Senin, 01 Februari 2010

ASKEP KUSTA

KUSTA


A. Pengertian
Penyakit kusta adalah suatu penyakit kronis menular yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium leprae. Penyakit ini terutama menyerang pada masyarakat dinegara-negara berkembang dan menimbulkan dampak psikologis, sosial dan ekonomi.

B. Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh M. leprae yang merupakan basil tahan asam (BTA), bersifat obligat intraseluler, menyerang sel saraf perifer, kulit, dan organ lain seperti mukosa saluran napas bagian atas, hati, dan sumsum tulang kecuali susunan saraf pusat.

C. Manifestasi Klinik
Menurut WHO (1995), seseorang didiagnosis menderita penyakit kusta apabila terdapat satu dari tanda kardinal berikut :
1. Adanya lesi kulit yang khas dan kehilangan sensibilitas.
Lesi kulit dapat tunggal ataupun multipel, biasanya hipopigmentasi tetapi kadang-kadang lesi kemerahan atau berwarna tembaga. Lesi dapat bervariasi tetapi umumnya berupa makula, papul atau nodul.
2. BTA Positif.
Pada beberapa kasus ditemukan basil tahan asam dari kerokan jaringan kulit.
Bila ragu-ragu maka dianggap sebagai kasus dicurigai dan periksa ulang setiap 3 bulan sampai ditegakan diagnosis kusta atau penyakit lain.

D. Klasifikasi
Menurut Departemen Kesehatan Ditjen P2MPLP (1999) dan WHO (1995) penyakit ini dapat diklasifikasikan menjadi dua tipe yaitu Pause Basilier (PB) dan Multi Basier (MB).
Secara awam kusta dikenal ada dua macam yakni kusta kering dan kusta basah. Jika kusta terlambat diobati maka akan timbul kerusakan saraf dengan akibat berupa mati rasa (terhadap stimulus panas, dingin, nyeri), kelumpuhan otot, buta, dan akibat lain yang disebabkan oleh proses immunologis yang disebut reaksi kusta.

E. Patofisiologi
Setelah M. leprae masuk kedalam tubuh, perkembangan penyakit kusta bergantung pada kerentanan seseorang. Respon tubuh terhadap masa tunas dilampaui tergantung pada derajat sistem immunitas seluler (cellular mediated immune) pasien. Kalau sistem immunitas seluler tinggi, penyakit berkembang kearah tuberkuloid dan bila rendah, berkembang kearah lepromatosa.
Teori yang paling banyak digunakan adalah penularan melalui kontak/sentuhan yang berlangsung lama, namun berbagai penelitian mutakhir mengarah pada droplet infection yaiut penularan melalui selaput lendir pada saluran napas. M. leprae tidak dapat bergerak sendiri dan tidak menghasilkan racun yang dapat merusak kulit, sedangkan ukuran fisiknya yang lebih besar dari pada pori-pori kulit. Oleh karena itu, M. leprae yang karena sesuatu hal menempel pada kulit kita, tidak dapat menembus kulit jika tidak ada luka pada kulit.

F. Diagnosis Tes
Diagnosa pasti ditegakan bila dpdapatkan kuman kusta pada kerokan kulit di daerah khas dan pada kuping. Pengobatan penyakit kusta berlangsung 6-36 bulan dan bisa gratis di puskasmas. Pencegahannya dengan menjaga kebersihan pribadi, mandi teratur 2 kali sehari dengan sabun, makanan sehat secara seimbang.

G. Pengobatan
Sejak tahun 1941, digunakn DDS (Diethil-Diphenyl-Sulphone) yang dikenal juga sebagai Dapson dengan lama pengobatan seumur hidup. Sejak 1982 WHO memperkenalkan MDT (multiple drug therapi),yang di Indonesia dimulai sejak 1983 dengan menggunakan Rifampicin dan DDS (untuk kusta kering dengan lama pengobatan 6 bulan) dan untuk kusta basah masih ditambah dengan lamparene denagn lama pengobatan 2 tahun. Panduan terbaru dari WHO menyatakan bahwa untuk pengobatan kusta basah cukup[ satu tahun saja. Dengan pengobatan MDT, Micobacterium Leprae di dalam tubuh penderita akan mati dalam 2 kali8 24 jam. Pada beberapa keadaan, ada Mycobacterium Leprae yang tidur (dormant) dimana metabolismenya praktis nol, sehingga walaupun ada obat yang mematikan namun kuman tetap tyidak mengambilnya karena memang tidak mengambil bahan makanan sama sekali sehingga tetap hidup.
Diharapkan selama masa pengobatan tersebut, kuman – kuman terbangun sedikit demi sedikit sehingga pada saat masa pengobatan selesai seluruh kuman telah musnah. Pada panderita kusta pengobatan berlangsung 6 hingga 12 bulan. Sebab sesuai dengan jenisnya (ada kusta basah dan kusta kering). Selama pengobatan, penderita harus secara rutin, teratur sampai sembuh.






ASUHAN KEPERAWATAN

I.1 Pengkajian
Pada pengkajian klien penderita kusta dapat ditemukan gejala-gejala sebagai berikut:
- Aktivitas/ istirahat.
Tanda: - penurunan kekuatan otot.
- gangguan massa otot.
- Perubahan tonus otot.
- Sirkulasi.
Tanda: - Penurunan nadi perifer
- Vasokontriksi perifer.
- Integritas ego.
Gejala: - Masalah tentang keluarga, pekerjaan, keuangan, kecacatan,
Tanda: - Ansietas, menyangkal, menarik diri.
- Makanan/cairan.
- Anoreksia.
- Neurosensori.
Gejala: - kerusakan saraf terutama saraf tepi, penekanan saraf tepi.
Tanda: - peruubahan perilaku, penurunan refleks tendon.
- Nyeri kenyamanan.
Gejala: Tidak sensitive terhadap sentuhan, suhu, dan tidak merasakan nyeri.
- Pernapasan.
Gejala: Pentilasi tidak adekuat, takipnea.
- Keamanan.
Tanda: lesi kulit dapat tunggal/multiple, biasanya hipopigmentasi tetapi kadang-kadang lesi kemerahan atau berwarna tembaga, lesi dapat berpariasi tetapi umumnya berupa macula, papula dan nodul.

I.2 Pemeriksaan klinis
1. Inspeksi, pasien diminta memejamakan mata, menggerakkan mulut, bersiul, dan tertawa untuk mengetahui fungsi saraf wajah semua kelainan kulit diseluruh tubuh diperhatikan, seperti adanya macula, nodul, jaringan parut, kulit yang keriput, penebalan kulit, dan kehilangan rambut tubuh (alopesia dan madarosis).
2. Pemeriksaan sensibilitas. Pada lesi kulit dengan menggunakan kapas (rasa raba), Jarum pentul yang tajam dan tumpul (rasa nyeri, serta air panas dan dingin dalam tabung reaksi (rasa suhu).
3. Pemeriksaan saraf tepi dan fungsinya dilakukan pada: nervus Auricularis magnus,Nervus ulnaris,Nervus radialis, Nervus medianus, nervus peroneus dan nervus tibialis posterior. Hasil pemeriksaan yang perlu dicatat adalah pembesaran, konsistensi, penebalan, dan adanya nyeri tekan. Perhatikan raut muka pasien apakah ia kesakitan atau tidaksaraf-saraf diraba.
4. Pemeriksaan fungsi saraf otonom, yaitu: memeriksa ada tidaknya kekeringan pada lesi akibat tidak berfungsinya kelenjar keringat dengan menggunakan pensil tinta (uji gunawan).

I.3 Diagnosa Keperawatan
 Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan fungsi barier kulit.
 Gangguan rasa nyaman gatal berhubungan dengan lesi kulit.
 Gangguan pola tidur berhubungan dengan priritus.
 Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kuilit yang tidak baik.
 Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan kerusakan pada kulit, pertahanan tubuh menurunun.
 Gangguan interaksi social berhubungan dengan persepsi penampilan.
 Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya imformasi terhadap perawatan kulit.
 Ansietas berhubungan dengan poerubahan status kesehatan.

!.4 Intervensi Keperawatan
a. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan fungsi barier kulit.
Tujuan: Untuk memelihara integritas kulit/ mencapai penyembuhan tepat waktu.
Intervensi:
 Kaji kulit setiap hari. Catat warna, turgor, sirkulasi dan sensasi. Gambarkan lesi dan amati perubahan.
Rasional : Menentukan garis dasar dimana perubahan pada status dapat dibandikan dan lakukan intervensi yang tepat.
 Pertahankan/intruksikan dalam hygiene kulit, misalnya membasuh kemudian mengerinkannya dengan berhati-hati dan melakukan masase dengan menggunakan losion atau krim.
Rasional : Masase meningkatkan sirkulasi kulit dan meningkatkan kenyamanan.
 Gunting kuku secara teratur
Rasional : Kuku yang panjang/kasar, meningkatkan resiko kerusakan dermal.
 Dapatkan kultur dari lesi kulit terbuka.
Rasional : Dapat mengidentifikasi bakteri patogen dan pilihan perawatan yang sesuai.
 Gunakan/berikan obat topical atau sistemik sesuai indikasi.
Rasional : Digunakan pada perawatan lesi kulit.
 Lindungi lesi dengan salep antibiotic sesuai petunjuk.
Rasional : Melindungi area lesi dari kontaminasi bakteri dan meningkatkan penyembuhan.

b. Gangguan rasa nyaman gatal berhubungan dengan lesi kulit.
Tujuan: Untuk mengurangi rasa gatal sehingga tercapai kenyamanan pasien.
 Upayakan untuk menemukan penyebab gangguan rasa nyaman.
Rasional : Membantu mengidentifikasi tindakan yang tepat untuk memberikan kenyamanan .
 Mencapai hasil-hasil observasi secara rinci dengan memakai terminology deskriftif.
Rasional : Deskrifsi yang akurat tentang erupsi kulit diperlukan diagnosis dan pengobatan. Banyak kondisi tampak serupa tapi mempunyai etiologi yang berbeda.
 Mengantisipasi reaksi alergi yang mungkin terjadi.
Rasional : Lesi yang menyeluru terutama dengan awitan yang mendadak dapat menunjukkan reaksi alergi terhadap obat.
 Pertahankan kelembaban kira-kira 60%. Gunakanlah alat pelembab.
Rasional : Dengan kelembaban yang rendah kulit akan kehilangan air.
 Pertahankan lingkungan dingin .
Rasional : Kesejukan mengurangi gatal.
 Gunakan sabun ringan (dove) atau sabun yang dibuat untuk kulit sensitive (Neutrogena, aveno ).
Rasional : Upaya ini mencakup tidak adanya larutan detergen, zat pewarna atau bahan pengeras.
 Lepaskan kelebihan pakaianatau peralatan ditemp[at tidur.
Rasional : Meningkatkan lingkungan yang sejuk.
 Cuci linen tempat tidur dan pakaian dengan sabun ringan
Rasional : Sabun yang keras dapat menimbulkan iritasi kulit.
 Hentikan pemajanan berulang terhadap detergen ,pembersih dan pelarut.
Rasional : Setiap substansi yang menghilangkan air, lipid atau protein dari epidermis akan mengubah fungsi barier kulit.
 Membantu pasien menerima terapi yang lama yang diperlukan pada tahap penyembuhan.
Rasional : Tindakan koping biasanya akan meningkatkan kenyamanan.
 Menasehati pasien untuk menghindari pemakaian salep atau lotion yang diberi tampa resep dokter.
Rasional : Masalah pasien dapat disebabkan oleh iritasi atau sensitisasi karena pengobatan sendiri.

c. Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan pruritus.
Tujuan: Untuk mencapai istirahat tidur yang cukup.
 Menasehati pasien untuk menjaga kamar tidur agar tetap memiliki ventilasi dan kelembaban yang baik.
Rasional : Udara yang kering menimbulkan rasa gatal. Lingkungan yang nyaman meningkatkan relaksasi.
 Menjaga agar kulit agar selalu lembab .
Rasional : Tindakan ini mencegah kehilangan air. Kulit yang kering dan gatal biasanya tidak dapat dikendalikan tetapi dapat disaembuhkan.
 Menjaga jadwal tidur yang teratur.Pergi tidur pada saat yang sama dan bangun pada saat yang sama.
Rasional : Dengan jadwal tidur yang teratur akan terpenuhi kebutuhan tidur klien.
 Menghindari minuman yang mengandung kafein menjelang tidur malam hari.
Rasional : Kafein memiliki efek puncak 2-4 jam sesudah dikomsumsi.
 Melaksanakan gerak badan secara teratur .
Rasional : Gerak badan memberikan efek yang menguntungkan untuk tidur jika dilaksanakan pada malam hari.
 Mengerjakan hal-hal yang ritual dan rutin menjelang tidur.
Rasional : Tindakan ini memudahkan peralihan dari keadaan terjaga menjadi keadaan tertidur.

d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kuilit yang tidak baik.
Tujuan : Klien dapat mengembangkan peningkatan penerimaan diri
 Kaji adanya gangguan pada citra diri pasien (menghindari kontak mata, ucapan yang merendahkan diri sendiri, ekspresi perasaan muak terhadap kondisi kulitnya.
Rasional : Gangguan citra diri akan menyertai setiap penyakit atau keadaan yang tampak nyata bagi pasien. Kesan seseorang terhadap dirinya sendiri akan berpengaruh pada konsep diri.
 Identifikasi stadium psikososial tahap perkembangan.
Rasional : Terdapat hubungan antara stadium perkenmbangan, citra diri dan reaksi serta pemahaman pasioen terhadap kondisi kulitnya.
 Berikan kesempatan untuk pengungkapan. Dengarkan (dengan cara yang terbuka, tidak menghakimi) untuk mengespresikan berduka atau anseitas tentang perubahan citra tubuh.
Rasional : Pasien membutuhkan pengalaman didengarkan dan dipahami. Mendukung upaya pasien untuk memperbaiki citra diri.
 Bersikap realistic selama pengobatan, pada penyuluhan kesehatan.
Rasional : Meningkatkan kepercayaan dan mengadakan hubungan antara pasien dan perawat.
 Berikan harapan dalam parameter situasi individu: jangan memberikan keyakinan yang salah.
Rasional : Meningkatkan perilaku positif dan memberikan kesempatan untuk menyusun tujuan dan rencana untuk masa depan berdasarkan realita.
 Dorong interaksi keluarga dan dengan tim rehabilitasi.
Rasional : Mempertahankan pola komunikasi dan memberikan dukungan terus menerus pada pasien dan keluarga.

e. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan kerusakan pada kulit, pertahanan tubuh menurun.
Tujuan : Mencapai penyembuhan tepat waktu, tanpa komplikasi
 Ukur tanda-tanda vital termasuk suhu
Rasional : Memberikan imformasi data dasar, peningkatan suhu secara berulang-ulang dari demam yang terjadi untuk menujukkan bahwa tubuh bereaksi pada proses infeksi yang baru, dimana obat tidak lagi secara efektive mengontrol infeksi yang tidak dapat disembuhkan.
 Tekankan pentingnya tekhnik cuci tanganyang baik untuk semua individu yang dating kontak dengan pasien
Rasional : Mengcegah kontaminasi silang; menurungkan resiko infeksi.
 Gunakan saputangan , masker dan tekniik aseptik selama perawatan dan berikan pakaian yang steril atau baru
Rasional : Mengcegah terpajan pada organisme infeksius.
 Observasi lesi secara periodic
Rasional : Untuk mengetahui perubahan respon terhadap terapi.
 Berikan lingkungan yang bersih dan berventilasi yang baik. Periksa pengunjung atau staf terhadap tanda infeksi dan pertahankan kewaspadaan sesuai indikasi.
Rasional : Mengurangi patogen pada system integument dan mengrangi kemungkinan pasien mengalami infeksi nosokomial.
 Berikan preparat antibiotic yang diresepkan dokter.
Rasional : Membunuh atau mencegah pertumbuhan mikroorganisme penyebab infeksi.

f. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya imformasi terhadap perawatan kulit.
Tujuan : Klien mendapatkan imformasih yang adekuat tentang perawatan kulit.
 Tentukan apakah pasien mengetahui (memahami dan salah mengerti) tentang kindisi dirinya.
Rasional : Memberikan data dasar untuk mengembangkan rencana penyuluhan.
 Jaga agar pasien mendapatkan informasi yang benar, memperbaiki kesalahan persepsi /imformasi.
Rasional : Pasien harus memiliki perasaan bahwa ada sesuatu yang dapat mereka perbuat. Kebanyakan pasien merasakan mamfaat dan merasa lebih.
 Berikan imformasi yang spesifik dalam bentuk tulisan misalnya jadwal dalam minum obat.
Rasional : Imformasi tertulis dapat membantu mengingatkan pasien.
 Jelaskan penatalaksanaan minum obat: dosis, frekuensi, tindakan, dan perlunya terapi dalam jangka waktu lama.
Rasional : Meningkatkan partisipasi klien, mematuhi aturan terapi dan mencegah putus obat.
 Berikan nasehat pada pasien untuk menjaga agar kulit tetap lembab dan fleksibel dengan tindakan hidrasi serta lotion kulit.
Rasional : Stratum korneum memerlukan air agar fleksibilitas kulit btetap terjaga.. pemberian lotion untuk melembabkan kulit akan mencegah agar kulit tidak menjadi kering, kasar, retak dan bersisik.
 Dorong pasien agar mendapat status nutrisi yang sehat.
Rasional : Penampakan kulit mencerminkan kesehatan umum seseorang.perubahan pada kulit dapat mendakan status nutrisi yang abnormal. Nutrisi yang optimal meningkatkan regenerasi jaringan dan penyembuhan umum kesehatan.
 Tekankan perlunya atau pentingnya mengevaluasi perawatan atau rehabilitasi.
Rasional : Dukungan jangka panjang dengan evaluasi ulang kontinu dan perubahan terapi dibutuhkan untuk penyembuhan optimal.

g. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
Tujuan: Pasien dapat menunjukkan penurunan ansietas sehingga dapat menerimah perubahan status kesehatannya dengan cara sehat.
 Berikan penjelasan yang sering dan imformasi tentang prosedur perawatan.
Rasional : Pengetahuan diharapkan menurunkan ketakutan dan ancietas, memperjelas kesalahan konsep dan meningkatkan kerjasama.
 Libatkan pasien atau orang terdekat dalam proses pengambilan keputusan.
Rasional : Meningkatkan rasa control dan kerjasama, menurunkan perasaan tak berdaya atau putuis asa.
 Kaji status mental terhadap penyakit
Rasional : Pada awalnya pasien dapat men ggunakan penyangkalan untuk menurungkan dan menyaring imformasi secara keseluruhan.
 Berikan orientasi konstan dan konsisten.
Rasional : Membantu pasien tetap berhubungan dengan lingkungan dan realitas.
 Dorong pasien untuk bicara tentang penyakitnya.
Rasional : Pasien perlu membicarakan apa yang terjadi terus menerus untuk membuat beberapa rasa terhadap situasi apa yang menakutkan.
 Jelaskan pada pasien apa yanga terjadi. Berikan kesempatan untuk bertanya dan berikan jawaban terbuka atau jujur.
Rasional : Pernyataan kompensasi menunjukkan realitas situasi yang dapat membantu pasien atau orang terdekat menerima realitas dan mulai menerima apa yang terjadi.
 Identifikasi metode koping atau penanganan stuasi stress sebelumnya.
Rasional : Perilaku masalalu yang berhasil dapat digunakan untuk membantu situasi saat ini.
 Dorong keluarga atau orang terdekat mengunjungi dan mendiskusikan yang terjadi pada keluarga. Mengingatkan pasien kejadian masa lalu dan akan datang.
Rasional : Mempertahankan kontak dengan realitas keluarga, membuat rasa kedekatan dan kesinambungan hidup.
 Berikan sedative ringan sesuai indikasi.
Rasional : Obat ansietas diperlukan untuk periode singkat sampai pasien lebih stabil secara psikis.



DAFTAR PUSTAKA



1. Arief Mansjoer dkk., 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius FKUI, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar