Selasa, 02 Februari 2010

ASKEP KANKER KOLON

A.DEFENISI
Tumor usus halus jarang terjadi, sebalikanya tumor usus besar dan rektum relatif umu. Pada kenyataannya, kanker kolon dan rektum adalah tipe paling umum kedua dari kenker internal diamerika serikat. Ini adalah penyakit budaya barat. Diperkirakan bahwa 150.000 kasus baru kanker kolorektal didiagnosis dinegara ini seriap tahunnya. Kanker kolon menyerang individu dua kali lebih besar dibandingkan dengan kanker rektal.
B.ETIOLOGI
Penyebab nyata dari kanker kolon dan rektal tidak diketahui, tetaoi faktor resiko telah teridentifikasi, termasuk riwayat atau riwayat kanker kolon atau polip dalam keluarga, riwayat penyakit usus inflamasi kronis, dan diet tinggi lemak, protein, dan dagin serta rendah serat.
C.PATOFISIOLOGI
Kanker kolon dan rektum terutama (95 %) adenokarsinoma (muncul dari lapisan epitel usus). Dimulai sebagai polip jinak tetapi dapat menjadi ganas dan menysusp serta merusak jaringan normal serta meluas kedalam struktur sekitarnya. Sel kanker dapat terlepas dari tumr primer dan menyebar kebagian tubuh yang lain (paling sering ke hati).
D.MANIFESTASI KLINIK
Gejala sangat ditentukan oleh lokasi kanker, tahap penyakit, dan fungsi segmen usus tempat kanker berlokasi. Gejala paling menonjol adalah perubahan kebiasaan defekasi. Pasase darah dalam feses gejala paling umum kedua. Gejala dapat juga anemia yang tidak diketahui penyebabnya, anoreksi, atau penurunan berat badan dan keletihan. Gejala yang sering dihubungkan dengan lesi sebelah kanan adalah nyeri dangkal abdomen dan melena (feses hitam, seperti ter). Gejala yang sering dihubungkan dengan lesi sebelah kiri adalah yang berhubungan dengan obstruksi (nyeri abdomen dan kram, penipisan feses, konstipasi dan distensi) serta adanya darah merag segar dalam feses. Gejala yang dihubungakan dengan lesi rektal adalah evakuasi feses yang tidak lengkap setelah defekasi, konstipasi dan diare bergantian, serta feses berdarah.
E.KOMPLIKASI
Pertumbuhan tumor dapat menyebabkan terjadinya obstruksi usus parsial atau lengkap. Pertumbuhan dan ulserasi dapat juga menyerang pembuluh darah sekira kolon yang menyebabkan hemoragi . perforasi dapat terjadi, dan mengakibatkan pembentukan abses. Peritonitis atau sepsis dapat menimbulkan syok.
F.EVALUASI DOAGNOSTIK
Bersamaan dengan pemeriksaan abdomen dan rektal, prosedur diagnostik paling penting untuk kanker kolon adalah pengujian darah samar, enema barium, progtosigmoidoskopi, dan kolonoskopi. Sebanyak 60 % dari kasus kanker kolorektal dapat diidentifikasi dengan sigmoideskopi dengan biopsi dan apusan sitologi.
G.PEMERIKSAAN ANTIGEN KARSINOEMBRIONIK
Pemeriksaan CEA dapat juga dilakukan meskipun antigen karsinoembrionik mungkin bukan indikator yang dapat dipercaya dalam mendiagnosa kanker kolon karena tidak semua lesi menyekresi CEA. Pemeriksaan menunjukkan bahwa kadar CEA dapat dipercaya dalam diagnosis prediksi. Pada eksisi tumor kemplet, kadar CEA yang meningkat harus kembali normal dalam waktu 48 jam. Peningkatan CEA pada tanggal selanjutnya menunjukkan kekambuhan.
H.PENATALAKSANAAN
Pasien dengan gejala obstruksi usus diobati dengan cairan IV dan pengisapan nasogatrik. Apabila terdapat pendarahan yang cukup barwarna, terapi komponen darah dapat diberikan. Pengobatan tergantung pada tahap penyakit dan komplikasi yang berhubungan. Endoskopi, ultrasonografidan laporoskopi telah terbukti berhasil dalam pentahapan kanker kolorektal pada periode praoperatif. Metode pentahapan yang dapat dilakukan adalah klasifikasi duke :
Kelas A – tumor dibatasi pada mukosa dan sub mukosa
Kelas B – penetrasi melaui dinding usus
Kelas C – invasi kedalam sistem limfe yang mengalir regional
Kelas D – metastasis regional tahap lanjut dan penyebaran luas.
Pengobatan medis untuk kanker kolorektal paling sering dlam bentuk pendukung atau terapi ajufan. Teori ajufan biasanya diberikan selain pengobatan bedah dan untuk pasien dengan kanker kolon kelas C dan B. terapi radiasi diberikan pada periode operati, intraoperatif, dan pascaoperatif untuk memperkecil tumor, mencapai hasil yang lebih baik dari pembedahan, dan untuk mengurangi resiko kekambuhan. Pembedahan adalah itndakan primer untuk kebanyakan kanker kolon pembedahan dapat bersifat kuratif dan paliatif.

PROSES KEPERAWATAN
A.Pengkajian
Riwayat kesehatan diambil untuk mendapatkan informasi tentang perasaan lelah: adanya nyeri abdomen atau rektal dan karakternya (lokasi, frekuensi, durasi, berhubungan dengan makan atau defekasi), pola eliminasi terdahulu dan saat ini, deskripsi tentang warna, bau dan konsistensi feses, mencakup adanya darah atau mukus. Informasi tambahan mencakup riwayat masa lalu tentang penyakit usus inflamasi kronis atau polip kolorektal; dan terapi obat saat ini. Kebiasaan diet diidentifikasi mencakup masukan lemak dan serat serta jumlah komsumsi alkohol. Riwayat penurunan berat badan adalah penting.
Pengkajian objektif mencakup auskultasi abdomen terhadap bising usus dan palpasi abdomen untuk area nyeri tekan, distensi, dan massa padat. Spesimen feses diinspeksi terhadap karakter dan adanya darah.
B.Diagnosa keperawatan
Berdasarkan semua data pengkajian, diagnosa keperawatan utama mencakup sebagai berikut :
Konstipasi berhubungan dengan lesi obstruksi
Nyeri berhubungan dengan kompresi jaringan sekunder akibat obstruksi
Keletihan berhubungan dengan anemia dan anoreksia
Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh, berhubungan dengan mual dan anoreksia
Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah dan dehidrasi
Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan dan diagnosis kanker
Kurang pengetahuan mengenai diagnosa, prosedur pembedahan dan perawatan diri setelah pulang
 Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan insisi bedah (abdomen dan perianal), pembentukan stoma, dan kontaminasi fekal terhadap kulit dan periostomal
Gangguan citra tubuh berhubungan denngan kolostomi
C.Intervensi keperawatan
Mempertahankan eliminasi. Frekuensi dan konsistensi defekasi dipantau. Laksatif dan enema diberikan sesuai resep. Pasien yang menunjukkan tenda perkembangan kearah obstruksi total disiapkan untuk menjalani pembedahan.
Menghilangkan nyeri. Analgesik diberikan sesuai resep. Lingkungan dibuat kondusif untuk relaksasi dengan meredupkan lampu, mematikan televisi atau radio, dan membatasi pengunjung dan telepon bila diinginkan oleh pasien. Tindakan kenyamanan tambahan ditawarkan perubahan posisi, gosokan punggung, dan tehnik relaksasi.
Meningkatkan toleransi aktivitas. Toleransi aktivitas pasien dikaji. Aktivitas diubah dan dijdualkan untuk memungkinan periode tirah baring yang adekuat dalam upaya untuk menurunkan keletihan pasien.terapi komponen darah diberikan sesuai resep bila pasine menderita anemia berat. Apabila transfusi darah diberikan, pedoman keamanan umum dan kebijakan institusi mengenai tindakan pengamanan harus diikuti. Aktivitas pascaoperatif ditingkatkan dan toleransi dipantau.
Memberikan tindakan nutrisional. Apabila kondisi pasien memungkinkan, diet tinggi kalori, protein, dan karbohidrat serta rendah residu diberikan pada periode praoperatif selama beberapa hari untuk memberikan nutrisi adekuat dan meminimalkan kram dengan menurungkan peristaltik kelebihan. Diet cair penuh dapat diberikan 24 jam selama pembedahan untuk menurungkan bulk. Nutrisi parenteral total diberikan pada beberapa pasien untuk menggantikan penipisan nutrien, vitamin dan mineral. Penimbangan berat badan hariian dicatat dan dokter diberitahu bila pasien terus mengalami penurunan berat badan pada saat m,enerima nutrisi parenteral.
Mempertahankan keseimabangan cairan dan elektrolit. Masukan dan haluaran, mencakup muntah, diukur dan dicatat untuk menyediakan data akuran tentang keseimbangan cairan. Masaukan makanan oral dan cairan pasien dibatasi untuk mencegah terjadinya muntah. Antiemetik diberikan sesuai resep. Cairan penuh atau jernih dapat ditoleransi, atau pasien dipuaskan. Selang nasogatrik akan dipasang pada periode praoperatif untuk mengalirkan akumulasi cairan dan mencegah distensi abdomen. Kateter urinarius inwelling dapat dipasang untuk memungkinkan pemantauan haluaran setiap jam. Haluaran kurang dari dari 30 ml/jam dilaporkan sehingga terapi cairan intavena dapat disesuaikan.
Pemberian cairan intravena dan elektrolit dipantau. Kadar elektrolit serum dipantau untk mendeteksi hipokalemia dan hiponatremia, yang terjadi akibat kehilangan cairan GI. Tanda vital dikaji untuk mendeteksi tanda hivopolemia : takikardia, hipotensi dan penurunan jumlah denyut. Status hidrasii dikaji, dan penurunan turgor kulit, membran mukosa kering, urine pekak, serta peningkatan jenis urine perlu dilaporkan.
Menurunkan ansietas. Tingkat ansietas klien perlu dikaji, seperti mekanisme koping yang digunakan untuk menghadapi strees.upaya pendukung mencakup pemberian privasi bila diinginkan dan menginstruksikan pasien untuk latihan relaksasi. Luangkan waktu untuk mendengarkan ungkapan, kesedihan, atau pernyataan yang disampaikan oleh klien. Perawat akan mengatru pertemuan dengan rohaniawan bila klien menginginkannya, dengan dokter bila pasien menginginkannya.
Mencegah infeksi. Antibiotik seperti kanamisin sulfat, eritromisin, dan neomisin sukfat diberikan sesuai resep untuk mengurangi bakteri usus dalam rangka persiapan pembedahan usus. Preparat ini diberikan melalui mulut untuk mengurangi kandungan bakteri kolon dan melunakkan serta menurunkan bulk dari isi kolon. Selain itu usus dapat dibersihkan dengan laksatif, enema, atau irigasi kolonis. Atibiotik dapat diberikan pada periode pasca operatif untuk membantu dalam mencegah infeksi.
Pendidikan pasien praoperatif. Pengetahuan pasien saat ini tentang diagnosis, prognosis, prosedur bedah dan tingkat fungsi yang diinginkan pada pascaoperatifharus dikaji. Informasi yang diperlukan, bagaimana hal ini ditujukkan, kapan pasien paling dapat menerimannya, dan siapa yang menemani selama intruksi.
Informasi yang diperlukan pasien tentang persiapan fisik untuk pembedahan, penampilan dan perawatan yang diharapkan dari luka pascaoperatif. Tehnik perawatan ostomi, pembatasan diet, kontrol nyeri, dan penatalaksanaan obatdimasukkan dalam materi rencana penyuluhan.
D. Evaluasi
Hasil yang diharapkan
1.Mempertahankan eliminasi usus adekuat
2.Mengalami sedikit nyeri
3.Meningkatkan toleransi aktivitas
4.Mencapai tingkat nutrisi yang optimal
5.Keseimbangan cairan tercapai
6.Mengalami penurunan ansietas
7.Memerlukan informasi diagnosis, prosedur bedah dan perawatan diri setelah pulang
8.Memeprtahankan insisi
9.Tidak mengalami komplikasi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar