Selasa, 02 Februari 2010

WSD

BAB I
PENDAHULUAN

Latar belakang
Mekanisme pernapasan normal bekerja atas prinsip tekanan negative yaitu tekanan dalam rongga dada lebih rendah daripada atmosfir, sehingga menyebabkan udara untuk bergerak kedalam inspirasi. Penumpukan cairan, udara atau substansi dada dapat menggagu fungsi kardiopulmonal dan bahkan menyebabkan paru kolaps. Substansi patologis yang terkumpul dalam spasium pleura termasuk fibrin, atau bekuan darah ; cairan ( cairan serosa, darah, pus, kilus ; dan gas-gas ( udara dari paru , pohon trakeobronkial atau esophagus ) udara dan cairan terkumpul dalam spasium intrapleural, sehingga membatasi ekspansi paru dan mengurangi pertukaran gas. Penting artinya untuk menjaga agar spasium pleural di evakuasi pada pascaoperatif dan untuk mempertahankan tekanan negatip di dalam ruang potensial ini karenanya, selama atau segera setelah bedah toraks, kateter dada di letakkan secara strategis dalam rongga pleura, di jahitkan kekulit, dan dihubungkan ke aparatus drainase, untuk membuang udara residual dan mengalirkan cairan dari pleura atau spasium mediastinal. Tindakan ini mengakibatkan reekspansi jaringan paru yang tersisa.
Intervensi penting untuk memperbaiki pertukaran gas dan pernapasan pada periode pascaoperatif adalah peƱatalaksanaan yang sesuai dari drainase dada. Setalah bedah toraks, selang dada dan system drainase tertutup digunkan untuk mengembangkan kembali paru yang sakit dan untuk membuang kelebihan udara, cairan, dan darah.

I.2. Perumusan masalah
I.2. 1. Mengetahui gambaran peralatan
II.2. 2. Mengetahui keuntungan dan kerugian dari system drainase dada
III.2 3. Mengetahui indikasi pemasangan dan prosedur WSD
IV.2. 4. Hal apa saja yang dipantau dalam water – seal & drainase

BAB II
PEMBAHASAN
II.1. Gambaran peralatan
WSD adlah suatu selang drainase intrapleural yang digunakan setelah prosedur intralocal.
1.Selang dada
Kebanyakan selang dada adalah multifmestrasi, selang transparan dengan petunjuk tanda radio pague dan jarak. Selang dada dikategorikan sebai pleural atau mediastinal tergantung pada lokasi ujung selang . Pasien dapat dipasang lebih dari satu selang pada lokasi yang berbeda tergatung tujuan selang. Semua selang dada ditangani sebagai selang intrapleural untuk keamanan pasien . Selang yang lebih besar ( 20 -36 French) digunakan untuk mengalirkan darah atau drainase pleural yang kental. Sedangkan selang yang lebih kecil ( 16 – 20 French ) digunakan untuk membuang udara.
2.Sistem drainase
Sistem drainase bekerja sebagai drain untuk udara dan cairan. Untuk membuat tekanan negative intrapleural, sebuah segel diperlukan pada selang dada untuk mencegah udara luar masuk ke system. Cara paling sederhana untuk melakukan ini yaitu dengan menggunakan system drainase dalam air.
3.Sistem satu - botol
Sistem drainase dada paling sederhana adalah system satu - botol. System ini terdiri dari satu - botol dari penutup botol. Penutup mempunyai dua lubang. Satu untuk ventilasi udara dan lainnya memungkinkan selang masuk sampai dasar botol. Ujung selang drainase dari dada pasien dicelupkan dalam air, yang memungkinkan drainase dan cairan dari ruang pleural tetapi tidak memungkinkan udara untuk mengalir kembali kedalam dada. Secara fungsional drainase tergantung pada gravitasi dan pada mekanisme pernapasan . Dengan naiknya ketinggian cairan dalam botol maka menjadi lebih sulit bagi udara dan cairan untuk keluar dari dada. Karenanya dapat ditambahkan pengisap.
4.Sistem dua - botol
Pada system dua - botol, Botol pertama adalah sebagai wadah penampung, dan yang kedua bekerja sebagai water - seal. Pada system dua - botol penghisapan dapat dilakukan pada segel botol dalam air dengan menghubungkannya dengan ventilasi udara.
Sistem dua - botol terdiri atas bilik water – seal yang sama ditambah dengan botol pengumpul cairan. Drainase mirip dengan unit tunggal, kecuali bahwa ketika cairan pleural terkumpul, system seal dibawah air tidak terpengaruh oleh volume drainase. Drainase yang efektif tergantung pada gaya grafitasi atau pada jumlah isapan yang ditambahkan pada isapan. Ketika vakum (isapan) ditambahkan dalam system dari sumber vakum, seperti pengisapan dinding hubungan dibuat pada batang pean dari botol underwater – seal. Jumlah isapan yang diterapkan pada system diatur oleh diameter dinding.
5.Sistem tiga - botol
Sistem tiga - botol serupa dengan dalam semua aspek dengan system dua – botol, kecuali untuk botol - ketiga untuk mengontrol jumlah isapan yang diberikan. Jumlah isapan yang diberikan. Jumlah isapan ditentukan oleh kedalaman sampai mana ujung tabung kaca dicelupkan. ( sebagai contoh, pencelupan sampai sepuluh dibawah permukaan air akan sama dengan 10 cm isapan air yang diterapkan pada pasien).
Pada system tiga – botol, drainase tergantung pada gaya gravitasi atau jumlah isapan yang diberikan. Jumlah isapan pada system Ini dikendalikan oleh botol manometer. Motor pengisap mekanis atau pengisap pada dinding menciptakan dan mempertahankan tekanan negatip diseluruh system drainase tertutup. Botol ketiga mengatur jumlah vakum dalam system . Hal ini tergantung pada sejauh mana selang dicelupkan – kedalaman yang lazim adalah 20 cm. Bila vakum dalam system menjadi lebih besar dari kedalaman dimana selang dicelupkan, udara luar akan terisap kedalam system. Hal ini mengakibatkan penggembungan konstan dalam botol manometer ( pengatur tekanan), yang menunjukkan bahwa system berfungsi dengan baik.
6.unit drainase sekali pakai
II. 2 . Keuntungan dan kerugian system drainase selang dada.
satu – botol
Keuntungan : Penyusunan sederhana mudah untuk pasien yang dapat jalan
Kerugian ;
- Saat drainase dada mengisi botol , lebih banyak kekuatan diperlukan untuk memungkinkan udara dan cairan pleural untuk keluar dari dada masuk ke botol.
- Campuran darah drainase dan udara menimbulkan campuran bua dalam botol yang membatasi garis pengukuran drainase.
- Untuk terjadinya aliran, tekanan pleural harus lebih tinggi dari tekanan botol.
dua – botol
Keuntungan : - Mempertahankan water - seal pada tingkat konstan.
- Memungkinkan observasi dan pengukuran drainase yang lebih baik.
Kerugian ; - Menambah area mati pada system drainase yang mempunyai potensial untuk masuk kedalam area pleural.
- Untuk terjadinya aliran, tekanan pleural harus lebih tinggi dari tekanan botol.
- Mempunyai batas kelebihan aliran udara pada adanya kebocoran pleural.
 tiga – botol
Keuntungan : Sistem ini paling aman untuk mengatur penghisapan
Kerugian : Lebih kompleks, lebih banyak kesempatan untuk terjadinya kesalahan dalam perakitan dan pemeliharaan.
 unit water seal sekali pakai
Keuntungan ; Plastik dan tidak mudah pecah seperti botol
Kerugian ; - Mahal
- Kehilangan water seal dan unit drainase bila unit terbalik.
II. 3. Indikasi pemasangan dan prosedur WSD.
 Indikasi pemasangan
1.hemotoraks yang disebabkan oleh ( trauma dada, neoplasma, robekan pleural, kelebihan anti koagulan dan pascabedah toraks )
2.pneumotoraks spontan : >20 % pada pasien simtomatik dan adanya penyakit paru, yang disebabkan oleh rubtur bleb.
3.Desakan yang disebabkan oleh (ventilasi mekanis, luka tusuk tembus,klem selang dada terlalu lama, dan kerusakan segel pada system drainase selang dada).
4.Pistula bronkopleural yang disebakan oleh ( kerusakan jaringan, tumor, dan aspirasi bahan kimia toksik).
5.Epusi pleural yang disebabkan oleh neoplasma.
6.chilotoraks yang disebabkan oleh ( trauma, malignansi, dan abnormalitas congenital).
Adapun tujuan pemasangan WSD :
1.Diagnostik, untuk menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil sehingga dapat ditentukan perlu operasi torakotomi atau tidak sebelum penderita jatuh dalam renjatan.
2.Terapi,untuk membuang darah, udara dan cairan yang terkumpul dalam rongga pleura. Untuk mengembalikan tekanan negative pada area pleural, untuk memungkinkan ekspansi paru dan memulihkan fungsi kardiopulmonal setelah pembedahan, trauma, atau kondisi medis.
3.preventif : untuk mengeluarkan udara atau darah yang masuk kerongga pleura sehinga mekanisme pernapasan tetap baik, dan untuk mencegah repluks drainase kembali kedalam dada.
Alat dan Prosedur WSD
Alat
1.system water seal
•Air steril atau normal salin untuk menutup 2,5 cm bagian bawah selang –u water seal.
•Air steril atau normal saling dituangkan kedalam bilik control penghisap bila digunakan penghisap.
2.system water less.
•Vial NaCl atau air 30 ml yang dapat diinjeksikan.
•Spuit 20 ml.
•Jarum 21-G.
•Swab antiseptic
3.selang dada atau tray tokar
•1pemegang pisau
•Klem selang dada
•Tray liner (area steril)
•Spon 4x4, 10 buah
•Gunting jahithanduk tangan 3 buah • Forsep spon kecil
•Pemegang jarum
•Mata pisau
•Benang silk 3-0
•Tray liner (area streril)
4.balutan
5.penutup kepala
6.masker wajah
7.sarung tangan steril
8.dua hemostat shodded untuk masing-masing selang dada
9.plaster perekat 1 inci untuk memplester penghubung.
Prosedur
1.kaji status kardiopulmunal klien, nyeri, ansietas, dan tanda-tanda vital.
Rasional ; Memberikan data kontinyu status klie sebelum, selama, dan setelah prosedur selang dada
2.Jelaskan prosedur kepada klien
Rasional ; Mengurangi ansietas dan meningkatkan kerja sama klien.
3.Mencuci tangan
Rasional : Mengurangi transmisi mikroorganisme
4.Mengisi bilik water – seal denagn air steril sampai ketinggian yang sama dengan
2 cm H20
Rasional ; Drainase water – seal memungkinkan untuk keluarnya udara dan cairan kedalam botol drainase. Air berfungsi sebagai segel dan menjaga udara agar tidak tertarik kembali kedalam ruang pleural.
5.Jika digunakan pengisap, isi bilik control pengisap dengan air steril sampai ketinggian 20 cm atau sesuai yang diharuskan.
Rasional : Ketinggian air akan menentukan derajat pengisap yang digunakan.
6.Sambungkan keteter drainase dari ruang pleural (pasien) ke selang yang datang dari bilik pengumpul dari system water –seal, plester dengan baik.
Rasional : Pada unit sekali pakai, system tersebut adalah system tertutup, dengan satu-satunya hubungan ke kateter pasien.
7.Jika digunakan pengisap, hubungkan selang bilik control pengisap ke unit pengisap. Nyalakan unit pengisap dan naikkan tekanan sampai timbul gelembung secara lambat namun tetap dalam bilik control pengisap.
Rasional : Tingkat pengisapan ditentukan oleh jumlah air dalam bilik control pengisap dan bukan tergantung pada frekuensi gelembung atau pada pengesetan diameter tekanan pada unit pengisap.
8.Tandai ketinggian cairan awal pada bagian luar unit drainase. Tandai peningkatan setiap jam per hari (tanggal dan waktu) pada ketinggian drainase. Rasional :Penandaan ini akan memperlihatkan jumlah kehilangan cairan dan berapa cepat cairan dikumpulkan dalam botol drainase. Cairan yang terkumpul ini berfungsi sebagai dasar untuk penggantian darah, jika cairan tersebut adalah darah. Keseluruhan darah yang mengalir akan tampak dalam botol pada periode pascaoperatip segera, drainase ini secara bertahap akan menjadi serosa dan jika terlalu banyak dapat membutuhkan operasi ulang atau autotransfusi.
9.Pastikan bahwa selang tidak menggulung atau menganggu gerakan pasien.
Rasional : Kekusutan, gulungan, atau tekanan pada selang drainase dapat menghasilkan tekanan balik, dan dengan demikian kemungkinan dapt mendorong drainase kembali ke dalam ruang pleural atau mengganggu drainase dari ruang pleural.
10.Berikan dorongan pasien untuk mencari posisi yang nyaman. Berikan dorongan untuk mengambil posisi kelurusan tubuh yang baik. Jika pasien berbaring dalam posisi lateral, pastikan bahwa selang tidak tertekan oleh berat badan pasien. Berikan dorongan pada pasien untuk mengubah posisi dengan sering.
Rasional : Posisi pasien harus diubah dengan sering untuk meningkatkan drainase, dan tubuh harus dijaga dalam kelurusan yang baik untuk mencegah deformitas dan kontraktur. Posisi yang baik membantu pernafasan dan meningkatkan pertukaran gas yang lebih baik.
11.Lakukan latihan rentang gerak untuk lengan dan bahu dari sisi yang sakit beberapa kali sehari. Obat nyeri tertentu mungkin diberikan.
Rasional : Latihan membantu mencegah ankilosis bahu dan membantu dalam mengurangi nyeri dan rasa tidak nyaman paskaoperatip.
12.Dengan perlahan “perah” selang dengan arah bilik drainase sesuai kebutuhan.
Rasional : “Memerah” selang mencegahnya menjadi tersumbat dengan bekuan atau fibrin. Perhatian yang konstan untuk mempertahankan kepatenan selang memudahkan ekspansi cepat paru dan meminimalkan komplikasi.
13.Pastikan adanya fluktuasi (tidaling) dari ketinggian cairan dalam bilik water-seal.
Rasional : Fluktuasi ketinggian air dalam selang memperlihatkan bahwa komunilasi yang efektif antara rongga pleural dan botol drainase, memberikan indikasi yang bernilai tentang kepatenan system drainase, dan merupakan diameter tekanan intrapleural.
14.fluktuasi cairan dalam selang akan berhenti bila ;
Paru telah terekspansi
Selang tersumbat oleh bekuan darah atau fibrin, atau selang kusut.
Terjadi loop dependen.
Motor pengisap atau dinding pengisap tidak bekerja dengan baik.
15.Amati terhadap kebocoran udara dalam system drainase sesuai yang di indikasikan oleh gelembung konstan dalam bilik water-seal.
Rasional : Kebocoran dan terperangkapnya udara dalam ruang pleural dapat mengakibatkan pneumotoraks tension.
16.Observasi dan laporkan dengan segera pernafasan dangkal, cepat., sianosis, tekanan dalam dada, empisema subkutan, gejala-gejala hemoragi, dan perubahan yang signifikan dalam tanda-tanda vital.
Rasional : Banyak manefistasi klinis yang dapat menyebabkan tanda dan gejala ini, termasuk pneumotoraks tension, pergeseran mediastinal, hemoragi, nyeri insisi yang hebat, embolus pulmonal, dan tamponade jantung. Intervensi bedah mungkin diperlukan.
17.Berikan dorongan kepada pasien untuk nafas dalam dan batuk pada interval yang teratur. Berikan obat nyeri yang adekuat. Mintakan pesanan untuk pompa PCA jika diperlukan. Instruksikan dalam penggunaan spirometri insentif.
Rasional : Nafas dalam dan batuk mambantu untuk meningkatkan tekanan intra pleural yang memungkinkan pengosongan segala penumpukan dalam ruang pleural dan membuang sekresi dari pohon trakeobronkial, sehingga paru dapat berkembang dan atelektasis di cegah.
18. Jika pasien harus dipindahkan ke area lain, letakkan system drainase di bawah ketinggian dada, jika pasien berbaring pada brankar. Jika selang terlepas, gunting ujung yang terkontaminasi dari selang dada dan selang, pasang konektur steril dalam selang dada dan selang, dan sambungkan kembali ke system drainase. Jangan mengklem selang dada selama memindahkan pasien.
Rasional : Aparatus drainase harus dijaga pada ketinggian dibawah dada pasien untuk mencegah aliran balik cairan kedalam ruang pleural.
19.Ketika membantu dokter bedah dalam melepaskan selang :
Intruksikan pasien untuk melakukan manuver valsalva dengan lambat dan bernafas dengan tenang.
Selang dada di klem dan dengan cepat dilepaskan.
Secara bersamaan, balutan kecil dipasangkan dan buat kedap udara dengan menutupkan kasa petrolatum dengan bantalan kasa 10 x 10 cm dan tutupi dan rapatkan secara menyeluruh dengan plester adesif.
Rasional :
Selang dada dilepaskan sesuai yang disarankan ketika paru telah mengembang kembali (biasanya 24 jam sampai beberapa hari) tergantung dari penyebab pneumotoraks. Selama penglepasan selang perioritas utama adalah pencegahan masuknya udara kedalam rongga pleural ketika selang ditarik dan pencegahan infeksi.
II. 4. Memantau water – seal dan drainase
Memantau water - seal dari system drainase selang dada sama pentinganya dengan observasi drainase. Pemeriksaan secara visual untuk meyakinkan ruang water –seal terisi air 2 cc. Bila penghisap diberikan, yakinkan garis air pada garis penghisap sesuai dengan jumlah yang diindikasikan. Bila pompa penghisap pleural darurat digunakan, periksa ukuran penghisap, jangan menutup ventilasi udara.
Observasi segel dibawah air terhadap fluktuasi pernapasan. Tidak adanya fluktuasi akan menunjukkan bahwa paru re-ekspansi atau ada obstruklsi pada system. Gelombang yang terus menerus pada water – seal tanpa penghisap dapat menunjukkan bahwa selang telah berubah tempat atau terlepas. Periksa seluruh system terhadap lepasnya alat dan lihat selang dada untuk melihat penempatan diluar dada.
Gelembung yang terjadi 24 jam setelah pemasangan selang dada sehubungan dengan perbaikan pneumotoraks menunjukkan adanya fistula bronkopleural. Ini biasa terjadi pada pengesetan ventilasi mekanis pada volume tidal dan tekanan tinggi.
Perhatikan warna, konsistensi dan jumlah drainase. Gunakan pulpen untuk menandai tingakat system drainase pada akhir jaga dan jadwalkan interval waktu. Waspadai terhadap perubahan tiba – tiba pada jumlah drainase. Peningkatan tiba – tiba menunjukkan perdarahan atau adanya pembukaan kembali obstruksi selang. Penurunan tiba – tiba menunjukkan obtruksi selang atau kegagalan selang dada atau system drainase.
Untuk mengembalikan patensi selang dada, tindakan keperawatan dianjurkan :
Upayakan untuk mengurangi obstruksi dengan perubahan posisi pasien.
Bila bekuan dapat terlihat, regangkan selang antara dada dan unit drainase dan tinggikan selang untuk meningkatkan efek gravitasi.
Pijat dan lepaskan selang secara bergantian untuk melepaskan secara perlahan bekuan kearah wadah drainase.
Bila selang dada terus menerus tetap tersumbat, pembongkaran selang dada dianjurkan. Pembongkaran selang dada rutin tanpa mengevaluasi situasi pasien adalah kontrolversial dan berisiko.
Penyulit pemasangan WSD adalah perdarahan dan infeksi dan super infeksi dan komplikasi yang paling serius dari selang dada adalah tegangan pneumatoraks. Bila tidak diatasi mengancam kehidupan. Tegangan pneumotoraks terjadi bila udara masuk keruang pleura selama inspirasi tetapi tidak dapat keluar selama ekspirasi. Proses ini terjadi bila obstruksi pada selang system drainase dada. Semakin banyak udara terjebak pada ruang pleura, tekanan meningkat sampai paru kolaps dan jaringan lunak dalam darah tertekan.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
III. 1. Kesimpulan
WSD adalah suatu selang drainase yang digunakan setelah prosedur intra torakal.
Alat
•Sistem water – seal * penutup kepala
•Masker wajah * Selang dada oatau trai tokar
•Balutan * Sarung tangan steril
•Seitem water less
Tujuan :
Adapun tujuan pemasangan WSD :
10.Diagnostik, untuk menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil sehingga dapat ditentukan perlu operasi torakotomi atau tidak sebelum penderita jatuh dalam renjatan.
11.Terapi,untuk membuang darah, udara dan cairan yang terkumpul dalam rongga pleura. Untuk mengembalikan tekanan negative pada area pleural, untuk memungkinkan ekspansi paru dan memulihkan fungsi kardiopulmonal setelah pembedahan, trauma, atau kondisi medis.
12.preventif : untuk mengeluarkan udara atau darah yang masuk kerongga pleura sehinga mekanisme pernapasan tetap baik, dan untuk mencegah repluks drainase kembali kedalam dada.

III.2. Saran
Dari makalah ini, adapun saran yang dapat penulis sampaikan bahwa
Dengan adanya makalah ini dapat membantu kita dalam melakukan tindakan pemasangan WSD dan bila ada kritik maupun saran dari pembaca dalam membantu
Menambah wawasan, penulis sebelumnya ucapan terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA
1)Carolyn M.Hudak dan Barbara M. Gallo. keperawatan kritis. Penerbit buku
Kedokteran , Edisi Vi ,Volume 1. Jakarta 1997 .
2)Manjoer , Arif M, dkk. Kapita Selekta Kedoteran . penerbit media aeculapius FKUI Edisi III. Jakarta 2000
3)Brunner & suddarth. Keperawatan Medical Bedah. Penerbit buku Kedokteran
Volume 1 ,EGC. Jakarta 2001

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar