-position:left;	margin-left:66.45pt;	text-indent:-.25in;	font-family:Symbol;}@list l26	{mso-list-id:2137748759;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:-2085727186 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;}@list l26:level1	{mso-level-tab-stop:.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;}ol	{margin-bottom:0in;}ul	{margin-bottom:0in;}--&gt;&lt;/style&gt;    &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;BRONCHOPNEUMONIA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2 style="margin-left: 2.85pt;"&gt;I.&amp;nbsp; KONSEP MEDIK&lt;/h2&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 17.1pt; text-align: justify; text-indent: 0in;"&gt;&lt;b&gt;A.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;Pengertian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 19.95pt; text-align: justify;"&gt;Bronchopneumonea adalah radang pada paru-paru yang mempunyai penyebaran berbecak, teratur dalam satu area atau lebih yang berlokasi di dalam bronki dan meluas ke parenkim paru (Brunner dan Suddarth, 2001).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 19.95pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 17.1pt; text-align: justify; text-indent: 0in;"&gt;&lt;b&gt;B.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Etiologi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 17.1pt; text-align: justify; text-indent: 0in;"&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Bakteri contohnya : Diplococcus pneumonia, Streptococcus pneumonia.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 17.1pt; text-align: justify; text-indent: 0in;"&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Virus contohnya : Virus Influenza, Virus Parainfluenza.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 37.05pt; text-align: justify; text-indent: -19.95pt;"&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Jamur contihnya : Histoplasma cospulatum, Caudida, Kriptococcus dan blastomises.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 17.1pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 17.1pt; text-align: justify; text-indent: 0in;"&gt;&lt;b&gt;C.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Patofisiologi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 19.95pt; text-align: justify;"&gt;Bakteri, virus ataupun jamur menyerang ventilasi maupun difusi.&amp;nbsp; Suatu reaksi influenza yang terjadi pada alveoli dan menghasilkan eksudat yang mengganggu gerakan dan difusi oksigen dan karbondioksida, sel-sel darah putih, neotrofil juga bermigrasi ke alveoli dan memenuhi ruang yang biasanya berisi udara.&amp;nbsp; Area paru tidak mendapat ventilasi yang cukup karena sekresi edema mukosa dan broncospasme menyebabkan okulusi partial bronki atau alveoli yang mengakibatkan penurunan tekanan oksigen alveoli.&amp;nbsp; Keadaan demikian mengakibatkan tubuh kekurangan oksigen sehingga tubuh harus meningkatkan frekuensi ke dalam bernapasnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 19.95pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 19.95pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 19.95pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 19.95pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 19.95pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 19.95pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Penyimpangan KDM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;Virus / Bakteri / Jamur&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;Infeksi saluran pernapasan&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;Peradangan pada sel pernapasan (Paru-paru)&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;Migrasi lekosit, netrofil dan eksudat ke daeraj radang&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;Peningkatan permeabilitas kapiler dan edema mukosa&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;Peningkatan produksi mukus&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;Akumulasi lendir di dalam napas&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Peningkatan frekuensi napas &lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;¬&lt;/span&gt;&amp;nbsp; Obstrubsi saluran napas &lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;®&lt;/span&gt;&amp;nbsp; perubahan irama dan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; jumlah pernapasan&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="height: 50px; margin-left: 394px; margin-top: 18px; position: absolute; width: 154px; z-index: -95;"&gt;&lt;img height="50" src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" v:shapes="_x0000_s1027" width="154" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="height: 38px; margin-left: 200px; margin-top: 18px; position: absolute; width: 151px; z-index: -96;"&gt;&lt;img height="38" src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image002.gif" v:shapes="_x0000_s1026" width="151" /&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;¯&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;¯&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sesak&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bersihan jalan napas&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; pola &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tidak efektif&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; pernapasan tidak efektif&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;
