Senin, 01 Februari 2010

ASKEP KATARAK

A.KONSEP DASAR MEDIK
1.1Pengertian
Katarak adalah opasitas lensa kristalina yang normalnya jernih dan merupakan suatu daerah yang berkabut dan keruh didalam lensa.
Pada stadium dini pembentukan katarak, protein dalam serabut-serabut lensa dibawah kapsul mengalami denaturasi. Lebih lanjut protein tadi berkoagul;asi membentuk daerah keruh menggantikan serabut-serabut protein lensa yang dalam keadaan normal seharusnya transparan.
Bila suatu katarak telah menghalangi cahaya dengan hebat sehingga sangat mengganggu penglihatan, maka keadaan itu perlu diperbaiki dengan cara mengangkat lensa melalui operasi. Bila ini dilakukan, maka mata kehilangan sebagaian besar daya biasnya, dan harus digantikan dengan lensa konveks berdaya penuh didepan mata, atau sebuah lensa buatan ditanam didalam mata pada tempat lensa dikeluarkan.
1.2Etiologi
Sebagian besar katarak yang disebut katarak senilis, terjadi akibat perubahan-perubahan degeneratif yang berhubungan dengan pertambahan usia. Pajanan terhadap sinar matahari selama hidup, alkohol, merokok dan asupan vitamin antioksidan yang kurang dalam jangka waktu yang lama serta predisposisi herediter berperan dalam munculnya katarak senilis.
Katarak dapat timbul pada usia berapa saja setelah trauma lensa, infeksi mata, atau akibat pajanan radiasi atau obat tertentu. Janin yang tepajan virus rubella dapat mengalami katarak. Para pengidap diabetes melitus kronik sering mengalami katarak, yang kemungkinan besar disebabkan oleh gangguan aliran darah ke mata dan perubahan penanganan dan metabolisme glukosa.
1.3Patofisiologi dan Dampak Pada penyimpangan KDM
Lensa yang normal adalah struktur yang posterior iris yang jernih, transparan, berbentuk seperti kancing baju, mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleus, di perifer ada korteks, dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsul anterior dan posterior. Dengan bertambahnya usia, nukleus mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan. Di sekitar opasitas terdapat densitas seperti duri di anterior dan posterior nukleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna nampak seperti kristal salju pada jendela.
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi. Perubahan pada serabut halus multipel (zunula) yang memanjng dari badan silier ke sekitar daerah diluar lensa, misalnya dapat menyebabkan penglihatan mengalami distorsi. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnta protein lensa normal terjadi disertai influks air kedalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak.
Katarak biasanya terjadi bilateral, namun mempunyai kecepatan yang berbeda. Dapat disebabkan oleh kejadian trauma maupun sistemis, seperti diabetes melitus, namun merupakan konsekuensi dari proses penuaan yang normal. Kebanyakan katarak berkembang secara kronik dan matang ketika seseorang memasuki dekade ke tujuh. Katarak dapat bersifat kongenital dan harus diidentifikasi awal, karena bila tidak terdiagnosis dapat menyebabkan ambliopia dan kehilangan penglihatan permanen.
1.4Manifestasi Klinis
 Penurunan ketajaman penglihatan, silau dan gangguan fungsional sampai derajat tertentu.
pengembunan seperti mutiara keabuanpada pupil sehingga retina tidak akan tampak dengan oftalmoskop.
Pandangan kabur atau redup, menyilaukan dengan distorsi bayangan dan susah melihat di malam hari.
 Pupil yang normalnya hitam akan tampak kekuningan, abu-abu atau putih.
1.5Diagnostik Tes Yang Lasim
Selain uji mata yang biasa, keratometri dan pemeriksaan lampu slit dan oftalmoskopis, maka A-scan ultrasound (echography) dan hitung sel endotel sangat berguna sebagai alat diagnostik, khususnya bila dipertimbangkan akan di lakukan pembedahan. Dengan hitung sel endotel 2000 sel/mm3, pasien merupakan kandidat yang baik untuk dilakukan fakoemulsifikasi dan implantasi IOL.
1.6Penatalaksanaan Medis
Pengobatan berupa eksisi seluruh lensa untuk diganti oleh lensa buatan, atau fragmentasi lensa dengan ultrasound atau laser, diikuti oleh aspirasi fragmen dan penggantian lensa.
Pembedahan diindikasikasikan bagi yang memerlukan penglihatan akut untuk bekerja atau keamanan.

ASUHAN KEPERAWATAN KATARAK
PENGKAJIAN
Data-data yang perlu dikaji pada asuha keperawatan dengan katarak adalah :
1. Riwayat perjalanan penyakit
a. Pola aktivitas/istirahat
Gejala : Perubahan aktivitas biasanya/hoby sehubungan dengan gangguan penglihatan.
b. Pola nutrisi
Gejala : Mual/muntah (glaukoma akut)
c. Pola neurosensori
Gejala : Gangguan penglihatan (kabur/tak jelas), sinar terang menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer,kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/ merasa diruang gelap.
d. Pola penyuluhan/pembelajaran
Gejala : Riwayat keluarga glaukoma, diabetes, gangguan sistem vaskuler, riwayat stress, alergi, ketikseimbangan endokrin, terpajan pada radiasi, steroid/toksisitas fenotiazin.
DIAGNOSA KEPERWATAN
1.Ketakutan atau ansietas yang berhubungan dengan kerusakan sensori dan kurangnya pemahaman mengenai perawatan pascaoperatif, pemberian obat.
2.Resiko terhadap cedera yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan atau kurang pengetahuan.
3.Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasif (bedah pengangkatan katarak)
4.Nyeri yang berhubungan dengan trauma peningkatan TIO,inflamasi intervensi bedah, atau pemberian tetes mata dilator.
5.Potensial terhadap kurang perawatan diri yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan.

INTERVENSI KEPERAWATAN
1.Ketakutan atau ansietas yang berhubungan dengan kerusakan sensori dan kurangnya pemahaman mengenai perawatan pascaoperatif, pemberian obat.
Kriteria evaluasi: menurunkan stress emosional, ketakutan dan depresi, penerimaan pembedahan dan pemahaman instruksi.
Kaji derajat dan durasi gangguan visual. Dorong percakapan untuk mengetahui keprihatinan, perasaan dan tingkat pemahaman.
R/:Informasi dapat menghilangkan ketakutan yang tidak diketahui.
Orientasika pasien pada lingkungan yang baru.
R/: pengenalan terhadap lingkungan membantu mengurangi ansietas dan meningkatkan ansietas.
 Jelaskan rutinitas operatif
R/: pasien yang telah mendapat mendapat informasi lebih mudah menerima penanganan dan mematuhi instruksi.
Jelaskan intervensi sedetil-detilnya
R/: pasien yang mengalami gangguan visual bergantung pada masukan indera lai untuk mendapatkan informasi.
Dorong untuk menjalankan kebiasaa hidup seharihari bila mampu.
R/: perawatan diri dan kemandirian akan meningkatkan rasa sehat
Dorong partisipasi keluarga atau orang yang berarti dalam perawatan pasien.
R/: pasien mungkin tak mampu melakukan semua tugas sehubungan dengan penanganan dan perawatan diri.
Dorong partisipasi dalam aktivitas sosial dan pengalihan bila memungkinkan.
R/:isolasi sosial dan waktu luang yang terlau lama dan menimbulkan perasaan negatif.

2.Resiko terhadap cedera yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan atau kurang pengetahuan.
Kriteria evaluasi: dapat menurunkan resiko terjadinya cedera.
Bantu pasien ketika mampu melakukan ambulasi pascaoperasi sampai stabil dan sampai mencapai penglihatan dan ketrampilan koping yang memadai.
R/: menurunkan resiko jatuh atau cedera ketika langkah sempoyongan atau tidak mempunyai ketrampilan koping untuk kerusakan penglhatan.
Bantu pasien manata lingkungan
R/: memfasilitasi kemendirian dan menurunkan resiko cedera
Orientasikan pasien pada ruangan
R/: meningkatkan keamanan mobilitas dalam lingkungan.
Bahas perlunya penggunaan perisai metal atau kacamata bila diperlukan.
R/: temeng logam atau kaca mata melindungi mata terhadap cedera.
Jangan memberikan tekanan pada mata yang terkena trauma
R/:tekanan pada mata dapat menyebabkan kerusakan serius lebih lanjut.
Gunakan prosedur yanga memadai ketika memberikan obat mata.
R/: cedera dapat terjadi bila wadah obat menyentuh mata.
3. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasif (bedah pengangkatan katarak)
Kriteria evaluasi : menunjukan peningkatan penyembuhan luka tepat waktu, bebas drainase purulen, eritema dan demam.
Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh/mengobati mata.
R/:menurunkan jumlah bakteri pada tangan, mencegah kontaminasi area operasi.
Gunakan teknik yang tepat untuk embersihkan mata dari dalam keluar dengan tisu basah/bola kapas untuk tiap usapan, ganti balutan, dan masukan lensa kontak bila menggunakan.
R/:tehnik aseptik menurunkan resiko penyebaran bakteri dan kontaminasi silang.
Tekankan untuk tidak menyentuh/ menggaruk mata yang dioperasi.
R/: mancegah kontaminasi dan kerusakan sisi operasi
Observasi tanda terjadinya infeksi.
R/:Infeksi mata terjadi 2-3 hari setelah prosedur dan memerlukan upaya intervensi.
Berikan obat sesuai indikasi.
R/:Sediaan topikal digunakan secara profilaksis, dimana terapi lebih diperlukan bila terjadi infeksi.
4.Nyeri yang berhubungan dengan trauma peningkatan TIO,inflamas intervensi bedah, atau pemberian tetes mata dilator.
Kriteria evaluasi:
Berikan obat untuk mengontrol nyeri dan TIO sesuai resep
R/;pemakaian obat sesuai resep akan mengurangi nyeri dan TIO serta meningkatkan rasa nyaman.
Berikan kompres dingin sesuai permintaan untuk trauma tumpul
R/: mengurangi edema akan mengurangi nyeri. Kurangi tingkat pencahayaan, cahaya diredupkan, diberi tirai/kain.
R/: tingkat pencahayaan yang lebih rendah lebih nyaman setelah pembedahan.
Dorong penggunaan kaca mata hitam pada cahaya kuat.
R/: cahaya yang kuat menyebabkan rasa tak nyaman setelah penggunaan tetes mata dilator.
5.Potensial terhadap kurang perawatan diri yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan.
Kriteria evaluasi; Klien dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri
Beri instruksi pada pasien atau orang terdekat mengenai tanda dan gejala koplikasi yang harus dilaporkan segera kepada dokter
R/:penemuan dan penenganan awal komplikasi dapat mengurangi resiko kerusaka lebih lanjut.
Beri instruksi lisan dan tertulis untuk pasien dan orang yang berarti mengenai tehnik yang benar memberikan obat.
R/:pemakaian teknik yang benar akan mengurangi resiko infeksi dan cedera mata.
Evaluasi perlunya bantuan setelah pemulangan
R/:sumber daya harus tersedia untuk layanan kesehatan, pendamping dan teman dirumah.
Ajari pasien dan keluarga teknik panduan penglihatan.
R/:memungkinkan tindakan yang aman dalam lingkungan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar